
****
"Kang ... siapkan makanan!"
"Inggeh ... daharan sampun siap Suhu (makanan sudah siap Suhu)," jawab pria yang dipanggil oleh Gan Arya.
"Bawa sini Kang!"
Orang yang dipanggil Kang tadi menyiapkan berbagai macam makanan di meja kamar, aku hanya terpaku diranjang kututupi tubuh ini dengan selimut.
"Sampun siap sedanten Suhu, monggo kulo aturi dahar ..., (sudah siap Suhu, silahkan makan ...,)"ujar pria yang dipanggil Kang tadi penuh sopan santun.
"Keluar!"
Dasar pria tidak tau diri, dikasih hati malah minta jantung. Sudah bagus Kang tadi sopan santun eh ... si Gan Arya ini menjawab dengan hentakan. Apakah pria ini tidak pernah diajari sopan santun!?
"Apa kau tidak pernah diajari sopan santun? sehendaknya ucapkan terima kasih padanya," Protesku.
Kang tadi menatap heran padaku, dan mengangguk pada Gan Arya lalu bergegas menutup pintu.
"Kemari!" perintahnya, aku menjawab dengan gelengan kepala.
Dia mendekatiku melepas kemeja putihnya. Dasar pria biadab tak tahu malu disaat seperti ini malah ingin berbuat mesum. Kupejamkan mata tak ingin menambah dosa.
"Pakai!" perintahnya sambil menyodorkan kemeja tadi.
"Apa!?"
"Buang pikiran mesum dikepalamu itu, Pakai lalu makan."
Kuterpana dengan tubuh Gan Arya. Tubuh kekar bak atletik, dipadu dengan wajah tampannya itu membuat dirinya terlihat sempurna tapi sayang kelakuannya seperti binatang.
Memang tiada makhluk didunia ini yang sempurna, pasti ada kekurangannya karena kesempurnaan hanya miliknya.
__ADS_1
Dulu aku tak pernah bersentuhan dengan lawan jenis, tapi setelah aku bertemu dengannya semuanya berubah, aku malu dengan diriku yang sekarang, malu dengan namaku Layla Azzahra yang berarti malam yang penuh suci tak pantas lagi diri ini memiliki nama itu, diri ini terlalu hina.
Dia pria perebut ciuman pertamaku dan juga telah melihat lekuk tubuh ini, entah apa lagi yang dia perbuat padaku, batinku terus beristigfar "ampuni hamba gusti ...."
Gan arya meninggalkanku sendiri di kamar ini, kulihat pemandangan sekitar kamar, entah makanan ini halal atau haram yang jelas saat ini tubuhku sangat membutuhkan asupan makanan.
"Ya alloh ... berkahilah aku dengan makanan ini, jauhkanlah dari azab siksa nerakamu. Bismillah ...."
Aku mengambil sedikit nasi dan hanya mengambil sayur lodeh ikan asin, sebenarnya aku suka sambal tapi entah dari berbagai banyak menu disini tidak ada sambal sama sekali.
****
Kuamati pemandangan sekitar, kamar ini seperti kamar kos dengan ruangan berukuran sedang, mempunyai bangunan berbentuk segitiga sama kaki pada pintu masuk.
Dipan (ranjang tidur yang terbuat dari kayu) penuh dengan ukiran-ukiran berbagai macam bunga dan tumbuhan dipilar ranjang, kamar tidur yang dilengkapi sofa single dan kamar mandi ukuran sedang.
Kulihat dari jendela kamar, ada gemericik air mengalir dari sendang panguripan yang tak jauh dari pelupuk mata. Diatas batu besar Gan Arya duduk bersila, entah apa yang dilakukannya, mungkin yoga atau bermeditasi.
Aku berjalan keluar kamar dengan memakai selimut untuk menutupi badan dan rambut ini.
"Nduk ... kamu tidak apa-apa kan? Pakdhe khawatir sekali padamu, nduk," ujar Pak Badri membuyarkan lamunanku. Aku hanya menoleh sedikit saja kearahnya.
"Tidak ada apa-apa, nggak usah dipikirikan, nduk."
"Ceritakan pakde ... kenapa saya bisa disini, siapa yang menganti pakaian saya semalam?"
"Itu ... itu ..."
"Jangan takut Pakdhe dia sedang bermeditasi," selaku untuk mengatasi kegugupan Pak Badri.
"Semalam itu ritual apa Pakdhe? ceritakan semua, apa yang terjadi setelah saya pingsan ... sejak kapan Pakdhe menyeleweng dari ajaran agama seperti ini?"
"Lay mohon Pakde, ceritakan semua!" sambungku.
"Kamu tidak akan mengerti nduk. Kamu tidak tahu apa-apa."
__ADS_1
Aku tahu Pak Badri menyembunyikan sesuatu yang besar, dia takut menceritakan semuanya padaku. Ketakutanya bukan padaku melainkan pada orang yang bermeditasi disana.
"Pakde saya ingatkan sekali lagi, mumpung masih belum terlambat bertaubatlah. Tidak ada di dunia ini yang pantas ditakuti kecuali Tuhan yang maha agung, Pakdhe sudah salah melangkah, mumpung nyawa masih didalam raga kembalilah kejalan yang benar, jalan yang di ridoi oleh gusti yang maha esa."
"Kamu tidak tau apa-apa nduk? jangan biarkan kepintaranmu itu membunuhmu," jelas Pak Badri sambil berlalu meninggalkanku, sungguh jawaban yang ambigu.
****
Kini tinggal aku ditaman ini, ada bunga mawar, melati, sedap malam dan kalau tidak salah ada tujuh bunga yang berbeda-beda, bunga untuk ritual mandi bunga tujuh rupa.
Aroma patrikor menyeruak tanda hujan setelah musim kemarau telah tiba. Bahkan cuaca pun ikut bersedih melihat bunga-bunga tak berdosa ini.
Bunga mawar merah lambang keberanian dan cinta, bunga mekar tumbuh nan cantik yang sering dihujat karena durinya. Padahal duri ini yang melindungi bunga itu.
Begitu juga perempuan jika masih kuncup kecantikannya belum terlihat tapi bila sudah dewasa alias mekar semuanya terlihat cantik, anggun, elok, mempesona.
Banyak yang ingin memetiknya, banyak yang ingin memilikinya tapi memiliki bunga itu harus hati-hati terhadap durinya, sama juga dengan memiliki perempuan itu harus hati-hati jika selamat maka tidak tertusuk duri, jika ceroboh maka akan tertusuk.
Memiliki perempuan harus hati-hati biar sampai ke surganya, jika ceroboh maka perempuan itulah penyebab kesakitan siksa darinya.
"Ooii ... kenapa melamun? masuk! hujan mau turun."
Suara itu serak-serak basah, tegas namun mematikan tak lain adalah suara Gan Arya.
"Masuk! " perintahnya sekali lagi kali ini sambil menyeret tanganku. Aku mengikuti derap langkah kaki panjang itu, langkah kaki kami beradu dengan rinai hujan.
Kenapa aku menurut saja digandengnya ibarat anak kecil yang merajuk diam bila diberi permen. Apa aku terkena ilmunya? tak boleh seperti ini.
"Lepaskan ... " Aku berusaha melepaskan tangan kekar itu. Akhirnya dia melepaskanku, hujan semakin deras membasahi kami.
"Ayo cepat masuk! Hujan!" perintahnya.
"Aku tak takut hujan yang aku takutkan siksa darinya, kita bukan mukrim jangan sekali-kali kau menyentuhku," ancamku kulihat Gan Arya aku baru sadar dia tidak memakai baju hanya celana jeans belel hitam.
Dia menatapku, ku tak bisa melihat jelas raut wajahnya bukannya malah takut akan ancaman dia malah menarik selimut yang kupakai, otomatis tubuh kami berhadapan dan menyatu dalam selimut itu.
__ADS_1
"Apa kau lupa kau sudah kubeli. Adikmu sudah kubebaskan bukannya kau berjanji akan menuruti semua keinginanku. Aku ingin memakanmu sekarang."
"Apa!? "