
Dibalik gelapnya malam, nampak dua orang sedang bersembunyi diatas pohon tinggi yang berada samping tembok pagar istana. Mereka tampak sedang mengintai sesuatu.
"Aula singgasana memang terlihat dijaga oleh beberapa prajurit, tapi nampak Raja tak berada disana sejak tadi" ucap Petruk pelan.
"Kenapa paman bisa tau" tanya Kamaendra.
"Entah lah, Namun kalo Raden memperhatikan, nampak dari tadi Patih Ambara mondar-mandir kesana kemari lewat pintu Utama Aula" tutur Petruk.
"Mondar-mandir? Aku masih belum paham Paman" ujar Kamaendra bingung.
"Begini Den, kalo hanya urusan sepele, mana mungkin seorang Patih dari tadi keluar masuk kerajaan.
Ingat! Patih hanya akan bergerak apabila itu adalah perintah langsung dari raja, terlebih lagi kalo Raden mengamati secara detil, tubuh Patih Ambara selalu berkeringat saat keluar dari Aula Istana" tutur Petruk.
"Berkeringat? Sedetil itukah penglihatanmu paman? Apa mungkin karena naik turun tangga, Patih Ambara sampai mengeluarkan keringat?" tanya Kamaendra.
"Yap Betul.
Setahu Petruk, lantai dua istana ini adalah ruang keluarga dan mungkin raja berada disana" lanjut Petruk.
"Terus bagaimana kita bisa masuk kesana Paman? Terlihat begitu banyak penjaga dimana-mana" tanya Kamaendra.
"Untuk sekarang Petruk belum ada rencana Den. Tapi....... " ucapan Petruk tiba-tiba terhenti, setelah dia melihat sebuah bayangan hitam masuk kedalam istana, melalui jendela yang berada di lantai dua istana.
"Jangan sampai ketahuan den" perintah Petruk pada Kamaendra.
Petruk dan Kamaendra kini hanya berdiam dan menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi.
Setelah beberapa saat, terlihat jendela tiba-tiba terbuka lebar dan bayangan hitam tadi nampak keluar terbang meninggalkan istana.
Tak berselang lama, nampak tiba-tiba Patih Ambara berlari keluar istana dan segera menunggangi kudanya untuk mengejar bayangan hitam itu pergi.
Petruk dan Kamaendra yang melihat itu, lalu segera beranjak dari tempat persembuyian mereka dan pergi mengikuti Patih Ambara dengan berlari.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Patih Ambara kini tiba disebuah hutan dan nampaknya dia kehilangan jejak dari bayangan hitam itu.
"Aaaarghhhhhhh" teriak Patih Ambara.
"Bodoh, aku tak berguna, aku tak pantas menjadi Patih" ucap patih Ambara sembari menancamkan pedangnya ke tanah.
"Apa maksudmu dengan tidak berguna patih?" tanya seseorang menghampiri Patih Ambara yang nampak sedang putus asa.
"Siapa kau?" tanya Patih Ambara.
"Maaf, kami tadi melihat patih nampak terburu-buru, seperti sedang mengejar sesuatu. Lalu kami yang melihat itu, lantas berlari mengikuti patih" ujar Kamaendra.
"Kau pikir bisa membohongiku? Butuh waktu seribu tahun untuk berbohong didepan Ambara." ucap Patih Ambara sembari mengacungkan pedangnya kearah Kamaendra.
"Maaf atas kelancangan kami patih. Kami tau kerajaan sedang tidak baik-baik saja. Kami disini datang sebagai rakyat kerajaan Adhinata, bermaksud menawarkan diri untuk membantu" tutur Petruk.
"Tidak ada urusannya dengan kalian. Sebaiknya kalian pergi sebelum aku menganggap kalian sebagai musuh" ancam patih Ambara.
"Bayangan hitam!? Ya kami tahu Patih sedang mengejar sebuah bayangan hitam" celetuk Kamaendra.
"Sudah sampai mana mata kalian melihat" ucap Patih Ambara.
"Kami me......" sebelum Kamaendra sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba nampak sebuah serangan pedang mengarah ke dirinya.
Kamaendra menghindari serangan itu dengan meloncat kebelakang.
Patih Ambara kembali melayangkan sebuah tebasan pedang ke arah Kamaendra namun serangan itu berhasil ditangkis Petruk dengan senjatanya.
"Dzzziiinggggg" senjata mereka kini saling beradu.
"Tenangkan emosimu patih, kami hanya berniat membantu" ucap Petruk.
Patih Ambara nampak menghiraukan ucapan Petruk. Dia lalu mengangkat pedangnya dan berusaha melakukan tebasan ke arah Petruk.
__ADS_1
Namun sebelum itu, nampak dari samping sebuah aura merah, berhembus cepat, menyerang ke arah Patih Ambara.
Patih Ambara lalu terhempas karena serangan aura merah milik Kamaendra itu.
Dia lalu berdiri dan berkata.
"Nampaknya kalian bukan orang sembarangan. Baiklah akan kuladeni kalian"
Patih Ambara lalu melapisi pedangnya dengan sebuah aura biru.
Patih Ambara kemudian mengangkat pedangnya keatas dan nampak memunculkan sebuah petir yang menyelimuti pedangnnya.
"Den bertahan lah dari serangannya dan terus alihkan perhatiannya" ucap Petruk seraya memberikan Senjatanya ke Kamaendra.
Patih Ambara lalu berlari menuju ke arah Kamaendra dan Petruk. Dia lalu menebaskan pedang petirnya ke arah Kamaendra dan Petruk.
Kamaendra menahan serangan itu dengan senjata Kyai Pethel milik Petruk, sedangkan Petruk menghindarinya dengan meloncat ke atas pohon.
Karena efek dari serangan pedang milik Patih Ambara yang terlalu kuat, Kamaendra sempat terhempas beberapa meter sebelum akhirnya Patih Ambara kembali menyerangnya dengan senjatanya.
Kamaendra meloncat ke atas lalu melancarkan sebuah sabitan ke arah Patih Ambara.
Namun Patih Ambara dengan tangan kosong berhasil menghempaskan serangan itu dengan mudahnya.
Kamaendra nampak terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan. Dia lalu bertengker diatas pohon sembari menyelimuti senjatanya dengan aura merah.
"Nampaknya semakin menarik, baiklah, majulahhh" tantang Patih Ambara.
Kamaendra lalu melemparkan Senjatanya untuk menyerang Patih Ambara. Patih Ambara lalu bersiap-siap untuk menahan serangan itu dengan pedangnya.
Namun sebelum itu terjadi tiba-tiba Petruk yang dari tadi bersembunyi di atas pohon, kini dia meloncat dan berhasil mengunci tubuh Patih Ambara dengan dekapannya.
Petruk dengan sigap menotok beberapa bagian tubuh Patih Ambara yang membuatnya tidak bisa bergerak.
Kamaendra yang melihat itu lantas menghentikan pergerakan senjatanya tepat sebelum mengenai muka Patih Ambara.
"Sialan, apa mau kalian?" ucap Patih Ambara.
"Cepatlah kalo kalian ingin bertanya, sebelum aku berhasil melepaskan totokan ini dan membunuh kalian" ucap Patih Ambara.
"Baiklah yang pertama, kenapa Patih menutup aliran sungai yang menuju ke desa kami patih?" tanya Petruk.
"Itu adalah perbuatanku, bahkan raja tak mengetahui hal itu" jawab Patih Ambara.
"Untuk apa Patih melakukan itu?" tanya Petruk kembali.
"Kerajaan mengalami musibah yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Hulu sungai yang mengaliri air ke sungai Kerajaan tiba-tiba berhenti, dan tanpa pikir panjang aku langsung menggantinya dengan hulu sungai yang mengalirkan air ke desa" jawab Patih Ambara.
"Lalu soal bayangan hitam yang keluar dari Istana?" tanya Petruk.
"Itu bukan urusan kalian, dan yang terpenting adalah siapa yang sudah menyuruh kalian untuk mencampuri urusan istana" tanya Patih Ambara.
"Ampun Patih atas kelancangan kami. Kami diutus Rama kami untuk menyelidiki apa yang sedang terjadi di Istana saat ini, karena baru kali ini kerajaan membuat peraturan yang merugikan rakyat" tutur Petruk.
"Siapa Rama kalian?" tanya Patih Ambara.
"Janggan Smarasanta Semar, Patih" ujar Petruk.
"Semar? Tunggu sebentar" Patih Ambara kaget dan nampak teringat akan sesuatu.
Setelah beberapa saat, ternyata Patih Ambara sudah berhasil melepaskan diri dari totokan Petruk.
Kamaendra yang melihat itu lantas turun dan bersiap-siap dengan senjatanya.
"Dulu sekali, Rama kalian pernah menyelamatkan nyawaku, saat itu aku terkena penyakit demam yang sangat tinggi, yang bahkan tabib-tabib istana tak mampu untuk mengobatiku" ujar Patih Ambara sembari memasukan Pedangnya kesarungnya.
Petruk dan Kamaendra nampak kaget setelah mendengar hal itu. Setelah dirasa kondisi sudah mulai tenang, Kamaendra lalu menghilangkan Aura merahnya dan menyerahkan senjatanya kepada Petruk.
"Rama kalian orang baik, raja menawarkan untuk menjadi tabib istana dengan upah yang tinggi tapi dia menolaknya. Bahkan segepok emas yang ku berikan, dia juga menolaknya dan meminta gantinya dengan syarat dia bisa tinggal di hutan yang berada di kawasan perlindungan kerajaan Adhinata ini" tutur Patih Ambara.
"Ternyata seperti itu syukurlah" ujar Petruk.
__ADS_1
"Kalau kalian bertanya tentang bayangan hitam yang ku kejar, baiklah akan ku jelaskan dari awal" ujar Patih Ambara.
Petruk dan Kamaendra nampak sangat antusias untuk mendengarkan cerita Patih Ambara.
"Sepulangku dari mengubah aliran sungai, aku lantas langsung menghadap raja bermaksud untuk melaporkan kejadian itu. Namun setelah sampai dihadapan raja, aku mendapati raja sudah tergeletak tak berdaya dengan separuh badannya berkeriput seperti bekas luka bakar" tutur Patih Ambara.
"Luka bakar?" celetuk Kamaendra.
"Aku yang panik langsung memanggil semua tabib istana dan prajurit, namun tak satupun orang bisa menjelaskan tentang kejadian itu" lanjut Patih Ambara.
"Setelah malam tiba, aku yang sedang menjaga raja dikagetkan dengan kemunculan sesosok penyihir yang datang menghampiri kami. Aku yang melihat penyihir itu lalu berusaha menyerangnya, namun anehnya tebasan pedangku malah menembus dirinya.
Penyihir itu lantas menghampiri Raja dan menawarkan sebuah pertukaran" tutur Patih Ambara.
"Pertukaran apa yang Patih maksud" tanya Kamaendra.
"Dia menyuruh raja untuk memilih antara Rakyat atau Putri semata wayangnya, dan kita semua tau bahwa raja tak akan pernah mengorbankan rakyatnya" ucap Patih Ambara.
"Lalu setelah itu dia membawa tuan Putri?" tanya Petruk.
"Ya benar, penyihir itu lalu membawa tuan Putri dan terbang meninggalkan istana, setelah itu aku langsung mengejarnya dan akhirnya bertemu kalian disini" ujar Patih Amabara.
"Mohon maaf Patih, kalau memang keadaannya seperti itu, saran Petruk sebaiknya patih kembali terlebih dahulu ke istana untuk menjaga raja! Untuk urusan pembebasan tuan Putri, serahkan kepada kami Patih" tutur Petruk
"Memang saat ini mungkin raja sangat membutuhkanku. Baiklah aku percaya kepada kalian, terima kasih karena sudah membantu kerajaan" ujar Patih Ambara sembari menunggangi kudanya.
"Siap Patih" ucap Petruk dan Kamaendra serempak.
Setelah itu Patih Ambara pergi meninggalkan Petruk dan Kamaendra.
Tak berselang lama, Petruk mendapatkan sebuah panggilan dari Gareng.
"Truk, truk jawab aku truk" panggil suara Gareng.
"Iya reng aku dengar reng" jawab Petruk.
"Baiklah, langsung saja. Apa kamu sudah tau bahwa raja sekarang dalam kondisi sekarat?" tanya Gareng.
"Sudah reng" jawab Petruk.
"Dalam penglihatan rama, ternyata selama ini ada seseorang yang diam-diam menanamkan sebuah sihir kepada baginda raja.
Sihir itu akan aktif dua kali dalam sehari yaitu satu kali dalam waktu pagi atau siang dan satu kali lagi dalam waktu malam" ujar Gareng.
"Sihir seperti apa yang koe maksud reng" tanya Petruk.
"Sihir itu membuat sebuah pertaruhan, dimana seseorang yang telah tertanam oleh sihir itu harus memilih satu diantara dua pilihan" ujar Gareng.
"Lalu bagaimana caranya mematahkan sihir itu" tanya Petruk.
"Sihir itu sangat kuat, bahkan aku saja tidak bisa memecahkan pola sihir itu. Jalan satu-satunya adalah membunuh pemilik sihir itu truk" ucap Gareng.
"Membunuh? Tapi bagaimana caranya? seperti yang Patih Ambara bilang, penyihir itu tak bisa ditebas menggunakan pedang, seperti badannya bisa tembus dengan apapun" ujar Petruk.
"Cari tubuh aslinya!! Biasanya pengguna sihir seperti ini tubuh aslinya sangat lemah" ucap Gareng.
"Dimana tubuh aslinya berada?" tanya Petruk.
"Aku tidak tau untuk sekarang, aku harus bersemedi terlebih dahulu untuk bisa melacak keberadaan tubuh aslinya" ucap Gareng.
"Baiklah sekarang aku akan mencoba mencari jejak keberadaan penyihir itu " ucap Petruk.
"Yasudah nanti akan ku hubungi lagi, jika aku sudah mengetahui keberadaan tubuh aslinya" ujar Gareng.
"Ya terimakasih reng" ucap Petruk.
Setelah itu, Gareng memutuskan telepatinya dengan Petruk.
"Nampaknya kita harus bergerak cepat paman, sebelum matahari kembali terbit dan kutukan dari sihir itu kembali aktif!" ujar Kamaendra.
"Iya Raden, ayo kita bergegas" ucap Petruk.
__ADS_1
bersambung..........