Misteri Buku Pudara

Misteri Buku Pudara
Kebaikan Sang Malaikat Penjaga


__ADS_3

*Tanggal 26 Maret 2017*


Aku terbangun dengan keadaan terkejut karena notifikasi dari Feni dan Dani!!


"Jina kamu dimana" (Feni, Pukul 05.00)


"Jina kamu lagi ngapain" (Dani, Pukul 05.30)


Mereka masing masing memiliki panggilan keluar sebanyak sepuluh kali di notifikasi whatsapp ku. Aku lalu menelpon mereka kembali tetapi tidak ada dari mereka yang mengangkatnya.


Aku lalu mengambil sweaterku, berlari menuju ke halaman depan rumah dan mengambil sepedaku, saat aku membuka pagar rumahku, ternyata Dani dan juga Jina sedang berdiri dihadapanku dengan posisi mereka menaruh Handphone di telinga mereka.


"Astaga Jina!!! Kamu bikin kami kaget aja ahh!!" Feni marah sambil menyubit pinggangku dengan wajah yang kesal.


"Aw aw aw!! Sakit Fen, aku juga baru terbangun maaf." Kataku sambil mengusap-usap pinggangku yang sudah di cubit oleh Feni.


"Bukan gitu Jina, kami khawatir sesuatu buruk terjadi lagi sama kamu!" Kata Dani sambil mengeluarkan buku hitam misterius.


"Eh BTW kalian sudah menemukan petunjuk baru kemarin di perpustakaan?" Tanyaku sambil masih mengelus pinggangku.


"Sepertinya kita salah kaprah mengenai siapa sebenarnya dewi Gayatri" Dani menjelaskan sambil membuka buku hitam tersebut, dan beberapa naskah yang ia dapatkan di perpustakaan kota kemarin.


"Dia ini bukan dewi yang disembah orang Bugis di zaman dahulu, melainkan hanya sesosok wanita penyihir yang memiliki ilmu hitam yang sangat tinggi! Hingga mampu membuat sebuah kampung mendapatkan teror yang sangat menakutkan" Dani menjelaskan hal itu kepadaku dan juga Feni dengan mata yang melotot dibalik kacamatanya.

__ADS_1


"Tapi yang aku pertanyakan! Siapa yang kamu lihat Jina? Dewi Gayatri? Atau siapa? Aduh aku bingung!!" Pertanyaan Feni tersebut sempat juga membuatku termenung dan ikut memikirkan sebenarnya siapa sosok yang telah aku lihat ini. Aku mencoba mengingat kembali, ternyata wanita ini telah muncul dua kali sebelumnya. Di hutan dan di perpustakaan kemarin, tetapi kemarin benar-benar puncak dimana mentalku harus terpukul mundur dengan merasakan hawa yang sangat mencekam dari wanita tersebut.


"Kalau menurutku, wanita yang aku lihat mungkin bukan dewi Gayatri, karena ciri-cirinya sama sekali tidak selaras dengan ciri-ciri dewi Gayatri yang telah kita ketahui Dani!" Kataku dengan memperjelas juga kepada diriku sendiri kalau wanita tersebut memang bukan dewi Gayatri, melainkan sosok lain yang sampai sekarang kami masih tidak ketahui siapa dia.


"Yaudah ayo apalagi yang kita tunggu, kita langsung ke lokasi tempat reruntuhan kerajaan Parepare" Dani memutar sepedanya, sepertinya dia sudah sangat bersiap menuju kesana.


"Bentar, kalian berdua! Kata Ayahku, orangtua Sam hari ini balik dari luar kota, kita harus hati-hati, jangan sampai polisi mengetahui apa yang telah kita rencanakan" Feni menjelaskan kepada kami tentang hal yang sangat penting yang mungkin bisa membahayakan misi kami untuk mencari Sam. Polisi! Dan orangtua Sam.


"Tapi masa iya mereka sampai ke reruntuhan, kan lokasinya jauh berbeda!" Kata Dani sambil menyilangkan kedua tangannya.


Plak!!..


"Awww" Teriak Dani setelah kepalanya di geplak oleh Feni


"Astaga!! Iya yah! Jadi mungkin kita berangkat aja sekarang secepat mungkin!" Kata Dani sambil memutar sepedanya.


"Eh bentar! kalian bawa kan semua benda2 yang sudah kita dapatkan?" Aku berteriak agar Dani mendengarkanku, karena sepertinya sudah tidak bisa fokus dengan sekitarnya karena perkataan Feni tadi.


"Ada kok, semuanya ada, aku juga sudah membawa tenda buat kita nanti camping disana dan pulang dini hari agar saat pencarian Sam dilakukan kita sudah ada masing-masing di rumah, juga untuk mengurangi rasa curiga pihak kepolisisan dan juga kedua orang tua Sam" Perkataan Feni membuatku berpikir, ini bukan sekedar bermain petak umpet dimana kita yang jaga dan Sam yang ingin dicari.


Tetapi ini sudah melibatkan keselamatan teman kami Sam. Kami harus segera menemukannya, kasihan orang tua nya, mereka berdua sangat menyayangi Sam, bayangkan saja, disaat PlayStation terbaru keluar, tanpa Sam minta pun orang tua Sam membelikannya tanpa meminta.


...*****...

__ADS_1


Setelah mengayuh sepeda beberapa waktu, kamipun sampai ke tempat tujuan yang sedari kemarin sudah kami rencanakan secara matang.


"Wah kita harus masuk kehutan nih?" Feni bertanya sambil mendongak keatas, karena memang hutan satu ini lebih rimbun daripada hutan Jompie, tempat Sam terakhir kali menghilang dan tempat ku mendapatkan buku misterius yang dipegang Dani pertama kali.


"Ayo deh kita masuk sebelum hari semakin larut, ini sudah pukul 07.30 agar nanti setelah kita menemukan sesuatu, kita bisa melanjutkan untuk istirahat sebentar" Dani mengajukan saran sambil berjalan mengambil barisan paling depan, seolah olah dia pemimpin barisan kami, haha sangat lucu melihatnya bersikap seperti ini, dipikiran aku dan Feni, Dani sangat pemalu dalam bersikap, dia sangat kaku, kalau ada orang lain yang bisa mengapa aku. Motto hidup sang sumber informasi kami, Dani.


Sikap kaku Dani biasanya cuman Sam yang mengimbanginya, agar Dani tidak terlihat sebagai objek pembulian di sekolah. Sam itu memang anak yang baik, sangat baik sampai kami menyebutnya malaikat penjaga bagi kami bertiga. Tapi jangan salah! Dia juga seorang petarung yang sangat handal, disaat dia mengetahui Dani, aku, atau Feni sedang di ganggu oleh seseorang! Maka kami sudah bisa menebak bahwa Sam akan langsung melayangkan pukulannya di wajah orang tersebut.


Beberapa kali Sam sudah masuk ke ruangan BK karena masalah yang sama, kami bertiga terkadang merasa bersalah! Karena masalah kami bertiga, Sam selalu menjadi wadah kesalahan di ruang guru. Tapi ada satu guru kami yang selalu menenangkan situasi di saat Sam melakukan masalah-masalah tadi, dia adalah Ibu Hani, dia memberikan pemahaman kepada kami di kelas bahwa Sam tidak sepenuhnya salah! Jika tidak ada Sam, pembulian akan di normalkan di sekolah ini.


Tiga bulan berlalu setelah kejadian beruntun Sam memukuli orang-orang yang mengganggu kami. Tetapi itu juga yang terakhir kali pembulian terdengar di sekolahku. Bisa dibilang Sam ini menjadi pahlawan kesiangan pada awalnya oleh guru kami, tetapi setelah melihat dampak baik yang di sebabkan oleh kelakuan Sam, Sam diberikan kembali pointnya sebagai siswa yang berprestasi.


Di sekolah kami memiliki sistem point untuk menjaga kredibilitas sekolah kami, contohnya saja kami diberikan 100 point seorang, jika kami melakukan kenakalan, maka akan dikurangi sesuai dengan seberapa berat kenakalan yang telah dilakukan. Beda lagi jika kamu seorang murid teladan, mematuhi aturan, berhasil menjadi juara lomba mewakili sekolah, ataupun mendapatkan peringkat umum, maka kamu akan diberikan point tambahan sebagai siswa yang berprestasi dan berpeluang besar akan didaftarkan di universitas internasional tanpa biaya sedikitpun. Tetapi kata Sam dia tidak memerlukan beasiswa tersebut, "Masih banyak teman-teman kita yang lebih membutuhkan beasiswa tersebut daripada aku!" Kata yang membuatku semakin sayang kepada temanku yang satu ini.


Semua peristiwa ini terjadi saat kami masih menyandang nama yang disebut siswa baru, bayangkan! Siswa baru melakukan banyak kegaduhan tapi memberikan akhir yang bahagia. Ya itulah malaikat penjaga kami, Sam!


Dengan semua karakter nya yang seperti itu, apakah ada orang yang tidak bersedih saat mendengar bahwa Sam telah hilang? Beritahu kepadaku! Seseorang yang sangat baik seperti Sam ini apakah pantas ditangisi jika hal buruk terjadi kepadanya.


Seisi sekolah benar-benar menitikkan air matanya saat kepala sekolah mengumumkan bahwa Sam telah menghilang. Teman-temanku mulai memajang wajah Sam di masing-masing akun sosial medianya, dengan kata-kata yang jika Sam melihatnya, mungkin saja matanya akan sembab karena kata-kata harapan teman kami, agar Sam segera datang di sekolah bersama kami kembali sangat menyayat hati untuk dibaca.


Sam, malaikat kami, kamu baik-baik saja kan? Aku berjanji tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepadamu setelah apa yang telah kamu berikan kepada kami, kebaikan yang sangat hangat, kamu bertahan yah malaikat kami, kami segera menyelematkanmu, kami berterima kasih telah menjaga dan menyelamatkan kami selama ini, sekarang giliran kami untuk menyelamatkanmu.


Disaat memikirkan ini aku sedikit meneteskan air mata, mengingat kebaikan-kebaikan Sam.

__ADS_1


__ADS_2