Misteri Buku Pudara

Misteri Buku Pudara
Oroq


__ADS_3

Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 13.00, kami memang memutuskan untuk pergi di siang hari karena kejadian semalam sangat membuat kami lelah, mulai sejak itu Ibu Hani menyuruh kami untuk membawa garam hitam yang telah ia berikan kepada kami bertiga. Kami membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di danau yang ingin kami tuju, untungnya Dani membawa peta hutan ini sehingga kami dengan mudah menuju ke sini.


Air danau nya sangat bening, sehingga tampak seperti warna biru langit yang terpantul di cermin, ikan-ikan didalamnya berenang secara berkelompok memakan tumbuhan air yang ada di pinggiran danau. Kami berempat duduk sejenak di pinggiran danau dan menikmati pemandangan yang menakjubkan ini, saat kami berempat duduk Feni berbalik kearahku dan bertanya "Kita mau apa disini Jina?"


Sebenarnya pertanyaan Feni juga membuatku berpikir alasan aku kesini apa, kenapa aku yakin kesini sedangkan aku sama sekali tidak mempunyai alasan yang kuat selain mimpi yang tidak jelas. Aku pun mulai menceritakan mimpi yang aku alami semalam kepada Ibu Hani dan juga Feni. Mereka berdua menanggapinya dengan sangat serius! Terlebih lagi Feni, karena dia sudah tahu apa yang aku lihat selagi kami didalam kastil.


Disaat kami berbincang-bincang, aku tiba-tiba mendengar suara seorang wanita yang entah darimana. "Jina....., Jina......., engkai ga Feni? (Jina....., Jina......., apa Feni ada?" Dia memanggil namaku dan menanyakan keberadaan Feni.


"Kalian dengar itu nggak Fen?! Seseorang memanggilku dan menanyakan tentang mu!" Kataku sambil menengok kearah Feni.


"Dengar apaan sih Jina! Yang kami dengar cuman suara angin disini! Tapi bentar deh, kamu kan sering ngalamin hal yang aneh coba kamu fokus sama suaranya siapa tahu itu sebuah petunjuk!" Kata Feni.


Mungkin memang benar, ini adalah sebuah petunjuk aku harus mencoba fokus mendengar suara misterius ini, "Feni...... Appoku, paudangi suro padecengi ampena sibawa paringerranna, nasaba ero Parakang e tulli nacciori maneppo!" (Feni...... Cucuku, beri tahu dia untuk memperbaiki kesadaran dan juga sikapnya, karena Parakang itu masih mengikuti kalian!)


Parakang itu masih mengejar kami?! Ternyata memang benar ini tidak akan mudah, akan ada banyak rintangan yang menunggu kami. Tapi siapa dia yang sedang berbicara ini?


"Kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu nama Feni?"


"Aku penari yang kamu lihat di dalam kastil Jina, akhirnya kamu datang kesini, berarti aku sudah bisa pergi dengan tenang. Jaga cucuku dari 'Dia'! Ada sebuah pusaka yang tidak pernah disentuh siapapun termasuk orang yang telah mengambil dan menyebarkan pusaka yang lainnya, coba kamu melihat dengan seksama dasar danau ini. Jika kamu melihat sesuatu yang bersinar lompatlah kedalamnya dan ambil benda tersebut"


"Jadi anda I Timoq? Buyut nya Feni?"

__ADS_1


"Iya Jina..... Hanya kamu yang bisa melihat kilauan benda tersebut, kamu harus fokus dan melihat ke danau ini"


"Hanya aku? Jadi aku harus fokus? Tapi benda apa itu?" Saat aku menanyakan hal itu, dia sudah tidak menjawab lagi. Akupun menceritakan semua yang aku dengar kepada Ibu Hani, Dani, dan juga Feni.


"Jadi itu buyutku?! Dia menyuruhmu untuk melihat ke dasar danau?! Apa itu aman?"


"Sepertinya begitu? Petunjuk nya begitu, pasti mimpiku memang mengarahkan ku untuk mengambil pusaka yang buyutmu maksud"


"Tapi menurut Ibu, sepertinya kamu harus membutuhkan sesuatu untuk kebawah sana, sebuah tali mungkin untuk berjaga-jaga jika hal yang tidak diingkan terjadi" Usul Ibu Hani.


Setelah kami berbincang dan berdiskusi panjang, akhirnya kami setuju untuk mencoba membuktikan kebenaran petunjuk yang kami dapatkan. Dani mengeluarkan segulung tali dari dalam tasnya lalu mengikatnya ke sebuah pohon, Ibu Hani dan juga Feni membantuku mengikat simpul di pinggangku, agar saat aku turun dipastikan sudah aman.


"Baik aku pergi yah?!"


"Ingat Jina, saat kamu sedang dalam bahaya dibawah sana, kamu tarik tali ini agar kami cepat-cepat menarikmu ketepian" Dani mulai menjelaskan ku tentang bagaimana cara membuat sinyal bantuan dari menarik tali


"Ibu mendoakan mu agar kamu tidak kesulitan dibawah sana kamu harus berhati-hati....!!" Setelah semua hal yang mereka bertiga sampaikan, aku pun langsung melompat kedalam danau yang aku sendiri juga tidak tahu kedalamannya sampai mana.


Saat setengah tubuhku sudah masuk kedalam air, aku merasa kalau air disini sangat dingin padahal cuaca hari ini sangat terik. Aku mulai berenang kebagian tengah danau, sesekali aku menyelam kebawah untuk melihat apakah dibawah ada sebuah petunjuk atau kilauan yang dimaksud buyut Feni.


Tanpa sadar, aku sudah berada hampir ditengah-tengah danau, disini hawanya terasa sangat mencekik, airnya dingin, serta tidak ada suara apapun terdengar, danaunya sangat tenang aku sedikit takut dengan danau yang tenang, karena tempat seperti ini biasanya dihuni oleh para buaya.

__ADS_1


Aku juga tidak ingin menghabiskan waktuku disini, tapi bagaimana aku menemukannya? Apa ada sesuatu yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan benda itu? Saat aku memikirkan hal tersebut, tiba-tiba saja sesuatu menarik kaki ku kebawah, tubuhku terasa sangat berat sehingga aku tidak bisa berenang kembali ke permukaan.


Siapa yang menarik ku kebawah? Aku mulai panik dan menggerakkan badanku agar aku bisa ke permukaan, tapi tidak bisa! Aku tidak bisa melepaskan kaki ku. Lama kelamaan aku mulai lemas dan penglihatan ku juga ikut menghitam, tanpa aku sadari aku tiba-tiba saja pingsan.


"I Timoq......! Sembunyikan oroq ini cepat sebelum Gayatri mengambilnya!" Aku melihat seorang lelaki berpakaian khas bangsawan suku Bugi dan I Timoq si penari alias buyut nya Feni. Mereka berdua terlihat sedang panik dan ingin menyembunyikan sesuatu, saat aku perhatikan lebih dekat, ternyata itu sebuah kapak berwarna perak mengkilat, gagangnya dari kayu berwarna coklat tua dan ada tulisan aksara Lontara di gagangnya.


I Timoq lalu berlari kearah danau sambil membacakan mantra pada kapak itu, lalu ia berkata "Gayatri tidak boleh sampai mendapatkan benda ini, dia tidak boleh menemukannya!"


Setelah mengatakan itu dia lalu melemparnya ke danau sejauh mungkin yang ternyata saat oroq itu tenggelam, danaunya seketika terang berwarna perak bercampurkan biru tua "Anakku....., aku harap kamu baik-baik saja, maafkan ibu telah berbohong akan menyusulmu, ibu tidak bisa sayang, ibu harus membantu raja untuk mengalahkan dewi kegelapan itu. Yang penting kamu aman sekarang bersama beberapa pengawal kerajaan" Sambil menitikkan air mata ia lalu bernyanyi dengan nada yang sangat sedih.


Setelah dia bernyanyi, danau yang awalnya sangat berkilau tiba-tiba kembali redup seperti sebelumnya. I Timoq lalu berlari kembali kearah istana dengan keadaan pipinya yang basah karena menangis. Setelah melihat semua kejadian itu, aku lalu terbangun dan terasa kalau kaki ku sudah bisa aku gerakkan, sesuatu yang menarik kakiku sudah tidak ada.


Aku bergegas kembali ke permukaan dan menarik nafas yang sangat dalam, untung saja aku tidak tenggelam jauh kedasar danau. Aku harus mengingat apa tadi yang aku lihat, mungkinkah benda yang dimaksud I Timoq tadi adalah kapak yang ia buang itu? Aku melihat saat dia melempar oroq itu, dia menyanyikan sebuah lagu untuk membuat benda itu berhenti berkilau, apakah saat aku nyanyikan lagi aku bisa melihat oroq itu dari atas sini?


"Lagu yang dia nyanyikan tadi bagaimana yah? Aku harus mengingatnya, aku harus mengingatnya!" Aku pun lalu mencoba bernyanyi sesuai dengan apa yang aku dengar dari I Timoq.


🎼"O wae, subbui iye oroq e, millau dampekka sibawa idi puang bereka pammaseta"🎼 (Sang air, sembunyikanlah oroq ini, aku meminta tolong kepadami tuhan, berikan aku kekuatanmu). Saat aku telah menyanyikan sepenggal lagu itu, tiba-tiba saja danaunya berkilau!.


Aku bisa melihat bahwa kilauan ini berasal di tengah-tengah danau, aku lalu berenang dengan cepat ke sana dan menyelam kebawah sampai kedasar danau. Dan benar saja itu adalah oroq yang dibuang oleh I Timoq. Bentuknya sama seperti dengan yang aku lihat saat pingsan tadi. Tapi saat aku mencoba mengambilnya, ternyata tali yang terikat di pinggangku tidak sampai, aku mencoba berkali-kali untuk menggapai oroq itu tapi sama saja, aku tidak bisa meraihnya karena tali yang tidak cukup panjang.


Dadaku sudah semakin sesak, tekanan air disini juga sangat tinggi, aku seakan-akan bisa merasakan kepalaku seperti di himpit sesuatu. Ditambah suhu air yang sangat dingin. Tapi aku tidak kehabisan akal, aku pun memutuskan untuk melepas tali yang ada di pinggangku karena jika tali ini tetap ada, maka aku tidak bisa mengambil oroq itu. Akhirnya, setelah melakukan segala cara, aku pun bisa mengambilnya.

__ADS_1


Setelah aku mendapatkannya, aku lalu naik kembali ke permukaan dan mencari tali yang sudah ku lepaskan, tak lama setelah mencari akhirnya aku menemukannya, aku kembali mengikatnya ke pinggangku. Setelah kupastikan sudah terikat dengan baik, aku lalu menarik-narik tali tersebut, bertujuan memberikan kode kepada mereka bertiga agar segera menarikku ke tepian.


__ADS_2