Meregat

Meregat
Sihir Yang Mempunyai Jati Diri


__ADS_3


Disaat keadaan mulai genting, tiba-tiba pintu yang menghubungkan alam manusia dan alam iblis Kamaya, perlahan terbuka.


Semua yang berada disana lantas kaget, karena sepengetahuan mereka, pintu itu hanya bisa dibuka oleh iblis yang berada di alam Kamaya atau seseorang yang mempunyai kunci dalam bentuk mantra, untuk membuka segel yang telah ditanam pada pintu itu.


Setelah pintunya terbuka, terlihat seseorang berjalan santai sembari melihat-lihat sekeliling. Dilihat dari perawakan dan cara berjalannya itu adalah si Gareng.


Seketika mata Gareng tertuju kearah Kamaendra dan Bagong, yang saat ini sedang terdesak oleh Iblis Lirya. Seketika dia bergegas berlari untuk menyelamatkan tuannya.


Namun sialnya, "Glaabruuukkkk," Gareng terjatuh sebelum sempat mendekati Kamaendra.


Iblis Lirya yang melihat kejadian itu lantas tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha, Heiii manusia bodoh, kalau kau tidak mempunyai jiwa untuk dipersembahkan, setidaknya jangan kau mencoba merayuku dengan lelucon murahanmu itu".


Gareng lalu mencoba untuk berdiri, lantas dia berkata,


"Kau yang lebih bodoh. Aku ini tak sengaja terjatuh, tapi yang kau lakukan malah menertawaiku".


"Hahaha, nampaknya kau datang kesini, bukan untuk mempersembahkan jiwa manusia, yang akan kau tukar dengan kekayaan. Hahaha, maafkan aku. Aku lupa bahwa di Punakawan terdapat ahli sihir yang sangat kuat. Matanya juling, tangan kirinya melengkung dan dengan kakimu yang pincang itu, berani-beraninya kau datang kemari, Nala Gareng" ucap Iblis Lirya.


Gareng nampak menghiraukan ucapan Iblis Lirya. Dia hanya Fokus melangkah dengan berhati-hati, bermaksud untuk mendekat dan menyelamatkan Kamaendra dan Bagong, yang sedang terancam keberadaannya oleh Iblis Lirya.


"Hahaha, dengan jalanmu yang susah begitu, kau masih berani untuk mendekat? Dasar tidak berguna." Iblis Lirya kemudian membaca mantra, lalu mengangkat tongkat sihirnya ke atas, seketika muncul sebuah awan hitam.


"Sayang sekali, padahal kau baru saja tiba disini, tapi sekarang kau akan segera pergi, menemui ajalmu." Iblis Lirya lalu mengarahkan tongkat sihirnya kearah Gareng. Awan hitam yang berada diatas itu, kini mengeluarkan petir yang menyambar tubuh Gareng.



Sambarannya begitu kuat, sinarnya begitu terang dan area bekas sambaran petir itu kini terpenuhi dengan kepulan asap.


"Garenggggg" teriak Bagong.


Karena sambaran petir yang baru saja menyambar Gareng, pertarungan antara Petruk dan Iblis Jira pun sempat terhenti.


"Nampaknya saudaramu tak sehebat rumor yang ku dengar," ucap Iblis Jira sembari mengarahkan tongkatnya menyerang Petruk.


Petruk menghindari serangan itu, lalu melayangkan sebuah serangan jarak jauh kearah Iblis Jira.



Iblis Jira menghempaskan serangan itu dengan tongkatnya. Lalu dia berlari dan kembali menyerang Petruk.


"Dzziiiingggggg" Petruk berhasil menahan serangan Iblis Jira dan kini senjata mereka saling beradu.


"Seperti biasah, kebiasaan burukmu adalah meremehkan lawan yang bahkan belum pernah kau hadapi. Asal kau tau, Gareng bahkan jauh lebih kuat dariku." ucap Petruk.


Disaat pertarungan antara Petruk dan Iblis Jira sedang berlanjut, nampak suara tawa kegirangan keluar dari mulut Iblis Lirya.


"Hahahaha, satu pion telah tumbang dan sekarang saatnya untuk mencari tau, bagaimana cara membongkar prisai ini" ucap Iblis Lirya dengan tatapan yang tajam, menatap kearah Kamaendra dan Bagong.


Namun sebelum Iblis Lirya sempat merapalkan sebuah mantra, tiba-tiba ada sebuah sambaran petir yang mengarah kedirinya.



Sambaran itu membuat Iblis Lirya terpental dan mengakibatkan badannya terbakar. Dengan sigap dia lantas mengarahkan tongkat sihirnya ke dirinya sendiri dan membuat api yang membakar tubuhnya padam.


"Sialan, darimana asal serangan itu." Iblis Lirya melihat-lihat sekitar, lalu dia mengarahkan pandangannya keatas. Betapa terkejutnya dia, saat melihat Gareng sedang terbang dengan posisi kaki bersilah.


Gareng lalu mengarahkan jarinya kearah Iblis Lirya, lantas awan yang dibentuk oleh Iblis Lirya tadi mengeluarkan petir yang menyambar Iblis Lirya. Iblis Lirya lalu memutar tongkat sihirnya dan berhasil menangkal sambaran petir itu.

__ADS_1


"Sialan, bagaimana kau bisa mengendalikan awanku?" ucap Iblis Lirya.


"Sihirmu tak mempunyai jati diri dan mudah saja bagiku untuk masuk dan mengendalikan sihirmu itu" jawab Gareng.


"Hahaha, jadi begitu cara kerja sihirmu, dengan masuk kedalam sihir orang lain dan menirukan mantranya, sehingga kau bisa mengendalikan awanku. Haha, tak heran, kau bisa membuka Pintu alam ini dengan mudah." ucap Iblis Lirya.


Gareng nampaknya lagi-lagi menghiraukan ucapan Iblis Lirya. Dengan ekspresi yang tenang, dia lalu mengacungkan jarinya keatas.


"Crriiinggggg" muncul sebuah lingkaran diatas Gareng, dengan segel tulisan mantra yang mengelilinginya.



Petruk yang sedang bertarung, nampak paham apa yang akan dilakukan oleh Gareng. Dia nampak berusaha menghindar dari pertempuran dan berusaha menjaga jarak dari Iblis Jira.


"Haha, nampaknya ada sesuatu yang sedang kalian rencanakan. Sekarang, cobalah kabur sesuka hatimu, tapi jangan berharap kau bisa menghindar dariku, Pecruk" Iblis Jira lalu mengeluarkan naga api dari tongkatnya. Naga api itu lalu menyerang Petruk.



"Grroaargh" "Wwwuuuushhhh" serangan itu lebih cepat dan lebih kuat dari sebelumnya, membuat Petruk terpental jauh walaupun sudah menangkisnya.


Kini jarak Petruk semakin menjauh dari Iblis Jira, lalu dia lantas berteriak,


"SEKARANG".


Gareng lalu membagi lingkaran itu menjadi dua. Dia lalu menurunkan jarinya, yang membuat lingkaran itu menyelimuti Petruk, Kamaendra dan Bagong.


Iblis Lirya yang melihat kejadian itu tak tinggal diam. Dia mencoba menyerang Gareng dengan petirnya. Namun serangan itu tak berefek apa-apa kepada Gareng.


Iblis Jira terbang menuju kearah Petruk dan bersiap menyerang dengan tongkatnya.


Gareng dengan cepat menyatukan kedua telapak tangannya, dan seketika membuat Petruk, Kamaendra dan Bagong menghilang.


Serangan Iblis Jira akhirnya gagal. Lalu dia nampak menatap marah ke arah Gareng.


Setelah itu Gareng terbang menuju pintu keluar alam Kamaya. Dia lalu menempelkan telapak tangan nya dan membuat segel pada Pintu itu.


"Crrriiinggg" Pintu itu kini sudah tersegel.


Dengan Ekspresi yang tenang Gareng lalu menatap kearah Iblis Jira dan Iblis Lirya.


"Ekhem ekhem. Perhatian-perhatian, untuk para iblis-iblis yang terhormat. Pintu yang bisa membuat kalian keluar kealam manusia, yang berada di Goa dekat dengan kediamku, sekarang sudah tersegel. Kusarankan kalian jangan pernah mencoba membukanya atau kalian sendiri yang akan menanggung akibatnya. Jadi kumohon untuk tidak menggangguku dan saudara-saudaraku lagi, atau nanti, akan ku buat pintu-pintu yang lain bernasib sama dengan pintu ini. Sekian dan terima kasih."


Gareng kemudian nampak mengeluarkan sebuah tongkat kecil. Tongkat kecilnya itu lalu diarahkan ke atas dan seketika muncul sinar yang sangat terang dan membuat dirinya menghilang atau berpindah alam.


Iblis Jira dan Lirya yang melihat mangsa mereka berhasil kabur, kini hanya bisa terdiam pasrah,


"Grrooaarghhh" Iblis Jira meraung keras. Dia sangat marah dan bersumpah untuk membunuh mereka dengan tangannya sendiri.


Petruk dan lainnya tiba-tiba sudah berada sebuah di hutan . Hutan itu nampak sangat familiar bagi mereka. Lantas Bagong berteriak kegirangan.


"Horeeeee, akhirnya kita selamat" sambil memegang tangan Kamaendra dan menari berputar-putar bersama.


Tak berselang lama, kini Gareng muncul di hadapan mereka. Bagong yang melihat Gareng lantas langsung memeluknya.


"Duhh untung kamu datang tepat waktu Reng-reng, kalau tidak, sekarang mungkin aku sudah menjadi makanan para demit itu" ucap Bagong senang.


"Ceplakk" Gareng meneplak jidat Bagong.


"Kamu itu makanya jadi orang harus berani melawan. Untuk apa Rama ngasih kamu senjata Kudi, kalau kamu masih saja takut mati" ucap Gareng.


"Hehehe, maaf" ucap Bagong.

__ADS_1


"Sudah ayo pulang, Rama pasti mengawatirkan kita" perintah Petruk.


Kamaendra yang nampak sudah kehabisan tenaga, tiba-tiba saja dia pingsan. Petruk yang berada disampinya, dengan sigap manangkapnya.


"Ehhh ehhh ndoroo" Bagong lantas menghampirinya dan membantu Petruk menyangga badan Kamaendra.


"Apa koe tak bisa menggunakan sihirmu Reng, dan membuat kita cepat sampai ke rumah?" tanya Petruk.


"Tidak bisa Truk. Tenagaku sudah habis untuk memindahkan kalian bertiga dan juga untuk membuat segel di Pintu mereka" jawab Gareng.


"Yasudah, sekarang naikan Raden kepunggungku, biar aku yang menggendongnya!" perintah Petruk.


Lantas Gareng dan Bagong bekerja sama untuk mengangkat Kamaendra.


Setelah Kamaendra sudah bersandar di punggung Petruk, lantas Petruk berkata,


"Ayo kita pulang."


"Ayoo" ucap Gareng dan Bagong kompak.


Petruk dan yang lainnya kini berjalan pulang ke rumah mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ditengah perjalanan tiba-tiba Kamaendra sadar dari pingsannya.


"Emm Paman, kita mau pulang?" tanya Kamaendra kepada Petruk.


"Ohh Raden sudah bangun? Syukurlah. Ini kita sedang perjalan pulang den. Setelah melewati bukit ini, kita akan sampai di rumah den" jawab Petruk.


"Maafkan aku Paman, karena kecerobohanku, semuanya jadi terlibat dalam masalah" ucap Kamaendra.


"Hehe, sudah tak perlu dipikirkan den. Sudah kewajiban pelayan untuk melindungi Tuannya den." ujar Petruk menjelaskan.


"Tapi bagaimana cara paman Petruk, menemukanku yang berada di dalam Goa, yang dipenuhi oleh sihir Iblis Lirya itu?" tanya Kamaendra.


"Ohhh jadi begini den. Saat itu..........


Kembali disaat, Petruk dan Bagong sedang kebingungan untuk mencari Kamaendra.


"Gareng???" lantas terbesit sesuatu di pikiran Bagong.


"Kenapa Gong, ada apa dengan Gareng?" tanya Petruk.


"Aku teringat sebelum kita berangkat berburu, Gareng menitipkan sebuah batu bewarna merah kepadaku" Bagong lalu mengeluarkan batu itu lalu dia lanjut berkata


"Batu ini katanya akan menunjukan jalan bagi kita, ketempat orang yang namanya kita sebut sembari mengelus-elus batu ini Truk."


"Duhhh Gong-gong kenapa tidak dari tadiiiii, kita sudah muter-muter koe baru ngmong sekarang. Haduhhh gusti salah apa hamba, kau sesatkan hamba bersama orang ini" ucap Petruk kesal,


Setelah itu Petruk langsung mengambil batu itu dari Bagong dan menyebut nama Kamaendra sembari mengelus-elus permukaan batu itu.


Seketika lilin-lilin menyala, menunjukan jalan kepada mereka kearah Kamaendra.


Petruk tanpa berlama-lama mengambil blangkonnya lalu menggendong Bagong dan langsung meloncat terbang...........


"...........Naaahhh seperti itu den Ceritanya." ucap Petruk.


"Terima kasih ya paman. Kalian sangat peduli padaku." ucap Kamaendra.


Tak terasa mereka berempat akhirnya sampai di rumah. Semar yang dari tadi cemas menunggu kepulangan mereka, kini terlihat bergembira, melihat mereka pulang. Lantas dia menghampiri mereka dan memeluk anak-anaknya itu.

__ADS_1


Dan Bersambung........


__ADS_2