MEURTRIER

MEURTRIER
BAB 6 . Geolee bangkit kembali?


__ADS_3

Aku mulai membuka mata dengan perlahan, wajah kakak ku serta Xavier terlihat jelas. Ekspresi khawatir mereka terbaca jelas oleh ku. Mataku bengkak, hidungku sedikit tersumbat, tanganku sudah tertusuk oleh jarum infus. Ya, kini aku sudah berada dirumah sakit.


"Akhirnya kamu siuman" syukur kak Lexo yang nampak lega.


"Sekarang jam berapa kak? kok ada Xavier? kamu kan harusnya sekolah..."


"Jam 8 malam, kamu engga sadar dari jam 12 siang. Tadi Xavier sempat kembali ke sekolah tapi setelah sekolah dia ke rumah sakit untuk memastikan kamu" Aku terbingung, untuk apa dia menungguku? padahal ada kak Lexo yang akan selalu menungguku mau bagaimanapun keadaannya. Karena waktu tadi aku tak sadar bukan karenanya namun karena Geolee.


"Terimakasih, Xavier"


"Seharusnya jika ada apa-apa ucapkan saja pada ku" ujarnya. Aku hanya terkekeh kecil.


Tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar oleh seseorang dan rupanya itu ayah. Ah mati sudah diriku. Ayah datang dengan ekspresi wajahnya yang sangat khawatir, namun aura nya seperti penuh dengan amarah yang tak dapat ku deskripsikan.


"Ah, kamu sangat membuat ayah khawatir, Leonavyn. Bagaimana bisa kamu seperti ini?! Ibu mengabari ayah jika kamu mendadak tak sadarkan diri, membuat ayah khawatir!" omel ayah yang sudah sering sekali ku dengar.


Tak sengaja ayahku melihat luka dikaki ku serta pelipis ku yang bahkan sudah tertutupi oleh hansaplast. "Ini bekas apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa seperti ini, nak? ayah baru meninggal mu 3 hari saja tetapi ada saja tingkahmu yang membuat ayah khawatir!"


Aku menghela nafas sejenak, "Maaf yah, Leonavyn belum bisa jaga diri" balasku lirih. Kepalaku yang ku tundukkan membuat ayahku sedikit jengkel.


Ayah tiba-tiba saja memelukku, ah sungguh aku sangat rindu peluk kan hangat ini. Lagi-lagi aku meneteskan air mataku karena rasanya sakit jika air mataku ini selalu saja ku tampung di mataku.


"Ayah sayang kamu nak, jangan buat ayah khawatir akan kondisi kamu..." lirih ayah disamping telingaku.


"Aku juga sayang ayah"


...****************...


Pagi kini kembali tiba, aku sudah terbangun sejak jam menunjukkan pukul 4 dini hari, aku terbangun lagi-lagi karena sosok Geolee yang selalu menghantuiku. Aku belum cerita soalnya ke kakak ku, atau bahkan ke ibu dan ayahku.

__ADS_1


Aku terdiam di ranjang ku, melamun sedari tadi bak seseorang yang hampir dijemput oleh ajalnya. Apakah ini tanda-tanda akhir hidupku? tidak, tidak mungkin, aku masih ingin hidup dengan damai tanpa ada masalah apapun dalam diriku.


Ku harap hari ini aku sudah dibolehkan untuk pulang, karena aku tak suka dengan aroma dari rumah sakit yang sangat membuat indra penciuman sangat terganggu.


Kak Lexo berjalan kearah ku saat mengetahui diriku sudah terbangun dari tidur yang cukup pulas semalam. "Bagaimana keadaan tubuhmu saat ini?" tanyanya seraya mengucek matanya, wajahnya sangat terlihat seperti muka bantal.


"Kak, bisakah aku pulang hari ini? disini tidak nyaman" aku sadar ucapanku kini sedikit melenceng dengan pertanyaan kakak ku, namun jujur saja aku memang sudah muak disini walau hanya dia hari satu malam.


"Entahlah, nanti dokter akan keruangan untuk mengecek keadaanmu. Percayalah kepadaku" aku hanya diam, feeling ku sepertinya hal itu tak akan terjadi.


Kak Lexo kembali ke tempatnya kembali, sedangkan aku hanya diam diranjang konyol ini. Tolong siapapun keluarkan aku dari sini. Aku meraih tas ransel ku yang tergeletak diatas nakas samping ranjang. Sedikit membongkar isi didalamnya untuk mencari minyak kayu putih untuk agar dapat sedikit mengobati rasa tak nyaman diperutku.


Sepertinya Maag ku kambuh, tetapi... ya sudahlah, lagi pula ini tak terlalu mengganggu ku. Aku beranjak dari ranjang dengan membawa-bawa alat infus yang tertancap ditangan kananku, sungguh hal yang sangat sialan. Alat infus sangat membuat ku muak.


"Ingin kemana?"


"Taman rumah sakit, aku muak berdiam diri disini. Kakak tak usah ikut juga tak apa, lagipula aku juga sedang ingin berdiam diri sendiri dahulu" tanpa pikir panjang setelah berkata hal itu aku langsung pergi meninggalkan kakak ku dari ruang inap ku. Aku tak akan kabur, percayalah.


Namun tak lama ia membuka pembicaraan. "Kakak mu terlalu polos ya, Leonavyn? Aku juga memiliki sebuah kelebihan, yaitu hidup kembali" celetuknya yang membuat otak ku berpikir.


"Maksudmu?"


"Ah rupanya kau tak tahu ya. Beberapa waktu lalu Lexo membunuhku, tapi ku rasa itu hal yang bagus untuk dapat sedikit menjahili mu" otakku semakin dibuat berpikir dengan maksudnya.


"Ku dengar di ruangan mu tadi ingin ke taman? Bolehkah aku ikut? Ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan denganmu" tunggu bagaimana ia bisa tahu jika aku ingin ke taman, apakah ia tadi menguping?! Ah sialan!


"Aku bisa mendengar kata batinmu. Ya, benar, aku menguping"


"Sialan" lirihku.

__ADS_1


Setelah keluar dari lift, kita berdua berjalan bersamping-sampingan namun tak ada sepatah kalimatpun yang kita jadikan sebuah topik pembicaraan. Suasana hening di rumah sakit membuatku sedikit merasa damai dengan tubuh dan batinku sendiri.


Kita menduduki bangku kayu yang terletak dibawah pohon. Disini sangat sepi hanya ada kita berdua. "Maafkan diriku jika jahilku sampai membawamu kerumah sakit seperti ini" ujarnya dengan nada yang terdengar bersalah


"Dan tolong maafkan diriku dibeberapa waktu lalu"


"Aku sudah memaafkan mu sejak lama, Geolee"


"Terimakasih"


"Tak perlu berterimakasih, ini sudah menjadi tanggung jawabku untuk memaafkan sebuah kesalahan hidup seseorang agar tak hidup dengan kesengsaraan akibat kesalahan yang diperbuatnya"


Laki-laki itu memindahkan posisinya menjadi menghadapku. Netra kita saling bertemu cukup lama, ia memandangi berbagai sudut wajahku. "Luka apa itu?" ekspresi Geolee sangat bertanya-tanya tentang luka di pelipis ku.


"Kau tak perlu tahu"


"Mengapa? Bagaimana bisa kau terluka? Orang macam mana yang membiarkanmu terluka seperti ini? Bahkan kakimu saja ikut terluka, lihat lenganmu, ada beberapa bekas gores dikulit mu"


"Baiklah... Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan seseorang yang tak ku kenal, ia ingin menghajar ku habis-habisan untung saja saat itu ada Xavier yang melihatku"


Geolee hanya mengangguk-angguk, ku rasa ia paham dengan jawabanku. Keadaan kembali hening, pikiranku berputar untuk mencari topik pembicaraan, dan akhirnya aku pun mendapatkannya. Ku harap ia tak merasa risih dengan pertanyaanku.


"Jika boleh ku tahu bagaimana caranya dirimu dapat hidup kembali? Seperti saat ini? Apa kakak ku tidak menguburkan jasat mu ke dalam tanah?"


"Lexo tak menguburku, ia membawaku pulang kerumahnya untuk dimasaknya. Dan asal kau tahu, daging yang beberapa saat lalu kau makan itu adalah dagingku" jawabnya dengan enteng.


Aku membelakkan mataku terkejut setengah mati. "Apa kau tak merasakan sesuatu saat ada seseorang yang melahap dagingmu?"


"Tidak. Karena ku tahu jika Lexo membunuh seseorang ia akan menjadikan daging dari korbannya menjadi makanan lezat"

__ADS_1


"Menjawab pertanyaanmu bagaimana aku dapat bangkit kembali. Aku hidup kembali dari sebuah tanah bekas saat aku dihajar oleh Lexo. Disana masih ada darahku, aku bisa bangkit kembali jika ditempat pembunuhan ku masih terdapat darah disana"


Aku hanya diam benar-benar dibuat semakin terkejut oleh laki-laki tersebut. Sangat tak masuk akal namun ini adalah kota Wendlyn. Kota penuh dengan misteri dan sihir yang jika diceritakan ke orang-orang biasa itu tak akan masuk akal bagi mereka.


__ADS_2