Menjadi Istri Ketiga

Menjadi Istri Ketiga
6. Kecewa


__ADS_3

Sania berjalan mondar mandir menatap pintu kamar nya yang masih tertutup semenjak dua jam lalu. Di dalam kamar nya terdapat Aditama yang sedang tertidur pulas.


Dua jam lalu setelah makan malam bersama dan mengobrol sebentar, Aditama ingin tidur sebentar saja. Tetapi lihatlah, sudah dua jam dan sekarang sudah larut malam tetapi suaminya tak kunjung bangun.


Sementara Sania sudah mengantuk dan ingin segera tidur karena esok harus bangun pagi. Akhirnya Sania memutuskan masuk ke dalam kamarnya melihat Aditama masih tertidur pulas.


Hendak membangunkan juga kasihan karena sudah tengah malam, akan sangat berbahaya jika harus menyetir dalam keadaan mengantuk.


Dengan perlahan Sania mengambil bantal untuk ia bawa ke kamar Satria.


"Mau kemana?" tanya Aditama dengan suara serak khas bangun tidur.


Sania tersentak lalu menoleh kearah Aditama. "A-aku mau ke kamar bang Satria, mas!"


Masih dengan mata mengantuk, Aditama mengerutkan dahi. "Mau ngapain? tidur disini saja."


Mendengar ucapan Aditama membuat detak jantung Sania berdegup lebih kencang. "M-mas mau pulang?" tanyanya kemudian sadar jika pertanyaan itu akan membuat salah paham.


"Mas sangat mengantuk. Mas mau menginap disini saja. Boleh?"


Sania mengangguk lemah.


"Tidurlah disini," kata Aditama.


Sania gugup namun tetap naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuh nya di sebelah Aditama.


Tidak ada yang dilakukan mereka selain rebahan. Bahkan Aditama sudah kembali tertidur dengan pulas. Sementara Sania masih membuka matanya menatap langit-langit kamar yang tampak usang.


Rasa kantuknya yang sempat bersarang sudah tak terasa, kini. Tanpa sadar mengubah posisi menjadi ke arah Aditama.


Siapa yang tak terpesona padamu, mas? bahkan di Kantor sangat banyak perempuan dari kelas bawah kayak aku begini menghayal jadi istri ketiga kamu. Apalagi Anggi, dia sangat kagum dengan mu karena bisa membuat akur kedua istrimu. Tapi bagaimana jika mereka tahu kalau ada aku diantara kalian bertiga?


Sania mencoba memejamkan mata setelah sekian lama bermonolog pada hatinya seraya memandangi wajah Aditama dari samping.


*


*


Karena sudah terbiasa bangun pagi ditambah suaminya sedang berada di rumahnya tentu saja membuat Sania merasa senang.


Ia teringat jika dirinya sekarang seperti sang mami yang selalu bangun pagi agar dapat menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak beliau.

__ADS_1


Sania juga tahu bila Aditama berada di kamar sedang teleponan dengan salah satu istrinya. Untuk saat ini ia masih bisa mengatasi rasa aneh yang bersemayam di hati yang sangat diketahuinya adalah rasa cemburu.


*


*


"Mas banyak pekerjaan, Rena. Maaf!" tentu saja Aditama merasa bersalah. Tetapi tidak mungkin ia mengungkapkan bahwa sedang berada di rumah Sania.


"Tapi makan siang nanti mas gak sibuk, kan?" terdengar suara Renata masih sedikit merajuk.


"Enggak. Memang kenapa?"


"Aku dan Mbak Elena ingin makan siang bersama dengan mas di luar. Mau, kan?"


Aditama berpikir sejenak, memang sudah lama mereka bertiga tidak makan bersama. "Baiklah. Kita ketemu di Restoran biasa," sahut Aditama.


"Oke. Kalau begitu aku mau ke salon dulu," sahut Renata membuat Aditama tersenyum.


Setelah sambungan telepon terputus, Aditama keluar kamar menghampiri Sania di dapur.


"Sania," panggil Aditama setelah sudah duduk menunggu Sania menyediakan sarapan untuknya.


"Ya, mas."


"Maksud mas kamu juga makan siang di restoran yang sama dengan mas," terang Aditama lagi.


Sania meringis mendengarnya. "Kayaknya aneh mas, aku makan di restoran begitu. Aku belum pernah ke tempat mewah begitu," tolak Sania secara harus.


Aditama tak langsung menjawab. "Besok malam kita makan malam berdua, mau?" entah mengapa ia ingin berbuat adil kepada istri ketiga nya ini.


Tatapan keduanya bertemu kemudian Sania mengangguk disertai senyuman dan itu sukses membuat Aditama merasa lega sekarang.


Keduanya sarapan bersama dan berangkat bekerja dengan kendaraan masing-masing. Aditama menaiki mobilnya membawa Sania hingga bersimpangan, kemudian Sania naik ojek online menuju Kantor Aditama.


*


*


Sementara di tempat lain. Setelah Aditama menyetujui permintaan Renata, wanita itu memberi tahu pada Elena bahwa mereka akan makan siang bersama.


Kedua wanita itu kompak hendak mempersiapkan diri demi terlihat mempesona dihadapan Aditama. Dari pakaian, rambut, tubuh, segala menunjang penampilan dipersiapkan semaksimal mungkin.

__ADS_1


"Mas Adi pasti senang melihat kita cantik begini kan, Ren?" tanya Elena. Padahal dalam hati keduanya selalu memuji penampilan masing-masing dan merendahkan juga.


"Pasti, dong."


Keduanya berangkat di mobil yang sama menuju Restoran yang sudah di reservasi oleh Aditama.


Sesampainya nya di Restoran mereka datang lebih dulu.


*


*


"Bos. Kemana malam tadi? istri kedua bos sangat menggangu tidur nyenyak ku," gerutu Bagas kepada Aditama.


"Menginap di rumah Sania," sahut Aditama tersenyum.


Bagas melotot. "Kalian sudah sedekat itu? wah.. Gimana? Apa nikmat kalau berhubungan dengan gadis?" tanya nya beruntun langsung mendapat lemparan bolpoin dari Aditama.


"Kalau ngomong jangan asal ceplos. Hubungan kami belum sampai kesana," terang Aditama. "Sudahlah. Bicara dengan mu gak ada yang beres," gerutu Aditama kemudian bangkit dari duduk kemudian keluar ruangan.


Di perjalanan, ia berpapasan dengan Sania. "Jangan lupa makan siang. Mas pergi," entah dari dorongan dari mana, Aditama berpamitan kepada istri ketiganya itu.


Sementara Sania yang masih membawa segelas kopi di atas nampan hanya mengangguk dan menunduk karena takut ada orang lain yang melihat dan mendengarnya.


Sania masuk ke dalam ruang kerja Bagas untuk memberikan segelas kopi yang diminta atasan nya itu.


*


*


"Maaf. Mas baru datang," kata Aditama setiba di restoran.


Mereka makan dalam diam karena sudah menjadi kebiasaan. Setelah makan, Elena menatap Aditama. "Mas. Aku ada pemotretan selama tiga hari di luar kota."


Aditama menghela nafas panjang. "Apa kalian gak bisa di rumah saja menunggu mas pulang bekerja?"


Serempak Elena dan Renata menggenggam tangan Aditama.


"Mas. Aku begini agar tidak mengingat kejadian itu. Aku masih merasa sedih," tutur Elena membuat Aditama hanya diam saja.


"Aku juga, mas. Menjadi desainer adalah cita-cita ku," tutur Renata.

__ADS_1


Akhirnya Aditama hanya mengangguk dari pada meneruskan perdebatan maka ujung-ujungnya harus menelan kekecewaan.


__ADS_2