Meregat

Meregat
Setitik Harapan


__ADS_3


Di dalam suatu ruangan yang gelap, nampak seseorang dengan pakaian serba hitam, sedang membakar dupa dan mengunyah bulu ayam hitam.


Dia menghampiri gadis yang keadaannya terikat dengan rantai besi, walaupun samar-samar, kita bisa melihat orang itu tersenyum lebar di depan gadis itu.


Kamaendra yang sudah sekarat berusaha untuk berdiri dan tetap mencoba untuk mendekati pintu yang dia tuju.


Penglihatannya sudah mulai kabur, tetapi dia tetap berusaha menjaga kesadaraannya.


Namun lagi-lagi iblis-iblis itu nampak mulai menyerang Kamaendra lagi.


Kamaendra lagi-lagi harus menerima serangan dari iblis-iblis itu. Dia mencoba untuk menghindar sejauh yang dia bisa, namun lagi-lagi dia seperti hanya berlari di tempat saja.


Tubuhnya kini kembali ditarik oleh salah satu iblis.


Kamaendra yang sudah sekarat berusaha berfikir bagaimana dia harus bisa keluar dari situasi ini.


Dia teringat dengan salah satu iblis yang terbang di udara yang menganggap dirinya sebagai anak.


Lalu dia melihat keatas dan meloncat tepat di bawah iblis yang dia maksud.


Kemudian Iblis itu kembali mendekap Kamaendra dengan erat.


"Cupp cup cup anakku, ibu akan menjagamu ya, kamu tidur saja, sembari ibu ajak terbang ya, hihihihi" ucap iblis itu sembari mengelus rambut Kamaendra.


Kamaendra nampak menghiraukan hal itu, dia sekarang hanya fokus untuk mencoba mengembalikan tenaganya.


Setelah beberapa saat berlalu, iblis-iblis yang berada di bawah mereka berusaha untuk mendapatkan Kamaendra kembali.


Mereka mencoba menyerang iblis yang sedang membawa Kamaendra.


"Dasar makhluk rendahan, takkan aku berikan anakku pada kalian" ucap iblis yang membawa Kamaendra sembari terbang.


Namun malangnya, salah satu iblis berhasil meraih kaki dari Iblis yang sedang membawa Kamaendra, lalu Iblis itupun kehilangan keseimbangannya dan terjatuh bersama Kamaendra.


Kamaendra yang sudah mendapatkan sedikit tenaganya kembali, berusaha untuk bangkit dan berusaha mengatur nafasnya.


Namun bukannya bergegas kabur, justru Kamaendra kini berusaha mengeluarkan aura merah dalam dirinya untuk menyelimuti seluruh tubuhnya.


Dan dengan konsentrasi yang tinggi dia menyalurkan amarahnya ke energi merahnya dan membuat tubuhnya kini diselimuti api.


Kamaendra lalu mengambil ancang-ancang untuk berlari, sembari matanya mencari pintu yang akan dia tuju.


Iblis-iblis itu nampak mulai mendekati Kamaendra, namun dalam sekejab Kamaendra melesat begitu cepat, melewati segerombolan Iblis itu dan kini dia berhasil meraih gagang dari pintu yang masih tertutup itu.


Di tempat lain, kini kita diperlihatkan petarungan antara Petruk dan Iblis Jira yang nampak sudah mulai memasuki babak akhir.


Petruk dengan sisa-sisa tenaganya berusaha menyerang Iblis Jira dengan membabi buta.


"Hahaha, apa yang kau lakukan Pecruk, apakah kau sudah mulai pasrah dengan nasibmu, lalu mencoba menyerangku dengan cara seperti ini, hahaha" ucap Iblis Jira sembari menangkis serangan Petruk dengan mudahnya.

__ADS_1


Petruk nampak menghiraukan hal itu, dalam diamnya, dia mencoba memastikan sesuatu, dan dalam sekelebat dia seperti mendapatkan apa yang dia cari.


Petruk meloncat mundur kebelakang untuk menjaga jaga jarak dengan Iblis Jira. Setelah itu dia meletakan senjatanya di bawah lalu memejamkan matanya.


Iblis Jira yang melihat itu nampak kebingungan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Petruk.


Dia berteriak memanggil nama Petruk untuk mencoba mengganggu konsentrasinya, namun tidak ada respon apapun yang ditunjukan oleh Petruk.


Iblis Jira lama kelamaan mulai merasa geram dibuatnya, dia berpikir bahwa Petruk sedang berusaha mengisi lagi tenaganya.


Lalu dengan tongkat yang dipegangnya, Iblis Jira terbang kearah Petruk dan berusaha menyerangnya.


Namun saat sedikit lagi tongkat Iblis Jira menyentuh kepala Petruk, tiba-tiba Petruk membuka matanya lalu menepis serangan tongkat itu dengan tangannya, lalu dia berhasil mencekik leher dari Iblis Jira.


Iblis Jira nampak kaget dengan hal itu, lalu dia berusaha melepaskan diri dari cekikan Petruk.


Petruk meraih sebuah kalung batu giok yang ada pada leher Iblis Jira.


Setelah itu dia menghancurkan kalung itu dan melemparkan Iblis Jira.


Setelah beberapa saat Petruk merasakan kekuatan dan energinya kembali lagi.


"Sial, kau telah menipuku Pecruk" ucap Iblis Jira sembari bangkit.


"Menipu? Haha, baiklah sekarang aku yang akan berbalik bertanya, siapa yang kau maksut penipu, aku apa kau Iblis? Menggunakan trik kotor seperti ini takkan bisa membunuh seorang Pecruk Panyukilan!!" seru Petruk dengan lantang.


Lantas Iblis jira meraung dengan sekencang-kencangnya, tanduknya nampak semakin besar dan memanjang.


Badannya bertambah besar.


"Kau harus mati disini Pecruk" ucap Iblis Jira.


Iblis Jira lalu terbang dan mencoba memukul Petruk dengan tongkatnya.


Petruk yang kini nampak kalah ukuran dengan Iblis Jira itu, berhasil menghindar dengan cepat.


Petruk lalu menggenggam senjatanya kembali, melemparkannya bagaikan boomerang kearah sayap dari Iblis Jira.


Namun hal itu nampak percuma karena sayap Iblis Jira nampak sangat kuat dari sebelumnya.


Tak mau menyia-nyiakan energinya yang sudah kembali lagi, Petruk dengan cepat meraih senjatanya lalu berusaha menebas Iblis Jira.


Iblis Jira pun sepontan menangkis serangan itu dengan tongkatnya.


Iblis Jira mengeluarkan sebuah semburan api dari mulutnya. Namun dengan kekuatan senjatanya, Petruk berhasil menghempaskan serangan api itu.


Iblis Jira lalu melayangkan serangan dengan tongkatnya yang kini berbalut api ke arah Petruk.


Petruk yang sigap menangkis serangan itu.


Senjata merekapun kini beradu.

__ADS_1


Petruk mengeluarkan sebuah aura merah menyala dari senjata Kiai Pethelnya dan berhasil menghempaskan senjata Iblis Jira.


Iblis Jira meresponnya dengan mencekik leher Petruk dan membantingnya ketanah.


Petruk yang tersungkur itupun kembali dicekik oleh Iblis Jira, lalu dia dihempaskannya, dibarengi dengan pukulan keras Iblis Jira.


Petruk yang masih terhempas itupun lagi-lagi harus mendapatkan pukulan keras dari Iblis Jira yang membuatnya tersungkur di tanah.


"Hahahaha aku menikmati ini" ucap Iblis Jira, sembari mencekek kembali leher Petruk.


"Aaarghh" Petruk berusaha melepasan cengkraman dari Iblis Jira.


"Tamat sudah kisah dari seorang Pacruk Panyukilan, kematianmu akan menjadi tanda akan kebangkitan Iblis-iblis alam Kamaya, aku berterimakasih kepadamu karena sudah menghiburku, hahahaha" ucap Iblis Jira.


Tak habis akal, Petruk mengeluarkan sebuah aura merah di telapak kakinya, lalu menendang tubuh Iblis Jira dan berhasil melepaskan diri dari cengkraman Iblis Jira.


Dengan cepat, Petruk meraih senjatanya kembali dan berhasil menebas dada dari Iblis Jira.


"Aaaaaarrrrgghhhhh" Iblis Jira meraung dan mengeluarkan Api dari mulutnya.


Tak berhenti disitu, Petruk kembali menyerang Iblis Jira dengan tebasan bertubi-tubi ke arah Iblis Jira.


Iblis Jira nampak menghindar dan berusaha meraih tongkatnya kembali.


Namun sebelum berhasil meraih tongkatnya, tiba-tiba tangan dari Iblis Jira terpotong dengan api biru yang membekas dipotongan tangannya.


"Sialan kau Pecruk" Teriak Iblis Jira.


Petruk dengan sekuat tenaga, dibantu dengan aura merah yang menyelimuti kakinya menendang tubuh Iblis Jira.


Iblis Jira yang kini berbadan lebih besar dari sebelumnya itupun harus terhempas.


Iblis Jira yang tersungkur itupun mencoba untuk berdiri.


"Sial, Aaaaarrrrrggghhhhhhhh" Raungan keras Iblis Jira itu, dibarengi dengan senjata Kiai Pethel Petruk yang sudah menempel dipundaknya.


"ABOOOTTT" teriak Petruk sembari mengontrol senjata Kiai Pethelnya.


Badan Iblis Jira pun terasa berat sehingga dia pun harus tersungkur kembali di tanah, dan tak sanggup untuk bergerak sedikitpun.


Petruk mendekati Iblis Jira, lalu membuka telapak tangannya dan sepontan senjata Kiai Pethel sudah digenggamannya.


"Kau sudah kalah Jira, jangan bergerak sedikitpun, aku ada beberapa pertanyaan untukmu" ucap Petruk


"Aarrrghhhhh, Aku belum kalahhhh manusia biadab" teriak Iblis Jira.


Iblis Jira mencoba kembali bangkit dan melihat ke arah Petruk, namun tiba-tiba Kepalanya sudah terpotong oleh senjata Kiai Pethel Petruk.


"Sudah kubilang untuk tidak bergerak" ucap Petruk.


Bersambung....................

__ADS_1


__ADS_2