
Pagi ini matahari terik mulai menyinari kamar ku, menembus gorden kamarku yang berwarna hitam polos. Sangat mengganggu waktu tidurku yang menyenangkan ini. Aku merogoh-rogoh sekitar untuk mengambil handphone ku yang lupa ku letakkan dimana semalam. Kepala ku pusing dan badan ku sangat sakit, akibat bekas robek kan, beberapa bekas sayat dan cakaran seseorang yang tak ku kenal semalam
aku keluar kamar, mendapati Xavier, tunggu... XAVIER?! untuk apa dia kesini!? Laki-laki bertubuh jangkung, itu duduk di sofa ruang tamu. Tubuhnya yang besar membuatkannya sedikit terlihat di pandanganku.
Aku sontak ditarik oleh kakak ku, kak Verza, jujur saja aku benar-benar bingung dengan keadaan ini, ada apa sebenarnya?
Aku kini terduduk di sofa ruang tamu. Tatapan mata Xavier begitu tajam membuatku sedikit takut dengannya. Ibuku berdeham kecil, lalu membuka pembicaraan. "Betapa bodohnya kamu semalam ingin saja pergi bertemu dengan seseorang yang tak kamu kenal" ucap ibu ku. Aku akui memang aku terlalu bodoh malam itu.
"Badanmu penuh dengan luka, untung saja Xavier langsung mengobati tubuhmu saat kamu masih tak sadar, jika kau sadar mungkin kamu sudah menjerit-jerit kesakitan"
"Leonavyn Axvizer, saya pikir kamu jangan begitu polos untuk menghadapi hal sederhana seperti semalam. Nyawamu terancam, sangat terancam, walaupun ia berkata sedang darurat itu tetap bisa saja menjebak mu. Dengar?" Xavier menatapku datar. Aku hanya mengangguk dengan menundukkan kepala.
"Ah ya, kalau begitu saya izin pergi sekolah, terimakasih" baru saja ia ingin pergi namun sudah direpotkan lagi oleh ibuku, dengan embel-embel untuk mengantarku sekolah sedangkan aku masih belum melakukan apapun seperti ini
"Apakah bisa, Xavier?"
"Oh, tentu saja, tetapi bergeraklah sedikit cepat, karena waktu sudah mepet untuk bel" jawabnya dengan senang hati.
Aku segera bergegas untuk pergi mandi agar ia tak menunggu begitu lama. Aku sangat sungkan dengannya sungguh. Padahal aku dengannya baru saja mengenal beberapa hari, sudah direpotkan saja oleh ibuku.
...----------------...
Kita berjalan di trotoar. Keadaan hening diantara kita, hanya ada kicauan beberapa burung dan juga suara beberapa mobil yang mondar-mandir. Badanku menggigil, aku rasa aku sedang demam, namun yasudah lah.
Ekspresi datar Xavier masih tertempel diwajahnya. Ia sepertinya sedikit muak denganku? Entahlah.
"Maaf, semalam aku sudah merepotkan mu"
__ADS_1
"Dan juga maaf jika ibuku sedikit merepotkan mu juga"
"tak perlu meminta maaf. Aku tak masalah"
"Tapi—"
"Aku hanya masih sebal saja dengan laki-laki yang kemarin hampir saja membunuhku? wajahnya kemarin sempat terlihat di pandanganku, namun aku lupa dengan namanya, dan bayangan wajahnya sedikit mulai pudar diingatan ku" sambungnya dengan memotong pembicaraanku
Tangannya tiba-tiba saja menyentuh jidatku, ah sungguh sialan, aku pasti ketahuan jika sedang demam. "Jidatmu hangat, tanganmu bergetar karena menggigil. Sesampai disekolah, kita langsung pergi ke UKS" ucapnya
Aku menggeleng. "TAK USAH! aku sudah biasa seperti ini, selalu demam jika sudah ingin waktunya memasuki musim dingin"
"Jangan keras kepala"
"A-ah, yasudah" aku hanya bisa pasrah dengannya. Namun sungguh rasanya jantungku jadi semakin berdegup kencang, apa yang sedang terjadi saat ini? apakah ini mulai memasuki kata cinta? atau hanya senang ia melakukan hal seperti ini kepadaku?
Sesaat setibanya kita disekolah seperti ucapan Xavier sebelumnya dia tetap saja memaksaku untuk pergi ke UKS. Untung saja di UKS sepi, hanya ada kita berdua didalam
Xavier menyuruhku untuk duduk saja di ranjang sedangkan ia mencari obat penurun panas dilempari obat, obat merah, dan beberapa kapas untuk mengobati lukaku, serta perban dan hansaplast untuk menutupi lukanya.
"Banyak sekali" ujarku. Ia segera membuka obat penurun panas yang ia ambil sebelumnya, jujur saja aku sangat benci obat ini, rasa anggur nya membuatku tak suka.
"Minum ini, agar tak terlalu terasa lagi rasa obatnya" ia menyodorkan botol minumnya. Aku menerimanya namun ragu untuk meminumnya. "Minum saja, tak apa"
Ia lanjut berjongkok di depanku untuk mengobati bekas sayatan yang cukup panjang dikaki ku. Aku merintih kesakitan akibat obat merah itu yang membuat kakiku terasa semakin perih.
"Nyah! pelan saja! itu perih!" sentak ku.
__ADS_1
Setelah selesai di kakiku ia beralih ke pelipis kiri ku yang terdapat luka gores. Aku menatap mata coklatnya yang cantik saat ia fokus mengobati luka di pelipis ku.
"Mata kamu cantik" pujiku, ia hanya terkekeh, "Terimakasih atas pujiannya" balasnya.
"Tunggu sebentar, ku tempelkan hansaplast terlebih dahulu agar cepat sembuh" ucapnya, sedangkan aku masih diam ditempat.
Setelah selesai semuanya aku membantunya untuk mengembalikan barang-barang yang dibawanya tadi kembali ke letaknya semula. "Terimakasih, Xavier Abrahams"
Kita pun segera pergi ke kelas agar tak telat masuk karena tak lama lagi bel akan berdering menunjukkan bahwa sudah waktunya masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti mata pelajaran yang disesuaikan oleh wali kelasnya masing-masing.
...----------------...
Kini sudah memasuki waktu istirahat semua anak sudah pergi ke kantin, kecuali aku dan Xavier, sepertinya laki-laki itu tak terlalu tertarik untuk makan siang dikantin, maksudku dia sangat jarang atau bahkan tak pernah kutemui untuk pergi ke kantin
Kepalaku tiba-tiba saja terasa pening sekali, namun ku tahan, aku tak ingin merepotkan seseorang. Aku memilih meletakkan kepalaku diatas meja lalu memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Semoga saja itu dapat meredakan sakit kepalaku.
Tapi sudah ada 10 menit aku masih belum bisa tertidur, disaat aku tengah memejamkan mataku, bayang-bayang seorang Geolee selalu saja muncul dalam pikiranku. Akhir-akhir ini ia sangat sering muncul, membuat ku stress.
Aku terbangun dari tidur ku yang hanya 8 menit, badanku bergetar karena terkejut, membuat laki-laki yang duduk disampingki terbingung. "Ada apa?" tanya Xavier.
Bukannya aku menjawab pertanyaannya justru aku menangis, Jujur saja aku seperti orang gila rasanya. Aku menangis sejadi-jadinya tanpa suara, aku turun ke bawah meja agar tak ketahuan oleh siapapun walaupun Xavier tau aku sedang menangis.
Tanganku menjambak rambutku frustasi. Gila, sedang apa Geolee berada di mimpiku? maunya apa? aku benar-benar bingung dengannya.
"Leonavyn, ada apa? mengapa menangis?" tanya Xavier dengan nadanya yang terdengar khawatir.
Aku rasanya benar-benar tak dapat mendengar ucapan Xavier, telingaku hanya mendengar jeritan Geolee, panggilan-panggilan yang menjijikkan dari dirinya.
__ADS_1
Menutup telingaku rupanya tak mampu menghilangkan suara Geolee dari pendengaran ku. Hingga akhirnya aku pun pingsan, Xavier dengan terkejut segera mengangkatnya dari bawah meja yang sumpek itu. Jejak air mata ku masih membekas jelas dipipi ku.