
Hari kembali menjadi senin, kini jam menunjukkan pukul 7 pagi. Kelas sampai sekarang masih belum dimulai oleh guru. Teman-teman yang lain masih sibuk bersenda gurau bersama seraya menunggu guru datang. Namun tidak dengan laki-laki yang duduk disamping ku. Ia hanya diam, sembari menatapi anak-anak kelasku satu persatu dengan tatapan anehnya.
"Kamu tidak ikut dengan mereka?" jariku dengan refleks menunjuk ke arah Leon yang kini tengah bercanda dengan teman satu geng nya.
Laki-laki itu menggeleng menjawab pertanyaan ku, tanpa mengeluarkan sepatah katapun setelahnya. "Apa tidak bosan?" aku mencoba untuk basa basi dengannya, namun sepertinya ia sedang memiliki perasaan yang buruk. "Haruskah aku menjawab pertanyaan itu?" tanyanya dengan nada yang cuek. Aku hanya diam. "Oke, kalau begitu" lirihku sedikit takut.
"Kau suka Caffè Americano?" tanyanya seketika yang membuatku mengangguk secara tiba-tiba. "Selera yang bagus" lirihnya namun tetap saja dapat ku dengar.
"Kita kemarin bertemu?" tanyanya yang membuatku sedikit kebingungan. Apakah kemarin ia sedang mabuk? tetapi malam itu ia terlihat seperti manusia normal, tak ada bau-bau alkohol yang ia minum.
"kurasa, ya" laki-laki itu hanya diam seraya berpikir.
"Semalam kamu mabuk? jelas sekali kita semalam tak sengaja bertemu. Kenapa kamu menanyakan hal itu?" cetus ku seraya menyusun barang-barang ku ke dalam loker ku yang terletak benar-benar dibelakang bangku ku.
"Ingatanku sedikit memudar. Aku hanya ingat kamu membeli Caffè Americano, lalu pulang dengan ku buntuti" ucapnya entah dengan sadar atau tidak.
"Untuk apa kamu membuntuti ku?"
"Feeling ku tidak enak dengan mu. Seakan-akan ada bahaya yang ingin datang membunuhmu begitu saja"
"Hanya feeling seharusnya kamu tak terlalu mencemaskan itu" balas ku yang membuatnya sekejap diam.
"Bukan begitu, Leonavyn. Aku merasa saat itu kamu sedang di incar oleh mara bahaya. Sungguh" Aku hanya diam, mencoba untuk mengerti walaupun tak ingin sepenuhnya percaya dengan feeling-nya.
__ADS_1
"Terserah mu saja. Yang jelas aku benci saat ada seseorang membuntuti ku" jawabku datar, lalu meninggalkannya seorang diri terduduk di bangkunya.
Tujuanku kini ingin pergi ke kamar mandi untuk mencuci tanganku yang tergores besi loker yang tajam. Entah aku juga bingung bagaimana caranya besi itu bisa menggores tanganku hingga cukup panjang. Yang jelas ini cukup perih untuk kurasakan.
Aku menyalakan kran. Jujur saja tanganku seperti hampir robek. Goresan itu nampak dalam, tetapi ya sudahlah. Aku menyiram luka itu dengan air yang mengalir. Ah! sungguh ini sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan dari luka lebam yang ku alami beberapa waktu lalu. Aku berdesis menahan rasa perih itu. Dasar loker sialan!
Selesai aku membersihkan tangan ku, aku mencoba untuk tenang agar darah itu tak mengalir lagi, agar aku tidak dicurigai. Karena aku ingin pergi ke UKS untuk memakai perban.
Sungguh waktu yang sangat tidak pas, aku bertemu dengan kakak ku. Ia menatap ku dari atas hingga bawah. Sialan, pasti aroma darahku dapat tercium olehnya. "Ingin pergi kemana?" tanyanya dengan tatapan yang mencurigakan. Aku menelan ludah ku dengan kasar, "UKS" jawabku mencoba untuk tenang.
"Tanganmu mengapa?" tanyanya yang baru mengetahui keadaan tanganku yang terluka. Aku sontak menggeleng kencang, menjawab pertanyaannya. Tetapi hal ini semakin memburuk karena tiba-tiba Xavier datang lalu menceritakan tentang bagaimana tanganku bisa terluka seperti ini.
"Tangannya tergores besi loker yang mencuat, tetapi dia tak menyadari hal itu. Sungguh bodoh" ejek nya diakhir yang membuatku semakin kesal dengannya.
"Sialan" umpatku lirih.
"Sungguh sangat amat menyebalkan! Bisa-bisanya dia mengatakan ku bodoh?! Dia saja yang bodoh! sudah tahu temannya terluka hanya diam seperti tak tahu apa-apa!"
"Ingin sekali aku memukul wajahnya"
...----------------...
Bel istirahat pun berbunyi cukup nyaring membuat gendang telingaku rasanya ingin pecah. Jangan tanyakan soal Xavier! ia bolos sedari tadi entah kemana. Aku kini pergi ke kantin bersama dengan teman-temanku, Yeva serta Jalesa. Teman-teman sekelas ku.
__ADS_1
"Tanganmu mengapa?" tanya Yeva nampak kebingungan akibat tanganku yang terlilit kain perban. "tak apa, aku hanya ingin terlihat menjadi seperti seorang petinju saja" aku tahu alasanku kurang logis dan dapat di toleransi tetapi jujur saja aku bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan mereka. Dengan polosnya gadis itu hanya mengangguk mengerti. Bodoh dan polos, tidak berbeda tipis sebenarnya, jadi dapat ku katakan mungkin Yeva juga bodoh dalam menanggapi jawabanku
Sesaat kita sampai dikantin, Yeva serta Jalesa memilih untuk masuk terlebih dahulu, namun aku duduk dibangku kantin agar bisa mendapatkan tempat duduk. Jika tidak begini kita bertiga tidak akan kebagian tempat, tapi jujur saja, aku juga malas masuk, jadi aku menunggu mereka berdua disini. Cukup membosankan tapi, ah sudahlah. Akan ku coba nikmati saja.
Percayalah Yeva dan Jalesa tak akan begitu betah dengan suasana kantin yang pastinya akan sangat ramai, jadi mereka berdua akan memilih cepat-cepat lalu keluar. Mereka berdua datang membawa makanan serta minuman. Ngomong-ngomong aku hari ini sedang tidak ada nafsu makan. Ya, hari ini aku tak akan makan.
“Kamu tidak makan?” aku menggelengkan tanganku saat Jalesa menanyakan tentang mengapa aku tidak makan. “Aku tak nafsu” sambung ku.
“Aku lihat-lihat kamu cukup dekat dengan Xavier” celetuk Yeva saat ingin memasukkan makanannya ke dalam mulutnya. Aku sontak menggeleng, mengelak ucapan dari Yeva yang mungkin tak sengaja dikatakannya. “Tidak. Aku tidak dekat dengannya, ini hanya tugasku saja sebagai seorang ketua kelas untuk tetap merangkul murid lainnya” aku mencoba menjelaskan, dan ku harap mereka mengerti.
“Ahh, baru tau jika itu juga mempengaruhi” balas Jalesa, aku hanya tersenyum kikkuk. Ah sial sekali, kenapa aku harus merasa seperti ini, padahal sejujurnya tak ada yang dapat bisa membuat ku kikkuk seperti ini.
“Aku izin ke kamar mandi dulu ya, kalau kalian sudah selesai terlebih dahulu kalian bisa ke kelas dulu, aku akan cukup lama karena ada beberapa urusan yang harus ku jalankan” ucapku yang setelah itu dianggukki oleh mereka berdua. Percayalah sejujurnya aku tak ingin ke kamar mandi, tetapi rooftop. Bukan untuk menemui siapa-siapa, hanya ingin mencari udara saja.
Rooftop adalah tempat yang sepi dan nyaman jika aku sedang ingin mencari kesendirian. Namun sayangnya tiba-tiba saja Geolee datang. Sepertinya walaupun tanpa kupu-kupu hitam konyol itu ia akan datang sesukanya. “Halo Leonavyn, sudah lama tak bertemu” ucapnya yang sangat membuatku jijik.
“Aku mengganggu?”
“Perlukah ku jawab itu?” tanyaku datar yang membuatnya sedikit nampak kesal.
“Ya, tentu! Aku harus tahu alasanmu seperti ini kepada ku karena permasalahan apa? Apa aku berbuat salah?”
“JELAS SALAH! Kamu mengganggu, dan mengusik kehidupanku! Jelas?!” entah amarah dari mana, tetapi rasanya aku sudah muak dengan Geolee yang selalu hadir tanpa ku undang.
__ADS_1
“Katamu, kamu hanya bisa ku panggil melalui kupu-kupu hitam konyol itu? Namun apa? Kamu bohong? Tak ku panggil saja, kau dapat datang sesuka hatimu! Cukup berhenti mencintaiku! Aku muak melihatmu!” kasar ku mencoba mendorongnya pergi dari hadapanku. Namun yang jelas tubuhnya lebih kuat dariku, membuatku tak begitu kuat untuk mendorongnya.
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, lihat saja"