Meregat

Meregat
SANG ANAK


__ADS_3


Hujan lebat ,angin yang tak bersahabat, langit yang memuntahkan kilat ,dibawah mereka kita bisa melihat.


Gareng, Petruk, Bagong menangis sejadi jadinya. Tangisan mereka dibarengi dengan tangisan seorang bayi yang terlahir kedunia ini.


Si Semar hanya berdiri pasrah menatap langit, seakan akan menyalahkan semesta, kenapa hal ini harus terjadi .


"Takdiiirr,  takdirr" ucap semar seperti geram.


"Oeee oeeee" terdengar suara bayi menangis.


"Hiks hiks, Gustiiiiiiiii" teriak Petruk menangis.


Mereka Sedih, mereka marah tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Wes anak-anaku, bawa ndoro bei kita pulang kerumah, dia sekarang sendirian tanpa ayah dan ibunya, hanya kita dan seleksi alam lah yang bisa menjaganya. Sudahi tangisan kalian karna takdir ini pasti akan berlanjut" perintah semar kepada anak-anak nya.


Dengan derai air mata, si Petruk lalu menggendong bayi itu diikuti oleh gareng dan bagong yang melindunginya dari hujan dengan daun pisang. Mereka melewati malam itu dengan perasaan duka dan merasa bersalah karena tidak bisa melindungi tuan nya.


Sepuluh tahunpun berlalu.


Ditengah panjangnya semak-semak kita bisa melihat seseorang dengan badan yang tinggi, berhidung panjang dan seorang anak kecil dengan busur panah nya sedang bersembunyi. Setelah beberapa saat, anak itu lalu menarik tali busur panahnya dan bersiap untuk memanah seekor rusa yang sedang menikmati hidangan rumput yang segar itu.


"Tenang den atur nafasmu, saat rusanya sudah lengah baru lepas kan anak panahnya" ucap petruk dengan berbisik.


Anak itu pun kemudian mengarahkan busur panah nya kearah dada rusa tersebut, dia menarik napas lalu mengembuskan nya untuk beberapa saat, dan kini, dia sudah siap untuk melesatkan anak panahnya.


Tapi tiba-tiba..........


"Glabrukkkk" seseorang terjatuh sebelum anak itu berhasil memanah. Rusa nya kabur dan Petruk menjadi kesal sekesal kesalnya. Dia menatap sinis orang yang baru saja terjatuh itu dengan perasaan kesal.


"Loh koe Reng, ngapaiiiinnnn koe kesini, haduh haduh" ucap petruk kesal.


"Hehe maaf truk, tadi aku terburu-buru karena melihat disebelah sana ada rusa dengan badan besar. Nih truk ya kalau raden bisa memanahnya kita tidak perlu berburu lagi selama tiga hari truk" ujar gareng menjelaskan.


"Haduhhhh koe ini, sudah tau cara jalanmu itu pincang, kenapa tidak berhati-hati haduhh duhh" ujar petruk kesal.


"Tapi bener truk rusanya gede,perut si bagong saja kalah gedenya" jawab gareng.


"Yasudah sekarang dimana rusanya" tanya petruk.

__ADS_1


"Di sebelah sana truk di depan goa samping sungai" jawab gareng


"Percuma reng-reng, kesana itu terlalu jauh, ini sudah mau malam, nanti kalo kita pulang langit sudah petang pasti si romo marah sama kita" ujar petruk.


Ditengah obrolan gareng dan petruk, nampak dari kejauhan terlihat seseorang dengan perut buncit menghampiri mereka dengan membawa banyak daun singkong.


"Raden ndoro, petruk ini aku sudah dapat sayuran nya" ucap bagong dengan bangga.


"Cesss" tanpa kata-kata petruk masih kesal.


"Naahhh yasudah kita makan sayur singkong


saja hari ini" ucap gareng.


"Padahal sedikit lagi kita bisa makan daging rusa dengan olahan sayur singkong, tapi reng-reng koe malah mengacaukan nya" ucap petruk yang masih kesal dengan gareng.


"Sudah paman tidak apa-apa, paman petruk kan bisa masak yang enak walaupun hanya sayur singkong paman" ujar anak itu.


"Nggeh den. Nanti si bagong ini saya suruh sekalian membawa singkong nya, biar saya bikin masakan yang enak buat raden"ujar petruk .


"Hehe maaf den, salah saya" ujar gareng.


"Naa trus ini sayur nya gimana truk. Saya sudah capek-capek metik masak mau dibuang begitu saja" ucap bagong bingung


.


"Hahahaha" tawa anak itu.


"Gong-gong" ujar gareng.


"Sudah ayo kita pulang paman-paman" ujar anak itu.


"Inggih ndoro" ucap gareng.


"Nggeh raden" ucap petruk.


"Siapp Raden ndoro" ucap bagong.


Walaupun hari ini mereka gagal


mendapatkan buruan mereka, mereka tetap terlihat gembira mensyukuri apa saja yang sudah berlalu hari ini. Selaknya keluarga yang tak akan bisa dipisahkan, mereka saling bergandeng tangan berjalan pulang.

__ADS_1


Disebuah rumah yang berdekorasikan kental dengan ciri khas suku jawa, nampak seseorang dengan badan yang besar, perut yang berisi, sedang duduk depan teras rumah. Perawakan nya berwibawa, dengan tongkat yang dipegangnya, dia nampak sedang melantukan sebuah alunan kidung/tembang.


"......Onooo Raja, Tanpa Tahta. Ono Satria Tanpa Bala Tentara."


Tak lama setelah itu Petruk dan yang lainnya sudah sampai didepan rumah. Mereka menundukan kepala mereka setelah mengetahui rama mereka berada di teras rumah.


"Kami pulang rama" ucap si gareng.


"Ohh anak-anaku sudah pulang kalian, dapat apa hari ini?" tanya semar.


"Anu rama, kami berencana untuk mendapatkan rusa , tapi ya, rusa yang kami incar, akhirnya kabur rama" ujar petruk menjelaskan.


"Hahaha, ropopo anakku. Kita tidak akan menemukan awan dengan bentuk yang sama setiap harinya. Mungkin hari ini kita kurang beruntung, mungkin juga besok kita beruntung. Seperti itu lah takdir, setiap harinya kita tidak bisa menentukan nya" ujar semar.


"Inggeh rama" mereka menjawab dengan serempak.


"Lohhh mana ndoro bei mu, mana,mana" ujar semar kaget.


"Ini lo rama" tunjuk si bagong.


"saya disini rama" ujar anak itu.


"hooalah, bikin kaget saja, yasudah truk kamu sana masak, ndoro bei mu ini loh sudah lapar" perintah semar.


"Inggih rama" jawab petruk.


"Aku ikut, aku ikut" ujar bagong.


"Yasudah sana kalian masak, biar ndoro bei sama rama" ucap semar.


"Siap mo"jawab bagong.


Anak itu menghampiri semar yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri. Dia lalu duduk disampingnya.


"Mimpinya masih sama ndoro?" tanya semar sambil membersihkan baju anak itu dari debu


.


"Masih rama"jawab anak itu.


"Yasudah semoga saja tidak terjadi apa-apa, wong itu juga cuma mimpi ndoro. Coba rama mau lihat coretan nya" ujar semar.

__ADS_1


Anak itu lalu membuka baju nya, terlihat di punggungnya sebuah tulisan ber aksara jawa kuno dan terlihat 2 garis hitam kecil di bahu sebelah kanan nya. Dan ceritapun bersambung.......


__ADS_2