MISTERI ALAS KEDAUNG

MISTERI ALAS KEDAUNG
Pergi panen jagung


__ADS_3

Pagi itu adik perempuan mama yang aku panggil dengan sebutan Lek Nina bersiap pergi ke ladang untuk memanen jagung yang sudah siap panen beserta dengan suaminya Lek ton.


Kami berjalan kaki sambil menghirup udara segar yang masih murni , di banding perkotaan karena masih alami belum terkena polusi. Lek Nina membawa Arit buat memotong daun jagung yang nanti sekaligus buat makanan ternak sapi yang dia pelihara.


Aku membawa keranjang bambu buat tempat jagung muda nantinya, rencananya aku mau bakar karena jagung baru di panen manis dan segar juga bebas peptisida.


Perjalanan kami tidak terasa melewati Alas Kedaung, suara burung yang menambah kesan mistis dan gema suara burung membuat bulu halus di tangan berdiri merinding.


Karena kami berangkat sejak subuh jadi masih agak gelap, dan tidak nampak orang lain selain kami berdua. Dengan pohon jati dan kapuk tinggi dan rimbun serta jurang membuat kesan semakin angker.


Tiba-tiba pundak kami terasa berat karena seperti di tekan seorang, dalam hati kami berdoa agar perjalanan kami tidak ada halangan dan selamat sampai ladang.

__ADS_1


Kami berdiam diri tidak memulai percakapan dan jalan berhati-hati agar tidak terperosok dalam jurang di depan kami. Karena salah injak dikit maka kami bisa jatuh dengan masuk jurang di kanan dan kiri kami.


Dari kejauhan nampak bayangan putih terbang melayang-layang namun tidak mengganggu, jadi kami berdoa dalam hati saja karena semakin kami takut biasanya mereka makin menakuti kami.


Suara deheman keras terdengar dari balik serumpun tanaman bambu, dan itu suara Genderuwo dan berusaha agar tidak takut dan terus berjalan sambil minta ijin lewat agar tidak di ganggu.


Bagaimanapun kita harus sopan melewati daerah kekuasaan bangsa lelembut, di depan nampak kayak ada pasar ramai dan jualan banyak di jejer di depan.


Nampak rombongan dari kota yang naik mobil berhenti untuk membeli sesuatu, mereka langsung memakan sarapan dan ada yang membungkus untuk di bawa naik.


"Lek Nina apa benar itu pasar kan tidak mungkin ada jualan di sana? ", tanyaku .

__ADS_1


Setelah melewati Alas Kedaung dan menuju ladang kami yang uda mulai nampak dan sinar pagi mulai nampak sehingga nampak terang.


Nampak hamparan jagung yang siap di panen di depan kami.


" Iya.. itu hanya ilusi saja dan makanan itu biasa hanya mengelabui mata saja namun tidak perlu ikut campur nanti kita di ganggu", Lek Nina menjelaskan.


Aku mengangguk dan tidak berapa terdengar jeritan dari mobil yang membuat terkejut ternyata nasi bungkus yang tadi mereka beli ketika di buka berisi cacing dan belatung.


Supir yang makan sampai habis langsung memuntahkan makanannya yang tadi dia telan, sementara sang ibu yang ingin menyuapi anaknya langsung membuang bungkusan cacing itu.


Ternyata yang mereka makan seperti mie itu adalah cacing dan belatung, aku bergidik ngeri untung tidak mampir tadi karena sudah menduga mana ada pasar di hutan yang jarang di lalui orang apalagi hutan yang terkenal akan keangkeran nya dan sudah banyak korban berjatuhan di sekitar situ yang meremehkan hutan itu.

__ADS_1


__ADS_2