
Pukul 10 malam Aditama baru saja sampai ke di rumahnya. Tidak ada yang menyambut karena sudah waktunya tidur.
"Baru pulang, tuan?" tanya Bi Sumi, Asisten Rumah Tangga di rumahnya yang bertugas sebagai juru masak.
Aditama melihat kearah Bi Sumi berada. "Iya, bi. Apa Elena dan Renata sudah pulang, bi?" tanya Aditama duduk di sofa.
"Nyonya Renata baru saja pulang dan nyonya Elena belum, tuan."
Aditama mengangguk mengerti. Siang tadi, kedua istrinya mengabarinya jika akan pulang terlambat karena pemotretan dan pameran fashion show desainer lokal.
"Apa ada masalah, tuan?"
Sebagai orang yang menjaga Aditama sedari kecil tentu saja mengerti bila Aditama sedang dilanda masalah.
Aditama tersenyum. "Nggak ada, bi! aku hanya capek," kilahnya tidak sepenuhnya berbohong kepada bibi Sumi.
"Aku ke atas ya, bi."
Bibi Sumi hanya mengangguk.
Aditama masuk ke dalam kamar dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia naik ke atas tempat tidur dan memejamkan matanya karena benar-benar lelah tadi bermain ular tangga bersama Sania.
*
*
Saat Sania sedang sarapan dikejutkan dengan kedatangan Aditama. Ia pun segera menunda sarapan demi menyambut suaminya.
"Kok mas datang pagi-pagi begini?" tanya Sania.
Sebenarnya ini sudah waktu nya berangkat bekerja, namun karena Sania mendapat giliran membersihkan lantai 5 siang hari, maka ia berencana datang sebelum waktu makan siang.
Aditama mencebik. "Apa mas gak boleh mampir?"
Sania mengusap tengkuk lehernya. "Boleh, sih!" ia menggeser tubuhnya agar Aditama dapat masuk ke dalam rumah. "Masuk, mas!"
"Jangan merasa gak enak begitu mas kunjungi kamu begini. Di rumah juga mas selalu mampir melihat istri mas yang lain walau bukan giliran mereka," ungkap Aditama membuat Sania menghentikan langkahnya dan hanya anggukan sebagai jawaban.
Sania menuju dapur diikuti Aditama. "Mas mau minum kopi?" tanyanya.
Aditama menggeleng. "Mas sudah minum kopi di rumah. Kamu sedang sarapan? kok gak diterusin?" tanyanya beruntun.
Sania tersenyum merasa Aditama begitu cerewet. Padahal jika berada di Kantor, pria itu terkenal tegas.
"Ini aku terusin," kata Sania lalu duduk di tempatnya semula untuk meneruskan sarapan.
Sementara Aditama yang duduk dihadapan Sania hanya tersenyum memerhatikan istri ketiganya sedang makan.
"Bungkuskan buat mas makan siang ya," celetuk Aditama membuat Sania tersedak. Dengan sigap Aditama memberikan segelas air minum.
__ADS_1
"Mas, serius? ini cuma sambal telur balado dan tumis buah pepaya, loh!" Sania tidak yakin bila Aditama akan menyukainya.
"Gak apa-apa, San. Mas mau kamu bungkuskan, ya."
Sania mengangguk dengan senyum manis yang menghiasi wajah nya.
Usai membuat bekal, Sania membawa bekal itu ke ruang tamu dimana Aditama berada. "Ini, mas. Dimakan, ya!" katanya dan diterima oleh Aditama.
Aditama mengangguk disertai senyuman. Sangat jarang sekali senyuman itu dilihat bila berada di Kantor.
"Mas berangkat dulu, ya. Uang bulanan sudah mas kirim ke nomor rekening kamu, ya."
"Mas tahu dari mana nomor rekening aku?"
"Dari CV kamu. Mas berangkat," kata Aditama mengakhiri obrolan mereka.
Sania mengangguk lalu meraih tangan Aditama dan melakukan salam takzim. Hati Aditama sendiri menjadi hangat diperlakukan seperti itu.
Aditama keluar dari rumah Sania dan masuk ke dalam mobilnya yang berada di samping rumah istri ketiganya itu.
"Sudah minta jatahnya?" goda Bagas kepada Aditama.
"Diamlah! cepat jalan, Gas?!!"
Bagas menurut serta kekehan nya terdengar ditelinga Aditama. Sebagai seorang suami, Aditama begitu berusaha seadil mungkin kepada para istrinya.
*
*
Tugas nya sebagai istri ketiga berbeda dengan istri pertama dan kedua. Jika istri pertama di duakan, istri kedua diutamakan, maka istri ketiga adalah tempat persinggahan.
Seperti itulah Sania memposisikan dirinya.
"San. Kita di pindah tugas ke lantai atas," tutur Anggi baru tiba dan membuka lokernya.
Sania menoleh kemudian menutup loker. "Pindah gimana? jadi sekretaris gitu?" kekeh Sania merasa ucapan Anggi hanya gurauan saja.
Anggi berdecak kesal, ia melangkah kan kaki ke sudut ruangan mengambil peralatan pembersih. "Kita harus ke lantai para petinggi Perusahaan. Ayo cepat, selagi mereka makan siang!"
Mata Sania mendelik. "Itu berarti ke ruang Presdir juga?"
Anggukan memutar bola matanya jengah. "Jangan nampak banget begoo nya, San!"
Sania meringis dan mengikuti langkah Anggi.
Kedua gadis itu segera membersihkan setiap ruangan dengan hati-hati. Hanya tersisa dua ruangan lagi. Ruangan Asisten Presdir dan Ruang Presdir.
Sania tentu tahu ruangan siapa itu.
__ADS_1
"San. Kamu ke ruang Presdir, ya. Aku takut," bisik Anggi.
Sania hanya mengangguk saja karena tidak ingin membuat keributan dan segera selesai. Sania mengetuk pintu dan mendapat sahutan dari dalam barulah ia membuka pintu tersebut.
"San," kata Aditama melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
Sania memberanikan diri mendekat ke meja kerja Aditama. "Mas. Boleh tanya?" tanyanya.
Aditama hanya mengangguk seraya memeriksa pekerjaan nya.
"Mas yang pindahin tugas aku ke sini, ya?"
Aditama menatap Sania dan mengangguk. "Kamu nggak keberatan kan?"
"Tapi gimana kalau ada yang curiga?" tanya Sania lagi.
Aditama terkekeh melihat Sania yang khawatir. Iya pun segera bangkit lalu menuntun Sania agar duduk di sofa.
"Enggak perlu khawatir. Sudah! sekarang temani mas makan siang ya."
"Aku masih jam kerja, mas!" tolak Sania secara halus.
"Enggak ada penolakan, Sania!" ucap Aditama enteng membuat Sania mencebik bibir nya.
"Dasar pemaksa!!" gerutu Sania namun tetap menuruti Aditama.
Aditama tertawa nyaring setelah mendengar gerutuan Sania barusan. Ia akui obrolan mereka sedikit lebih akrab setelah Malam kemarin baik. Aditama ataupun Sania sudah lebih berani menampakkan bagaimana diri mereka masing-masing.
Seperti sekarang ini Sania sudah berani menggerutu di depannya dan ia sendiri dapat tertawa lepas di depan istri ketiganya.
Memang belum ada sentuhan fisik lebih dari pegangan tangan tetapi keduanya merasa ini jauh lebih baik.
"Masakan kamu enak. Kamu harus selalu masak setiap Mas mampir ke rumah," tutur Aditama sambil mengunyah makan siang nya.
Tentu saja ucapan Aditama membuat Sania merasa senang. Ia tidak ingin meminta lebih seperti harus memiliki Aditama sendiri sangat sadar posisinya adalah yang ketiga sehingga hanya memasakkan sesuai permintaan Aditama sudah membuatnya bahagia.
Sania tidak tahu apakah dirinya sudah mencintai Aditama atau belum yang pasti melihat Aditama menghargai pernikahan dan bersikap baik padanya membuat hatinya bahagia.
"Apa Mas akan mampir malam nanti?" tanya Sania pelan.
Aditama menghabiskan air minum di gelas yang disediakan Sania. Kemudian menoleh menatap Sania lalu mengangguk.
"Apa kamu merasa nggak adil kalau mas hanya memiliki waktu beberapa jam saja untukmu?"
Pertanyaan Aditama langsung membuat Sania menggeleng. "Aku mengerti posisiku, mas. Jangan khawatir," sahutnya namun merasakan nyeri dihati.
Aditama memberanikan diri mengecup kening Sania.
"M-mas," ucap Sania gugup.
__ADS_1