MEURTRIER

MEURTRIER
BAB 1 : Xavier Abrahams


__ADS_3

Setelah empat jam pelajaran akhirnya kelas pun usai. Seluruh murid segera berhamburan keluar dari kelas untuk pergi ke kantin agar dapat kebagian lebih banyak lauk makanan. Namun aku masih terduduk dibangku mencoba memahami materi yang tadi dibahas oleh guruku. Laki-laki yang berada disamping ku? ia sudah pergi dengan William untuk mengelilingi Champion Academy School ini yang cukup luas.


Rasanya aku stress dengan mata pelajaran tadi dan memutuskan untuk pergi mencari udara. Aku tak nafsu makan, aku ingin daging mentah, namun tak sembarang daging. Daging manusia nampak lezat, namun aku tak tahu dimana aku bisa mendapatkan daging itu. Andai saja ini adalah kawasan untuk kanibal, mungkin aku bisa puas memakan daging manusia disini, namun sayangnya ini kota bercampur, maksudku, banyak manusia normal, dan banyak manusia yang memiliki kekuatannya masing-masing namun tak bisa ketahui secara langsung.


Udara kini sangatlah dingin, bahkan selapis jaket saja tak cukup untuk membuatku merasa hangat. Angin berhembus cukup kencang, membuat suasana dingin sangat semakin terasa. Aku berdiri di rooftop dengan keadaan sedikit menggigil. Melihat murid-murid yang berjalan bersama dengan temannya masing-masing selalu membuatku tersenyum, aku sangat ingin sekali merasakan kebersamaan bersama seorang teman, namun tak ada seorang pun yang ingin berteman denganku.


Tiba-tiba seseorang ikut masuk ke rooftop dan rupanya itu Heilda ia menyuruhku untuk pergi ke ruang kepala sekolah entah dengan tujuan apa. Heilda adalah teman sekelas ku sejak awal masuk SMA disini. Aku menuruti perintahnya dan berjalan pergi meninggalkan rooftop yang sepi ini.


Aku mengetuk pintu ruang kepala sekolah, setelah dapat izin dari pemilik ruangan tersebut aku pun membuka pintu itu perlahan. "Selamat pagi pak, kata Heilda saya dipanggil bapak?"


"iya, benar. Ini saya ingin memberikan berkas tentang Xavier Abrahams, murid baru dikelas mu. Sebagai Ketua kelas harus mengetahui soal identitas teman kelasnya jika butuh bantuan ketua kelas yang siap menanggungnya" ucap Pak Berven


Aku menerima berkas identitas Xavier, dan perlahan membacanya. Namun tunggu sebentar ayahnya Jakha Abrahams? nama yang sangat tak asing di diriku, tapi aku lupa siapa Jakha Abrahams. Aku tanpa sadar termenung, mengingat-ingat terus nama Jakha Abrahams agar dapat menemukan wajahnya didalam ingatanku.


"Leonavyn? Apa ada yang salah?" tanya Pak Berven.


"A-ah, maaf pak. Saya bawa dulu ya, nanti saya kembalikan setelah mencatat ringkas. Terimakasih, saya pamit pergi" Aku segera berbalik badan untuk berjalan ke arah pintu, suasana yang tiba-tiba canggung sangat membuatku tak nyaman.


Aku berjalan pergi kembali ke kelas dengan memeluk berkas identitas Xavier. Si siswa baru yang memberikan first impression yang tak enak untuk ku, atau bahkan murid lain juga merasakan itu. Ia nampak terpaksa bersekolah disini.


"Geva!" panggil ku segera berlari kecil menghampiri teman perempuan ku itu.


"Ada apa?"


"Maaf hari ini aku belum bisa mengembalikan buku kamu. Nanti malam kita bertemu di Rosè Cafe, pukul tujuh, aku akan mengembalikan bukumu" ucapku yang langsung pergi setelah mendapatkan anggukkan mengerti darinya.


Di koridor tak sengaja aku bertemu dengan kak Lexozarvoe, atau selalu ku panggil kak Lexo. Yang bertanya dimana kak Fraxinavezar ia kini sudah bekerja. Percayalah kak Lexo selalu sangat menggoda gadis-gadis disekitarnya, seperti magnet yang bertemu dengan sebuah besi yang terdapat unsur magnet didalamnya.


Bagiku tampang nya tak terlalu ganteng, tetapi entah kata anak-anak kelasku kakak ku ganteng. Bagaimana cara mereka melihatnya ya? Padahal jelas-jelas dia biasa saja, dan kelakuannya dirumah sangat membuatku kesal dengannya.


"Tumben lewat koridor kelas 11" celetukku yang langsung memberhentikan langkahnya.


"Memangnya masalah untukmu, Leonavyn?" jawabnya dengan menatapku datar.


"Peraturan sekolah, tetaplah peraturan. Jangan buat ayah marah lagi akibat kelakuan kakak yang selalu membantah peraturan sekolah" jelasku. Di Champion Academy School teruntuk anak kelas 10, 11, dan 12 mereka memiliki koridor masing-masing dan tak boleh melewati koridor yang tak terdapat kelasnya disana seperti kakakku.

__ADS_1


"Jatuh cinta silakan, tapi jangan membuat kakak harus membantah peraturan sekolah" lanjutku yang langsung meninggalkannya pergi.


"Sialan"


"Jaga kata-kata mu, Lexozarvoe."


......................


Jam pulang sekolah pun tiba, namun hari ini aku tak langsung pulang begitu saja. Harus ada tambahan sebuah Ekstrakurikuler yang harus ku ikuti. Walau sejujurnya aku sedikit malas tapi itu sudah menjadi tanggung jawabku untuk menggapai kesuksesan ku sendiri.


Lagi-lagi aku bertemu dengan kak Lexo. "Pulang langsung enggak?" tanyanya. Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya ia sudah tau jika aku pulang sore.


"Jangan buat aku harus kasih tau ayah tentang perilaku kakak hari ini disekolah" ucapku tanpa menatap wajahnya yang sangat membuatku jengkel.


"Ancaman, ancaman dan terus ancaman. Sampai kapan kamu gin—"


"Sampai kakak berubah, dan sadar kalau kakak salah. Aku duluan" potongku yang langsung meninggalkannya sendiri di koridor kelas 11.


"Jangan buat kakak ingin mencabik-cabik mu dibulan purnama, Leonavyn" ujarnya yang tak ku perdulikan. Ancaman tak jelas yang pasti akan membuat ayah sangat marah jika ia membunuh ku.


Aku pergi kelapangan untuk mengikuti ekskul memanah bersama Heilda, Fezna, dan Xavier. Sungguh aku sedikit terkejut Xavier ternyata masuk ekstrakurikuler panahan dan cukup ahli. Auranya saat memanah tiba-tiba sangat berubah.


"Wow, cukup bagus" ujar sang pelatih yang memujinya.


Xavier hanya diam tak berekspresi apapun, matanya nampak berubah menjadi biru. Sepertinya ia juga bukan manusia biasa, dan seperti juga saat memanah tadi ia menggunakan emosi untuk bisa menancapkan busur panahnya ke sasaran dengan tepat.


"Keahlian mu cukup bagus, Xavier" pujiku yang dapat mengalihkan fokusnya kepadaku. "terimakasih" jawabnya singkat.


"Kamu sedang meredam emosi mu? Warna mata mu nampak berubah, menjadi warna biru yang cantik. Namun keren, kau bisa menggunakan emosi mu untuk bisa menancapkan busur panah mu ke sasaran yang pas" sambungku


"emosi itu adalah ketidak ikhlasan ku untuk pindah ke sekolah aneh ini" jawabnya. Benar saja dugaanku. Aku hanya diam tak menggubris perkataannya. Hawa Emosional itu sangat terekam jelas di dirinya.


Xavier seperti nampak terpaksa harus bersekolah di Champion Academy School. Pasti ada sesuatu yang membuatnya terpaksa, menarik untuk ku selidiki. Walaupun hanya hal seperti ini namun tetap menggoda nafsuku untuk mengetahuinya.


"Kapan ini akan selesai? aku lapar, makanan di kantin tadi sangat tak menarik" tanyanya.

__ADS_1


"sekitar pukul 4 nanti"


Xavier berdecak, lalu pergi begitu saja. Aku hanya diam membiarkannya pergi. Namun tunggu, siapa tahu ada sesuatu yang menarik. Aku tiba-tiba berputar pikiran untuk memilih membuntutinya diam-diam.


Namun sialnya justru aku di berhentikan oleh geng kakakku yang kurang ajar. Ah, kapan mereka lulus dan berhenti mengusikku?! Mereka jatuh cinta dengan ku, namun ku tolak karena aku benci mereka. Mereka membuat kak Lexozarvoe jadi berbeda dari kak Lexozarvoe yang ku kenal.


"Halo, Leonavyn" ucap Geo yang berjalan mendekati ku agar aku bisa terpojokkan ke dinding.


"Ah, Sialan kalian" umpatku kesal


"Ingin bercinta kah? Sayang?" sungguh, ini sangat menjijikkan! Apakah mereka gila?!


"Pergi atau ku congkel mata mu?" ancamku yang justru membuatnya tertawa.


Ah dasar, apakah dia meragukan kekuatanku? Aku mendorong Geo, hingga dia berada di bawahku. Jari telunjuk ku sudah siap untuk mengambil salah satu bola matanya yang nampak sangat melezatkan itu.


Baru saja aku ingin melancarkan aksiku kakak ku datang. Ia segera menarik ku dengan kasar menjauh dari Geo dan teman-temannya. Padahal tadi adalah momen yang sangat menyenangkan, tak seru!


"JANGAN GILA! LEONAVYN!!" ucap kakak ku dengan nada membentak


Aku terkekeh. "Dia yang keras kepala." jelasku singkat dengan menyilangkan tanganku didada.


"AYO PULANG!" perintahnya yang langsung menarikku pergi untuk kembali pulang ke rumah.


Sangat seru sekali menjahilinya, apa lagi membuatnya marah, seperti saat ini. Di dalam mobil suasana sangat hening dan sedikit canggung. Kak Lexo nampak frustasi karena ku.


"Ku kira kakak sudah pulang" ucapku dengan enteng


"Teman-teman mu sungguh gila, bisa tolong buat mereka berhenti terobsesi dengan aku? jujur saja aku jijik mendengarkan tawarannya untuk bercinta bersama" lanjutku secara terang-terangan.


"Siapa yang berani mengajakmu bercinta?" tanya kak Lexo dengan ekspresi datarnya


"Geo"


"Makanya tadi aku ingin mencongkel matanya untuk bayaran sebelum bercinta, aku tak ingin rugi!" lanjutku

__ADS_1


"Kau nampak polos, tapi tak polos"


__ADS_2