
Setelah kejadian itu kak Verza nampak berubah, auranya seperti dihantui oleh nafsu yang tak tertolong. Oke bisa ku jelaskan keluargaku adalah seorang kanibal, dan juga seorang manusia serigala. Entah itu disebut apa namun nyatanya seperti itu. Ibu ku keturunan asli seorang manusia serigala, sedangkan ayah ku seorang kanibal entah bagaimana caranya mereka bisa bertemu dan bersatu aku pun juga tak tahu soal itu.
Kak Verza demam dan memilih untuk tak pergi bekerja terlebih dahulu. Ia diperintahkan ibu untuk istirahat dirumah. Dan untungnya ia ingin menuruti perintah ibu. Kak Lexo sudah pergi sedari tadi untuk menuju sekolah, sedangkan ayah semalam tak pulang karena sif malam. Soal kak Verza tidak boleh diketahui ayah, jika ia tau pasti akan berdampak semakin buruk untuk keluarga ku. Namun sebentar aku masih bingung dengan kejadian semalam yang menurutku terasa janggal.
Apakah Xavier adalah salah satu dalang dari pembunuhan manusia-manusia biasa yang tak bersalah? Atau karena ia diperintahkan oleh salah satu anggota keluarganya? atau memang nafsunya yang tak dapat ia kontrol? Semakin kesini kehidupan di Wendlyn semakin menarik perhatianku untuk mengungkapkan sebuah kebenaran dari segala ini. Mungkin mulai saat ini bukti demi bukti akan coba ku kumpulkan untuk membuktikan siapa yang menjadi dalang utama dari pembunuhan berantai ini.
Aku akan menebak bahwa nanti Xavier tak akan masuk sekolah. Aura wajahnya saat bertemu kemarin sangat menandakan bahwa dirinya sedang dilanda kepanikan yang sangat kencang dan tak bisa dikontrolnya. Namun tunggu, bagaimana aku bisa seperti meramalkan ini semua? Bahkan aura seseorang dapat ku baca walau sudah semaksimal mungkin mereka sembunyikan. Apa ini adakah keahlianku? Namun keluarga ku sama sekali tak ada yang seperti ku. Mungkin kanibal ku bisa dimaklumkan jika itu diturunkan dari ayah namun dalam meramal siapa yang memiliki keahlian tersebut dikeluargaku?
Saat ini aku tengah berada di kantin, menikmati sarapan pagiku dengan tenang dan damai. Area kantin saat pagi masih sangat sepi dan saat inilah aku dapat makan enak tanpa gangguan anak-anak yang berisik. Aku sangat benci suasana berisik saat sedang makan, maka dari situ saat istirahat aku sangat menghindari yang namanya kantin. Sekolahku kebetulan juga bercampur, membuat aroma-aroma darah segar dari manusia biasa selalu menggodaku.
Beberapa hal yang kuhindari adalah UKS dan juga kantin, karena disanalah diriku bisa hampir lupa diri. Seperti beberapa tahun lalu aku hampir saja membunuh teman ku diruang UKS setelah ia terjatuh saat sedang olahraga, lukanya cukup besar membuat darahnya tercium segar di indra penciumanku. Namun kini temanku itu sudah tiada akibat terbunuh. Jika begitu mengapa aku tidak membunuhnya juga saat hari itu jika ujung-ujungnya ia mati terbunuh karena orang tak dikenal?
Selesai aku sarapan aku memilih kembali ke kelas untuk menunggu waktu bel berbunyi. Namun dugaanku tentang Xavier sekarang salah, laki-laki itu nampak santai duduk dibangkunya dan tak seperti merasa terbebani apapun. Aku sedikit terkejut. Ku kira ia tak akan masuk setelah pertemuan tak sengaja kita semalam. Aku duduk dibangku ku, lalu mengeluarkan buku catatan harianku, serta berkas tentang identitas laki-laki yang berada disampingku kini.
“Tunggu, itu milik siapa?” tanya Xavier kepada ku saat mengetahui ada berkas yang sepertinya miliknya yang kubawa.
“Milikmu. Di sekolah ini untuk setiap ketua kelas harus mencatat tentang identitas murid-murid dikelasnya. Jika ada apa-apa ketua kelas menjadi penanggung jawab pertama. Mengapa?” jawabku yang menjelaskan secara rinci maksud mengapa aku membawa berkas identitasnya.
“Sekolah sialan” decaknya yang terdengar sebal dengan hal ini.
__ADS_1
“Didalamnya ada apa saja?” tanyanya lagi.
“Hanya nama, orang tua, alamat rumah, nomor orang tua, seharusnya ada nomor kamu juga namun tak kamu cantumkan, lalu asalmu. Sudah itu saja” jawabku
“Biar aku saja yang mengembalikannya ke kepala sekolah” ujarnya yang langsung merebut berkasnya dari mejaku.
“A-ah, oke. Terimakasih” jujur saja rasanya aneh mengapa ia ingin mengembalikannya sendiri. Namun yasudahlah! Tak penting juga. Yang jelas jika berkas itu hilang penanggung jawabnya adalah orang terakhir yang memegangnya, yaitu Xavier sendiri.
Sebelum bel berbunyi aku memilih pergi ketoilet agar nanti aku tak mengganggu waktu belajarku disekolah. Selesai aku dari toilet aku mencuci tanganku sebelum keluar. Saat ingin kembali ke kelas sialnya lagi dan lagi aku dihalangi Geo. Kali ini hanya ada dia. Entah sudah berapa kali Geo menghalangiku namun yang jelas aku sudah muak dengan dirinya. Sangat muak! Bahkan melihay wajahnya terlihat dipandanganku membuatku ingin muntah. Geo sangat menjijikkan dan murahan. Tak hanya gadis saja yang bisa disebut murahan dan terlihat seperti jal*ng, kataku seorang laki-laki juga bisa dibilang murahan jika mereka bersikap seperti jal*ng
“Berhenti menghalangi ku” ucapku datar.
“Aku tak berminat jatuh cinta, Geolee”
“Sama saja ternyata dirimu dengan Lexozarvoe, sama-sama tak berminat jatuh cinta. Ah dasar dua saudara yang menyebalkan”
“Aku dengan kakak ku berbeda. Tujuan aku bersekolah disini untuk menuntut ilmu bukan untuk jatuh cinta bahkan hingga bercinta. Jangan berbuat mesum yang justru membuatku ingin mencabik-cabik wajah sok tampan mu itu” aku segera pergi meninggalkannya tanpa pamit.
__ADS_1
Istirahat pun tiba. Aku ingin menemui kak Lexo untuk mengajaknya berbincang sebentar tentang temannya, iya kalian pasti tau siapa yang akan ku bahas, yaitu Geolee atau biasa dipanggil Geo. Jujur saja dia sangat sok akrab dan sok asik denganku, sungguh menyebalkan melihat seseorang yang sok akrab padahal kita belum berkenalan secara langsung.
Aku dan kak Lexo akan bertemu di taman sekolah. Walaupun sedikit ramai namun tak seramai dilapangan sekolah. Namun tiba-tiba saja langkahku tercegat karena Xavier yang menanggilku ‘ketua kelas’. Sebenarnya tak apa namun rasanya sangat asing dan terasa unik saja saat aku dipanggil ‘ketua kelas’ olehnya.
“Ah maaf, aku lupa namamu. Apakah nanti malam kamu sibuk? Ada yang ingin ku bicarakan langsung nanti” tanya Xavier kepadaku.
“Tidak terlalu sibuk juga. Tapi kenapa tidak langsung kamu obrolkan disini?”
“Aku tidak memiliki banyak waktu. Jika begitu temui aku di depan Yofei Market nanti pukul delapan. Aku pergi, terimakasih” ia pun pergi meninggalkanku. Aku memandanginya kebingungan hingga bayangan tubuhnya semakin menjauh semakin hilang dari pandangan ku.
Aku kembali melanjutkan langkahku untuk menemui kak Lexo, pasti ia sudah menungguku cukup lama. Aku tak boleh menyianyiakan waktunya lagi hanya untuk bertemu denganku. Waktunya sangat berharga aku tidak boleh menjadi seseorang yang merusak beberapa waktu berharganya. Saat aku sampai ditaman aku langsung mendapati sosok kakakku tengah asik mengobrol dengan temannya, hingga akhirnya ia sadar bahwa aku sudah sampai.
Dan kini hanya kita berdua, aku duduk disamping kakakku. Jujur saja disini aku hanya ingin to the point dengan nya. "Mengapa mengajakku bertemu? sangat jarang sekali" ujarnya seraya mengunyah makanan didalam mulutnya.
"Tolong perintahkan si brengsek itu menjauh dariku. Aku sangat jengkel saat menatap wajahnya, rasanya ingin ku cabik-cabik wajah sok tampannya itu" jawabku
"Memangnya dia berulah apa lagi?"
"Ia mengatakan jika dia akan berhenti mencegahku setelah aku menerima cintanya dan bercinta dengannya. Sungguh laki-laki yang sangat murahan" decakku diakhir kalimat.
__ADS_1
"Orang Gila" gumam kak Lexo yang tiba-tiba beranjak dan meninggalkanku begitu saja. Aku menatap bayangan kak Lexo yang mulai berjalan meninggalkanku seperti dengan penuh emosi.