Misteri Buku Pudara

Misteri Buku Pudara
Potongan Puzzle


__ADS_3

...-POV: Dani-...


*Tanggal 24 Maret 2017*


Malam yang sunyi, jangkrik mulai saling menyapa di sawah belakang kosku, aku membuka pintu kamarku dan bergegas kekamar mandi untuk mandi dan beristirahat setelahnya.


Sebelum aku beristirahat, Aku duduk di depan meja belajarku terlebih dahulu, untuk membaca buku yang diberikan oleh Feni padaku pagi tadi di sekolah.


"Buku ini sepertinya sudah sangat tua, sampulnya terbuat dari kulit kerbau, isian kertasnya terbuat dari jahitan daun yang sudah mengering!!"


Ini memang sangat mencengangkan bagi orang kutu buku sepertiku, sudah banyak buku yang telah aku baca, tapi buku ini satu-satunya yang membuat diriku berdecak kagum.


Aku melihat ada sebuah tulisan yang memudar di bagian sampulnya, itu terlihat seperti tulisan berhuruf lontara, aku coba melihat dengan seksama apa yang tertulis di atas sampul buku ini.


Aku mengambil pensil dan buku bahasa Bugis ku, lalu mulai mencari huruf demi huruf yang sama dengan tulisan di sampul buku ini, dan akhirnya setelah beberapa waktu mencari petunjuk ternyata! Tulisan yang ada di sampul itu adalah "Pudara" Yang berartikan Pudar.


Setelah aku mengetahui apa yang tertulis di sampulnya, aku mulai membuka satu persatu halaman buku ini. Disetiap bagiannya menjelaskan tentang tradisi suku Bugis di masa lampau, mulai tarian, pantangan dan juga sejarah kerajaan Parepare.


Tapi di bagian sejarah inilah yang isinya robek sebagian entah kemana, aku mencoba mencari disetiap halaman apakah robekan nya terselip di sela-sela lembaran lainnya, tapi ternyata tidak ada.


Aku mengambil hpku untuk menghubungi Jina dan Feni, aku membuka kotak pesanku di whatsapp dan melihat pesan dari Feni.


"Dani, kamu harus hati-hati! Buku yang kamu pegang sekarang di incar oleh ibu Hani, entah mengapa dia mengetahui soal buku itu!"


Aku terkejut setelah membaca pesan dari Feni, aku membalas pesan nya dan menanyakan soal lembaran yang hilang di buku ini, tapi ternyata Feni tidak aktif.


Aku mencoba menghubungi Jina, tapi sama saja, dia juga tidak aktif, padahal ini sesuatu yang sangat penting dan mungkin mereka tau diamana letak lembaran itu.


Tapi aku mengesampingkan hal itu dulu, karena aku harus mencari sesuatu dibuku ini yang mungkin membantu kami mengetahui apa yang membuat Sam hilang setelah memegang buku ini.


Sampai pada dimana aku membuka lembaran yang membuat ku merinding! Dibagian lembaran ini terdapat sebuah lukisan seseorang menari ditengah gundukan mayat manusia, aku sangat ketakutan ketika melihat lukisan itu.


Saat aku melihat dibagian bawah lukisan itu, terdapat sebuah tulisan yang berbunyi


"Ooo Puakku! engkani tau ta andre napappesau i dekka sibawa lupu ta, nasaba iyana ritu! taalekka alampekang sunge sibawa akanjareng tappa"


Ini sangat-sangat gila, karena kalimat yang tertulis diatas berartikan.

__ADS_1


"Tuhanku! Ini dia manusia untuk anda makan, agar rasa haus dan lapar anda hilang, tapi! Berikan saya keabadian dan juga wajah yang rupawan"


Aku menenangkan diri sejenak, mengambil nafas, dan melanjutkan kembali. Aku berpikir kalau lukisan itu menggambarkan tumbal yang di berikan kepada "Tuhan" suku Bugis di zaman dahulu.


Kembali aku mengecek ulang kotak pesanku, tapi belum juga ada balasan dari Feni dan Jina. Aku membuka halaman selanjutnya dan menemukan sebuah gambar cincin.


Cincin itu memiliki tulisan lontara di setiap bagian sisinya, dengan sentuhan batu dibagian tengahnya. Aku tidak bisa mengkonfirmasi warna dari cincin itu, karena di lukisan, cincin itu tidak diwarnai seperti lukisan-lukisan sebelumnya. Cincin ini persis dengan yang didapatkan Jina didalam hutan Jompie.


Dibagian buku ini juga memiliki kalimat dibagian bawah lukisan.


"Iyaro maneng tau melo mala potto, nakenna i matu abala"


Yang berartikan


"Setiap orang yang ingin mengambil harta, maka mereka akan mendapatkan musibah"


Aku berkesimpulan bahwa, Sam mungkin telah mengambil salah satu harta yang ada di dalam hutan Jompie, dan hal inilah yang membuat Sam Menghilang.


Akupun sampai di bagian lembaran terakhir yang berartikan aku sudah membaca setiap bagian dari buku ini, aku lalu mengambil hpku ketiga kalinya untuk mengecek kotak pesan, tapi belum juga ada balasan dari kedua temanku.


Aku teringat, ternyata pakaian yang sudah aku cuci tadi belum aku angkat dari tali jemuran. Aku pergi kehalaman belakang dan mulai mengambil satu persatu pakaianku.


Aku menyelesaikan dulu memungut pakaian setelah itu aku berencana untuk masuk kedalam rumah itu, untuk mengecek benda berkilau tersebut. Aku melompati pagar kayu yang terlihat sudah rapuh dan usang.


Rumah ini katanya sudah sangat lama tidak berpenghuni, karena duluĀ anak dari pemilik rumah ini sakit keras kemudian meninggal dunia. Nama dari keluarga itu adalah keluarga Harman, hal inilah yang membuat keluarga itu meninggalkan rumah ini.


Setelah beberapa langkah, aku sampai di depan pintu dan memutar gagangnya, angin berhembus lembut menerpa wajahku, terasa hawa nya sudah sangat mencekam. Aku mulai menyalakan senter hpku dan menyinari ruangan tengah.


Perabotan yang ada disini ternyata juga masih ada, tapi karena sudah sangat lama rumah ini ditinggalkan! Seisi rumah menjadi sangat berdebu. Saat aku melihat-lihat isi rumah ini, tiba-tiba ada sesosok bayangan yang melintas dibagian ujung lorong.


Aku penasaran!, akupun maju ke ujung lorong untuk memeriksa apakah ada sesuatu disana, saat sudah mau sampai di ujung lorong, aku terkejut dengan dentuman petir yang sangat keras.


Tidak berselang lama rintitan hujan turun menimpa atap rumah, hujan membuat suasananya semakin mencekam, suara jangkrik sudah tidak terdengar lagi, cicak tidak mengeluarkan bunyi khasnya.


Aku sudah sampai diujung lorong dan mulai mengecek apa yang ada dibalik lorong, jantungku berdetak dengan sangat cepat dan!! Tidak ada apapun. Aku menengok ke kiri dan ke kanan, tapi tidak ada sesuatu disini.


Saat aku masih mengecek dibagian bawah, seketika ada suara keras yang berasal dari lantai atas. Itu seperti suara benda yang dijatuhkan kelantai, aku berputar menaiki tangga untuk menuju ke lantai atas.

__ADS_1


Dilantai atas suasananya terasa lebih mencekam lagi, suhu ruangan disini terasa seperti angin sejuk saat membuka kulkas, aku melihat ada 4 kamar dan satu ruangan kecil di samping kamar yang paling ujung.


Saat tadi melihat kilauan itu, aku rasa itu berasal dari kamar 3, tapi aku penasaran dengan isi setiap kamar, aku mulai memasuki satu persatu kamar yang ada.


Dikamar satu terdapat sebuah kasur untuk satu orang, mungkin saja ini kamar dari putra sulung keluarga ini. Aku melanjutkan membuka pintu kamar kedua, kamar ini berisikan satu kasur dan ada beberapa tempelan artis disetiap dindingnya, aku pikir ini mungkin kamar anak perempuan kedua dirumah ini.


Akupun sampai di kamar ketiga, saat membuka pintu kamar ini, aku mendengar ada suara anak kecil yang berasal dari kamar lima, dengan insting yang kuat aku langsung menengok kekiri, kearah kamar lima, ada suara yang meminta tolong.


"kak.... Tolong!! "


Dengan suara yang terdengar sangat lirih.


Aku maju perlahan mendekati pintu kamar itu, aku berdiri dengan perasaan yang sangat ketakutan, sampai aku merasa, berdiripun sepertinya sudah tidak sanggup.


Aku mengayunkan tangan ku ke gagang pintu dan bersiap membukanya, saat membuka pintu itu, ternyata didalam kamar terdapat sebuah foto yang sangat besar terpampang didinding kamar.


Foto itu berisikan, gambar setiap penghuni rumah ini, ada sang ayah pak Harman sang ibu yaitu ibu Suri, kakak sulung yaitu Fandi, anak kedua perempuan yaitu Bunga, dan si bungsu yaitu Wilda.


Saat aku sibuk melihat masing-masing anggota keluarga itu, aku merasakan ada seseorang yang menempatkan wajahnya diatas pundakku dan berkata.


"Kak, buku itu jahat! Kakak nanti mendapatkan nasib sial sepertiku, buku itu mendatangkan nasib buruk bagi siapa saja yang menyimpannya"


Saat mendengar suara itu, aku seketika berbalik! Tapi tidak ada siapapun dibelakang ku. Saat itu juga sekujur tubuhku merinding, aku bergegas kembali kekamar tiga dan mulai mencari benda berkilau yang aku lihat tadi.


Aku mencari kesetiap tempat yang ada diruangan ini, aku membongkar isi laci, lemari, bawah kasur, bawah karpet tapi tidak menemukan benda itu.


Aku juga sebenarnya tidak yakin benda berkilau apa itu, tapi mungkin saja benda itu terbuat dari kaca, perak, besi, ataupun emas.


Ternyata, benda berkilauan yang aku cari merupakan bosara yang terbuat dari perak, memiliki lapisan emas disetiap sisinya. Bosara merupakan tempat hidangan yang biasa dipakai saat acara penting dilakukan dalam adat suku Bugis.


Tapi bosara itu berada diatas lemari, aku harus mengambil kursi untuk menggapainya, saat aku mengulurkan tanganku keatas untuk mengambil bosara tersebut, tiba-tiba saja ada sesosok anak kecil yang duduk disebelah bosara itu.


Kaki ku seketika lemas, aku ingin berteriak tapi suaraku tidak bisa keluar, anak itu memiliki kulit pucat, rambut hitam panjang, dan sepertinya dia masih berumur 6 tahun.


Saat melihatku, dia mulai berbicara sesuatu.


"Kak! Kakak boleh mengambil benda ini, tapi kakak harus janji, kalau kakak menemukan orang yang telah membunuhku, jika kakak menemukannya!!, aku akan berterima kasih sama kakak, tapi kakak juga harus ingat! Ada sesuatu yang sangat mengerikan yang akan terjadi jika kakak mengambil benda ini"

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, anak itu menghilang entah kemana. Tanpa berlama-lama aku langsung mengambil bosara itu dan berlari keluar dari rumah ini.


Aku masuk kedalam kamarku dan mengunci pintu dengan baju yang basah dan nafas yang berat, tenaga ku sudah habis karena ketakutan, saat itu juga aku memutuskan untuk tidur agar hal tadi tidak mengganggu pikiranku untuk malam ini.


__ADS_2