
Aditama memandangi kedua istrinya bergantian sedang sarapan bersama dengan nya. Malam tadi Elena baru sampai setelah 3 hari keluar kota dengan urusan pemotretan.
"Hari ini adalah waktu mas sendiri. Mas akan pergi beberapa hari untuk ke pabrik," tutur Aditama.
"Boleh ikut?" tanya Renata.
"Iya, mas. Boleh kan?" Elena tentu tidak ingin Aditama pergi berdua dengan Renata.
Aditama menghela nafas panjang. "Mas sendiri saja. Kalian itu sangat disibukkan dengan pekerjaan kalian, mas gak mau pekerjaan kalian terbengkalai."
Mendengar ucapan Aditama membuat keduanya bungkam karena benar adanya. Akhirnya mereka mengizinkan Aditama pergi tanpa mereka.
Sesuai perkataan Aditama, dirinya akan pergi setelah makan siang. Keperluan nya sudah di siapkan oleh Elena dan Renata.
"Terimakasih," kata Aditama tulus dan menerima dua koper yang diserahkan oleh Elena dan Aditama.
Aditama tahu pasti kedua istrinya tidak ingin hanya salah satu saja yang menyiapkan keperluan nya. Karena hal itulah yang membuat nya menerima kedua koper itu.
"Kabari kami kalau mas sudah sampai," tutur Elena dan disetujui oleh Aditama.
__ADS_1
Aditama berpamitan dengan kedua istrinya lalu masuk ke dalam mobil yang sudah ada Bagas di dalam sana.
"Berangkat, Gas."
Bagas berdehem seraya memerhatikan sang bos lewat kaca spion yang ada di depan nya.
"Antarkan aku ke rumah Sania. Kamu saja yang berangkat ke Bekasi."
Nah kan benar dugaan Bagas bila aditama pergi dari rumah dan akan berkunjung ke pabrik hanya sebuah alasan saja.
Kalau sudah begini, Bagas bisa apa? dirinya hanya seorang bawahan yang hanya dapat menurut dengan semua perkataan sang bos.
Selang beberapa saat, mobil yang dikendarai Bagas telah sampai di samping rumah Sania. Aditama keluar dari mobil diikuti oleh Bagas yang kemudian membuka bagasi dan mengeluarkan dua koper milik Aditama sekaligus.
Bagas membawa dua koper itu hingga ke depan pintu rumah Sania.
"Terimakasih, Gas. Kamu boleh pergi, sekarang!" ucap Aditama dan Bagas menurut.
Aditama mengetuk pintu dan tidak lama Sania membuka pintu. Gadis itu tercengang melihat Aditama datang dengan membawa dua koper.
__ADS_1
"Mas mau kemana?" tanya Sania sekaligus mempersilahkan Aditama masuk ke dalam rumah. Ia mundur memberi jalan buat Aditama masuk.
"Mas mau menginap satu Minggu disini boleh?" tanya Aditama duduk di kursi rotan,eletakkan dua koper di sudut ruangan.
Sania terperanjat tetapi mimik wajahnya berubah cemas. "Gimana dengan kedua istri, mas?"
Aditama terkekeh seraya meraih kedua tangan Sania dan menggenggam nya. "Kamu gak perlu khawatir, mereka gak akan tahu. Mas juga harus berlaku adil kepadamu," terang nya membuat Sania tersenyum.
Sania mengangguk lemah dan pasrah. Dirinya tidak ingin menuntut apapun. Sekarang baginya hanya menerima takdir yang dijalani nya.
"Mas sudah makan?" tanya Sania lembut.
"Sudah. Kamu?" tanya Aditama dan mendapat gelengan dari Sania.
"Kenapa belum makan? ayo mas temenin makan," kata Aditama kemudian bangkit dan menarik tangan Sania pelan agar ikut berdiri.
Aditama menyuruh Sania duduk dan dirinya yang mengambil makan agar mereka makan dalam satu piring berdua.
Awalnya Sania tampak malu-malu, namun lama-kelamaan tampak tak canggung lagi. Sania juga sudah tak malu lagi untuk memberi suapan kepada Aditama.
__ADS_1
"Masakan kamu memang selalu enak, San!"