Misteri Buku Pudara

Misteri Buku Pudara
Pintu Rahasia


__ADS_3

"Dani..... Dani..... Ini kami Dan" Feni memanggil Dani sambil beberapa kali mengetuk pintu kosnya. Aku berpikir, mungkin dia ada di rumah tante nya lagi.


"Fen, mungkin dia ada di rumah tante Ira, ayo kita kesana" Saat kami sudah ingin pergi. Pintu kos Dani langsung terbuka.


"Eh kalian, ayo masuk"


"Kamu lagi ngapain sih?! Lama banget buka pintunya! Tangan ku sakit nih gara-gara ngetuk dari tadi!" Feni mengomel ke Dani soal tangannya yang sakit. Padahal dia hanya mengetuk pintu sebanyak dua kali.


"Iya iya, ayo cepetan masuk. Oh pintunya jangan lupa di tutup" Kami berdua pun masuk kedalam. Kosnya Dani terbilang cukup besar, bahkan ini bisa dibilang kontrakan karena ukurannya yang cukup luas. Terdapat dapur, wc, ruang tamu, dan kamar. Sederhananya ini sebuah BTN yang ia sewa.


"Kamu kenapa nggak masuk sekolah Dan?" Tanyaku kepada Dani


"Aku tadi pagi nggak enak badan Jina, tanteku juga lagi sakit jadi aku harus pergi beliin dia obat"


"Terus whatsapp kamu kok nggak aktif sih?" Tanya Feni kepada Dani sambil mengambil air minum. "Hmmm.... Knp?"


"Gini, HP aku, HP aku kecebur air. Coba lihat! Saat aku ingin mandi, aku tidak sengaja menyenggolnya hingga masuk kedalam bak mandi." Sambil menjelaskan, Dani perlahan-lahan membuka bajunya.


"Eh! Kamu mau ngapain bego?!" Ucap Feni dengan cara berteriak.


"Oh, hahaha... Aku mau ganti baju, nggak papa kan?"


"Kamu ganti baju di kamarmu! Ngapain disini?!"


"Sorry, sorry. Iya ini aku mau ke kamar" Saat mereka berdua sibuk berdebat, aku terpaku dengan sebuah luka goresan di bagian pinggang kiri Dani. Itu terlihat seperti cakaran hewan, lukanya ada lima garis.


"Eh bentar deh. Dani, ini luka apa?" Aku mendekat ke arah Dani sambil memegang pinggangnya yang terluka. Aku menatap matanya sambil berkata "Kamu diserang sama Parakang itu yah?".


"Ng-nggak lah, ini cuma bekas cakaran kucing. Aku tadi diserang kucing saat menuju ke rumah tanteku" Aku agak sedikit ragu dengan ucapan Dani. Lukanya terlihat sedikit dalam, kucing tidak mempunyai kekuatan seperti ini. Aku juga sering di cakar oleh kucing ku yang ada di rumah, si Moel. Tapi bekas cakarannya tidak begini.


"Eh Jina, lama-lama yang ada Dani baper kamu terus-terusan megangin pinggangnya" Aku dengan spontan melepaskan genggaman ku di pinggangnya dan mundur sedikit dari Dani.


"Sorry Dan" Kataku sambil tersipu malu, memalukan sekali aku baru sadar kalau dari tadi aku sudah memegangi pinggangnya.


"Santai, nggak papa kok. Yaudah kalau gitu, aku ke kamar dulu ganti baju"


"Kenapa nggak di sini aja, Jina kayaknya mau lihat tuh pinggang mu dengan lebih seksama"


Saat mendengar Feni, aku langsung mencubit perutnya sambil mengatakan "Apaan sih Fen!". Jujur aku malu, huaa....!! Aku kenapa?! Bisa-bisanya aku begini di saat seperti ini.


"Aww..!! Jina, sakit ih! Yaudah cepetan deh Dan kamu ganti baju. Nanti aku babak belur dihajar ama dia ni"

__ADS_1


"Hahaha.... Kalian, ada-ada aja". Dani pergi ke kamarnya lalu menutup pintu. " Kalian tunggu bentar yah"


...*****...


"Fen, kamu ngapain sih?! Jangan gitu ah nggak lucu!"


"Ih, aku memangnya ngapain Jina?" Dia mengatakan hal itu dengan sedikit tertawa, seolah-olah sedang mengejek ku


"Udah ah, kita harus fokus, kalau Dani udah keluar, kita langsung kasi tau ke dia soal semua yang kita dengar dari Ibu Hani"


"Oh iya, sorry Jina. Oke kita harus profesional" Feni, feni. Benar-benar temanku yang satu ini, dia mengatakan hal itu lagi dengan mata yang mengejek. Haaa... Untung aku sayang sama sahabatku yang satu ini.


...*****...


Setelah menunggu lama, akhirnya Dani keluar dari kamarnya. Dia memakai kaos hitam dengan celana pendek dibawah lutut, oh dan tak lupa pula kacamatanya. Wangi chamomile yang khas ala Dani pun tercium di hidung ku.


"Hmmm Dani..... Kamu cakep banget! Jangan cakep-cakep dong, nanti Jina nggak kuat melihat ketampananmu"


"Feni stop! Udah yah main-main nya!"


"Iya-iya. Ngomong-ngomong ada yang mau Jina kasi tau ke kamu"


"Begini Dan, tadi waktu disekolah, Ibu Hani bilang kalau Parakangnya bukan ibu Nana, karena ternyata ibu Nana sendiri juga diserang oleh Parakang itu!"


"Kami baru aja di serang lagi sama Parakang biadab itu! Aku dan Jina tadi mau cari petunjuk di pohon tua yang ada di jalan setapak, tiba-tiba aja dia muncul lalu menggores mobilku, emosi nggak sih?!!"


"Hahaha, udah Fen yang penting kita nggak kenapa-napa" Kataku untuk menenangkan Feni, karena kalau dia udah marah bakal ribet.


"Yang lebih penting adalah, ibu Hani memberitahu kami kalau kita ingin mendapatkan lokasi ritualnya, kita harus kembali ke pohon tua itu dan juga di gua tempat aku mendapatkan buku." Kataku kepada Dani.


"Baju Bodonya gimana?" Ucap Dani


"Itu nanti aja, kita pergi ke hutan Jompie aja dulu, ke gua tempat Jina ambil Buku Pudara" Kata Feni sambil menunjuk Buku Pudara yang aku pegang.


"Tapi gini, bukannya lebih mudah jika kita mengambil Baju Bodonya dulu baru kita mencari lokasinya. Jadi kita bisa langsung ke sana setelah mengetahui tempatnya tanpa memikirkan apa-apa lagi kecuali cara kesana." Perkataan Dani sepertinya juga masuk akal. Tapi permasalahannya adalah, aku tidak tahu dimana ibuku menyembunyikannya. Aku baru ingat kalau aku belum memberitahu Dani tentang cerita dari ibuku.


"Dani, aku lupa memberitahumu sesuatu!" Aku pun menceritakan semua yang ibuku sampaikan kepadaku semalam.


"Ha?! Hmmm.... Kalau gitu gimana kalau besok aja kita lakukan pencarian ke gua itu, karena kalau kamu ingin langsung kesana saat ini rasanya kurang tepat. Seperti melangkah dua kali yang terdapat paku disana, sedangkan sendalnya ada di langkah pertama yang kamu lewatkan."


"Uuuu.... Filsuf Dani sudah berbicara nih hahahaha. Tapi ada benarnya sih Jina, mungkin sekarang kita pulang aja dulu lalu persiapkan lagi semua yang kita butuhkan esok" Kata Feni menyetujui saran Dano.

__ADS_1


"Yaudah, kalau gitu, kita pulang aja Feni besok baru kita kembali kesini. Bye Dani, kami pulang dulu yah"


"Iya, hati-hati di jalan Jina" Kata Dani


"Jina doang nih yang dikasi salam perpisahan? Sweet banget sih"


"Apaansih Feni! Ayo cepetan pulang!!" Lagi-lagi Feni menggodaku. Membuatku sedikit malu untuk melihat Dani!.


...******...


"Makasih yah Fen, kamu hati-hati pulangnya"


"Iya Jina, besok kalau mau ke sekolah bareng aja yah"


"Iya, besok aku kasi kabar"


"Ada yang nggak bisa tidur nih mikirin seseorang"


"Boro-boro mikirin orang, mikirin masalah ini aja udah bikin puyeng. Udah pergi sana, aku capek dengar ocehanmu"


"Iya iya, aku pulang. Bye..... Mimpi indah yah"


"Iya kamu juga, see you" Aku harus mencari tahu dimana ibu menyembunyikan Baju Bodo itu! Tapi sebelum itu sepertinya aku mau mandi dulu, buat menyegarkan badan.


Setelah mandi,  aku teringat kalau ada sebuah rak buku dikamar ibu. Sepertinya aku bisa menemukan sesuatu di sana tentang petunjuk dimana Baju Bodo itu berada.


Tapi sebelum menuju ke kamarnya, aku harus mengecek apakah dia ada di rumah atau tidak. Aku mencoba melihat di ruang tamu, untungnya dia tidak ada di sana. Di dapur juga untungnya tidak ada, berarti saat ini sudah aman untuk masuk kedalam kamar ibuku.


Kamar berwarna emas gelap, di campur dengan sudut dinding yang berwarna abu-abu, terlihat sangat klasik, memang cocok untuk ibuku. Aku lalu melihat di sebelah kiri ruangan, ada sebuah rak buku yang sangat tinggi, bahkan rak itu menutupi keseluruhan bagian dinding itu.


Semua buku yang ada didalam rak ini sangat tua, hanya terdapat buku yang bertuliskan bahasa Lontara. Yang membuatku terkejut adalah semua buku ini menceritakan tentang masa lalu kelam, yang sering muncul di pikiranku dengan bentuk kilas balik.


Semuanya ada, semua yang pernah aku lihat ada di setiap buku. Aku mencoba melihat-lihat semua buku, berharap aku menemukan petunjuk tentang Baju Bodo yang aku cari.


Sepertinya tidak ada apa-apa disini kecuali sejarah yang sudah aku lihat sebelumnya. Aku lalu mengembalikan buku yang sudah aku pegang kembali ke tempat nya.


Saat mencoba menaruhnya, aku terpaku dengan sebuah buku berwarna emas yang ada di sudut kanan rak. Aku mencoba menggapainya tapi aku tidak bisa menggapainya. Aku lalu memanjat rak agar bisa mengambil buku itu.


Aku memanjat di bagian rak ke dua dan ketiga. Tapi tetap saja aku tidak bisa menggapainya, karena buku itu berada di bagian rak ke delapan. Aku mencoba lagi memanjat hingga kaki ku sudah berada di rak ke empat, akhirnya aku bisa mengambil buku ini dengan susah payah.


Tidak sampai disitu saja. Buku ini sangat susah untuk ditarik, buku ini seperti menempel di dinding. Aku menarik dan menarik dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya aku mampu menariknya keluar, tapi aku juga terjatuh akibat hal itu.

__ADS_1


Aku mencoba untuk bangun. Tapi suara berderit terdengar dari arah belakang rak, semakin lama, semakin keras juga suara itu terdengar hingga rak buku itu bergeser ke arah kanan.


Dan ternyata dibalik nya!! ADA SEBUAH PINTU!


__ADS_2