MEURTRIER

MEURTRIER
BAB 10 . Luka dan Obat


__ADS_3

Xavier di sambut ramah oleh sang ibunda, namun tidak dengan Lexo yang dari tatapannya seperti terdapat dendam didalamnya, namun laki-laki itu tak terlalu memperdulikan hal itu.


"Silakan di minum" wanita tua itu menyajikan teh hangat didepannya, seraya menunggu Leonavyn kembali dari kamarnya.


Tak berselang lama gadis itu datang mengenakan piyama bermotif Teddy bear kesayangannya. Sungguh terlihat menggemaskan di matanya. "Maaf menunggu lama"


"Sedikit membungkuk tolong, aku tak sampai" bisik gadis itu yang kini sudah duduk disamping kanannya. Xavier sedikit membungkukkan badannya. "Jika aku terlalu dalam menekannya, katakan saja"


Gadis itu membasahi kapas dengan obat alkohol, lalu menempelkan pelan-pelan di kulit putih mulus Xavier yang terluka. Xavier mengerang lirih saat merasakan dinginnya alkohol itu menyentuh kulit lehernya.


"A-ah, sakit ya? Ma—"


"Tidak, tidak. Aku hanya kaget karena dingin saja. Tak apa" potong gadis itu sebelum ia mengatakan kalimat padanya 'maaf'


"Tadi kamu kenapa diatas sama pria menyeramkan itu?" tanya Leonavyn sembari mengobati lukanya.


"Sebelumnya tidak ada dirinya. Aku hanya sendiri, namun tiba-tiba saja dia datang begitu saja menggunakan keahlian telepotasi nya"


"Tapi untuk apa dia mengincar ku?"


"Menjadikanmu tumbal dalam ramuan gila nya. Maka dari situ waspada lah kamu. Jika perlu keluar bersama dengan seseorang, jangan hanya seorang diri. Percayalah denganku" jawab nya.


"Apa kamu yakin, kamu tidak memiliki kekuatan satupun?" pertanyaan Xavier yang tiba-tiba membuat gadis itu bertanya pada diri nya sendiri.


"Entahlah, ku rasa iya. Aku benar-benar bingung akan keahlian ku. Tetapi disisi lain aku juga bingung mengapa pria itu menginginkan keahlian ku untuk ramuan gilanya" Leonavyn sebenarnya ragu untuk menjawab, tetapi harus bagaimana lagi.


"Tak apa. Aku dulu juga seperti mu, tak tahu akan kekuatan sendiri, namun makin lama ku asah diriku, mencoba hal-hal baru membuatku sadar akan ke ahlian ku sendiri, dan ku rasa kamu bisa mencoba trik ku" gadis cantik itu mengangguk mengerti akan ucapan teman laki-laki nya.


Hingga tak terasa ternyata ia sudah selesai mengobati luka dileher Xavier, ia menempelkan plester bermotif teddy bear yang ia miliki agar terlihat sedikit lucu. "Sudah! Tadi aku menempelkan ini untuk sementara, kalau ingin kamu lepas, lepas saja"

__ADS_1


"Ah, sial, Teddy bear" umpat Xavier dalam benaknya. "Terimakasih"


"Sekarang, bisakah aku pulang?" tanya Xavier lirih, karena sedari tadi ia merengek seperti itu yang membuat gadis itu marah dan kesal.


"Ya, kalau sekarang sudah boleh"


"Akhirnya. Baiklah. Aku pulang. Besok aku akan menjemputmu di pukul tujuh kurang 10 menit"


 


Pagi kembali tiba, matahari mulai menyinari kota Wendlyn lagi. Kini Xavier dan Leonavyn tengah berjalan bersama menyusuri jalanan untuk berangkat ke sekolah. "Ah, rasanya aneh" gumam gadis itu yang langsung disadari oleh laki-laki di sebelahnya.


"Mengapa?"


"entahlah, aku merasakan hal yang aneh dan asing untuk ku" jawab Leonavyn menundukkan kepalanya. Laki-laki itu menghela nafasnya, memberhentikan langkahnya bersama dengan gadis disampingnya.


"Apa yang kamu rasakan? katakanlah."


Xavier hanya bisa diam, ia tak ada hak untuk memaksa gadis itu mengatakannya. Leonavyn sekali-kali lagi-lagi melirik wajah tampan Xavier. Ia baru menyadari bahwa laki-laki itu masih saja belum melepas plester yang dipakai kan nya semalam.


"Kau suka Teddy bear?" tanya gadis itu diluar perkiraan Xavier.


"Jelas, tidak."


"Lalu, mengapa kamu masih menggunakan plester Teddy bear aku? Ku kira sudah kamu lepas semalam"


"Yang ini lucu. Maka itu aku tak ingin melepasnya"


"Ahh, begitu..."

__ADS_1


Obrolan seru yang dibangun oleh Leonavyn benar-benar membangun keakraban dan ke nyamanan di antara mereka berdua selama perjalanan menuju sekolah. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Laki-laki yang dulunya sangat menyebalkan dan dingin apakah kini luluh dengan gadis cantik? dan humoris yang sangat menyukai Teddy bear? Entahlah, lihat saja ke depannya.


Disisi lain Aku dan Xavier kini telah sampai dikelas. Sesampainya dikelas laki-laki itu dengan sekejap langsung meninggalkan ku begitu saja.


"Leonavyn! Astaga! Sejak kapan kamu dekat dengan Xavier?!" tanya teman bangku paling depan yang bersama Ferlav.


"Baru-baru ini. Tetapi tenang saja, aku tak ada rasa dengannya" jawab Leonavyn dengan tenang


"Bantu aku dekat dengannya tolong... Aku menyukainya" celetuk Ferlav yang sangat diluar dugaan gadis itu.


"Tapi bukannya, kau sudah ada kekasih? maksud aku, seharusnya kamu tidak menduakan nya. Xavier juga tak ingin kamu dua kan"


"Ah, kekasihku sering selingkuh, kami sudah putus sejak lama" aku hanya mengangguk paham saat ia menjawab pertanyaanku.


Jujur saja sebenarnya aku bingung bagaimana cara mendekatkan mereka berdua, sedangkan sepertinya Xavier bukan tipe seseorang yang mudah jatuh cinta ataupun menerima orang baru. Ia menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal, bingung ingin berkata apa lagi.


"Eumm, bagaimana ya, Xavier bukan tipe seseorang yang mudah jatuh cinta dan mudah menerima orang baru, jadi aku minta maaf tidak bisa membantu mu. Itu cukup sulit untukku" aku beranjak dari bangku ingin meninggalkan Ferlav sendiri.


Aku dapat menebak pasti raut wajahnya kecewa dan juga perasaannya terdapat rasa emosi kepadaku, aku yakin itu. Tetapi yasudah lah aku juga tak terlalu perduli dengannya. Jika memang ia memiliki rasa ku rasa seharusnya ia mencoba sendiri. Tanpa bantuan ku yang hanya sebagai temannya yang baru baru-baru ini saja kita dekat.


Aku tanpa sengaja bertemu dengan Xavier, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak menatapku, tetapi aku setengah yakin, bahwa ia menyadari keberadaan ku tadi. Walupun tak sepenuhnya yakin.


Di kamar mandi aku membasuh tanganku, membersihkannya dengan sabun, lalu berkaca sebentar. aku merapihkan beberapa helai rambutku yang sedikit mengganggu pandanganku. Entah tiba-tiba saja aku terpikir akan ucapan Xavier, soal pria tua yang kini mengintainya diam-diam. Jujur saja aku merasa menjadi merasa was-was saat ingin pergi-pergi seperti ini. Aku tak ingin mati muda, tolong lah.


Setelah dari toilet aku pergi menuju kelasku kembali. Aku jelas mendapati Xavier disamping bangku ku sedang sibuk dengan buku nya. Tumben sekali ia seperti ini, seperti membuka-buka buku atau bahkan membacanya sudah menjadi hal yang langka untuk ku lihat.


"Tumben sekali membaca buku" ujarku


"Ku rasa ada sesuatu ditubuh mu yang sedang di incar pria tua kemarin, selain kekuatanmu" ucapnya tiba-tiba.

__ADS_1


Aku sontak terbingung sangat amat terbingung dengan ucapan laki-laki itu yang sulit dicerna oleh pikiran jernih ku. "Kamu memiliki ikatan janji? dengan ruh atau kekuatan mu sendiri atau apapun itu?"


__ADS_2