
Begitulah orang yang memakai ilmu sesat dan keluar dari jalur yang di tentukan oleh Tuhan , dan memilih bersekutu dengan setan pada akhirnya dia akan di bawa setan jiwanya.
Jiwa mereka tidak di terima bumi dan alam kematian , sehingga hanya bisa menjadi setan bergentayangan yang mengganggu manusia agar menemani mereka.
Dukun itu dan yang menyuruh memakai jasa mendapat karma secara instan, mereka berturutan meninggal menyusul yang di santet dan menemani mereka di pemakaman.
Meskipun suasana desa mengalami kesedihan dan bergantian tahlilan menghibur keluarga yang di tinggalkan, keesokan harinya mereka beraktivitas seperti biasa bertani dan berladang dan melewati Alas Kedaung seperti biasa.
Hari ini aku sama kakek berencana menangkap ikan dan mencari buah juwet , yang biasa mulai musim di alas gede sebutan hutan di desa kami yang berada di atas sendiri.
Kami berjalan menuju desa paling atas melewati kuburan dan bertemu kali kecil (sungai kecil biasa dipakai mandi) lalu berjalan ke puncak menuju alas gede dan bertemu mata air yang jernih dan besar air sejernih kaca sehingga kelihatan jelas ikan berenang.
__ADS_1
Setelah kakek membuat bambu runcing buat menangkap ikan, kakek segera menangkap beberapa ikan dan memasukkan dalam ember lalu mengambil jerigen buat diisi air segar untuk di bawa pulang.
Air itu biasa langsung di konsumsi dari kendi segar rasanya, mungkin karena asli air pegunungan belum terkontaminasi karena desa masih alami.
Biasa dari jerigen sampai rumah nenek tuang di kendi buat kami semua minum, lalu kakek mengambil daun pisang dan membuat beberapa tempat buat meletakkan juwet yang kami ambil nanti.
Tidak jauh aku melihat pohon juwet yang berbuah lebat dan besar, buah kehitaman seperti anggur pasti manis asam dan segera memetik yang terjangkau oleh tangan.
Tidak lama kami sudah mengumpulkan juwet dan ikan satu ember yang bermacam-macam isinya ada lele, gabus, udang, yuyu. Ada seorang lelaki kencing di pohon bambu kuning yang pantang di lakukan.
Melihat hal itu kakek mencoba melarang dan berkata "nak jangan kencing di pohon bambu biasa ada penunggunya", katanya.
__ADS_1
" Halah kek itu mitos saja" sahutnya tetap kencing. Kakek hanya bisa menghela nafas, dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan orang itu.
"Biarin saja kek orang tidak mau menerima nasehat orang lain" kataku lalu lanjut mencari berry merah yang sudah mulai banyak tumbuh dan berbuah juga buah srikaya.
Hutan ini jarang yang kemari karena agak jauh dan tinggi juga curam, serta perjalanan berkeringat sehingga biar mandi segar di sungai pulang berkeringat lagi haha..
Tetapi pohon buah banyak dan bisa diambil siapa saja sehingga menguntungkan, beberapa orang menembak monyet untuk di jadikan obat gatal padahal di kota di larang pemburuan monyet liar.
Ada kabar juga biasa hutan ini di pakai persembunyian narapidana yang kabur namun belum jelas faktanya hanya rumor belaka juga ada desa yang di huni wanita saja.
Aku mendapat cerita desa perempuan ini dari bibi tiri anak dari istri lain kakek yang di nikahi secara siri tanpa nenekku mengetahui tentang itu yang jadi pertengkaran di kemudian hari.
__ADS_1