
Setelah puas jalan-jalan kami pun kembali pulang desa, perjalanan sore ini karena barusan hujan reda terasa kabut tebal membayangi dan kami bertemu Anto di dekat jalan menuju Alas Kedaung.
Anto sedang mengajak teman dari kota mengunjungi desa kami, dalam rangka tugas kkn kampus yang survei tentang budaya lokal dan tanaman lokal .
Serta sistem dengan pembelian barter seperti di desa kami, tidak punya uang tinggal menukar hasil panenan.
Mereka rombongan 5 orang dan akan tinggal di rumah Anto sementara sudah ijin pak rt, nampak di depan kami kabut makin tebal menutup jalan di depan kami.
Suasana mencekam serta udara dingin menusuk kulit, kami berjalan perlahan dengan ojek menembus kabut karena tidak bisa melihat di depan bahaya bila jalan terlalu cepat.
Akhirnya Alas Kedaung mulai terlihat, kiri kanan kami melihat pohon pinus dan karet yang membentang dan udara dingin berhembus serta suasana magis yang terasa membuat bulu kuduk semakin merinding.
__ADS_1
Anto menghentikan motornya melihat sosok perempuan berambut panjang, berpakaian putih melambaikan tangan ke arahnya.
"Bolehkah saya menumpang sampai desa kak? ", tanya perempuan itu.
Anto karena tidak membonceng siapa pun menyetujui dan menghentikan motornya lalu menganggukkan kepala ke arah perempuan itu.
Ketika menjalankan motornya dia heran kenapa berat sekali, sehingga tidak bisa berjalan seperti mengangkut beras berton-ton walaupun dia sudah starter motornya dan menginjak gas.
Anehnya motor tidak bergerak dan tidak berapa lama tercium aroma bunga cendana dan kenanga menusuk hidungnya di sertai suara cekikikan perempuan.
Anto menoleh dan melihat perempuan tadi sudah melayang-layang di belakangnya, dia ketakutan dan segera kabur dari sana.
"Ada kuntilanak... ", teriaknya.
Membuat rekan- rekannya yang mendengar ikut kabur dan melewati Alas Kedaung di depan mereka namun tanjakan membuat mereka tidak bisa bergerak cepat kalau tidak mau celaka.
Kuntilanak itu terus cekikikan dan melayang-layang mengikuti gerakan mereka dan menakuti mereka yang ketakutan.
__ADS_1
Lek Sis segera membaca doa yang diingat untuk mengusir setan, dan kami bersikap tenang agar fokus berdoa.
Dalam keheningan akhirnya Kuntilanak itu pergi dan tidak mengganggu perjalanan kami, maka kami meneruskan perjalanan dengan tenang tanpa gangguan Kuntilanak.
Lek Sis mengingatkan tidak perlu takut dengan mereka yang hanya berusaha menakuti semua tetap ingat berdoa kepadaNya sang pemberi kehidupan.
Asal kita taat dan menjalankan perintahNya setan pun takut kepada kita, kalau kita panik dan ikut takut maka kita bisa celaka karena setan.
Karena sejatinya setan menakuti agar manusia takut dan celaka lalu menjadi korban dan arwahnya bisa menemani mereka di tempat ini karena mereka tidak bisa kembali ke alam kematian karena meninggal secara tidak wajar.
Aku mengangguk mengerti dan mengingat semua dalam hati, memang suasana angker menandakan ada makhluk lain yang tinggal dan asal tidak mengganggu kitapun tidak boleh mengganggu mereka.
Namun bila sudah mengganggu maka kita juga wajib mengusir mereka dengan doa-doa kita, alam yang masih asri dan alami memang mendukung setan.
Apalagi banyak korban kecelakaan di tempat ini membuat penghuni bertambah, dan suasana makin mencekam karena mereka terus mencari korban lain untuk menemani mereka selalu.
Itulah kenapa aku tidak mau melewati Alas Kedaung ini sendirian dan lebih suka berjalan dengan rombongan.
__ADS_1