
Sania meringis menatap tampilan nya terlihat sangat cantik dengan dress sepanjang sampai di bawah lutut saja dan tas selempang.
Aditama benar-benar membuat dirinya terlihat sangat cantik. Ia pernah bermimpi akan terlihat cantik seperti ini dan bersanding dengan pria yang dicintainya, Malvyn Carlson Abraham. Pria itu adalah cinta pertamanya.
Pria yang selalu dianggapnya sebagai pangeran yang akan menjemput nya bagi Cinderella ternyata mencintai adik tirinya, Aisyah.
Sania menipiskan bibir ketika mengingat ucapan Malvyn yang begitu menyakitkan hingga masih tertancap di hatinya.
Kejadian itu adalah kebodohan nya. Dirinya tidak bermaksud melakukan itu pada Aisyah. Dan selama dua tahun ini hidupnya penuh dengan penyesalan.
"Sudah selesai?" tanya Aditama melihat penampilan baru Sania.
Sania membalikkan badannya dan mengangguk. "Apa aku pantas pakai baju begini, mas?" tanya Sania.
Aditama mendekati Sania. "Kamu adalah istriku, Sania. Tentu saja sangat pantas."
Sania mencoba tersenyum. Andai kamu tahu betapa jahatnya aku dulu, mas. Aku hampir merusak kebahagiaan adikku sendiri.
"Ayo kita berangkat," ajak Aditama mempersilahkan Sania berjalan lebih dahulu.
Sania menuruti dan segera keluar dari butik tersebut kemudian masuk ke dalam mobil yang sebelumnya pintu mobil telah dibuka lebih dulu oleh Aditama.
Aditama membawa Sania ke restoran yang berbeda dari restoran yang biasa didatanginya bersama Elena dan Renata.
Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Sania telah sampai di sebuah restoran Korea membuatnya meringis.
"Mas suka dengan restoran Korea?" tanya Sania.
Aditama terkekeh. "Enggak. Kedua istri mas suka dengan makanan Korea. Mas pikir kamu juga suka," jawab Aditama membuat Sania mencoba tersenyum.
Keduanya keluar restoran dan memasuki sebuah ruangan yang telah direservasi oleh Aditama sebelumnya.
__ADS_1
"Makasih, mas."
Aditama mengangguk kemudian duduk di hadapan Sania. Tidak berapa lama pesanan mereka datang karena pria itu juga telah memesan lebih dulu agar tidak menunggu lama setelah tiba di restoran tersebut.
"Makanlah. Samgyetang ini sangat enak," tutur Aditama menyodorkan sesuap samgyetang kepada Sania.
Sania menatap Aditama dan pria itu menunjuk sendok yang di depan mulutnya dengan dagu agar Sania segera membuka mulut.
Aditama tersenyum. "Enakkan?" tanya lnya dan diangguki oleh Sania.
Keduanya makan malam bersama dan dibarengi dengan obrolan yang menjurus pada pendekatan agar saling mengenal.
Aditama sendiri tahu bila Sania masih membatasi kedekatan mereka. Tapi tidak mengapa, asal istri ketiga nya itu nyaman berdekatan dengan nya sudah lebih dari cukup.
*
*
"Kamu hati-hati di rumah sendiri. Mas pulang dulu!" kata Aditama setelah baru saja mengantar Sania ke dalam rumah.
Sekali lagi perlakuan Sania membuat hati Aditama menghangat. Ia membalikkan badan hendak keluar dari rumah itu. Tetapi kembali menoleh ketika Sania memanggil nya.
"Ya," sahut Aditama.
Sania melangkah mendekati Aditama lalu mengecup pipi pria itu. "Aku minta maaf belum bisa jadi istri seutuhnya, mas."
Aditama tersenyum. "Jangan terburu-buru, Sania. Mas ngerti, jangan dipikirkan. Baik-baik dirumah," tutur Aditama mengelus rambut Sania kemudian benar-benar pergi dari rumah Sania.
*
*
__ADS_1
Sesampainya di rumah Aditama di sambut oleh Renata yang sedang menggambar sebuah pakaian. "Maaf mas pulang malam," tutur Aditama melihat hasil gambar Renata yang patut diacungi jempol.
Renata mengangguk. "Aku ngerti, mas. Mas sudah mau tidur?" tanyanya karena belum selesai mengerjakan pekerjaan nya.
"Belum. Mas mau lihat hasil kerja kamu, Ren."
Renata tersenyum. Inilah mengapa dirinya begitu mencintai Aditama walau tahu cinta nya tak terbalas sedari dulu.
Renata bangkit membawa hasil gambarnya selama seminggu ini dikerjakan nya mendekati Aditama yang sedang duduk di sofa.
"Mas pilih yang mana?" tanya Renata.
Desain baju kali ini akan digunakan oleh Elena saat peluncuran telepon genggam keluaran terbaru dari perusahaan aditama.
Ya, Elena sebagai model brand ambassador di Perusahaan milik Aditama.
"Aku juga desain itu sesuai permintaan mbak Elena, mas. Tapi aku buat beberapa model agar bisa mas pilih," tutur Renata terlihat senang setiap kali Aditama melihat hasil kerjanya.
Aditama dan Renata adalah sahabat dari kecil dan orang tua Renata menitipkannya kepada Aditama sebelum meninggal dunia.
Aditama memutuskan menikahi Renata, sementara dirinya telah menikah dengan Elena karena dijodohkan.
Awalnya Elena menolak. Tapi karena Renata selalu menurut dan mengalah kepada Elena membuat istri pertama Aditama perlahan menerima kehadiran Renata.
Tetapi tetap saja, hubungan yang terlihat baik-baik saja di hadapan Aditama, menyimpan sebuah persaingan yang tak kasat mata.
Aditama juga mengatakan bila keduanya merasa tidak adil dan tidak tahan pada pernikahan mereka boleh menggugah cerainya. Tetapi kedua istri Aditama tidak ada yang ingin berpisah.
"Ini lebih bagus, Ren. Mas gak mau Elena memakai pakaian terbuka," tutur Aditama memberikan selembar kertas yang menunjukkan sebuah desain gaun sederhana namun elegan.
Apalagi tubuh Elena yang profesional tentu akan sangat indah bila dikenakan istri pertamanya.
__ADS_1
"Tapi mbak Elena mau nya yang ini," kata Renata tetapi tetap saja Aditama menolak.
"Mas mandi dulu. Kamu jangan terlalu malam kerjanya. Mas tunggu di kamar," kata Aditama.