MEURTRIER

MEURTRIER
BAB 7 . Breaking News


__ADS_3

Sore ini aku sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, syukurlah, akhirnya aku bisa terbebas dari rumah sakit itu. Aku pulang bersama kak Lexo yang sedari malam selalu menemaniku. Sedangkan mama dan ayah bekerja. Mama pergi mengurus kebunnya dan ayah bekerja merantau kembali.


Aku kini berbaring di ranjang kesayanganku, menatap langit-langit kamarku, tenang rasanya. Lalu beranjak kembali ke meja belajar untuk membuka kotak yang berada di atasnya. Entah dari siapa namun kotak itu seperti sudah ada sejak kemarin, tetapi hari kemarin rumah jelas sepi karena orang tuaku bekerja dan juga kakak ku.


Ku meraih kotak hitam dengan tali berwarna emas yang membuat kesan elegan. Sembari aku membuka sampul pita tersebut dengan perlahan. Aku benar-benar terkejut saat melihat isi dari kotak tersebut, rupanya berisikan sebuah kupu-kupu cantik berwarna hitam. Konon katanya dahulu kala jika kupu-kupu hitam itu menandakan tanda dapat hidupnya seseorang kembali. Apakah ini juga yang dapat membantu Geolee untuk bangkit kembali?


"Geolee" panggil ku memastikan sekitarnya namun tak ada yang terjadi apapun. Di dalam kotak tersebut juga terdapat surat yang bertuliskan tangan laki-laki yang menyukainya tersebut.


Teruntuk : Leonavyn Axvizer


Halo, ini aku, Geolee. Bagaimana kabarmu? aku dengar-dengar katanya kamu masuk rumah sakit? dan itu karena bisikan ku? ah sungguh aku sangat minta maaf akan hal itu, aku sangat tak menyangka bahwa itu akan terjadi. Aku tahu kamu merindukanku kan? panggil aku saja dengan kupu-kupu yang ku beri, nanti aku akan menghampirimu


— Geolee


Aku meletakkan surat itu kembali setelah membacanya. Namun tiba-tiba saja pundak ku ditepuk seseorang, "AH! YAK! GEOLEE!!" teriakku terkejut setengah mati. Bagaimana tidak terkejut? Aku pikir dia tak akan kesini, padahal aku sudah tak ingin lagi percaya dengan pernyataan konyol tersebut dari seekor kupu-kupu hitam.


Aku berdecak kesal dengan menatapnya sinis tetapi sama sekali ekspresinya tetap seolah-olah merasa tak bersalah, sungguh menyebalkan. "Bagaimana keadaanmu? sudah membaik?" aku mengangguk saat Geolee menanyakan keadaanku saat ini. Senyuman tiba-tiba saja terukir di wajahnya membuatku kebingungan dengan maknanya.


"Kakak mu benar-benar definisi teman memakan teman" celetuknya dengan tawa ringannya. Aku hanya diam tak berani mengeluarkan sepatah katapun.


"Oke cukup, tujuanmu kesini untuk apa? aku sedang tak butuh dirimu" aku menyilang kan tanganku didada menatapnya dengan penuh pertanyaan.


"Tadi kamu memanggilku"

__ADS_1


"Itu aku hanya ingin memastikan dirimu!" aku mendorongnya ke arah balkon agar ia cepat pergi.


"Ayolah sayang. Lagipula dirumah mu hanya ada kita berdua kan?"


"Tidak. Ada kak Lexo dibawah"


"Jika kamu bermain diam-diam tanpa berteriak tak akan mengganggunya"


"Laki-laki gila. Pergi kamu!" Bodohnya diriku, aku baru ingat dia bisa telepotasi, walaupun aku sudah mengunci pintu balkon tetap saja laki-laki itu bisa masuk tanpa menggunakan pintu.


"GEOLEE! KELUAR!" aku berteriak, membuat aku dapat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari kakak ku yang berada dibawah.


Kak Lexo membuka pintu kamarku dengan kasar. Didepan ku padahal ada Geolee, namun ia tak dapat melihatnya. Bagaimana bisa? ah sudahlah. "ADA APA LEONAVYN?!" tanya kakak ku dengan khawatir.


Aku segera mengunci kamarku. Mencari-cari keberadaan Geolee. "Geolee" panggilku. Namun tak ada jawaban apapun dari dirinya. Aku mendudukkan tubuh ku di ujung kasur. Bernafas lega karena laki-laki itu sudah tak berada disekitar ku kembali.


...----------------...


Malam kembali tiba. Aku kini tengah berada diluar rumah untuk mencari sebuah udara segar, kebetulan hujan sudah selesai, hanya gerimis rintik-rintik untuk sekarang. Namun hal tersebut bukanlah hal yang sangat masalah untukku.


Angin dingin berhembus menembus kulitku. Aku memasukkan tanganku kedalam saku jaket yang ku kenakan saat ini. Tujuan ku kini ingin pergi ke kafe tempat kakak ku bekerja. Kebetulan hari ini ia sif malam.


"Ada apa lagi kesini?" tanya kakak ku sembari mengepel lantai.

__ADS_1


"Cari angin" jawabku singkat tanpa menatap wajah kakakku yang sudah malas melihatku seringkali ke cafe nya hanya untuk mencari angin.


Aku duduk di kursi yang berada di ujung dekat jendela. Hujan turun cukup deras tiba-tiba. Aku hanya duduk diam seraya menonton tayangan televisi yang disetel. Ah sungguh, hal ini sangat menyenangkan percayalah. Bepergian seorang diri dengan tujuan menenangkan diri sendiri dari pahitnya hidup dihari ini.


Ditengah-tengah aku asyik sendiri. Tiba-tiba saja netra ku mendapati keberadaan Xavier. Iya, benar, Xavier Abrahams. Laki-laki yang penuh dengan misteri bagiku. Ia duduk diujung, seraya membaca novel. Laki-laki itu nampak tenang dengan dunianya sendiri.


Aku memilih kembali fokus kepada layar televisi, tak ingin melihatnya terlalu lama. Membosankan.


Kini lagi dan lagi, televisi menayangkan sebuah berita yang berada dikota Wendlyn. Namun bukan soal pembunuhan, tetapi kecelakaan. Kecelakaan parah yang menewaskan 3 orang sekaligus.


Menurut cerita dari 1 korban yang masih selamat, saat itu mereka tengah ingin berpergian, namun disaat perjalanannya, mereka menemukan sebuah beruang besar menyeramkan, matanya merah, dan di sekujur tubuhnya seperti banyak bekas luka cakaran. Beruang itu hidup, tetapi tak tahu dari mana asalnya.


Entah mengapa namun mataku langsung tertuju pada laki-laki yang duduk tak berada jauh dari ku. Aku masih menganggapnya seseorang yang penuh dengan misteri yang untukku sangat sulit untuk dipecahkan. Tetapi aku juga merasa tak mungkin seorang Xavier Abrahams akan melakukan hal sekeji ini, walaupun mungkin ia sama seperti diriku.


"Ah! panas" cetus ku saat menyeruput cangkir kopi panas di depanku. Jujur saja, kopi itu benar-benar terasa sangat panas. Aku tak begitu menyukai kopi yang begitu panas. Itu sangat mengganggu pancaindra pencicip ku.


"Enggak pulang?" tanya kak Verza tiba-tiba saja. Aku menggelengkan kepalaku, "Sebentar lagi, mungkin, kalau kakak pulang lebih malam dari kemarin" jawabku. Kakakku tak menggubris jawabanku, ia kembali sibuk kepada pekerjaannya.


Lagi-lagi netra ku menatap Xavier, namun kini netra kita saling bertemu. Tanpa saling menyapa, kita seolah-olah asing. Sedikit menganehkan diriku. Seperti tipe seseorang yang tidak bisa ramah di publik. Mengapa begitu? karena dikelas saja dia sering sekali menggubris ku, dan sesekali menyapaku, tetapi saat diluar sama sekali mungkin hampir tak pernah ku dapati dia menyapaku terlebih dahulu.


"Pulanglah sehabis ini, Lexo pasti akan mengkhawatirkan mu jika pulang terlalu larut" ucap kak Verza.


Setelah aku menghabiskan minuman ku, aku segera membayarnya lalu pamit pulang terlebih dahulu kepada kak Verza. Aku keluar disusul oleh Xavier. Laki-laki itu membuntuti ku, tapi aku hanya bertingkah pura-pura tak tahu.

__ADS_1


__ADS_2