Menjadi Istri Ketiga

Menjadi Istri Ketiga
11. Rumah kita


__ADS_3

Betapa terkejutnya Sania saat baru masuk ke dalam kamar dan mendapati Aditama disana. Ia pun menyilangkan kedua tangan di dada sebab saat ini hanya mengenakan handuk yang tidak menutupi tubuhnya dengan sempurna.


Sania memang membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Tapi, tanpa sengaja pakaian gantinya tersebut jatuh ke dalam ember saat ia hendak mengambil handuk. Alhasil, pakaian ganti tersebut basah. Dengan berat hati Sania memakai handuk saja dan berharap Aditama masih berada di ruang tamu. Sialnya, ketika akan ke kamar ia tidak memperhatikan bila Aditama tidak berada di ruang tamu.


"Mas!!!" pekik Sania saat mata Aditama melebar menatap ke arah nya.


Sontak pekikan Sania membuat Aditama membuang muka dengan wajah merona. Bukan maksud hati melihat lekuk tubuh dan penampilan Sania yang terbuka seperti itu. Namun, seperti sesuatu yang sangat sayang jika dilewatkan. Ah, dasar pria. Apa tidak cukup dua istri yang kamu nikmati. Tapi, yang ketiga juga halal bukan?


"M-mas keluar dulu," kata Aditama tidak dapat menyembunyikan kegugupannya. Saat berjalan berpapasan dengan Sania, masih disempatkan Aditama untuk melirik ke arah Saniabdan wajahnya semakin memerah karena hal itu.


Segera Sania menutup pintu kamar setelah Aditama keluar, tangannya berada di dada merasakan area itu kembang kempis akibat degup jantung yang berdebar lebih kencang. Hal ini pertama kalinya bagi Sania berada dalam satu ruangan dengan pria dalam keadaan hampir polos. Apalagi Aditama adalah suami dan bosnya di Kantor.


Sania juga tahu sudah semestinya Aditama melihat dan menikmati tubuhnya. Jika Aditama meminta hak malam pengantin juga Sania akan memberikannya. Hanya saja, ia tidak mempertanyakan hal itu kepada Aditama karena Aditama juga seakan tidak menginginkan hal tersebut.


Gegas Sania memakai baju tidur motif Doraemon dan merapikan penampilan. Setelah itu ia keluar menemui Aditama. "Mas, tadi aku beli nasi bungkus. Aku gak sempat masak dan takut mas kelaparan," kata Sania duduk di hadapan Aditama yang sedang bermain ponsel.

__ADS_1


Aditama menatap wajah cantik Sania sejenak. Wajah cantik yang polos tanpa make up dan Aditama suka akan hal itu. Terlihat lebih natural.


Renata adalah wanita cantik dengan make-up tebalnya dan sebenarnya Elena hingga dahulu wanita yang lebih suka cantik natural. Namun, semenjak ia nikahi dan tinggal bersama dengan Renata membuat istri keduanya itu suka bermake-up. Meski tidak setebal Renata. Dan Aditama berharap, suatu hari saat pernikahannya dengan Sania sudah diterima oleh kedua istrinya tersebut Sania tidak akan berdandan seperti mereka.


"Gak masalah. Oh iya, besok ikut mas ke suatu tempat ya."


"Kemana, mas?"


****


Beberapa saat kemudian, Aditama menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.


Sebuah rumah lebih besar dari rumah kontrakan dan berada di paling ujung juga jarak dari rumah lainnya lebih berjarak. Sania juga ikut keluar mobil tanpa mengatakan apapun dan melihat Aditama membuka pintu rumah tersebut.


"Ayo masuk," ajak Aditama tanpa sadar menarik tangan Sania.

__ADS_1


Sementara Sania merasakan jantungnya tidak dapat dikondisikan.


"Apa kamu suka?" tanya Aditama setelah memerhatikan suasana ruang tamu rumah itu.


Mata Sania melebar melihat ruang tamu rumah itu. Disana ada sebuah foto berukuran tidak terlalu besar menampakkan Aditama dan dirinya pada malam pernikahan mereka.


"M-mas."


Aditama mengikuti arah pandang Sania. Seketika dirinya menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Foto itu dibuat oleh Bagas.


"Itu kerjaan Bagas, San. Kalau kamu gak suka bisa kita singkirkan."


"Ini rumah siapa, mas?"


"Rumah kita."

__ADS_1


__ADS_2