Menjadi Istri Ketiga

Menjadi Istri Ketiga
2. Terpaksa Menikah


__ADS_3

"Percaya sama Sania, bang. Nggak mungkin Sania melakukan sesuatu yang memalukan begini," Sania masih membela dirinya sendiri dihadapan sang kakak.


Satra, kakak Sania hanya dapat menghela nafas panjang.


Ketika Aditama mengatakan hendak menikahi nya dan disetujui oleh Pak RT dan kebetulan ada ustadz dan dua warga tersebut. Tetapi, Sania mengatakan masih memiliki wali nikah.


Dan disinilah Satria. Beruntung tiket pesawat dari Surabaya ke Jakarta masih ada dalam waktu sempit seperti ini.


"Ini salah kamu, Sania. Kenapa memasukkan laki-laki asing ke rumah, padahal kamu sendirian!" terang Satria membuat Sania terdiam karena ucapan sang kakak adalah benar.


"Saya juga menikahi kamu agar nama kamu di kampung ini tetap baik. Pikirkan kalau tidak ada pernikahan, yakin kamu akan aman di kampung ini?" tanya Aditama menjelaskan maksud dari tawaran nya hendak menikahi Sania.


Sania menunduk bingung. Ucapan sang kakak dan Aditama, keduanya sama-sama benar. Apalagi jika menyangkut ghibah. Pasti akan cepat merayap.


Beruntung hingga subuh masih dalam keadaan gerimis. Jika cuaca cerah pasti akan banyak para ibu-ibu berada di rumahnya, sekarang.


"Haruskan menikah untuk menyelesaikan ini?" tanya Sania kepada sang kakak.


Satria hanya mengangguk. Sebenarnya, kedua nasib adik nya membuat pikiran nya bertambah. Tapi tetap saja pada akhirnya berharap semua baik-baik saja.


Pukul 4 subuh, terikrar lah janji suci di hadapan Sang Pemilik Jagat Raya. Dua insan yang tidak pernah kenal dan bertemu sebelum nya telah sah menjadi pasangan suami istri dengan Satria menjadi wali nikah Sania.


Setelah akad nikah Pak RT, ustadz, dan kedua warga itu kembali ke rumah masing-masing. Aditama juga meminta agar kejadian ini tidak di sebar luaskan. Tetapi pernikahan ini tidak apa-apa jika tersebar agar ia berkunjung tidak membuat salah paham.


Satria hanya dia saja begitu pula Aditama. Satria yang melihat itu pun menghela nafas panjang. "Pergilah kalian masuk ke kamar. Pasti sangat capek, bukan?" tanyanya seraya bangkit dari tempat duduknya, kemudian masuk ke dalam kamar sebelah kamar Sania. Kamar ini biasa ia gunakan ketika sedang berkunjung.


Tidak ada ucapan yang keluar diantara Sania dan Aditama. "Biar saya tidur di sini saja," ucap Aditama yang mengetahui ketidaknyamanan Sania.


Sania menatap Aditama. Di rumahnya tidak ada sofa, hanya kursi terbuat dari rotan. Memang terdapat kursi panjang, tetapi tidak yakin ukuran nya seimbang dengan tinggi badan pria itu.


Sania masuk ke dalam kamar mengambil bantal dan selimut buat Aditama lalu masuk ke dalam kamar.


Untuk beberapa jam ketiga orang di dalam rumah kontrakan itu beristirahat.


*


*


Hanya dua jam waktu yang digunakan Sania untuk beristirahat. Karena harus menyediakan sarapan bagi kakak dan suaminya.


Sania mendesaah memikirkan pernikahan kilat nya itu.


Udah memasak, Sania berjalan menuju ruang tamu buat membangunkan Aditama. Ia meringis melihat Aditama tertidur meringkuk karena kaki nya lebih panjang dari kursi rotan yang digunakan nya untuk tempat tidur.


Sania menepuk-nepuk kaki Aditama lembut. "Em.. Mas," panggilnya dan tidak lama Satria bergerak karena terusik dengan panggilan nya.

__ADS_1


"Maaf. Kamu memanggil saya?" tanya Aditama dengan suara serak khas bangun tidur seraya menegakkan tubuhnya.


Aditama mendengar Sania memanggilnya bukan dengan sebutan tuan seperti malam tadi.


Sania mengangguk. "Mandi dulu, mas. Aku sudah masakin."


Aditama tersenyum disertai anggukan. Kemudian bangkit bergegas ke kamar mandi. Sementara Satria baru memasuki rumah.


Sania melipat selimut yang digunakan Aditama.


"Sania."


Sania yang dipanggil oleh Satria langsung menoleh. "Ya," kemudian ikut duduk karena Satria duduk.


"Jadilah istri yang baik. Perlakukan dia semana mestinya agama kita mengajarkan," ucap Satria.


"Sania belum mengenalnya, bang."


"Masih belum bukan berarti tidak. Sudah persiapkan sarapan suamimu," ucap Satria setelah mendengar suara pintu terbuka dari arah dapur.


Kakak beradik itu bangkit, Sania memasukkan selimut dan Bantar ke kamar terlebih dahulu lalu menyusul ke dapur.


Aditama sudah duduk di meja makan begitu juga dengan Satria.


"Maaf. Hanya ada nasi goreng," ucap Sania tidak enak hati.


Sania menyediakan dua gelas kopi untuk kakak dan suaminya, barulah ia duduk dan ikut makan bersama.


Satria menghabiskan sarapan lebih dulu dan membawa kopi nya ke ruang tamu membiarkan pasangan suami istri itu memiliki waktu bersama.


"Sania. Sa-saya,-"


"Mas. Jangan terlalu formal begitu," potong Sania merasa aneh karena Aditama begitu.


Aditama mengangguk mengerti. "Mas harus pulang, ya. Setelah pulang kantor, mas akan mampir. Tapi mas boleh minta nomor ponsel kamu?" tanya nya pelan-pelan takut Sania tersinggung.


Sania tersenyum disertai anggukan. "Iya, aku mengerti. Aku juga harus bekerja setelah ini," sahutnya kemudian memberikan nomor ponselnya kepada Aditama.


Selesai sarapan Sania mencuci piring kotor lalu mengganti pakaiannya. Bukan seragam kerja, karena seragam nya ia masukkan ke dalam ransel yang berada di punggung nya.


Sementara Aditama sudah menghubungi asisten nya agar menjemput nya di tempat mobilnya yang mogok.


"Maafkan saya, bang. Saya memakai baju Abang lagi," ungkap Aditama tak enak hati kepada Satria. Walau baru bertemu, ia merasa Satria adalah seseorang yang bijak.


Satria melihat Aditama memakai kaos dan celana panjang bahan denim miliknya yang dipakai adik iparnya pun terkekeh. "Nggak masalah. Beruntung saya punya celana dalaam baru, kan? kalau ggak," ucapnya menggeleng. "Bagaimana nasib masa depanmu," lanjutnya lagi membuat Aditama malu.

__ADS_1


Aditama dan Sania pamit pergi pada Satria. Keduanya berjalan beriringan dengan suasana canggung. Bila malam tadi mereka berjalan dengan payung yang sama Nggak ada kecanggungan, berbeda dengan pagi inim Mungkin karena status yang sudah berubah.


Sesampainya di persimpangan, Asisten Aditama bernama Bagas itu telah menunggu.


Bagas menunduk hormat melihat Aditama sudah berdiri tak jauh darinya.


"Baiklah, San. Mas akan mengantarkanmu ke tempat kerja," tuturnya kepada Sania.


"Apa nggak merepotkan?" tanya Sania yang sebenarnya butuh tumpangan.


Aditama tersenyum disertai gelengan. Dengan tangan nya sendiri ia membukakan pintu penumpang tanpa perduli kan kehadiran Bagas.


Setelah Sania masuk, Aditama ikut masuk. Sedangkan Bagas langsung masuk di kursi kemudi. Walau banyak pertanyaan yang hinggap dalam benaknya, tapi urung bertanya karena masih ada Sania.


Sania meminta di antar hanya sampai di pertigaan karena tidak ingin orang-orang menatapnya aneh.


"Hati-hati."


Sania mengangguk canggung lalu keluar dari mobil.


*


*


"Jaga matamu, Gas. Ini kalau bukan karena mobil itu mogok, maka semuanya gak akan terjadi!" Aditama mencurahkan apa yang di rasanya.


"Maksud tuan?"


Aditama melihat tatapan mata Bagas kesal. "Tadi malam aku menikah dengan Sania karena dipergoki nggak pakai celana di rumah Sania," ungkapnya tanpa beban karena hanya Bagas selama ini mendengarkan keluh kesahnya.


Bagas yang masih menyetir langsung memijak pedal rem.


"Kau cari mati?!!" sentak Bagas.


Bagas meringis. "Maaf, tuan. Saya nggak sengaja karena kaget dengan ucapan tuan. Apa boleh saya bertanya?"


Aditama hanya berdehem saja.


"Apa tidak cukup dua lubang yang di rumah, tuan?"


Aditama menatap Bagas dengan tatapan tajam melalui kaca spion tengah yang berada di mobil. Karena kesal juga ia memberi tendangan di belakang kursi kemudi.


"Kamu kira aku apa, Gas? itu hanya salah paham. Tapi karena aku kasihan pada Sania yang akan mendapat gunjingan jadi aku nikahi saja," kata Aditama lalu menceritakan kronologi malam tadi sebelum kejadian pernikahan kilat itu.


Bagas pun mengangguk mengerti. Sudah dua hari ia berada di luar kota karena urusan pekerjaan dan baru kembali tengah malam tadi.

__ADS_1


"Mungkin sudah takdirku, Gas."


Bagas menghela nafas panjang. "Tuan berhak bahagia!" ucapnya kemudian melajukan mobilnya kembali menuju mansion Aditama.


__ADS_2