Meregat

Meregat
Sebuah Kepercayaan


__ADS_3


Di awal episode ini kita diperlihatkan, seseorang yang sedang terbakar oleh kobaran Api, yang menyala begitu besar.


"Aaaarrrrghhhhhh, aaarhhhhhhhhh" seseorang itu nampak berteriak-teriak meronta-ronta.


Disisi lain, ada seseorang yang misterius, sedang mengawasinya dari kejauhan.


"Belum, masih belum" ujar orang misterius itu. Orang itu lalu mengeluarkan Petir bercampur kobaran api dari tangannya dan menyambar seseorang yang sedang terbakar itu.


"Jedyuaarrrr"


"Aaaarrrrrgghhhhhhhhhhh" terlihat orang itu kini berteriak semakin kencang dan tiba-tiba.......


Kamendra bangun dari tidurnya. Keringatnya mengalir deras di sekujur tubuhnya.


"Sial, mimpi itu lagi" ucap Kamaendra sembari berusaha mengatur nafasnya.


"Ndoroo, sudah pagi ndoro". Ada seseorang yang memanggilnya dari balik pintu.


"Iya paman, aku sudah bangun paman" Kamaendra lalu bergegas bangun dari tempat tidurnya.


Dia lantas membuka pintu, dan dijumpainya sosok Bagong yang membawakannya sebuah kain handuk.


"Mandi dulu Raden Ndoro, setelah itu kita makan bersama" ucap Bagong.


"Terima kasih paman Bagong" ucap Kamaendra seraya mengambil handuk dari tangan Bagong.


Kamaendra lalu pergi untuk mandi di sungai yang berada di belakang rumah mereka.


Setelah selesai mandi, dia menjumpai Petruk yang sedang mengambil cabai di halaman belakang rumah mereka.


"Masak apa hari ini paman?" tegur Kamaendra.


"Eh Raden, sudah selesai mandinya? paman Petruk hari ini masak olahan daging burung merpati den" jawab Petruk.


"Dan cabai ini? mesti Rama yang meminta untuk membuatkan sambal?" tanya Kamaendra.


"Hehehe, iya den. Raden kan tau sendiri Rama sangat suka dengan yang pedas-pedas" timbal Petruk.


"Ya sudah sini biar aku saja yang bawa Paman" ucap Kamaendra.


"Tidak usah den. Paman Petruk saja yang bawa. Raden mendingan buruan ganti baju, nanti kalo telat untuk makan, Rama bisa marah lo" tutur Petruk.


"Ya sudah, aku kedalam dulu ya Paman" sembari membuka pintu belakang rumah itu.


"Iya den" timbal Petruk.


Di meja makan, terlihat Semar, Gareng dan Bagong sedang bersantai sembari menunggu Petruk dan Kamaendra datang. Hidangan mereka kali ini adalah sebuah masakan olahan daging burung merpati yang nampak begitu sedap.


Bagong yang mempunyai porsi makan yang banyak itu, nampak sudah tak sabar untuk mencicipinya.


"Haduh lama sekali Raden ndoro sama Petruk, apa mereka tidak tau? bahwa perutku ini sudah tidak bisa diajak untuk bersabar" ucap Bagong sambil mengelus-elus perutnya.


"Hiisss, kamu itu Gong-gong. Perasaan semalam kamu makan banyak, sampai-sampai perutmu itu terlihat seperti mau meledak, tapi sekarang, masih pagi begini kamu sudah lapar lagi. Hadeh hadeh" ucap Gareng.


"Loh itu mah hal yang wajar Reng. Asal kamu tau Reng, perutku ini harus mendapatkan asupan makanan yang banyak Reng, supaya bisa menjaga senjata mu dan senjatanya Petruk, biar gak lari" tutur Bagong.


"Huuu, alesan" ucap Gareng.


"Sssttttttt, sudah jangan ribut" tegur Semar.


Tak berselang lama Petruk datang dengan membawa sepiring sambal.


"Banyak cabainya Truk?" tanya Semar.


"Banyak Mo, ini sudah tak campur dengan tomat biar tambah mantap" ujar Petruk.


"Wehh wehhh, kelihatan enak sekali" ucap Bagong.


"Cepluk" si Gareng meneplak jidat Bagong.


"Sabar Gong, Ndoro bei saja belum ada"

__ADS_1


"Lohh Ndoro bei belum kesini?" tanya Petruk.


"Belum Truk, coba kamu susul ke kamarnya!" perintah Semar.


Petruk lalu meninggalkan meja makan dan bergegas pergi menuju kamar Kamaendra.


"Denn, Makanannya sudah siap den" panggil Petruk sambil mengetuk pintu kamar Kamendra.


Petruk terus menerus memanggilnya, tapi nampak tak kunjung mendapat jawaban dari Kamaendra.


Lalu setelah merasa ada yang tidak beres, Petruk pun lalu membuka pintu kamar Kaendra. Dan betapa terkejutnya Petruk, mendapati Kamaendra yang sedang melayang dengan tatapan yang menyeramkan. Separuh tubuhnya nampak diselimuti bayangan hitam.


"Moo, Raden mo" teriak Petruk memanggil Semar.


Semua orang yang berada di meja makan, lalu bergegas menuju kamar Kamaendra. Saat semua orang tiba, mereka pun nampak menunjukan ekspresi yang sama seperti Petruk.


"Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi dengan Kontraknya. Gareng bersiaplah, segel Ndoro bei dengan segel Mertapa mu!!!" perintah Semar.


Gareng lalu duduk bersilah, mengatur nafasnya, kemudian mempersatukan kedua telapak tangannya dan nampak mulai membaca mantra.


"Ning donyo ora ono aji, kejobo ajining diri. Kula ninggal kegesangan donyo kanggo ngabdi marang ilahi. Mertapaku tak gunake sak iki. Sumurku sat, aku nyuwun bantuanmu gusti"


Seketika muncul beberapa kayu balok besar yang mengelilingi Kamaendra.


Gareng lalu mengeluarkan sebuah rantai dari tangannya kemudian melemparkan rantai itu kearah Kamaendra dan seketika balok-balok tadi meresponnya dengan menyegel tubuh Kamaendra dan terikat oleh rantai.


Semar kemudian memejamkan matanya, lalu mengetukan tongkatnya ke lantai, seketika mereka semua kini berpindah alam.


Alam itu nampak kosong tidak ada apapun. Hanya warna putih yang terlihat, sejauh mata memandang .


"Nampaknya, Rama harus melakukannya" ucap Semar.


Nampak semua orang langsung kaget mendengar ucapan Semar barusan.


"Jangaaannn Rama, jangan lakukan hal itu. Percayalah takdir masih memberikan kita waktu" ujar Petruk.


"Iya mo, kita harus percaya, Raden ndoro pasti masih bisa untuk menahannya" imbuh Gareng.


"Sampaii kapan???, hiks hiks. Aku sudah tak kuat membayangkan penderitaan yang harus dia pikul sendiri" ucap Semar sambil menangis.


Itu akan membuat kontraknya terputus sementara, tapi resikonya jika kita ceroboh, dia akan kehilangan kontraknya untuk selamanya" ucap Gareng.


"Ya sudah aku percayakan Ndoro bei pada tekad baja kalian. Setelah ini lindungi dia dengan semua kekuatan dan nyawa kalian" tutur Semar.


"Siap Rama" ucap Gareng, Petruk dan Bagong serempak.


Gareng lalu kembali mempersatukan kedua telapak tangannya dan bersiap untuk melakukan segel yang kedua pada Kamaendra. Dia mendekati Kamaendra yang masih tertahan oleh segel pertamanya.


Lalu setelah cukup dekat dengan Kamaendra, Gareng lalu membuka telapak tangannya. Terlihat ada sebuah tulisan Aksara Jawa yang bersinar pada telapak tangan Gareng.



Kemudian dia menempelkannya pada dada Kamaendra.


Seketika Kamaendra berteriak kesakitan, seperti tak kuat menahan efek dari Segel itu.


Semar, Petruk dan Bagong yang melihat hal itu hanya berdiam diri dan terlihat cemas. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena mereka tau semua hal itu dilakukan untuk kepentingan dan keselamatan Kamaendra.


Setelah beberapa saat, teriakan Kamaendra akhirnya mulai mereda. Seperti rasa sakit yang dia rasakan, kini sudah menghilang.


Tatapan Kamaendra yang kosong, kini nampak berubah. Matanya kini terlihat menutup, seperti orang yang sedang tertidur. Bayangan yang tadi menyelimuti sebagian tubuh Kamaendra pun juga sudah mulai menghilang.


"Apa berhasil?" ucap Gareng.


Gareng lalu membuka perlahan segel rantai dan kayu balok yang menyegel Kamaendra.


Petruk kemudian perlahan menghampiri Kamaendra dan lalu memeluknya sambil menangis.


"Kita akan bertambah kuat Den. Tolong bertahanlah sebentar lagi. Percayalah kau mampu melewati cobaan ini" ucap sambil menangis.


Tanpa disadari Kamaendra perlahan membuka matanya. Dia kaget mendapati Petruk yang sedang menangis memeluk dirinya. Semar yang menyadari itu, lalu bergegas memindahkan mereka kembali ke alam mereka semula.


"Truk, Raden ndoro sadar Truk" tegur Bagong.

__ADS_1


Petruk yang mendengar itu lantas melepaskan pelukannya.


"Apa yang terjadi Paman?" tanya Kamaendra.


"Anuu Den tadi it..... " ucapan Petruk seketika terpotong oleh Semar.


"Ndoro itu tadi tak kunjung keluar kamar, lalu si Petruk lantas menyusul Ndoro ke kamar. Ehh ternyata pas dibuka pintunya, Raden sudah tergeletak pingsan di lantai" jawab Semar.


"Iya den, benar seperti itu" lanjut Petruk.


Petruk lalu membantu Kamaendra yang mencoba untuk berdiri.


"Benarkah? kenapa aku tiba-tiba bisa pingsan ya?" tanya Kamaendra.


"Mungkin akibat latihan Ndoro dengan Petruk, yang terlalu keras kemarin, membuat tubuh Ndoro yang masih kurang istirahat dipaksakan untuk bangun dan pada akhirnya malah membuat Ndoro pingsan" jawab Gareng.


"Ohh seperti itu" ucap Kamaendra yang masih kebingungan.


"Sudah, lebih baik kita makan dulu Ndoro, Petruk sudah masak makanan yang enak untuk kita pagi ini" perintah Semar.


"Makan? Oh iya ya. Ya sudah ayo cepat kita makan. Aku bisa saja pingsan kalau telat makan" timbal Bagong.


"Kamu kalau pingsan juga tidak apa-apa Gong. Bahkan lebih baik kalau tak sadar-sadar lagi, hahaha" ucap Gareng meledek.


"Huuuuuuuu" timbal Petruk.


"Sudah ayo, tuntun Ndoro bei kita ke meja makan" perintah Semar.


Petruk lalu menuntunnya ke meja makan dan pagi itu mereka habiskan dengan menikmati santapan lezat yang telah dihidangkan Petruk.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Disore hari nampak Petruk dan Kamaendra bersiap melakukan sebuah pertarungan.


"Raden yakin mau melanjutkan latihan hari ini?" tanya Petruk.


"Sangat yakin paman. Seperti yang paman Petruk katakan, musuh tak akan menunggu kita menjadi kuat terlebih dahulu lalu mulai menyerang. Dia bisa datang kapan saja. Kalau usaha dan tekad kita hanya setengah-setengah, kita hanya akan menjadi sampah dan tak akan bisa melindungi apapun" tegas Kamaendra.


"Baiklah, tanamkan hal itu selalu di ingatan Raden!! Itu yang akan membuat kita menjadi semakin kuat" ucap Petruk.


"Baik paman" ucap Kamaendra.


Kedua orang itu lalu saling bertatapan dan mulai bersiap dengan kuda-kudanya. Angin yang pada saat itu sebelumnya tenang kini berubah menjadi kencang karena merasakan atmosfir yang begitu panas dari mereka berdua.


"Aku mulai Paman" Kamaendra berlari lalu meloncat tinggi dan langsung melayangkan sebuah pukulan dengan tangan kanannya ke arah Petruk.


Petruk menangkis itu dengan tangan kirinya lalu membalasnya dengan sebuah sepakan kearah Kamaendra.


Kamaendra menghindari sepakan itu dengan menjatuhkan dirinya ketanah lalu balik menyerang dengan teknik sapuan kaki yang mengarah ke kaki Petruk.


Petruk meloncat dan membalas dengan sebuah pukulan yang dia arahkan ke Kamaendra.


Kamaendra dengan sigap menghindari serangan itu dengan cara meloncat dengan menggunakan kedua tangannya, lalu berbalik menyerang Petruk dengan sebuah Pukulan tangan kiri.


Namun Petruk menangkis berhasil serangan itu. Kamaendra lalu memutarkan badannya dan menyerang dengan sebuah sikutan tangan kanan ke arah Petruk.


Petruk yang tak memperkirakan serangan itu langsung menangkisnya dengan kedua tangannya.


Setelah serangan sikutnya ditangkis, kemudian Kamaendra melanjutkan serangannya dengan tendangan T dengan kaki kanannya.


Petruk menangkap tendangan itu lalu mencoba membanting Kamaendra. Kamaendra yang kaki kanannya tertangkap, lalu mencoba meloncat dan menendang kembali dengan kaki kirinya.


Petruk yang tak menduga hal itu lalu melepaskan kaki kanan Kamaendra dan langsung menyilangkan kedua tangannya di dada, untuk menahan serangan Kamaendra.


Petruk yang sempat menangkis serangan itu, nampak harus sedikit terhempas.


"Hahaha, bagus sekali Den. Teruslah seperti itu" ucap Petruk.


Kamaendra lalu menutup matanya dan bersiap lagi dengan kuda-kudanya yang nampak berbeda dari sebelumnya.


Sebuah aura merah muncul, memancar dari tubuhnya.


'Langsung mencobanya ya?' batin Petruk.

__ADS_1


"Baiklahh, Ayooo Majuuuuuu" tantang Petruk.


Kamaendra lalu membuka matanya dan kemudian episode ini pun bersambung.............


__ADS_2