Menikahi Seorang CEO Dingin

Menikahi Seorang CEO Dingin
pasrah menerima


__ADS_3

Dimas mengkerut bingung saat masuk ke dalam kantornya, dirinya merasa sangat berbeda dengan aura yang berada di kantor.


Dirinya merasa horor karena keadaan kantornya hening tanpa ada suara saat dirinya berada di kantor aura tidak sehoror ini walau hening.


"Ini kenapa di kantor nggak ada karyawannya yah." Batin Dimas saat melihat sepanjang jalan tak melihat satu pun karyawan yang berlalu lalang.


Dimas melangkahkan kakinya kearah ruang Valen berada, dari arah jauh Dimas melihat semua karyawan yang sedang berkumpul di dinding tanpa bersuara.


"Mereka ngapain ngumpul disitu." Batin Dimas yang semakin dekat kearah mereka.


Saat Dimas semakin dekat dengan kerumunan karyawannya berada, Dimas tanpa sengaja mendengarkan suara yang familiar dengan nada dingin dan sedikit kesal Menurutnya.


"berbicara dengan jelas saya tak mengerti dengan bahasa yang terputus-putus seperti tadi." Ucapnya.


Dan ternyata suara dengan nada dingin dan sedikit kesal itu adalah Valen, Dimas bisa melihat Valen dari jauh dan dirinya hampir saja tertawa karena melihat keadaan sahabat sekaligus sekertaris nya yang sangat kacau.


Dimas yang sudah tidak tahan dengan keadaan pun melangkahkan kakinya dan merebut secara tiba-tiba berkas yang berada di tangan karyawannya yang sedang dari tadi gemetar ketakutan.


"Kalian bisa pergi." Ucap Dimas Kepada karyawan dengan nada andalannya dingin dan datar.


Karyawan yang sebelumnya terkejut karena ada yang mengambil berkas secara tiba-tiba pun tertambah terkejut karena kedatangan tiba-tiba bos mereka yang tidak masuk selama tiga hari lamanya.


Begitupun karyawan lainnya mereka terkejut, "sejak kapan bos mereka berada disana." Batin para karyawan yang terkejut.


Tapi saat mendengar perintah dengan nada dingin dan datar pun mereka bubar tanpa mau melihat apa yang akan terjadi, "lebih baik cari jalan aman." Batin karyawan sekali lagi.


"Sudah berapa lama kau tidak tidur Valen kau seperti gembel saja." Ucap Dimas yang sudah duduk santai di ruangan Valen.


Sedangkan Valen Mendengar ucapan Dimas pun memandang Dimas dengan tatapan kesal, "mana ada gembel berkerja di perusahaan ternama ini." Balas Valen dengan nada kesal.


"Sopan sedikit saat berbicara kepada bosmu Valen." Ucap Dimas dengan nada main-mainnya.


Sedangkan Valen hanya mendengus kesal saat mendengar kata-kata dari Dimas dengan nada yang sangat menjengkelkan baginya.


"Aku hanya meninggalkan kantor selama tiga hari dan keadaanmu sangat-sangat memprihatinkan dan juga keadaan kantor bagaikan tak berpenghuni karena aura yang kau keluarkan Valen." Ucap Dimas dengan nada panjang.

__ADS_1


Beginilah Dimas akan menjadi banyak berbicara kepada orang yang sudah lama berada disisinya beda lagi jika berhadapan dengan orang lain Dimas akan terkenal dingin dan datar.


"Jangan ajak aku untuk beradu mulut dengan mu saat ini Dimas aku sekarang sedang tidak bersemangat dan juga sedang tidak ada stamina." Jawab Valen dengan nada tak semangat nya.


"Aku hanya butuh tidur saja." Jerit batin Valen .


Dimas yang melihat keadaan Valen pun turut perhatian dengan keadaan Valen yang rambutnya acak-acakan bahkan ada lingkaran mata yang menhitam.


"Mumpung aku lagi baik aku sebagai bos dan Sahabat kamu akan ku liburkan satu hari untukmu beristirahat." Ucap Dimas.


Valen yang sedang membaringkan kepalanya di atas meja pun reflek mengangkat kepalanya dan melihat Dimas dengan tatapan semangat.


"Apakah kamu betul meliburkan aku untuk sehari." Tanya Valen dengan nada tak percaya.


Sedangkan Dimas menganggukkan kepalanya dengan santai, "yah betul tapi jika kamu tidak ma--."


"Aku mau aku mau." Potong Valen dengan nada yang semangat.


Walau Dimas meliburkan Valen hanya sehari Valen sangat bersyukur itu sudah cukup baginya untuk tidur seharian dan mengembalikan staminanya.


"Ayah." Panggil Irma dengan suara yang semangat.


Dodi yang sedang membaca koran pun melihat putrinya yang sedang tersenyum lebar dan semangat saat memanggilnya.


"Yah sayang kenapa manggil ayah dengan semangat seperti ini." Tanya Dodi bingung saat melihat Irma tersenyum dengan manisnya.


"Aku kayaknya ngidam sesuatu ayah." Ucap Irma yang masih memasang senyum mautnya.


"Oh anak ayah ngidam sesuatu yah, coba kamu ngidam apa sini bilang sama ayah siapa tau ayah bisa bantu kamu." Ucap Dodi.


"kayanya cucu ayah ngidam masakan ayah." Ucap irma dengan senyum semakin lebar.


Jderr..


Dodi yang mendengar ucapan putrinya pun seperti tersambar petir disiang bolong apa memasak haha menyalahkan api di kompor saja dirinya tida pernah terus ini harus memasak apakah putrinya sedang bercanda.

__ADS_1


"Sayang kamu tau kan jika ayah tak bisa masak jangankan masak bedain garam sama gula aja ayah gak bisa bedain." Ucap Dodi dengan lembut.


"Aku tau kok ayah tapi inikan kemauan dari cucu ayah yang pertama." Ucap Irma dengan wajah yang menunduk.


Sedangkan Dodi menhela nafas pelan, "Gimana kalau ayah beliin makanan yang ingin kamu makan aja mau nggak." Ucap Dodi membujuk putrinya.


"Irma nggak mau ayah, cucu ayah tetap mau nyoba masakan dari kakeknya." ucap Irma yang masih berkeras dengan ucapannya.


"Baik ayah akan masak tapi harus di bantuin sama bunda yah." Ucap Dodi dengan penuh harap.


"Nggak bisa cucu ayah maunya masakan dari tangan kakeknya langsung nggak bisa ada campur tangan dari orang lain." Tolak Irma mentah-mentah.


Dodi yang mendengar itu pun menhela nafas kasar oh tuhan dirinya ini tidak bisa memasak Dodi takut jika masakan yang akan di masaknya menjadi racun dan akan menyakiti cucu dan putrinya.


"Baik ayah akan coba semampu ayah." Ucap Dodi yang mengalah dari pada harus menolak permintaan pertama dari cucunya.


"Ini ada apa kok rame-rame nggak ngajak mama sih." Tanya Nina yang dari dapur.


"Ini mah aku ngidam mau makan masakan ayah langsung." Ucap Irma dengan semangat.


Sedangkan Nina terkejut saat mendengar ucapan dari putrinya tapi setelah itu Nina membalas senyum Irma.


"Emangnya cucu mama ngidam masakan apa." Tanya Nina.


"kayaknya bubur ayam deh mama." Balas Irma dengan senyum lebar.


"Oh bubur ayam yah, nanti mama bantuin yah papa buat masak makanannya nanti." Ucap Nina dengan senyum manisnya.


"Nggak bisa cucu mama ini maunya masakan Langsung dari tangan kakeknya." Tolak Irma sekian kalinya.


Nina yang mendengar itupun melunturkan senyumannya dan melihat kearah suaminya dengan pandangan ragu.


Dodi menganggukkan kepalanya dengan pasrah kepada Nina dan di balas dengan tatapan tak percaya dari Nina.


Nina tak percaya melihat suaminya yang menerima permintaan cucunya untuk memasak makanan karena Nina tidak pernah melihat suaminya memasak makanan

__ADS_1


"yah tuhan semoga rumah tidak akan kebakaran dan semoga cucu dan putriku tidak keracunan yah tuhan." Batin Nina.


__ADS_2