
Sejatinya manusia dari lahir memiliki warna auranya masing-masing. Warna yang keluar dari dalam tubuh manusia ini, dapat juga menggambarkan bagaimana sifat orang tersebut. Contohnya warna merah, yang kebanyakan penggunanya mempunyai sifat sangat percaya diri, pemberani dan tak pantang menyerah.
Tak jarang juga manusia memanfaatkan pengendalian aura tubuh ini, untuk digunakan dalam sebuah pertarungan, karena dapat membuatnya mengeluarkan sebuah serangan dua kali lipat lebih hebat dan lebih mematikan dari serangan biasah.
Pengendalian aura dalam tingkat tertentu, dapat menjelma menjadi sebuah elemen alam yang dapat membuat penggunanya mengeluarkan serangan yang tentunya lebih dahsyat dari sebelumnya.
Namun, tak banyak orang yang mampu mencapai tingkatan pengendalian ini, karena dibutuhkan latihan berpuluh-puluh tahun untuk menguasainya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kembali lagi, dimana Kamaendra dan Petruk saat ini masih mencari jejak keberadaan dari Penyihir yang membawa kabur Putri kandung Raja.
Dalam perjalanannya, mereka dipandu oleh Gareng yang sesekali memberikan petunjuk kemana mereka harus melangkah.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gubuk tua yang nampak seperti tak berpenghuni.
"Gubuk ini yang koe maksut reng?" tanya Petruk kepada Gareng dengan menggunakan telepatinya.
"Kayu penyangga sebelah kanannya hampir patah truk?" tanya Gareng.
"Iya betul reng" jawab Petruk.
"Berati benar, Gubuk itu yang ku maksut Truk" ujar Gareng.
"Yasudah aku akan masuk sekarang" ucap Petruk.
"Tunggu sebentar Truk! Aku peringatkan sekali lagi, Gubuk ini mempunyai aura sihir yang sangat hebat, bahkan aku sempat muntah darah saat mencoba untuk melihat jauh kedalam. Berhati-hatilah dan alangkah baiknya berikan tanda terlebih dahulu kepada Raden Ndoro agar aku bisa berkomunikasi dengannya! " tutur Gareng.
"Baiklah" Petruk lantas menghampiri Kamaendra, lalu dia meramalkan sebuah mantra pada telapak tangannya. Setelah itu dia menempelkan telapak tangannya ke jidat Kamaendra sembari meniupnya. Kemudian setelah Petruk melepaskan telapak tangannya, nampak tulisan aksara jawa muncul di jidat Kamaendra dan tak lama langsung menghilang.
"Raden coba abaikan terlebih dahulu suara yang terdengar disekeliling raden dan fokuslah kepada suara yang berada dipikiran raden" tutur Petruk.
Kamaendra lalu memejamkan matanya untuk bisa fokus seperti apa yang Petruk katakan.
Dia mendengar kicauan burung, hembusan angin, dan lain sebagainya.
Kemudian dia berusaha lagi untuk lebih fokus memusatkan pendengarnya kepada suara yang samar-samar terdengar berada didalam dipikirannya.
"Dee........
"Dee....
"Raad....
"Ndo....rrr...
"Radenn Ndoro" suara Gareng tiba-tiba terdengar jelas oleh Kamaendra.
__ADS_1
"Iya paman Gareng aku sudah bisa dengar" ucap Kamaendra.
"Baiklah Den, sekarang kalian berdua bisa mencoba untuk masuk, tapi ingat den jangan sampai Raden Ndoro terpisah dengan Petruk!" perintah Gareng.
"Iya Paman, aku mengerti" ucap Kamaendra.
"Berhati-hatilah, jangan terkecoh dengan tampilan luar gubuk itu, didalamnya masih menyimpan banyak misteri yang harus Raden dan Petruk waspadai. Ingat tugas kalian adalah mencari tuan Putri dan menemukan tubuh asli penyihir itu, jangan sampai raden terperdaya oleh tipu muslihat yang mungkin akan mengelabui raden nanti, ingat itu den" perintah Gareng.
"Siap paman. Tapi ada yang mau aku tanyakan?" ucap Kamaendra.
"Pertanyaan apa Raden?" timpal Gareng.
"Bagaimana aku bisa menemukan tubuh aslinya, karena tidak mungkin seorang penyihir meninggalkan tubuhnya yang lemah disuatu tempat yang mudah ditemukan" ujar Kamaendra.
"Ikutilah kata hati raden, dan berpikirlah selayaknya Raden menjadi penyihir itu sendiri den!" ucao Gareng.
"Bagaimana maksutnya Paman?" tanya Kamaendra bingung.
"Raden akan segera menemukan jawabannya. Ingat selalu apa yang baru saja Gareng sampaikan, mungkin itu akan sangat membantu raden nanti" tutur Gareng.
"Baiklah akan ku coba paman, doakan aku dan Paman Petruk" ucap Kamaendra.
"Doa Gareng selalu untukmu Raden" setelah itu Gareng memutuskan kontak telepatinya dengan Kamaendra.
Kamaendra menatap kearah Petruk seperti memberi isyarat bahwa mereka harus segera masuk.
Kamaendra melangkahkan kakinya perlahan diiringi oleh Petruk. Setelah sampai di depan pintu dia langsung membukanya lalu melangkah masuk kedalam.
Ada sebuah meja makan dengan banyak makanan diatasnya dengan sebuah lilin-lilin cantik yang menghiasinya.
Kamaendra yang teringat ucapan Gareng, nampak menghiraukan meja makan itu dan hanya fokus untuk melangkah, menyusuri sudut-sudut ruangan.
Mata Kamaendra lalu tertuju pada sebuah lukisan yang menempel pada sebuah dinding ruangan.
Nampak sebuah lukisan padang rumput yang begitu hijau, yang seakan-akan membuat kita ingin pergi kesana.
Semakin lama Kamaendra memperhatikannya, semakin terasa nyata pula lukisan itu. Dan tanpa disadari, ternyata Kamaendra kini sudah berpindah tempat ke padang rumput yang berada di lukisan itu.
Setelah beberapa saat Kamaendra akhirnya tersadar bahwa ternyata dia sudah tak berada di ruangan tadi dan disekelilingya kini hanya terlihat sebuah hamparan padang rumput yang sangat luas.
"Pamaannnnnn" teriak Kamaendra memanggil Petruk.
"Sial aku lengah, bodohhh bodoh" ucap Kamaendra geram.
Kamaendra terus berjalan tanpa tau arah dan tujuannya, karena sejauh mata memandang yang dia temui hanyalah hamparan padang rumput yang sangat luas.
Sampai akhirnya Kamaendra sempat frustasi dan ingin menyerah, namun dia kembali teringat dengan kata-kata Petruk yang selalu memotivasinya agar jangan pernah untuk menyerah.
"Selama ini hidupku selalu dilindungi oleh Paman Petruk dan yang lainnya. Aku tak pernah menyelesaikan masalahku sendiri, Bahkan situasi seperti ini saja membuatku frustasi, aaarrrrghhhhhhhh" Kamaendra berteriak marah. Amarahnya membuat aura merahnya keluar tanpa kontrol.
__ADS_1
"Jedyuar, jdyur, jedyuaarrr" Aura merahnya membuat beberapa rumput terbakar, namun tak berselang lama rumput-rumput itu kembali tumbuh lagi.
Kamaendra yang menyadari hal itu lantas kaget dan berusaha mengendalikan aura merahnya.
"Aura merahku dapat membakar rumput? Hemm ternyata begitu caranya. Jika firasatku benar, maka mungkin aku bisa menggunakannya" gumam Kamaendra.
Kamaendra lalu mengambil posisi kuda-kuda. Dia menarik nafasnya lalu menghembuskannya dan mulai menutup matanya.
Nampak aura merahnya keluar dan menyelimuti tubuhnya. Lalu dia mengepalkan tangannya.
"Aaaarrrghhhhhhh" teriak Kamaendra sembari melayangkan sebuah pukulan kearah depan.
Sebuah pukulan api keluar dari tinjunya. Kamaendra yang melihat itu nampak kaget sekaligus senang dengan pencapainnya itu.
"Akhirnya, aku bisa mengeluarkan elemen api, Paman Petruk pasti bangga jika melihatnya" ucap Kamaendra.
"Baiklah sekarang bukan saat nya untuk menyerah. Berpikirlah bagaimana aku bisa keluar dari sini?" gumam Kamaendra.
Sepintas Kamaendra teringat dengan ucapan Gareng sebelum memasuki Gubuk.
"..............Jangan sampai raden terperdaya oleh tipu muslihat yang mungkin akan mengelabui raden nanti, ingat itu den"
"Tipu muslihat? Dunia tipu muslihat? Tipu, palsu? Dan apa yang palsu disini?" sejenak Kamaendra berpikir dengan keras mencerna ucapan Gareng yang telah disampaikan kepadanya. Setelah beberapa saat dia nampak menemukan sebuah ide untuk keluar dari sana.
"Baiklah sepertinya harus kucoba"
Kamaendra lalu mulai mengeluarkan aura merahnya yang di padukan dengan luapan amarahnya, dan berhasil menghasilkan sebuah kobaran api yang sangat dahsyat, yang membuat rumput-rumput disekitarnya terbakar walaupun akhirnya tumbuh kembali.
Kamaendra lalu mendepakkan kakinya ke tanah dan membuat tanah di sekelilinya retak. Tapi tak berselang lama tanahnya kembali menyatu seperti semula.
"Sepertinya dugaanku benar, dan sekarang"
Kamaendra lalu melihat ke atas dan melihat sebuah langit biru yang cerah disana.
Lalu dia memusatkan Aura merahnya untuk berkumpul di kepalan tangan kanannya.
Setelah itu di mengambil kuda-kuda dan langsung meninju kearah langit biru tadi.
Dan seperti yang dia duga, langit biru yang terkena hempasan hantamannya tampak retak.
Kamaendra terus menerus melakukan serangan keatas yang membuat langit buatan itu hancur berlubang dan serpihannya jatuh kebawah.
Kamaendra lalu mengumpulkan aura merahnya di bawah telapak kakinya kemudian meloncat ke atas untuk keluar dari dunia buatan itu.
Setelah berhasil keluar nampak sebuah bola raksasa yang hancur pada bagian atasnya, yang ternyata itu adalah dunia padang rumput yang dari tadi mengurung dirinya.
Belum usai Kamaendra di buat terkejut dengan dunia buatan yang dapat mengurung dirinya, kini dia kembali dikagetkan dengan pintu-pintu yang berdiri dihadapannya dengan jumlah yang sangat banyak.
Pintu-pintu itu nampak perlahan terbuka satu persatu dan dari dalam pintu itu..............
__ADS_1
Bersambung.....