
Angin malam yang dingin sangat membuat tubuhku mati kedinginan jika tak menggunakan jaket lebih dari 2. Kak Lexo kini sedang asik menonton televisi seraya memakan camilan ringan yang dibelinya tadi, dan kak Fraxinavezar masih belum pulang dari kerjanya, ayah juga belum pulang. Dirumah hanya ada Aku, ibu, dan kak Lexo.
Diruang televisi aku sibuk mencatat ringkasan soal identitas Xavier Abrahams. Mungkin kak Lexo juga sudah lelah melihatku harus selalu mencatat identitas siswa-siswi di kelasku.
"Kakak dengar-dengar ada murid baru dikelas kamu?" ucap kak Lexo tiba-tiba.
Aku mengangguk, "Namanya Xavier Abrahams, anak pindahan dari London" jawabku yang masih terfokus dengan rangkuman yang ku tulis. Kak Lexo tiba-tiba saja bangkit dari posisi tidurannya menjadi duduk. Pandangannya menatapku, entah dalam unsur apa.
"Xavier Abrahams?"
"Iya"
Ibu tiba-tiba saja datang membawakan coklat hangat untuk kita berdua. Hal yang paling ku suka saat musim dingin itu ini, ibu membawakan coklat hangat untuk anggota keluarga kecilnya. Sederhana namun sangat berarti.
"Lagi sibuk ya, Leonavyn?"
"Iya. Selesai ini aku ingin keluar sebentar mengembalikan buku" ucapku.
"Jangan pulang terlalu larut ya" Ibu dengan lembut mengelus kepalaku membuatku merasa nyaman. Benar, kasih sayang ibu tidak ada batasannya, sangat dalam, dan mengenang.
"Kakak antar" ucap kak Lexo
"Tidak usah. Di Rosè Cafe saja, tempat kak Vezar kerja" Vezar adalah nama panggilanku untuk kak Fraxinavezar.
"Hati-hati, diluar bahaya" ucap kak Lexo singkat yang lalu pergi meninggalkanku bersama ibu di ruang televisi hanya berdua.
"Kakak mu masih sama saja. Diam-diam mengkhawatirkan kamu. Dia masih belum menyatakan rasa sayangnya secara terang-terangan" ucap ibu yang nampak geleng-geleng dengan kelakuan kak Lexo.
__ADS_1
Aku menutup buku daftar identitas siswa kelas ku, lalu membereskannya, "Menurutku itu yang namanya kakak. Yasudah, aku mau bersiap pergi ya" ucapku setelah itu pergi ke kamar untuk bersiap-siap.
Aku membawa tas ransel kecil yang berisikan beberapa senjata untuk bela diri, buku yang ingin ku kembalikan, serta uang. Walau kakak ku berkerja di Rosè Cafe, juga tak bisa seenaknya saja aku membeli disana dengan gratis.
Jarak antara Rosè Cafe dengan rumah tak terlalu jauh, jalan kaki pun juga bisa. Hari ini kak Vezar sif malam, jadi ia pulang sedikit larut dari ayah. Terkadang aku merindukan canda dan tawa bersama kak Vezar dan kak Lexo bertiga. Jahil kepada satu dengan yang lain. Waktu paling menyenangkan adalah waktu bersama saudara dan keluarga, percayalah. Mungkin ada banyak konflik di antara keluarga kita namun keluarga tetaplah jadi bagian terpenting dalam kehidupan kita.
Aku memasukkan kedua tangan ku diantara saku jaketku. Menunduk seraya menendang-nendang barang yang ku lihat dengan sembarangan arah. Tanpa ku sadari aku sudah sampai didepan Rosè Cafe. Aku segera menghampiri Geva yang sudah menunggu sedari tadi. Aku sangat tak enak karena sudah telat beberapa menit.
"Halo, maaf sedikit lama. Ini buku kamu, terimakasih" aku segera menyerahkan buku bersampul merah maroon tersebut kepada Geva.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong kamu tau nomor telepon Xavier Abrahams? Dia sangat memikat hatiku" ucap Geva yang nampak bahagia saat membahas Xavier tiba-tiba.
"ah, maaf, aku tidak punya. Aku belum minta ke dia, di daftar Identitas dia, tidak di cantumkan nomor nya, kalau aku dapat, aku berikan ke kamu" jawab ku.
"oke, aku pegang janji itu! yasudah aku duluan ya, ada urusan mendesak! Selamat malam, Leonavyn Axvizer!" Geva langsung meninggalkanku begitu saja.
Tak lama dari situ tiba-tiba kak Vezar datang membawakan kopi kesukaanku. Rupanya dia ingat rasa kopi kesukaanku. "Bagaimana sekolah nya?" tanya kak Vezar yang ikut duduk didepan ku
"Memangnya salah kakak bertanya seperti itu?"
"Bukan begitu, maksudku—"
"Iya, kakak mengerti Leonavyn."
Lalu jika mengerti mengapa bertanya! huh, dasar kak Fraxinavezar. Kak Vezar memiliki pribadi yang hangat dan mencintai kedamaian, sangat berbeda jauh dengan kak Lexo, dia sangat mencintai kerusuhan dan memiliki pribadi yang suka membuat onar disekolah. Ya seperti itulah mungkin namanya seorang saudara, berbeda. Dan perbedaannya biasanya terlihat jelas.
"Kakak kapan pulang?" tanyaku seraya mengaduk-aduk kopi ku yang sedikit lagi habis.
__ADS_1
"selesai ini kakak pulang. Mau pulang bersama?" aku mengangguk antusias. Sudah sangat jarang aku bisa pergi atau jalan berdua dengan kak Verza, karena kesibukan masing-masing membuat kita jarang menghabiskan waktu bersama.
"Tunggu kakak ya" ucapnya yang kembali beranjak meninggalkanku.
Setelah aku menunggu sekitar 10 menit akhirnya ia pun selesai. Kita segera pergi untuk pulang, ingin sekali istirahat setelah seharian yang panjang dan juga melelahkan ini. Di jalan kita mengobrol bersama, membahas sekolah ku, pekerjaannya saat ini, kabar kita masing-masing, perasaan kita hari ini, dan masih banyak lagi. Hal begini saja sudah lebih dari cukup menurutku untuk bisa berdua dengan kak Verza.
Di tengah-tengah perjalanan kita. Aku bertemu Xavier dengan baju nya yang nampak ada beberapa bekas merah di bajunya. Aku memberhentikan langkahnya yang nampak cepat-cepat, karena panik.
"Halo Xavier!" sapaku yang tak direspon olehnya. Ia begitu saja langsung berlari meninggalkanku dan kak Verza.
"Ah, rasanya aku sebal jika di biarkan oleh dirinya saat aku sedang memanggil atau mengajaknya bicara" gumam ku.
Saat aku menatap wajah kak Verza warna matanya sudah berubah menjadi merah entah sejak kapan. "kak?"
"Aroma darahnya enak ya, Leonavyn?" Entah apa yang terjadi namun momen ini sangat menyeramkan aku mengguncangkan tubuh kak Verza kencang agar sadar.
"Kak sadar!" ucapku lirih. Sepertinya aroma itu sangat pekat hingga membuat kak Verza masih belum sadar. Apa karena Xavier? sedang apa dia? langkahnya juga tak seperti biasanya ku lihat. Apakah ini pembunuhan lagi? Tak mungkin Xavier pembunuh! tadi saat bertemu Xavier ada seseorang juga yang memiliki bercak-bercak merah di baju nya.
Aku menarik tangan kak Verza agar tak terjadi hal-hal tak ku harapkan disini. Jika orang-orang tahu ia sebenarnya ini sangat berbahaya, karena dapat menghancurkan reputasi kerjanya dan dapat memperburuk nama baik serta nama keluarga kita.
Sesampainya dirumah, rupanya ayah masih belum pulang. kakak masih dalam halusinasi sepertinya. Aku memanggil ibu dan kak Lexo untuk membantu agar membuatnya sadar.
"IBU! KAK LEXO! TOLONG!" teriakan ku langsung didengar oleh kak Lexo dan ibu yang sedang berada dikamar nya masing-masing. Mereka segera turun dengan terburu-buru.
"KAMU BARU DARIMANA?!"
"Cafe nya kak Vezar! Tadi sempat bertemu Xavier dan tiba-tiba saja kak Vezar seperti itu!" jelasku dengan nada yang bergetar ketakutan.
__ADS_1
"Vezar, sadar Vezar!" Kak Lexo tanpa ragu menampar pipi kanan kak Vezar agar ia tersadar dan untungnya berhasil, kak Vezar tak bereaksi apapun setelahnya
"Pembunuhan, lagi." gumam kak Vezar