
Sania meraih tangan Aditama lalu dicium salam takzim punggung tangan suaminya itu. "Aku berangkat, mas."
Aditama tertegun atas apa yang baru saja dilakukan Sania. Lagi-lagi hati nya menghangat menerima perhatian kecil dari istri ketiga nya itu. Sebagaimana tidak pernah dirasakan selama ini dari kedua istrinya.
Memang, kedua istrinya selalu berusaha mencari perhatian agar mendapat perhatian darinya. Namun, agaknya kedua wanita bergelar istrinya itu lupa jika pernikahan bukan melulu kepuasan di ranjang saja.
"San," panggil Aditama ketika Sania sudah melangkah beberapa langkah menjauh darinya.
Sania menoleh ke belakang. "Ya, mas."
Tatapan keduanya bertemu. "Hati-hati." Aditama melangkah maju mendekati Sania dan memberikan sejumlah uang kepada istri ketiga nya itu. "Ini ongkos buat kamu. Uang bulanan kamu akan mas kirim ke rekening saja," terang nya.
Sania melihat sejumlah uang itu. Lima lembar uang pecahan ratusan ribu bagi nya terlalu banyak hanya untuk ongkos saja. Jika diperhitungkan, uang sebanyak ini dapat dihabiskan selama lebih dari seminggu.
__ADS_1
"Ini terlalu banyak, mas." Kata Sania kepada Aditama dan hendak mengembalikan 4 lembar uang berwarna merah itu tetapi dihalangi oleh Aditama.
"Simpan saja, Sania. Sudah menjadi tugas mas untuk melengkapi kebutuhan kamu."
Sania mengangguk saja dan benar-benar pamit bekerja meninggalkan Aditama di rumah kontrakan nya. Saat sudah berada di halte, tak berapa bus yang akan menuju ke kantor Aditama telah tiba dan ia pun menaiki bus tersebut.
Sesampainya di Kantor, Sania segera mengganti pakaian yang dikenakannya dengan seragam office girl seperti biasa. Di ambil ember dan kain pel dan ia pun membawa peralatan kerjanya menuju lantai teratas tempat yang akan ia bersihkan.
Sementara di rumah Sania, Aditama sedang sibuk dengan laptop dan tumpukan berkas yang baru saja diantar oleh Bagas. Kini, kedua pria tampan tersebut sedang disibukkan oleh pekerjaan.
Aditama menghentikan pekerjaannya saat mendengar pertanyaan dari Bagas. Ia juga ikut melihat sekeliling ruangan tersebut. "Aku hanya berusaha adil."
"Apa rumah yang aku katakan kemarin, sudah selesai urusannya?" tanya Aditama kemudian karena rencana nya akan membawa Sania pindah ke Rumah baru.
__ADS_1
"Dua hari lagi sudah dapat ditempati, tuan."
Aditama hanya mengangguk saja kemudian keduanya kembali pada pekerjaan.
Sore hari, Aditama tampak gelisah karena Sania tidak kunjung pulang padahal sudah pukul lima sore. Pria itu seakan lupa jika pekerjaan isterinya tentu saja akan membuat terlambat pulang karena harus membersihkan seluruh ruangan kantor terlebih dahulu.
Langit hampir gelap barulah Sania tiba di rumah. Ada perasaan tak nyaman karena terlambat pulang. "Maaf ya, mas. Besok hari libur. Jadi, kami harus lembur."
Aditama tersenyum disertai anggukan. Tentu saja ia paham dengan ucapan Sania. Sebab, tempat kerja Sania di kantornya sendiri. "Yang penting, kamu harus jaga kesehatan. Jangan sampai sakit," tutur Aditama.
Sania hanya menjawab iya saja kemudian masuk ke dalam kamar mengambil pakaian ganti dan handuk. Lalu segera ke dapur dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Aditama sedang duduk di ruang tamu berhadapan langsung dengan kipas angin yang anginnya sendiri sudah tidak terlalu kencang.
Melihat Sania sudah masuk ke dalam dapur, Aditama memilih masuk ke dalam kamar karena ingin rebahan di tempat tidur sambil bermain ponsel. Ia harus memberi kabar kepada kedua istrinya itu.
__ADS_1
"Mas!!!!"