
Sesuai apa yang dikatakan Aditama tadi hendak mampir ke rumah Sania. Setelah pulang kerja, Sania segera memasak untuk menyiapkan makan malam untuk mereka.
Sania tidak tahu Aditama akan suka atau tidak dengan masakan yang disiapkan. Ia membuat ayam goreng kalasan dan sayur asem.
Usai memasak, Sania segera membersihkan alat memasak dan dirinya agar saat Aditama telah tiba, dapur dan dirinya sudah bersih dan rapi.
Malam ini, Sania telah siap akan dibawa kemana pernikahan mereka. Bila Aditama ingin melanjutkan pernikahan mereka, maka ia akan belajar menjadi istri yang baik dan menyiapkan mental menghadapi kedua istri suaminya yang pasti bukan orang sembarangan.
Tetapi, jika Aditama ingin mengakhiri juga Sania harus siap sebelum hubungan mereka terlalu jauh dan dalam.
Senyuman Sania mengembang ketika suara mobil dan tak lama mendengar ketukan dan panggilan dari seseorang di luar sana terdengar.
Sania bergegas membuka pintu dengan senyuman mengembang. Ia mengambil alih tas dan jas kemudian meraih tangan mencium punggung tangan Aditama.
Sesuatu yang sering dilihat bila di rumah Sania.
Sementara tubuh Aditama membeku sesaat diperlakukan sangat manis oleh Sania.
"Masuk, mas!" ucap Sania dan diangguki oleh Aditama.
Aditama duduk di kursi rotan sedangkan Sania masuk ke dalam kamar menyimpan tas dan jas kerja Aditama.
"Mas mau mandi atau makan malam lebih dulu?" tanya Sania setelah keluar dari kamar.
Aditama menatap wajah Sania. "Mandi dulu saja," sahutnya.
"Mas bawa baju ganti atau pakai baju bang Satria, lagi?" tanya Sania.
"Mas bawa baju ganti, ada di dalam tas!" sahut Aditama kemudian berdiri.
"Aku siapin, sebentar!" Sania masuk ke dalam kamar kembali mengambil pakaian di dalam tas kerja sesuai ucapan Aditama.
Sania keluar kamar menyerahkan handuk dan pakaian ganti Aditama dan di terima oleh pria itu.
Aditama masuk kedalam kamar mandi dan Sania menunggu di dapur agar setelah selesai mandi langsung makan malam.
"Mas mau teh atau kopi?" tanya Sania sedikit meninggi kan suaranya.
Terdengar air yang mengguyur berhenti. "Kopi saja, San!" sahut Aditama juga sedikit berteriak.
__ADS_1
Sania langsung membuatkan kopi sesuai jawaban Aditama.
Beberapa saat kemudian Aditama keluar dari kamar mandi membuat Sania menatapnya sejenak lalu menunduk.
Entah mengapa Aditama tampak lebih taman stelah mandi dalam pandangan Sania.
Setelah Aditama duduk, Sania mengambilkan nasi, ayam goreng kalasan, dan sayur asem yang dimasak nya tadi. "Maaf, mas. Hanya ada ini saja," terang Sania merasa tidak enak hati karena berpikir pasti di rumah Aditama ada yang lebih enak dari masakan nya.
Jelas saja Sania berpikir begitu karena Aditama memiliki dua istri cantik dan hebat pula.
Aditama tersenyum. "Nggak masalah buat mas, Sania. Kamu juga makan ya," sahut Aditama kemudian memulai makan setelah Sania juga makan.
"Mas mau nambah?" tanya Sania melihat makan di piring Aditama telah tandas lebih dulu.
"Boleh?" tanya Aditama membuat Sania terkekeh.
"Boleh, dong. Ayam dan sayur asem nya masih banyak begini sayang kalau gak di habiskan," terang Sania. Tidak tahu mengapa hatinya merasa senang ketika melihat Aditama makan masakan nya dengan lahap. Tangan nya pun lincah mengambilkan nasi, lauk, dan sayur yang tersedia.
Selesai makan, Sania mencuci piring kotor bekas makan mereka barusan. Sementara Aditama melihat itu tersenyum
Pria itu dapat melihat bila Sania menikmati kehidupannya yang sederhana.
Keduanya duduk bersebelahan yang memiliki jarak dua jengkal di kursi rotan itu. Sania menunduk dengan meremas jemari-jemari nya.
Sania mengangguk. "Aku baru tahu tadi kalau ternyata rumor tentang bos ku punya dua istri ternyata sekarang suamiku," ia menjelaskan apa yang diketahui nya. Karena selama bekerja di Perusahaan milik Aditama tak pernah tahu wajah bos nya bagaimana.
"Kalau mas keberatan dengan keadaan kita, mas bisa talak aku sekarang."
Sontak Aditama menoleh ke arah Sania. Ia tidak suka mendengar kalimat yang terucap oleh bibir istri ketiganya itu.
"Pernikahan kita sah secara agama karena mas menikahi mu melalui wali nikah kamu. Pernikahan bukan main-main, Sania!" desis Aditama tidak suka.
Sania semakin menunduk. Tentu saja tahu bila pernikahan itu bukanlah suatu hubungan main-main. Tapi masalahnya adalah posisinya yang menjadi istri ketiga.
"Tapi, bukankah pernikahan kita karena terpaksa dan demi menyelamatkan nama baikku saja, mas?"
Aditama terdiam sejenak. Benar yang dikatakan Sania bila mereka menikah karena terpaksa dan demi menyelamatkan nama baik istri ketiganya itu.
"Tapi mas gak akan mungkin ninggalin kamu sementara bang Satria sudah memberi amanah buat mas," sahut Aditama pada akhirnya.
__ADS_1
"Amanah apa, mas?"
"Bukan apa-apa."
Keduanya terdiam untuk waktu yang lama. Pikiran mereka sama-sama melayang bagaimana nasib pernikahan mereka
Aditama berpikir bagaimana dirinya membagi waktu untuk kebersamaan ketiga istrinya. Kepalanya mendadak sakit memikirkan hal tersebut.
Selama ini Aditama selalu membagi waktu 10 hari untuk Elena, 10 hari untuk Renata, dan sisa 10 hari lagi ia gunakan untuk menenangkan pikiran nya sendiri.
"Mas gak pulang?" tanya Sania karena takut kedua istri Aditama curiga.
Lagi-lagi ucapan Sania membuat Aditama kesal. "Kamu mengusir, mas?" tanyanya mencebik bibirnya. Bagaimana bisa Sania mengusirnya sementara kedua istrinya di rumah selalu mencoba mencari-cari perhatian nya.
Sania menelan saliva mendengar pertanyaan Aditama yang terdengar menyeramkan di telinga nya. "Bu-bukan begitu. Ya sudah kalau mas mau tetap tinggal," jawabnya mengalah.
Aditama tersenyum melihat Sania mengizinkannya tetap tinggal. Walau tidak menginap, tetapi masih memiliki untuk saling mengenal.
"Sejak kapan kamu bekerja di Kantor?"
"3 bulan lalu, mas."
"Kenapa harus di posisi itu? bukankah kamu S1?"
Sania terkekeh. "Rejekinya disitu, mas!"
"Kamu di rumah saja, ya. Biar mas yang tanggung kebutuhan kamu sepenuhnya," tidak tahu ini adalah perintah atau permintaan. Tapi yang pasti, sedari dulu Aditama ingin sekali memiliki istri yang tidak bekerja di luar. Cukup mengurus nya dan anak-anak nya kelak.
Untuk sesaat kedua mata mereka bertemu. Tentu saja Sania mengerti maksud dari ucapan Aditama. Tetapi keadaan mereka berbeda.
"Hubungan kita nggak sejauh itu, mas. Aku takut di cap sebagai pelakor. Aku gak siap untuk menghadapi kedua istri, mas."
Aditama memahami apa yang dirasakan Sania. Tapi, ia merasa ada yang mendorong hatinya untuk mempertahankan Sania.
"Belum, Sania. Bukan nggak."
"Aku takut, mas."
"Kasih waktu untuk kita saling mengenal, Sania. Apa kamu ingin mempermainkan pernikahan kita?"
__ADS_1
Sania kembali menatap mata Aditama kemudian menggeleng. Ia teringat kembali pesan orang tuanya.
"Baiklah, mas."