Meregat

Meregat
Sesosok Anak Muda


__ADS_3


Dipagi hari yang cerah, suasana angin yang berhembus pelan, dibarengi dengan nyanyian burung yang saling bergantian.


Nampak sesosok anak muda yang begitu tampan, dengan badan tinggi, rambut yang dikuncir kebelakang, terlihat begitu siap melakukan sebuah pertarungan.


Dihadapannya kini nampak sesosok Petruk yang berdiri tegap, sorot matanya begitu tajam, tengah bersiap dengan sebuah senjata Kyai Pethel andalannya.


Kamaendra memejamkan mata, lalu dia mengeluarkan sebuah Aura merah yang menyelimuti dirinya.


"Kau sudah siap den?" tanya Petruk.


"Kapan pun kau mulai paman" jawab Kamaendra.


Petruk lalu melemparkan senjata Kyai Pethelnya ke arah Kamaendra.


Kamaendra merespon serangan itu dengan menghindarinya dengan cara menunduk. Setelah itu, dia membuka matanya lalu berlari ke arah Petruk.


Petruk lalu membuka telapak tangannya untuk menarik kembali senjata Kyai Pethelnya.


Kamaendra yang menyadari senjata Petruk sedang berusaha menyerangnya dari belakang, kini berusaha untuk menghindarinya.


Dia berhenti lalu memutarkan badannya, selaras dengan putaran senjata Kyai Pethel milik Petruk.


Tak hanya menghindarinya, dengan kecepatan dan ketepatannya, Kamaendra memukul gagang senjata Petruk yang mengakibatkan senjata itu melaju sangat cepat ke arah Petruk.


Petruk yang melihat itu lalu berusaha mengendalikan senjatanya. Namun karena jaraknya sudah terlalu dekat, Petruk lalu berusaha menghindari senjata itu terlebih dahulu, sebelum akhirnya senjata itu berbalik lagi dan Petruk berhasil untuk menangkapnya.


"Baguss sekali den" ucap Petruk.


Kamaendra yang diselimuti aura merah kini meloncat dan melayangkan sebuah pukulan jarak jauh ke arah Petruk.



Petruk menahannya dengan senjatanya. Kamaendra lalu menyerangnya lagi dengan sebuah tendangan kearah Petruk.


Petruk yang masih dalam posisi bertahan kini harus terhempas beberapa meter karena tendangan itu.


Petruk lalu melemparkan senjata Kyai Pethelnya keatas. Lalu dia berlari berbalik menyerang Kamaendra dengan sebuah pukulan.


Kamaendra menangkis pukulan Petruk, lalu mencengkram lengannya.


Dia lalu melayangkan sebuah pukulan hook ke arah muka Petruk.


Namun Petruk dengan sigap menangkap pukulan itu, lalu menendang perut Kamaendra dengan lututnya, setelah itu dia langsung melayangan sebuah tendangan T yang berhasil membuatnya terpental.


Kamaendra yang terpental, kini berusaha menyeimbangkan badannya agar tak terjatuh, lalu setelah berhasil, dia mulai mengatur nafasnya.


Setelah itu dia melancarkan sebuah serangan sabitan tendangan jarak jauh.



Petruk menghempaskan serangan itu dengan tangannya.


Kamaendra lalu memasang kuda-kuda dan kembali menyerang Petruk dengan pukulan beruntun jarak jauh.



Petruk menghindari satu persatu serangan pukulan itu.


Kemudian dia mengarahkan jarinya ke arah Kamaendra. Lantas Senjata Petruk yang dari tadi melayang di udara, kini berputar cepat menyerang ke arah Kamaendra.


Kamaendra lalu melakukan sebuah gerakan, untuk mengatur aura merahnya agar mengalir ke kedua tangannya.


Saat senjata itu sudah dekat, Kamaendra lalu mengarahkan gerakan tangannya ke arah senjata itu, seperti memandunya untuk berhenti berputar.

__ADS_1


Dan ya, akhirnya senjata Kyai Pethel Petruk berhenti berputar dan kini dia berada di genggaman tangan Kamaendra.


Kamaendra lalu melemparkan senjata Petruk untuk berbalik menyerang Petruk .


Petruk yang melihat itu nampak kagaet, lalu dia memasang kuda-kuda guna untuk mengambil alih senjatanya itu. Saat sudah mulai dekat, Petruk lalu menjulurkan tangannya ke arah senjata itu.


Namun sebelum senjata itu berhasil direbut kembali oleh Petruk, Kamaendra menarik senjata itu menggunakan aura merah yang dia kendalikan dengan tangannya.


'Dia menggunakan aura merahnya untuk mengendalikan senjataku? Haha kau sangat hebat den' batin Petruk.


Petruk lalu mendepakan kakinya ke tanah, yang membuat tanah itu meloncatkan sebuah batu besar ke atas. Petruk lalu menendang batu itu ke arah Kamaendra.


Kamaendra yang melihat sebuah batu besar sedang mengarah kedirinya, lantas langsung mengambil ancang-ancang dengan kuda-kudanya dan mencoba berkonsentrasi sejenak.


Lalu dia menyelimuti senjata Kyai Pethel dengan aura merah.


Setelah itu dia melayangkan sebuah sabitan yang membuat batu besar itu terbelah sekaligus serangan itu bergerak menuju ke arah Petruk.


Petruk menghindari serangan itu dengan meloncat kesamping dan betapa terkejutnya dia melihat hasil sabitan itu kini dapat membelah beberapa pohon yang berada dibelakangnya.


Petruk yang melihat itu merasa kagum dengan apa yang baru saja dia lihat.


"Kau sudah tumbuh dewasa den" ucap Petruk sembari mendekati Kamaendra.


"Hampir genap sepuluh tahun kita terus berlatih tanpa henti dan Raden menunjukan perkembangan yang begitu hebat" lanjut Petruk.


Kamaendra menarik nafas lalu menghembuskannya, setelah itu aura merah yang menyelimuti tubuhnya pun menghilang.


"Nampaknya senjata ini sudah akrab denganku paman" ucap Kamaendra sembari menyerahkan senjata milik Petruk.


"Hahaha, kau memang hebat den. Belum ada satupun orang yang mampu mengendalikannya, sejak terakhir kali senjata itu diturunkan kepada ku" ucap Petruk seraya mengambil senjatanya kembali.


"Aku berharap, suatu saat nanti aku akan mempunyai senjataku sendiri Paman" ucap Kamaendra.


"Semoga saja den, Petruk selalu mendoakan segala keinginan Raden, tapi selagi Raden mempunyai tekad dan tak pantang menyerah, itu akan menjadi senjata yang paling kuat yang tak akan seorang pun dapat menandinginya" tutur Petruk.


"Iya Den" jawab Petruk.


Kamaendra lalu bergegas untuk pergi ke sungai yang biasah dia gunakan untuk mandi.


Setelah tiba di sungai Kamaendra pun dibuat terkejut, setelah melihat sungainya nampak kering.


"Aneh perasaan kemarin airnya masih deras, masa dalam waktu semalam tiba-tiba menjadi kering begini" ucap Kamaendra yang masih kaget melihat kejadian yang tak wajar itu.


"Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi di hulu sungai ini, kalau dibiarkan kasian para penduduk desa, aku harus mengeceknya"


Kamaendra lalu melangkah menelusuri pinggiran sungai.


Saat sudah tiba di hulu sungai, nampak beberapa orang sedang berkumpul.


Kamaendra lalu menghampiri kerumunan itu dan bertanya pada salah satu orang disana.


"Maaf tuan, sebelumnya aku sedang mencari tahu kenapa sungai ini bisa kering begini dan ada apa dengan kerumunan ini?" tanya Kamaendra.


"Lihat disana terdapat batu besar yang menghalangi aliran sungai ini yang menuju arah ke desa" sembari orang itu menunjukan tempat batu besar itu.


"Itu adalah ulah dari Patih Ambara, kerajaan memutuskan untuk mengubah aliran sungainya munuju ke arah kerajaan, karena disana terjadi kekeringan"


Lanjut orang itu.


"Kekeringan? padahal hulu dari sungai desa dan kerajaan bukannya sama?" tanya Kamaendra.


"Semua orang juga berpikir demikian, namun tak seorang pun berani menghadap raja untuk menanyakan hal ini" ucap orang itu.


Kamaendra berpikir sejenak setelah itu dia berkata.

__ADS_1


"Jadi seperti itu ya, yasudah terima kasih tuan"


Kamaendra lalu bergegas pulang dan menceritakan hal ini kepada Semar dan yang lainnya.


Semar dan yang lainnya kaget, setelah mendengar apa yang barusan diceritakan oleh Kamaendra.


"Bagong saja mau buang air besar ke sungai, akhirnya tidak jadi Ndoro" ucap Bagong.


"Terus kamu akhirnya bab dimana Gong?" tanya Petruk.


"Ya terpaksa aku akhirnya mengikuti jurus kucing" jawab Bagong.


"Kau kubur dimana Gong kotoranmu, kalau sampai kau kubur di dekat rumah, awas saja kau, Kyai Pethelku siap membelahmu" ancam Petruk dengan nada yang tinggi.


"Enggak yo Truk. Aku kubur di tengah hutan sana Truk" sembari menunjukan arah hutan yang dimaksud.


"Selama kita tinggal di hutan yang berada dibawah perlindungan kerajaan Adhinata ini, baru kali ini kerajaan membuat keputusan yang menyengsarakan rakyat" ucap Semar.


"Itu yang juga Gareng pikirkan mo. Pasti ada sesuatu yang tidak beres" ujar Gareng.


"Biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini Mo. Aku berniat menanyakan perihal persoalan ini langsung ke Raja Bahuwirya mo" ucap Kamaendra.


"Yasudah, bawa Petruk bersama mu. Saat bertemu Sang Raja, ingat! jaga ucapan dan tingkah lakumu Ndoro, Rama merestui tindakanmu" ucap Semar kepada Kamaendra.


"Inggih mo" ucap Kamaendra dan Petruk serempak.


Setelah mendapat izin dari Semar, Kamaendra dan Petruk langsung bergegas berangkat menuju ke kerajaan Adhinata.


Ditengah perjalanan Kamaendra sempat menanyakan sesuatu pada Petruk.


"Paman, aku sama sekali bahkan jarang bergaul dengan dunia luar, hidupku selama ini aku habiskan bersama Paman Petruk dan yang lainnya. Sekarang adalah kali pertamaku akan bertemu dengan raja, dan apakah keputusan yang aku buat ini tepat paman?" tanya Kamaendra.


"Hahaha, Raden jangan terlalu kaku begitu den. Raden kan sering paman ajak ke pasar untuk menjual kambing ataupun membeli beberapa sayuran. Tepat atau tidak tepat itu bukan hal yang harus dipersoalkan, asalkan niat raden adalah untuk menolong orang, itu bagi paman sudah cukup menjadi alasan raden melakukan perjalanan ini" jawab Petruk.


"Ya memang seperti itu, tapi aku takut, jikalau aku bertemu raja nanti, aku tak bisa menjaga lisanku" ujar Kamaendra.


"Kalau memang tak bisa, ya jangan dipaksakan untuk berbicara Den. Jika hati kita sedang merasa tak nyaman ataupun sedang emosi, lebih baik diam, daripada lisan ini mengeluarkan kata-kata yang tidak mengenakan hati orang" tutur Petruk.


Kamaendra lalu terdiam dan melanjutkan perjalanan mereka.


Tak terasa setelah hampir dua jam mereka berjalan, akhirnya mereka telah tiba di pintu masuk Kerajaan Adhinata.


Sebelum masuk, mereka berdua dihadang oleh dua orang pengawal kerajaan.


"Ada perlu apa kalian datang kemari?" tanya seorang pengawal.


"Maafkan kelancangan kami berdua ini, maksud dan tujuan kami kemari untuk bertemu raja" jawab Petruk.


"Raja sedang tak menerima tamu" tegas pengawal.


"Maaf tapi saat ini keadaannya sangat genting. Desa kami sedang dilanda kekeringan akibat hulu sungai yang telah ditutup oleh kerajaan" ujar Kamaendra.


"Walaupun demikian, seperti itulah keputusan raja, sebagai rakyat seharusnya kalian mematuhi putusan raja tersebut" ucap pengawal kerajaan tersebut.


"Tapii....." ucapan Kamaendra terpotong oleh Petruk.


"Maafkan kami yang telah lancang datang kesini. Mungkin hari ini raja memang sedang sibuk, kami pamit undur diri saja" ucap Petruk sembari menarik Kamaendra untuk pulang.


Saat tengah berjalan pulang, Kamaendra nampak kesal dengan keputusan Petruk.


"Kita sudah jauh-jauh kesini kenapa akhirnya harus pulang Paman? Apa Paman akan membiarkan penduduk desa selamanya kehausan" ucap Kamaendra kesal.


"Tenang den, jangan terpancing emosi. Memang ada sesuatu yang janggal dengan kerajaan saat ini. Petruk mempunyai sebuah rencana dan Petruk berharap Raden mau mengikuti Rencana Petruk" tutur Petruk.


"Rencana? rencana apa yang paman maksud?" tanya Kamaendra.

__ADS_1


"Nanti Petruk jelaskan, sembari kita berjalan menjauh dari kerajaan" ujar Petruk.


bersambung..........


__ADS_2