
Ditengah gelapnya Goa, Petruk dan Bagong nampak sedang kebingungan mencari jalan untuk menemukan tuannya.
"Radeennnn" teriak Petruk.
"Ndoroo, jawab aku ndoro, ini aku Bagong" teriak Bagong.
"Duhh Gustii duh gusti ini salahku karena lengah dalam menjaganya" ujar Petruk menyesal.
"Sudah tidak usah dipikirkan Truk, ini salah kita bersama, daripada kamu terus menyesal, mending bantu aku teriak-teriak panggil ndoro" nasehat dari seorang Bagong.
Mereka terus melanjutkan pencarian mereka, sampai akhirnya langkah Bagong terhenti setelah melihat sebuah blakon yang awalnya ditinggalkan oleh Petruk untuk menandai jalan pulang mereka, berada ditempat yang sama persis seperti awal mereka meletakannya.
"Duhh Truk-truk, ini sudah kesekian kalinya kita berjumpa dengan blangkonmu" ujar Bagong.
"Seandainya Gareng ada disini kita bisa memintanya melacak keberadaan Raden" ujar Petruk.
"Gareng???" lantas terbesit sesuatu dalam pikiran Bagong.
Kembali lagi dimana saat ini Wanita itu sedang merapalkan mantranya.
"Sun, paringono bukaono, sun paringono bukaono, jiwoku wes nyampur nang alammu, jiwaku wes ngabdi nang alammu".
Setelah selesai merapalkan mantra, pintu itu pun terbuka dan wanita itu lalu memegang tangan Kamaendra dan menyeretnya paksa untuk masuk.
Kamaendra berusaha melepaskan tangannya dari wanita itu. Tapi apalah daya, tenaganya tak cukup kuat untuk melawan. Dan akhirnya mereka sebentar lagi akan berpindah alam.
Tapi tiba-tiba lilin-lilin yang berada di Goa itu menyala. Wanita itu pun kaget karena ada yang berhasil memecahkan mantra yang telah dia tanamkan pada Goa ini.
Dari kejauhan nampak ada sesuatu yang terbang dengan cepat menelusuri lorong-lorong Goa.
Ternyata itu adalah Petruk yang terbang sembari menggendong Bagong.
Saat sudah dekat dan melihat Kamaendra sedang ditarik menuju alam lain, Petruk lalu menghempaskan Bagong dan bersiap dengan tendangannya untuk menendang wanita itu.
"Jeeddaaarrr" tendangan Petruk ini membuat perisai yang melindungi wanita itu pecah, sekaligus tendangannya ini membakar wajah wanita penyihir itu. Petruk lalu menarik dan menyelamatkan Kamaendra dari sekapan penyihir itu.
__ADS_1
"Jaga Raden ndoro, Gong" perintah Petruk.
Dengan punggung yang sakit karena terbentur batu, Bagong lantas mencoba untuk berdiri.
"Sialan kamu truk. Bisa-bisanya aku dilempar begitu saja" ujar Bagong kesal.
Dengan muka terbakar akibat tendangan Petruk, wanita itu lalu bangkit.
"Hahahaha, tak ku sangka ada orang yang berhasil memecahkan mantraku dan orang itu adalah kau" ucap wanita itu sembari menunjuk kearah muka Petruk.
"Hahaha, entah ini yang dinamakan keberuntungan atau kesialan, kini aku harus berhadapan dengan seorang Pecruk Panyukilan (nama lain Petruk). Haha jelas aku tahu kekuatanmu, aku tahu kehebatanmu, tapi sayang, kau malah memilih mengabdi kepada manusia hahaha".
Petruk hanya diam tanpa membalas sedikitpun ucapan dari wanita itu.
"Aku masih ingat waktu itu, yaa kejadian itu. Hanya karena untuk memenuhi keinginanmu, Tuan kami kau jadikan sebagai sasaran amukanmu" ucap wanita itu sembari mengepalkan tangannya.
"Hahaha, hari ini akan kupersembahkan kalian untuk awal kebangkitan tuanku, dan akhirnya setelah beratus-ratus tahun aku akan hidup seutuhnya lagi, hahaha"
Petruk tetap diam dan menunggu waktu yang tepat untuk kabur dari sana. Sedangkan Bagong yang ketakutan, memegang erat-erat tangan Kamaendra.
Tak disangka dari dalam pintu tersebut, tiba-tiba keluar segerombolan kelelawar besar.
Disaat mereka lengah wanita itupun diam-diam merapalkan sebuah mantra.
Mantra itu membuat sebuah lobang hitam besar di dalam pintu. Lubang itu mampu menyeret batu-batu dan meterial lainnya untuk masuk kedalamnya.
Lalu wanita itupun berkata.
"Sudah tidak ada jalan kembali untuk kalian, aku akan menunggu kalian di alam sana. Tuanku pasti akan senang, mengetahui seorang Pecruk Panyukilan berada disini, dan sekaligus, aku akan mendapatkan kontraknya, hahaha" tak berselang lama wanita itupun lalu terhisap kedalam lobang hitam itu.
Petruk berusaha berpegangan pada sebuah batu besar disana. Si Bagong terus memegangi Kamaendra dengan kuat sembari berpegangan pada kaki Petruk.
Tapi pada akhirnya batu itupun ikut tertarik, dan mareka semua kini masuk ke alam lain, yang tentunya itu bukan alamnya bangsa manusia. Dan setelah itu pintunya pun tertutup.
Disisi lain Gareng yang sedang mencari rumput di hutan dikagetkan dengan segerombolan Kelelawar yang berasal dari Goa tadi. Kelelawar itu nampak kelaparan dan haus darah. Si Gareng yang melihat itu lantas berpikir bagaimana caranya agar Kelelawar itu tidak sampai di rumah nya, karena Gareng takut akan membahayakan keselamatan Romonya dan kambing-kambingnya.
Dengan kuda-kuda yang mantap, Gareng lalu melemparkan celuritnya dan berhasil memotong salah satu kepala dari segerombolan Kelelawar itu.
__ADS_1
Akhirnya Kelelawar lainnya pun berhenti, karena melihat temannya tiba-tiba mati . Lalu mereka lantas menyerang Gareng secara bersamaan. Tapi dengan Celurit bak boomerang Gareng berhasil membabat habis Para Kelelawar itu dengan cepat walaupun pada akhirnya bajunya bersimbah dengan darah.
"Pertanda apa ini gusti? Kelelawar sebegitu besarnya siapa yang pelihara ya? Aku jadi kepikiran Ndoro dan yang lainnya"
Gareng cemas memikirkan keadaan saudara-saudaranya. Dengan langkah yang pasti Gareng pergi mencari keberadaan saudara-saudaranya.
Disisi lain kini Kamaendra beserta Petruk dan Bagong akhirnya telah tiba di alam para iblis. Petruk lalu memegangi tangan Kamaendra yang mencoba untuk berdiri. Sedangkan Bagong yang masih merasakan sakit punggung, mencoba untuk ikut berdiri.
"Dimana kita paman?" tanya Kamaendra.
"Ini lah yang disebut alam para iblis, Pintu ke satu alam KAMAYA" jawab Petruk.
"Kok kamu bisa tau Truk, jangan-jangan kamu berasal dari bangsa demit ya" ujar Bagong
.
"Huuss, sembarangan kamu Gong. Dulu aku pernah kesini, jauh sebelum aku seperti sekarang ini" jawab Petruk.
"Ngpain Truk, cari perawan? Kalau aku si emoh, aku jamin perawan disini mesti wujudnya tidak jauh beda dengan penyihir tadi" ujar Bagong.
"Duhh duhhh Gong, sempat-sempatnya kamu mikirin perawan" sambil menepuk jidat, Petruk agak kesal.
"Yang jelas kita harus segera keluar dari sini, ini bukan alam kita, tak seharusnya kita berada disini" lanjut Petruk.
Tiba-tiba terdengar raungan keras yang tak tau dari mana asalnya, membuat para Kelelawar terbang berhamburan.
Dari kejauhan nampak ada seekor iblis dengan tanduk seperti domba berlari menuju kearah Kamaendra dan yang lain nya. Dia membawa beberapa iblis lain dan nampak bernafsu untuk membunuh mereka.
Petruk lantas berdiri didepan Kamaendra dan Bagong. Dia lalu mengeluarkan sebuah Kapak bercelurit dari perut si Bagong.
"Crriiiiingggg" suara kapak itu keluar dari perut Bagong.
"Kyai Pethel mohon bantuan mu" sembari mengacungkan kapak itu kearah para iblis itu yang sedang berlari kearah mereka.
"Aaaarrrghhhhh" salah satu iblis itu melompat terbang bermaksud menerkam mereka bertiga. Tapi sebelum iblis itu berhasil menerkam, tiba-tiba badannya terbelah menjadi dua.
Iblis yang lain lalu menghentikan langkah mereka.
__ADS_1
Kini dihadapan Petruk dan yang lainnya terlihat segerombolan iblis yang siap untuk membunuh mereka.
Bersambung.....