
Kriiinggg....!! Kriiinggg....!!
Bunyi bel yang menandakan persekolahan akan segera dimulai. Hari ini adalah hari senin seperti biasanya, baris berbaris untuk upacara, belajar, istirahat lalu pulang. Tapi hari ini aku ingin bertemu dengan mereka bertiga terlebih dahulu. Ibu Hani, Feni dan juga Dani. Aku sampai bisa lupa tentang hal yang sangat penting tapi tidak pernah aku lirik sama sekali. Lokasi ritualnya!
"Fen, kita nanti ke ruangan Ibu Hani yah? Mungkin Ibu Hani tau soal lokasi tempat kita nanti melakukan ritual."
"Okey Jina, capcus"
"Ngomong-ngomong, kok Dani nggak ada yah? Aku pikir dia terlambat ikut upacara! Tapi sampai sekarang dia tidak masuk ke kelas"
"Iya nih, aku coba kok dari tadi chat dia, nelpon dia, tapi nggak diangkat"
"Ha....! Dari semalam dia nggak aktif, coba aku cek pesan yang aku kirim semalam. Hmmm.... Dia betulan nggak aktif sampai sekarang! Kira-kira dia kenapa yah? Atau kita cek aja nanti di kosnya? Siapa tau dia kenapa-napa"
"Iya aku setuju"
"Jina....!! Feni.....!! Kalian ribut dibelakang r?! Mau gantiin bapak di atas bercerita?!" Aduh! Kami ketahuan sedang bercerita dibelakang oleh guru kami, hingga kena tegur!.
"Tidak pak.... Maaf, kami nggak ribut lagi" Kataku untuk menenangkannya agar kami tidak dikeluarkan dari kelas.
Kriiinggg....!!
Jam istirahat pun tiba, kami berdua langsung menuju ke ruangan Ibu Hani untuk bertemu dengannya. Eitss, tapi aku berpikir kalau bagaimana kita isi perut dulu di kantin, supaya nanti kita bisa fokus. Jadi aku dan Feni belok dulu kekantin untuk makan.
******
"Assalamu'alaikum, permisi bu." Ruangan guru terlihat sepi, para guru mungkin sedang istirahat juga. Saat kami ingin kembali ke kelas, terdengar suara ibu Hani sedang berteriak dari arah belakang kami.
"Jina.... Feni....., sini masuk kedalam, ada yang perlu ibu sampaikan ke kalian berdua!" Ibu Hani menarik kami berdua menuju ke mejanya dengan menengok kebelakang, seakan-akan ada sesuatu rahasia yang ingin dia sampaikan.
"Kalian berdua, eh....! Dani mana?"
"Dari semalam whatsapp nya nggak aktif bu" Kataku
"Aku juga tadi udah kirim chat ke dia, tapi dia juga nggak aktif bu" Kata Feni menambahkan.
"Yasudah, nanti kalian tinggal sampaikan ke dia. Begini, ibu ketemu dengan ibu Nana kemarin. Dia manggil ibu kerumahnya untuk berbicara tentang kalian bertiga, ibu seketika kaget mendengar itu, karena ibu Nana kan Parakang yang sudah mengejar kalian waktu itu. Ibu juga yakin kok itu dia, soalnya luka goresan yang di dada Parakang itu sama dengan miliki ibu Nana!"
"Jadi, ibu pergi ke rumah ibu Nana?" Tanya Feni
"Tentu saja ibu harus pergi, mau tidak mau, karena ibu ingin memastikan tentang apa yang ingin dia bicarakan"
"Lalu apa yang ibu Nana sampaikan kepada Ibu?" Tanyaku penasaran.
"Ternyata, kita semua salah sangka. Ibu Nana bukan Parakangnya, pada saat dia memanggil Jina untuk bertemu, dia ingin menjelaskan ritual yang ada didalam buku itu. Tetapi sebelum kalian sempat bertemu, dia diserang oleh Parakang yang juga mengejar kalian. Kakinya terluka sangat parah karena dicakar di bagian betis dan juga pahanya. Karena hal itulah, dia tidak masuk ke sekolah selama seminggu. Yang membuat ibu semakin curiga kepadanya karena, alasan yang dia pakai untuk meminta izin ke kepala sekolah bahwa dia pulang kampung selama seminggu, yang ternyata itu dia lakukan untuk mengobati lukanya sekaligus mengambil jimat"
__ADS_1
"Berarti Parakang itu masih berkeliaran diluar sana?" Aku bertanya karena rasa cemas ku semakin bertambah, kami salah tebak. Jadi siapa sebenarnya Parakang itu?! Mengapa dia menyerang orang-orang yang ingin membantuku?!.
"Iya Jina, kalian harus berhati-hati. Pusaka yang ingin kalian cari tersisa berapa?"
"Tersisa dua, Baju Bodo dan juga Dupa" Kataku menjawab pertanyaan Ibu Hani.
"Ibu Nana memberitahu ibu tentang sebuah teka-teki mengenai lokasi tempat ritual suku Bugis di masa lampau, tempat mereka untuk menaruh persembahan dan juga tumbal manusia setelah runtuhnya kerajaan."
"Gimana bu petunjuknya?!" Lagi-lagi suara melengking milik Feni terdengar tepat disampingku.
"Kalian ingat saat pertama kali pergi ke gua tempat kalian mengambil Buku Pudara itu? Dan pohon besar tempat kalian mendapatkan Saloko itu?"
Kami berdua spontan menjawab bersamaan "Iya bu, kami ingat!"
"Kalian coba artikan satu persatu kata di sana dan cari maksud dibaliknya! Ibu tidak bisa menemani kalian untuk mencari petunjuk nya, tapi ibu akan memberikan kalian sebuah jimat yang perlu kalian pakai saat mencari petunjuk-petunjuk itu" Ibu Hani lalu mengeluarkan sebuah tanaman yang biasa orang Bugis menyebutnya panini' atau tanaman bangle.
"Panini' ini sudah ibu berikan mantra agar kalian tidak lagi di kejar oleh Parakang itu. Besok hari selasa, orang tua kalian ada dirumah?"
"Orang tua kami ada di luar kota saat ini tapi, ibuku...." Aku tiba-tiba teringat cerita ibuku yang mengatakan kalau putri I'Apaliaq memiliki seorang saudari.
"Kenapa Jina?" Tanya Feni sambil memegang pundakku. Aku lalu menatap matanya dan memberikan kode, kode yang membuatnya sadar tentang cerita yang aku sampaikan semalam kepadanya. Lalu Feni mengangguk
"Ada yang ingin aku beritahu kepada ibu, apa benar putri I'Apaliaq tidak memiliki saudara sama sekali?"
"Tidak, dia hanya anak tunggal dari pasangan raja Batara Guru dan juga Ratu I Nyiliq"
"Kamu? Kamu buyut dari putri I Lontara?" Ibu Hani lalu merendahkan badannya hingga sejajar dengan wajahku. Dia lalu mengusap rambutku dan mengatakan
"Ibu masih ingat saat itu, dia disembunyikan oleh I Timoq sebelum dia menyembunyikan anaknya terlebih dahulu. Putri I 'Apaliaq lalu memberitahuku kalau aku tidak boleh memberitahu siapapun kalau putri I Lontara masih hidup! Agar dia tidak dicari oleh Gayatri lalu memberikan mantra kutukan kepadanya. Aku pun mengikuti perkataan tuanku, aku bungkam selama beribu-ribu tahun setelahnya, bahkan saking inginnya ibu menutup mulut, ibu tidak mencari tau keberadaan putri I Lontara setelah kejadian itu, dan ternyata salah satu dari keturunannya berdiri di hadapanku saat ini" Ternyata benar, mungkinkah ini alasan bahwa aku bisa melihat kilas balik waktu itu? Seperti ibuku?.
"Ibuku juga mengatakan tentang keturunan ketujuh yang akan dijadikan tumbal persembahan oleh dewi Gayatri! Ibu tau soal itu?"
"Ha....!! Ibu sama sekali tidak tau soal itu, ibu hanya tau, tentang Feni yang ternyata adalah keturunan dari I Timoq yang berarti Sam juga begitu. Mungkin kah Sam diculik oleh Gayatri karena alasan seperti yang kamu bilang tadi?"
"Oke, jadi kita udah nemuin motif dan petunjuk untuk menemukan lokasi ritual nanti. Mungkin juga lokasi Baju Bodo dan Dupa yang kita cari-cari" Ucap Feni.
"Kalau begitu, kalian pulang dulu, besok hari selasa kan? Kalian bisa mengambil libur dulu, biar ibu yang urus surat izin kalian bertiga, kalian fokus mendapatkan setiap petunjuk yang ibu nana sampaikan tadi. Soalnya saat ini sudah mau masuk periode akhir semester dua, ibu sedang sibuk menginput nilai kalian"
"Kalau gitu kami berdua pergi dulu yah bu" Ucap Feni diteruskan mencium tangan ibu Hani, begitupun denganku.
*****
Kriiinggg.......!! Kriiinggg.......!! Kriiinggg........!!
Lonceng berbunyi sebanyak tiga kali, menandakan persekolahan sudah berakhir. Anak-anak berbondong-bondong mengambil motor dan mobilnya di parkiran, hari ini Feni membawa mobil ke sekolah buat jaga-jaga karena musim sedang tidak stabil, kadang hujan kadang panas.
__ADS_1
"Ayo Jina, kita singgah dulu di pohon itu terus cari kalimat yang kamu lihat hari itu, lalu cepat-cepat pergi. Kalau kita udah dapet fotonya kita terus ke kosannya Dani" Kami berdua pun menuju ke lokasi kami mengambil Saloko.
"Hari udah makin gelap nih, biasanya jalan disini memang udah sepi. Bahkan udah nggak ada lagi orang yang lewat" Ucap Feni sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
"Stop Fen!!" Kami sudah sampai di tempat kami menemukan Saloko. Aku lalu turun dari mobil dan mulai mencari kalimat yang aku lihat hari itu.
"Cepetan Jina, aku takut lama-lama disini" Aku berusaha mencari dimana tulisan itu berada, tapi aku tidak bisa menemukannya.
"Perasaan kemarin ada disini, kenapa tiba-tiba hilang yah?"
"Masa sih? Coba aku lihat" Feni turun dari mobil dan mencoba membantuku mencari dimana tulisan itu berada.
"Mana sih Jina, ini kok nggak ada yah?"
"Iya, perasaan kemarin ada kok disini Fen" Saat kami sibuk mencari, tiba-tiba mobil Feni berbunyi kencang
"Eh.....!! Mobilku kenapa?" Aku mulai merasa ada yang tidak beres terjadi. Aku mencari tulisan itu agar bisa dengan cepat pergi dari sini.
"Feni!! Kamu ke mobil dan cek apa itu"
"Ha....?! Kamu nyuruh aku ngecek?! Aku takut Jina"
"Jangan gitu Fen, kamu harus kesana dan coba buka pintu mobil, agar nanti setelah aku dapat tulisannya, kita bisa cepat-cepat pergi dari sini!"
"Yaudah deh, aku pergi buka dulu pintu mobil nya" Feni berlari ke arah mobil. Aku melanjutkan mencari dimana letak tulisan itu, tapi sama saja, aku tidak bisa mendapatkannya.
"Jina.......!!!!! " Itu suara teriakan Feni dari arah mobil "Parakang itu Jina....!!! Dia ada disini, kamu hati-hati!!! Aku lihat dia berlari ke arah belakang mobil menuju ke tempatmu"
Kondisinya sudah ricuh, Parakang itu muncul lagi. "Feni!! Cepat pakai jimat yang ibu Hani berikan" Aku dengan cepat memakai jimat panini' yang diberikan oleh ibu Hani.
Dengan kondisi panik, tiba-tiba saja ada suara geraman di belakang kepalaku. Aku dengan perlahan menoleh kebelakang, ternyata itu adalah Parakang yang sudah berdiri menghadap ke arah ku.
"Melo ko aga?!!"
(Kamu mau apa?) Tanyaku sambil berteriak ke arahnya, aku sudah muak diikuti terus oleh makhluk ini. Tapi dia hanya berdiri disitu. Menatapku lalu menatap ke arah mobilnya Feni.
Dengan cepat tanpa aku sadari, dia berlari dengan cepat kearah mobil Feni. "Feni....!!! Tutup pintu mobilmu cepat!"
"Tapi kamu gimana Jina?!!!"
"Tutup aja cepat Fen....!!!" Feni menutup dengan cepat pintu mobil sebelum Parakang itu sampai di sana. Aku melihat dia mencakar mobil milik Feni dari berbagai arah. Tulisan itu sebenarnya dimana?! Kenapa disaat begini kamu tidak muncul?!.
Disitu kamu rupanya!. Entah mengapa tulisan itu berpindah ke tengah-tengah lubang pohon ini. Aku langsung bergegas mengambil foto dan berlari ke arah mobil!
Saat aku sampai, Parakang itu sudah tidak ada disana. "Ha, ha, huuu...."
__ADS_1
"Kamu udah dapet fotonya?"
"Udah, ayo cepat kita ke kosannya Dani"