
"Apaan sih tengah malam begini bikin keributan ", kataku kesal.
" Tok.. tok.. ", terdengar suara ketukan pintu di luar.
" Siapa? ", tanyaku.
Namun tidak terdengar suara menjawab lalu aku coba mengintip dari lubang pintu, namun tidak ada seorangpun yang terlihat di luar suasana mencekam mulai terasa lorong nampak sepi dan tidak ada staff lewat.
Aku coba membuka pintu kamar dan melihat keluar " tidak ada orang, siapa tadi? ", pikirku.
Lalu melihat ke arah Rindang yang nampak ketakutan di atas tempat tidur.
" Jujur apa kau melanggar aturan? ", tanyaku.
" Aku lupa.. tadi kebelet pipis dan langsung ke toilet lalu mendengar suara anak kecil menangis dan tidak lama ada hantu muka rata."
__ADS_1
Rindang nampak takut jadi aku suruh berdoa saja dan tidur serta tidak melanggar aturan yang membuat penghuni di sana marah dan mengikuti dia.
Rindang mengangguk dan memejamkan mata lalu tidak lama tertidur pulas, aku pun tidur karena sangat mengantuk.
Terdengar derap langkah kaki di lorong sesuatu nampak melayang-layang, dah tertawa cekikikan membuat bulu kuduk merinding.
Aku menatap arah jendela di mana kelihatan seperti pernah di buka paksa, tetapi pada akhirnya di paku biar tidak bisa di buka lagi. Di luar gelap gulita dan aku tidak bisa tidur lagi mencoba melihat keluar.
Aku berjalan dan menatap sekeliling aneh sekali hotel sebesar ini namun cuma ada satpam satu dan staff resepsionis seorang saja , padahal katanya ramai sehingga cuma ada sisa kamar 303 yang kami tempati di atas namun parkiran nampak sepi.
Bulek kayaknya tertidur nyenyak karena tidak terganggu oleh suara apapun sampai keesokan paginya kami sarapan dan berjalan di sekitar hotel.
Nampak pemandangan taman hotel yang nampak indah karena matahari menyinari, ada air mancur tetapi sudah tidak mengalir dan tanaman terawat dengan rapi.
__ADS_1
Semua nampak hijau menyejukkan mata, membuat hati tentram saat memandangnya namun sayang kalau malam kisah seram membayang padahal bila keadaan siang tidak nampak aneh.
Hotel nampak dari depan dan samping biar bangunan tua namun terawat tidak nampak cat yang mengelupas, pemiliknya sangat memperhatikan kultur budaya dan tidak ingin merubah bentuk asli bangunan sehingga dipertahankan sesuai aslinya.
Kamar yang kami tempati isi 2 tempat tidur yang di tempati bulek, aku serta rindang dengan harga 100 ribuan per malam termasuk murah bagi wisatawan namun di kantong kami yang tinggal di desa lumayan mahal hehe..
Namun bulek sekali-kali memanjakan kami dan mengajak jalan-jalan bila habis dapat panen sehingga bisa refresing juga dari rutinitas di desa yang monoton.
Sehabis sarapan kami pun pergi pasar lawang dekat dengan hotel dan berbelanja keperluan rumah yang sudah rusak seperti keset, gayung dan alat masak serta baju tidur yang mulai sempit dan juga sandal yang hampir jebol karena sering di pakai.
Lalu kami naik ojek ke atas kebun teh di mana bisa minum teh dari daun teh yang baru di petik dan langsung di buat teh, banyak pemetik teh memakai cadar mulai memetik daun teh dan mereka di bayar harian sesuai hasil yang mereka petik sehingga banyak ibu-ibu menjadi pemetik daun teh.
__ADS_1