
Pagi-pagi buta Sania sudah berada di Pasar dekat pemukiman dimana dirinya tinggal. Berbelanja keperluan selama Aditama menginap di rumah nya selama kurang lebih satu Minggu lama nya.
Ada rasa ragu membelikan bahan-bahan dari Pasar mengingat suaminya adalah orang terpandang. Tetapi, apa mau dikata? Uang nya tak akan cukup bila harus membeli bahan pangan di Supermarket.
Ia membeli beras, ikan, ayam, beberapa sayur hijau, dan bumbu-bumbu dapur. Menenteng beberapa kantung plastik keluar dari area Pasar.
"Bang becak," panggil Sania kepada tukang becak yang mangkal disana.
Setelah becak berhenti di depan nya, tukang becak membantu menaikkan semua belanjaan ke atas becak lalu Sania naik ke atas sana.
Sania juga membeli lontong sayur untuk mereka sarapan karena sudah tidak keburu bila harus memasak lebih dahulu. Ia harus bekerja hari ini. Mengingat itu membuat nya takut jika Aditama akan marah ditinggal sendiri di rumah sempitnya.
"Terima kasih ya, bang!" Katanya setelah sampai di depan rumah dan tukang becak membantu menurunkan barang belanjaan di teras rumah, tak lupa pula membayar ongkos sesuai tarif yang dikatakan tukang becak tersebut.
Sania masuk ke dalam rumah setelah mengucap salam lalu masuk ke dalam dapur untuk membersihkan ayam dan ikan serta sayur mayur agar disimpan ke dalam lemari pendingin.
Ketika hendak ke kamar mandi, Sania dikejutkan dengan Aditama yang baru saja keluar dari sana dalam keadaan bertelanjang dada dan handuk terlilit di pinggang.
Seketika itu pula Sania balik badan dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan nya. "Maaf, mas. Aku nggak sengaja," katanya panik.
Aditama melihat itu bukan nya marah justru terkekeh karena Sania terlihat lucu. "Bukan nya hal wajar istri melihat tubuh suaminya?"
Tubuh Sania mematung mendengar pertanyaan dari Aditama yang benar adanya. Seketika itu pula membuat dirinya gugup tetapi tetap memunggungi suaminya.
__ADS_1
Aditama tetap tersenyum disertai gelengan kecil melihat tingkah Sania. "Baiklahm. Mas ganti pakaian dulu," katanya membuat Sania berbalik menghadap Aditama lagi. Tetapi, kembali berbalik lalu menepuk jidat sendiri menyadari kebodohan nya.
"Kamu kenapa?" tanya Aditama heran.
"Biar aku siapin baju ganti mas," katanya tanpa menjawab pertanyaan Aditama sebelumnya. Ia melangkah lebar masuk ke dalam kamar dan menyiapkan pakaian ganti dari lemari pakaian, sebelumnya pakaian suaminya telah disusun ke dalam lemari.
Aditama tetap di luar kamar karena mengerti bila Sania malu berada di dekatnya dengan penampilan nya yang begini.
Ia tak menyangka memiliki istri 3 dalam hidupnya. 3 wanita yang memiliki watak yang berbeda pula. Helaan nafas panjang memikirkan bagaimana jika kedua istrinya mengetahui bila dirinya menikah lagi secara diam-diam.
Dan juga baru mengetahui bila Sania adalah kakak ipar dari keluarga Abraham yang tak tertandingi kekayaannya.
"Baju gantinya sudah aku siapin, mas." Sania menunduk mengatakan itu, tak sanggup bila harus bertatap muka dengan Aditama.
Sesuatu yang tak pernah didapat di dalam rumah nya. Seketika hati Aditama menghangat mendapat perhatian kecil dari Sania.
Sementara Sania di dapur mempersiapkan sarapan kelontong yang dibeli nya tadi buat Aditama. Ia dapat melakukan, melayani Aditama karena sering melihat mendiang mami Adzilla melayani mendiang papi Askar dengan tulus.
Sania juga mengingat pesan-pesan pernikahan dari kedua orang nya dahulu sebelum pada akhir nya kebakaran menewaskan kedua orang tuannya.
Aditama datang ke dapur dan langsung duduk. Sania meletakkan sepiring kelontong ke hadapan nya.
"Mas mau teh atau kopi?" tanya Sania lembut.
__ADS_1
"Air putih saja. Kopi nya nanti setelah makan," tolak nya lembut dan Sania hanya mengangguk lalu mengambilkan segelas air lalu diletakkan pula dihadapan Aditama.
Keduanya sarapan dengan suasana canggung. Apalagi Aditama duduk tepat di hadapan nya semakin membuat hati Sania ketar-ketir.
"Mas, aku harus bekerja hari ini." Sania merasa takut ketika Aditama menghentikan kunyahan nya.
Aditama menghela nafas panjang. Mengapa mendadak dirinya menjadi kesal ditinggal Sania bekerja?
"Kita berangkat bersama."
Sania terperanjat mendengar ucapan Aditama. "Jangan, mas. Aku naik angkot saja. Lagi pula jam masuk kita berbeda," tolak nya tak ingin pernikahan mereka terendus oleh orang lain.
Aditama menghela nafas lagi. Tidak mungkin dirinya memaksa kehendak Sania sementara keadaan hubungan mereka adalah rahasia.
"Baiklah. Tapi tetap pulang tepat waktu, usahakan sebelum mas pulang, kamu sudah pulang."
Sania mengangguk disertai senyuman. Tentu saja tahu bila ini sudah menjadi kebiasaan nya pulang tepat waktu.
❤️
Maaf ya baru up.
Sebenarnya selama ini, emak kehilangan akun ini karena lupa kata sandi😂
__ADS_1