
Sesampainya di rumah, Aditama tidak langsung langsung turun dari mobil karena ia masih menikmati matanya yang terpejam. Sementara Bagas membiarkan apa yang dilakukan majikan nya.
Beberapa saat kemudian, Aditama membuka mata dan menegakkan tubuhnya kembali. Helaan nafas panjang itu terdengar kasar. "Jemput aku jam 9, Gas. Hari ini aku datang terlambat!" tutur Aditama dan disetujui oleh Bagas.
Aditama keluar mobil dan membiarkan Bagas pergi. Ia memasuki rumah nya dan melihat kedua istrinya tengah sarapan.
"Mas," pekik Elena istri pertama dan diikuti Renata istri kedua Aditama.
Elena memeluk dan mengecup pipi Aditama diikuti oleh Renata melakukan hal yang sama. "Mas dari mana?" tanya Elena kepada Aditama.
"Mobil mas mogok dan nggak ada bengkel," sahut Aditama. "Mas mau istirahat sebentar, ya." Ia berlalu begitu saja menuju kamar Renata karena memang sudah giliran istri keduanya.
Renata tersenyum kemudian menoleh ke arah Elena. "Aku ke kamar dulu ya, mbak!" ucapnya.
Elena sendiri mengangguk dengan menyimpan segudang amarah dalam hatinya.
Elena dan Renata memang terlihat akrab, tetapi dibalik keakraban itu semua tersimpan persaingan agar dapat mencari perhatian dan memenangkan hati suami mereka, Aditama.
Elena sendiri seorang model dan Renata seorang desainer.
*
*
"Mas capek, Ren!" kata Aditama setelah berganti pakaian melihat Renata memakai lingerie yang sengaja menggoda nya.
Renata cemberut. "Mas tega. Tadi malam aku nungguin sampai ketiduran, loh. Apa karena mas kemarin melakukan hubungan dengan mbak Elena sebelum giliran ku?"
Aditama menghela nafasnya. Rasanya sangat sulit memiliki dua istri rasanya sangat pusing karena tahu bila kedua istrinya memiliki sifat tidak mau kalah begini.
Aditama pun mendekati Renata dan mengabulkan permintaan istri keduanya itu. Bagaimana jika harus menghadapi istri ketiganya itu? apakah harus sepusing ini?
*
*
Usai melaksanakan kewajiban suami-istri, Aditama segera bersiap untuk pergi ke Kantor.
"Mas mau pergi, sekarang?" tanya Renata seraya menaikkan selimut dan memerhatikan Aditama sedang memakai dasi di depan cermin.
Aditama menoleh kemudian mengangguk. "Ada rapat penting hari ini," sahutnya kemudian melanjutkan merapikan dasi setelah rapi, lanjut menyisir rambut.
"Mas pergi," kata Aditama.
Sementara di lantai dasar Elena menggeram kesal karena yakin bila Renata merayu Aditama.
Walau menerima pernikahan kedua sang suami, tetapi tetap saja sejatinya seorang wanita tidak ingin berbagi.
__ADS_1
Elena memasang senyuman manis ketika melihat Aditama turun dari tangga. Ia pun menghampiri ketika Aditama sampai di lantai dasar.
"Mas mau kerja?" tanyanya.
"Iya," jawab Aditama.
"Oh iya, sampaikan pada Renata kalau mas pulang terlambat malam nanti."
Elena semakin mengembang senyuman setelah mendengar ucapan Aditama. Cepat-cepat ia mengangguk karena tidak ini sang suami curiga.
"Iya, mas. Hati-hati," katanya selembut mungkin.
Aditama mengangguk lalu keluar rumah. Sesuai dugaan, Bagas sudah standby menunggunya.
Pikiran Aditama tertuju kepada Sania, istri ketiganya. Ia memikirkan apa pekerjaan Sania saat ini. Tadi mengantarkan Sania tidak sampai ke tempat kerja tetapi tahu jalan itu menuju ke Kantor nya. Tapi, di sekitar Kantor banyak fasilitas umum disana.
Supermarket, Kafe, Restoran, dan tempat umum lain nya.
Sesampainya di Kantor, Aditama dan Bagas berjalan penuh wibawa menuju lantai 5 karena akan rapat di lantai itu dengan divisi perencanaan.
*
*
Selama tinggal di Jakarta, Sania bekerja sebagai Office Girl di salah satu Perusahaan ponsel pintar di Indonesia. Tidak mengapa, baginya. Yang terpenting halal menurutnya.
"Anggi sedang membersihkan ruang kepala divisi. Hanya kamu yang sudah selesai pekerjaan nya. Tolong, ya."
Sania melihat atasan nya, Ibu Susi hanya mengangguk pasrah. Ditambah ada rasa sungkan untuk menolak ketika atasan nya mengucapkan kata tolong.
Sania menerima nampan dan berlalu menuju ruang rapat. Ia masuk ke ruangan itu setelah mengetuk pintu. Tanpa melihat wajah para petinggi Perusahaan tersebut, ia meletakkan segelas kopi satu persatu sesuai dihadapan peserta rapat.
Gelas terakhir untuk orang terakhir disana. Entah dorongan dari mana, Sania memberanikan diri menatap wajah orang tersebut dan orang tersebut ternyata melakukan hal sama karena merasa tidak asing dengan bentuk tubuh office girl itu.
Aditama sangat terkejut sehingga tidak sengaja menyenggol gelas kopi yang dipegang Sania dan berakhir celana nya terkena tumpahan kopi.
"Ah. Panas!" Aditama berdiri mengibaskan celana nya yang basah.
Sania terkejut langsung menaruh gelas di meja kemudian mengelap celana Aditama menggunakan sapu tangan yang dibawa nya.
"Maafkan saya, tuan. Saya tidak sengaja," Sania mendadak takut.
Karena terjadi kegaduhan, Bagas menghentikan rapat dan mengajak Aditama segera ke ruang kerja mereka. Semua mata memandang aneh ke arah Sania.
Sania keluar ruang rapat itu dengan perasaan gelisah. Selama bekerja di Perusahaan ini, ia belum pernah bertemu dengan Aditama. Hanya rumor yang di dengarnya bila Pemimpin perusahaan ini memiliki dua istri.
Ia langsung pergi ke pantry mencari Anggi. "Nggi. Beneran ya istri bos kita itu ada dua?" tanya nya membuat Anggi sedikit bingung.
__ADS_1
"Iya. Kenapa, San?" tanyanya.
Sania menggeleng. "Nama bos kita siapa?"
Anggi mendelik mendengar pertanyaan Sania. "Aditama, Sania. Ya, ampun. Kamu sudah bekerja lebih dari tiga bulan, nama bos sendiri gak tahu?"
Sania meringis diomeli Anggi. Keduanya menjadi akrab karena sama-sama perantau di kota Jakarta ini.
"Aku tahu, Nggi. Cuma gak tahu orang nya saja. Sania berharap bila Aditama bos mereka itu bukan Aditama suaminya.
Anggi langsung mengeluarkan ponsel dari saku kemudian menunjukkan foto Aditama bersama kedua istrinya.
Sania terkejut bukan main.
"Kenapa kamu kaget begitu?"
Belum sempat menjawab, ibu Susi mendatangi mereka dengan raut wajah yang tak biasa.
"Sania, apa yang sudah kamu lakukan? kenapa pak Bagas terlihat marah saat mencarimu?" tanya ibu Susi beruntun membuat Anggi terkejut.
"Cepat ke ruangan tuan Aditama."
Tanpa menjawab, Sania segera menuju ruang kerja Aditama. Bukan takut karena kejadian kopi yang tumpah, jelas itu bukan salah nya. Namun, nasib buruk menjadi istri ketiga tentu mengganggu pikiran nya.
Sania mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar perintah. Ia menelan saliva dengan kasar ketika berhadapan dengan Aditama dan ada Bagas.
Tidak ada yang membuka suara. Aditama memijat pelipisnya karena merasa pusing dengan takdir untuknya.
"Jadi kamu kerja disini, Sania?" tanya Aditama. Tidak ada amarah disana.
Sania memberanikan diri mendongak, menatap Aditama lalu mengangguk kemudian.
"Apa kamu sudah tahu kalau aku bos kamu?" tanya Aditama lagi dan Sania menggeleng sebagai jawaban.
"Aku cuma dengar rumor kalau mas punya istri dua, itu saja."
"Itu bukan rumor, Sania. Itu adalah kebenaran dan sekarang nambah jadi tiga," terang Aditama.
Bagas yang sedari tadi berdiri di belakang Aditama hanya menggeleng saja. Ia tidak menyangka bila sahabat sekaligus majikan nya itu mendapat jackpot hoki.
Bagaimana tidak? sedang usia nya yang sama dengan Aditama belum memiliki tambatan hati.
"Kita bicara di rumah saja. Nanti aku akan mampir ke rumah," kata Aditama kemudian Sania keluar dari ruangan tersebut.
"Sania cantik, tuan!"
"Kau, cari mati?!!"
__ADS_1