MEURTRIER

MEURTRIER
BAB 9 . Ancaman


__ADS_3

Bel berdering nyaring menusuk telingaku. Aku berdecak kesal saat mendengar suara bel itu sangat nyaring. "Bangunlah, ini sudah bel" ucap Xavier seraya beranjak dari bangku tapi tak membawa apapun.


"Mau kemana?" tanyaku terbingung dengannya. "Hanya ingin mencari udara di rooftop. Ikutlah jika mau" ia segera meninggalkanku sendiri di kelas karena murid-murid lain sudah berhamburan keluar meninggalkan kelas. Lagi-lagi aku berdecak lalu merotasi kan mataku malas. Aku ingin sekali ikut tapi rasanya kakiku malas beranjak dari bangku yang ku duduki.


Aku membereskan buku-buku kembali, memasukkannya ke dalam loker. Percaya lah aku malas membawa buku pulang pergi. Lalu menentengnya pergi keluar kelas, aku tidak ingin pulang, tetapi ingin ke rooftop menghampiri Xavier yang tengah berada disana.


Ah sungguh, apakah disekolah ini tidak ada lift, lelah sekali rasanya naik turun tangga. Aku membuka pintu tersebut tanpa mengetuk dan mendapati Xavier tengah berkelahi dengan sosok yang sangat amat aneh di pandanganku. Siapa dirinya?


Aku hanya diam, tak ingin mengganggu, aku tau pasti Xavier tak menyadari keberadaan ku. "MENJAUH LAH DARI SINI LEONAVYN!" ah, rupanya ia menyadari keberadaan ku. Namun ternyata gerakkan sosok menyeramkan itu sangatlah gesit dari pada aku. Ia menarik ku dengan tangannya yang tiba-tiba saja bisa memanjang, membuatku terkejut setengah mati.


"LEPASKAN AKU!" aku memberontak hebat saat sosok itu mencekik leher ku. Pisau tajam kini berada dibawah daguku, siap menusukku dengan itu. SIALAN!


"Ashhh, sialan" umpat Xavier saat tak bisa menyelamatkanku dari sosok itu.


"LEPASKAN AKU! SOSOK JELEK! MENYERAMKAN! KAMU CABUL!" teriakku yang justru menguatkan cekik kan nya pada leherku. Sungguh pria sialan!


"DIAM LAH! AGAR TAK MEMPERBURUK!" perintah Xavier yang langsung ku turuti.


"Ah dasar Xavier Abrahams, cukup keluarkan dirimu yang asli saja tak mau" ejek pria tersebut.


"Lepaskan gadis itu, akan ku keluarkan diriku yang asli" balas Xavier. Pria yang tak ku kenali itu kembali seperti manusia biasa. Tetapi tetap saja aku takut dengannya.


"Baiklah, ambil lah" pria kurang ajar itu mendorongku hingga jatuh ke dalam dada Xavier. Aku rasakan dadanya seperti nya nyaman untuk disenderi.


"Berlari lah jauh-jauh dari sini, aku akan menyusul mu" perintah Xavier disamping telingaku. Aku mengangguk, lalu berlari meninggalkan Xavier di rooftop bersama dengan pria menyeramkan itu.

__ADS_1


Jujur saja rasanya aku khawatir dengan Xavier, tapi aku juga tak ingin mati terlebih dahulu. Aku berlari semampu tenagaku.


Disisi lain, Xavier kini masih berdiri dengan tatapan yang penuh dendam. Warna matanya berubah menjadi merah. Tatapannya bak elang, sangat tajam saat menatap pria yang berdiri didepannya.


"Apa mau mu!?" ucap Xavier.


"Cukup berikan gadis tadi kepadaku lagi, dia sangat ku butuhkan"


"Pria tua gila" umpat Xavier lagi dan lagi.


"Percayalah, gadis itu cantik dan segar, sangat cocok untuk ku jadian bahan ramuan untuk ku. Kekuatannya sangat jarang dimiliki orang-orang. Itu yang ku incar, Xavier Abrahams" pria itu menjelaskan kepada Xavier tentang alasannya, namun tetap tak masuk untuknya. Bisa-bisanya gadis tak berdosa itu seperti dijadikan tumbal ramuan percobaan gilanya.


"Aku tak akan memberikannya padamu! dia gadis ku! hanya milikku!" tegas Xavier. Ia sangat terpaksa mengatakan hal ini, ia harap agar pria itu tak berharap lebih lagi kepadanya ataupun gadis itu.


"Ah, bagus begitu. Jadi semakin mudah kamu memancingnya untukku" pria tua itu menjawab santai tanpa beban apapun. Xavier mengepalkan tangannya penuh dengan dendam. Ia sangat marah dengan pria itu


"Baiklah, akan ku lakukan sendiri" pria itu benar-benar tiba-tiba saja pergi dari hadapannya, dan dari sekitarnya. Xavier kini benar-benar cemas sangat amat cemas dengan Leonavyn, gadis keras kepala, menyebalkan yang baru ia temui akhir-akhir ini


Xavier berlari menyusuri lorong-lorong sekolah mencari-cari keberadaan gadis itu. Ia mencoba menelponnya tetapi handphonenya tak aktif. "ah sungguh sialan tua menyebalkan!" kata-kata kasar sering sekali ia keluarkan untuk orang-orang yang membuatnya sangat marah.


Xavier berlari menyusuri lorong-lorong sekolah. Ia benar-benar dilanda rasa kekhawatiran yang berlebih karena traumanya akan masa lalu. Ia tak ingin itu terjadi kembali kepada gadis yang kini sedang dalam pengawasan pria tua gila tadi.


Laki-laki itu pergi ke cafe untuk mencari Leonavyn, namun rupanya gadis itu tak ada, ia jadi memutuskan untuk pergi ke rumahnya, dan berharap gadis itu sudah berada dirumahnya. Ia mengetuk pintu dan lalu dibukakan oleh Lexo, kakak kedua gadis itu.


"Xavier Abrahams, teman sebangku Leonavyn. Apakah gadis itu ada didalam?" tanya Xavier langsung pada intinya. Lexo menggeleng.

__ADS_1


"Dimana dia?"


"Rumah temannya, baru saja pergi jalan kaki"


"Baik, terimakasih. Saya pamit" Xavier menundukkan tubuhnya dan kepalanya. Lalu kembali berlari mencari-cari gadis itu. "Ah, dimana kamu Leonavyn!" gerutu Xavier.


Laki-laki itu berjalan cepat. Sedikit celingak-celinguk mencari kepala gadis itu di tengah keramaian kota saat itu. Dan Yap! akhirnya ia menemukannya! Leonavyn segera menarik gadis itu di pergi menjauh. Membuat Leonavyn risih.


"AH! XAVIER! TANGANKU SAKIT!" ucap Leonavyn dengan nada yang tegas dan penuh amarah. "Baik-baik, maafkan aku. Tetapi percayalah, kamu sedang dalam masalah, jangan mudah ingin diajak pergi walaupun teman dekatmu atau bahkan saudaramu" Xavier menjelaskan, namun gadis lawan bicaranya jelas tak percaya


"Percaya denganku kali ini, tolong lah. Jangan buat dirimu celaka"


"Ya ya ya, akan ku coba. Aku ingin pergi, selamat tinggal"


"Pulang lah."


"Tak mau"


"Ku katakan pulang, pulang lah, Leonavyn. Sekali lagi nyawamu terancam."


"Oke, baiklah, akan ku turuti ucapanmu" deal gadis itu karena tak ingin membuat perdebatan yang lebih panjang lagi, selain itu ia juga takut dengan nada bicara Xavier yang mulai menegas dan menyeramkan


"Ayo aku antar pulang" ucap Xavier. Laki-laki itu tak ada rasa kepada Leonavyn, mungkin jika tanpa ada ancaman dari pria tua menyebalkan tadi ia tak akan memperhatikannya seperti ini.


Mereka berjalan bersama diselimuti oleh keheningan. Sekali-kali Leonavyn melirik wajah Xavier, hingga ia tak sengaja melirik luka gores di lehernya. Gadis itu memberhentikan langkahnya, disusul oleh Xavier. "Lehermu luka" Leonavyn meraba-raba leher sebelah kanannya yang luka tersebut, memastikan apakah darahnya masih keluar.

__ADS_1


Tentu saja Xavier sedikit merasa geli saat gadis itu meraba-raba lehernya. "Tak apa. Tidak sakit" ia meraih tangan gadis itu menjauhkannya dari lehernya yang disentuh.


"Mampir kerumah ku saja dulu, akan ku obati. Itu bisa menjadi infeksi kalau kamu diamkan begitu saja" Jujur saja, Xavier sebenarnya sangat malas berdebat dengan gadis itu, sehingga ia memilih untuk meng-iyakan ucapan Leonavyn saja.


__ADS_2