
Seperti janji ku dengan Xavier tadi siang untuk bertemu didepan Yofie Market ku turuti. Rupanya ia ingin ku temani untuk berbelanja bulanan karena takut tak tahu barang yang dimaksud oleh daftar kebutuhan yang ingin ia beli malam ini. Sungguh lucu, ku kira ada apa.
"Ah katamu ada hal yang ingin kamu katakan? Apakah tak jadi?" tanyaku.
"Kamu tahu aku seorang penduduk baru kota ini, bisa tolong jelaskan secara rinci tentang kota ini?" aku dengan antusias mengangguk.
"Kota Wendlyn tercipta sudah sekitar 500 tahun yang lalu. Kota ini didirikan oleh seorang wanita cantik yang bernama Wendy Alyn, maka dari situ nama kota ini adalah singkatan dari nama nya. Kota ini menurutku kota yang unik yang tak banyak orang tahu tentang kota ini. Aku hidup disini sudah sangat lama. Dan disinilah tempat aku tumbuh dewasa."
"Aku sama sekali tak pernah keluar dari kota ini, bahkan berniat pindah pun aku juga tak berminat" sambungku yang membuatnya nampak terkejut. "Kamu dapat nyaman hidup dikota yang sangat ketat penjagaannya ini!?" aku mengangguk.
"Ah, orang aneh" lirih nya, walaupun sedikit sakit namun tak kumasukkan ke dalam hati, mungkin ia memang tak tau seberapa indah nya kota Wendlyn hingga dirinya berani beranggapan bahwa kota ini, adalah kota yang membosankan untuk nya.
"Apa kamu termasuk ke dalam kumpulan orang aneh dikota ini? maksudku ada beberapa orang yang berkata jika disini—"
"Iya. Tetapi tenang saja, aku tak terlalu membahayakan, seseorang yang membahayakan adalah seseorang yang tak sadar saat melakukan sesuatu" ucapanku hanya diangguki oleh nya entah ia paham maksud ku atau tidak aku harap ia paham.
AUTHOR POINT OF VIEW.
Disisi lain Lexozarvoe kini sedang menunggu kedatangan Geolee di belakang sekolah tengah malam. Kebetulan belakang sekolah terdapat hutan yang sangat cocok untuk ia bisa melancarkan aksinya. Laki-laki itu semakin lama rasanya semakin dendam dengan temannya yang membuat harga diri adiknya nampak terinjak-injak karena.
"DIMANA SIALAN ITU!" geram Lexozarvoe yang nampak sudah kehabisan kesabaran untuk menunggu laki-laki itu yang merupakan teman dekatnya.
"Halo kawan" ucap Geolee dari arah belakangnya. Jujur saja ia sedikit terkejut dengan kehadiran temannya.
"Sebenarnya mau mu apa, Geolee" ucap Lexo dengan nada nya yang datar.
"Tanpa sadar kamu sudah membuat amarah ku berada di ujung tanduk. Dan saat itu terjadi, aku akan mencabik-cabik tubuhmu, wajahmu, serta memutilasi seluruh bangkai tubuhmu setelah aku puas melakukan aksi ku" sambungnya yang berjalan mendekati Geolee.
Sejujurnya laki-laki itu sedang sangat ketakutan apakah ajalnya sudah benar-benar didepan mata? atau ini hanya candaan seorang Lexozarvoe? Pertanyaan yang masih berputar-putar dipikiran Geolee saat ini.
"Aku tidak ingin bercanda lagi denganmu, ancamanku benar-benar akan terjadi kepadamu tak lama lagi. Mungkin akan terjadi nanti? besok? atau setelah ini" Lexozarvoe tertawa puas menatap Geolee yang menampakkan raut wajahnya yang ketakutan.
__ADS_1
"Didepan adikku terlihat sok tangguh, didepanku terlihat lembek dan lemah. Dasar Geolee" Laki-laki itu tersenyum miring, hingga akhirnya memetikkan jari dua kali sampai Hego si anjing kesayangannya muncul dihadapannya. Anjing itu nampak kelaparan, apakah Geolee akan menjadi santapan malamnya hari ini?
"Hego, makan malam mu ada didepan situ, masih segar dan wangi"
"KAU GILA APA, LEXO?!" bentak Geolee yang mulai berjalan mundur untuk menjauh dari Lexo dan Hego yang nampak menyeramkan.
"Justru seharusnya aku yang bertanya kepadamu, apa kamu gila sudah terobsesi dengan adikku? menjual harga dirimu membuat mu terlihat murahan di mata Leonavyn?" Lexo berdecak, seraya tersenyum miring menatap Geolee dengan sangat tajam setajam pandangan seekor Elang.
"Kau sudah ku peringati untuk menjauh dari adikku, dan berhenti melakukan tindakan bodohmu itu, namun rupanya kepala mu keras juga hingga membuatku geram dengan sikap mu yang sangat nampak seperti laki-laki brengsek, dan murahan"
Ah, sial sekali justru setelah itu Geolee rupanya berlari melarikan diri memasuki hutan. Orang bodoh macam mana lagi yang melarikan diri dengan memasuki hutan dimalam hari? Malah justru sangat mudah untuk Lexo dan Anjingnya dapat menemukan jejaknya.
"Keluarlah, Geolee"
Lexo pun berjongkok untuk memerintahkan sang anjing untuk mencari Geolee yang melarikan diri darinya. "Lari dan carilah Geolee" ucap Lexo sebelum akhirnya melepaskan rantai yang sebelumnya terikat di leher Hego.
"bersiaplah atas kematian mu Geolee!" Lexo lagi-lagi tertawa kencang, ia benar-benar puas namun belum sepenuhnya puas karena Geolee belum menjadi santapannya untuk makan malam hari ini.
Hego menggonggong kencang, Lexo dengan segera langsung mencari keberadaan anjingnya. Dan benar saja saat mereka bertemu. Geolee sudah tersungkur ditanah, darah manisnya mengalir deras. Akhirnya aroma yang dinanti-nanti seorang Lexozarvoe dapat diciumnya kini.
...****************...
LEONAVYN POINT OF VIEW
Sesampainya aku kembali dirumah, rupanya kak Lexo masih belum pulang. Jarang sekali ia pergi terlalu malam seperti saat ini. Jika ia pergi pasti sudah kembali terlebih dahulu dari pada diriku. Namun yasudahlah, mungkin saja memang dia sedang sibuk.
Aku memilih untuk menghampiri kak Verza yang sedang berada dikamar. Dari warna matanya masih tetap merah, apakah matanya tidak bisa lagi kembali menjadi normal? Jika merah seperti ini pasti teman-teman kerjanya akan curiga dengannya jika aslinya ia seorang manusia serigala.
"Halo kak, aku pulang" sapaku.
"Lexo dimana? dia tadi izin untuk pergi, tetapi hingga sekarang belum kembali" tanya kak Verza yang nampak khawatir dengan kak Lexo.
__ADS_1
"Aku enggak tahu kak. Aku kira justru dia yang sampai terlebih dahulu dirumah, tapi rupanya dugaan ku salah" jawabku seraya sibuk dengan kesibukan ku sendiri.
"Ayah sudah pulang, kak?" tanyaku yang langsung dijawab dengan gelengan kepalanya. Aku sedikit mengerutkan kening ku kebingungan. Lalu kemana ayah? hingga sekarang ia belum ke rumah sama sekali.
Aku bungkam. Kak Verza tiba-tiba menyalakan televisi yang langsung tertuju pada saluran berita.
BERITA TERBARU
Pembunuhan kepada siswi Champion Academy School kini terjadi, dan lagi-lagi polisi masih tak bisa memberikan jawaban akan siapa pelaku dari pembunuhan berantai ini. Siswi tersebut ditemukan tewas 2 hari setelah kejadian dengan keadaan yang sangat miris.
"Lagi-lagi berita seperti ini, rasanya kakak muak dengan hal ini yang tak ada usainya" ujar kak Verza yang langsung mematikan kembali televisinya.
Aku hanya diam. Memikirkan 2 hari yang lalu. Jika aku menuduh Xavier tak mungkin dia pelakunya, karena aku baru saja bertemu dengan dia tanpa sengaja kemarin walaupun sedikit janggal tetapi tak mungkin ia pelaku utamanya.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengirimkan ku pesan untuk menemui ku di lapangan luar sekolah ku, entah dengan tujuan apa namun ini sangat darurat katanya. Aku segera beranjak dari ujung kasur kakak ku untuk pergi kembali.
"Kak, aku izin keluar dulu ya, kalau sesuatu katakan saja lewat pesan, selamat tinggal" aku segera pergi keluar dari kamar.
Aku berlari ditengah-tengah hembusan angin malam yang begitu dingin. Badanku sedikit menggigil karena angin tersebut. Jangan sampai aku sakit, jika aku sakit ayah pasti sangat khawatir denganku.
Suasana lapangan sekolah ku sangat sunyi, sepi dan gelap, tak ada pencahayaan sama sekali kecuali dari bulan yang bersinar terang di atas sana bak sebuah matahari. Aku melihat sebuah sisi yang terang di ujung kanan lapangan, aku pastikan itu sebuah lentera.
Aku berjalan pelan dengan perasaan yang sedikit ragu, seseorang yang di pandanganku masih belum terlihat bentuk wajah nya itu tiba-tiba tertawa cukup kencang, membuatku terkejut dan takut.
"Selamat malam, cantik" ucapnya dengan nada yang menggodaku.
Jarak ku dengan ia masih cukup jauh, karena aku berhenti di tengah-tengah akibat takut yang melanda sekejap. "SIAPA KAU?!" nada teriakku sedikit bergetar menahan tangis
"Berhentilah disitu, sayang"
Perlahan ia mulai berjalan ke arahku. Namun tunggu, dia membawa pisau?! GILA! Aku segera berlari menjauh namun kecepatan larinya jelas lebih cepat dirinya, membuatku kehabisan energi.
__ADS_1
Disaat merasa diriku sudah tak berdaya untuk berlari, ia menarik ku, mencekik leherku dengan pisaunya yang ia tempelkan dibawah daguku. Aku sudah tak sanggup menahan tangis karena ketakutanku.
"LEONAVYN!!"