
Perkiraan cuaca di kota Jakarta akan dilanda hujan deras. Dan benar saja terjadi hujan deras sedari siang. Tetapi, cuara hujan deras seperti itu tidak menyurutkan semangat seorang gadis bernama Sania Putri Kesuma menuju minimarket untuk membeli persediaan makanan karena stok persediaan di rumah kontrakan nya telah habis.
Sania baru beberapa bulan berada di Kota Jakarta untuk mengadu nasib di Ibu Kota. Sebenarnya, adik Sania juga tinggal di Jakarta dan menikahi pria bule kaya di Kota ini. Tetapi, ia tak ingin meminta bantuan mereka karena tak ingin terjadi kesalah pahaman pada rumah tangga adiknya lagi.
Sania berjalan kaki menuju rumah kontrakan nya menggunakan payung. Karena hari sudah malam, sepanjang jalan terlihat sepi.
Tiba-tiba saja Sania merasa sedang diikuti seseorang. Ia pun menghentikan langkah lalu memutar tubuhnya kebelakang untuk melihat apakah dugaan nya benar. Tetapi, setelah memutarkan tubuh dan melihat kebelakang tidak ada seseorang yang mengikuti.
Merasa tidak beres membuat Sania berjalan lebih cepat dari semula agar segera tiba di rumah kontrakan nya.
"Aahh.. Lepaskan!!!" pekiknya saat tangan nya yang membawa kantung plastik di cekal oleh seseorang.
"Maaf, nona."
Sania memejamkan mata karena begitu takut, apalagi mengetahui seseorang tersebut adalah seorang pria.
Pria itu mengguncang tangan Sania. "Hei, nona. Saya hanya ingin bertanya," ungkap pria itu mulai kesal apalagi dirinya kehujanan.
Sania tersentak lalu menoleh. "Maaf. Ada apa, ya?"
Setelah mendengar pertanyaan Sania, membuat pria itu melepas cekalan nya. "Mobil saya mogok di simpang masuk sana, bisakah kamu mengantar atau menunjukkan bengkel mobil?" tanya pria itu masih sopan.
Sania menggigit bibir bawahnya karena ragu bila orang itu adalah pria baik-baik.
Sepertinya pria itu mengetahui keraguan yang dirasakannya.
"Saya bukan orang jahat. Jika kamu tidak percaya, ini kartu identitas saja!" pria itu mengeluarkan kartu identitas dari dalam dompetnya laku menyerahkan kepada Sania.
"Baiklah. Saya akan antar tuan ke bengkel di dekat rumah saya. Tapi jangan salahkan saya kalau bengkel itu sudah tutup, ya. Karena ini sudah sangat malam," tutur Sania ramah setelah melihat foto di kartu identitas pria itu sama dengan pria yang sedang berjalan disampingnya, sepayung berdua.
Dari yang dilihat Sania, pria disampingnya bernama Aditama. Nama yang memiliki arti tampan, indah, lemah lembut, dan memiliki keutamaan.
Mereka berdua berjalan perlahan di bawah payung yang sama agar tidak terjebak genangan air.
"Nah 'kan. Sudah tutup. Tuan kemalaman," tutur Sania.
__ADS_1
"Saya tidak tahu kalau akan mogok. Kalau boleh memilih, saya tidak ingin mogok."
Sania terkekeh pelan mendengar ucapan Aditama. Benar saja, jika dirinya yang mengalami hal itu tentu lebih memilih tidak mengalaminya.
"Ya sudah kalau begitu. Kita ke rumah saya saja, tuan. Setelah itu, tuan bisa bawa payung saya."
Aditama mengangguk kemudian keduanya berjalan beriringan lagi menuju rumah Sania yang jaraknya lima rumah dari bengkel yang baru saja mereka kunjungi.
Sesampainya di teras rumah Sania, Aditama meminta izin. "Maaf, nona. Bolehkah menumpang mengisi daya? ponsel saya kehabisan baterai," ungkap Aditama memohon.
Sania yang merasa iba memberi izin. Tentu saja iba karena berpikir pasti ada keluarga yang menanti dengan Aditama dalam perasaan khawatir di rumah dalam hujan lebat dan ponsel mati.
Sania membuka pintu lalu mempersilahkan Aditama masuk. Kemudian ia segera mengisi daya ponsel Aditama yang diberikan padanya beberapa saat lalu.
Kemudian Sania masuk ke dalam kamar mengambil handuk bersih di dalam lemari dan membawanya keluar kamar, memberikannya pada Aditama.
"Tuan bisa membersihkan tubuh tuan di dalam kamar mandi. Baju tuan basah kuyup. Saya akan carikan kaos dan celana kakak saya untuk tuan. Semoga saja muat," kata Sania. Ia memiliki kakak laki-laki bernama Satria.
Aditama mengangguk lalu permisi ke dapur dan masuk ke dalam kamar mandi karena kamar mandi Sania terletak disana.
Sania mencari kaos dan celana sang kakak yang pernah ditinggalkan di rumahnya saat menjenguknya. "Semoga muat," gumamnya kemudian keluar kamar menuju dapur.
"Saya yang seharusnya minta maaf," kata Aditama membalikkan tubuhnya karena malu dalam keadaan seperti ini di depan seorang gadis asing.
Sania memberikan kaos dan celana kepada Aditama tetapi belum juga diterima oleh pria itu, tiba-tiba lampu rumah Sania padam membuat gadis itu maju dan memeluk Aditama dari belakang.
"Kkyyaaa...!!" Sania yang terkejut tanpa sadar memeluk Aditama.
DEG
Belum terkumpul kesadaran nya, Keduanya dikejutkan dengan gedoran pintu sangat keras.
"Maaf, tuan. Dimana baju nya tadi?" Sania panik karena takut terjadi hal yang tak diinginkan.
"BUKA, Sania!!"
__ADS_1
Sania dan Aditama semakin panik. Kaos sudah ketemu dan dikenakan nya. Sialnya, dalam kegelapan itu, handuk yang terpilih di pinggangnya terlepas.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?"
Sania dan Aditama terkejut, pintu rumah Sania sudah terbuka dan dua orang pria yang sedari tadi menggedor pintu menyorotkan lampu senter kearah mereka.
Lebih parahnya lagi, dari sorot lampu senter itu baru bisa menemukan celana pendek. Betapa malunya Aditama saat ini.
"KALIAN BUAT MESUM, YA?!!"
Sania menggeleng. "Bapak salah paham."
"Salah paham gimana? sudah jelas-jelas laki-laki ini baru pakai celana. Kalian harus di arak kampung," sentak salah satu pria itu.
Di kampung itu, setiap malam mengadakan jaga malam di pos ronda. Dan akan ada waktunya berkeliling kampung. Tepat saat melewati rumah Sania, kedua pria itu mendengar jeritan Sania.
Takut terjadi sesuatu, mereka memaksa masuk dengan mendobrak pintu rumah Sania.
Tetapi, alangkah terkejutnya mereka melihat Sania bersama seorang pria yang baru mereka lihat tidak menggunakan celana.
"Jangan arak kami,pak!" Sania mulai takut.
"Ujang. Cepat panggil pak RT!"
Sania semakin takut tetapi melihat Aditama yang diam saja membuatnya semakin bingung. "Kenapa tuan diam saja? tolong katakan pada mereka kalau kita tidak berbuat apapun," ia benar-benar takut. Apalagi mengingat kakak dan kedua orang tuanya.
Tak berselang lama, Pak RT datang bersama ustadz kampung yang kebetulan bersama saat di datangi oleh pria bernama Ujang itu.
"Ini dia pelaku mesum nya, pak RT. Kami lihat sendiri laki-laki ini tidak memakai celana."
Pak RT menatap Sania yang sudah menangisi. "Benar, begitu Sanial?" ia mengenal Sania adalah gadis ramah selama tinggal di kampungnya beberapa bulan ini.
Sania menggeleng.
"Jangan mengelak kamu, Sania. Jelas-jelas kami melihatnya!"
__ADS_1
"Saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya. Saya akan menikahi Sania," kata Aditama yang sedari tadi diam saja.
Sania terkejut. "Apa maksudnya ini?"