
Setelah berlalu dari rumah wanita itu. Edgar tidak langsung pulang, ia menemui sahabatnya. Tak lama sampailah di sebuah rumah mewah.
Tuk...tuk...tuk..
"Eh ban*sat, tumben lo ke rumah gue? Ada angin apa yang mengundang lo ke sini?"ledek Ridwan.
"Gue lagi butuh kawan buat luapin semua kekesalan dalam diri gue,"sahut Edgar dengan raut wajah ditekuk.
"Eh, lo kenapa? Ayo masuk dulu, nanti gue bikinin kopi, biar hati lo sedikit fresh."
Edgar pun memasuki rumah Ridwan dan duduk disebuah sofa. Ridwan memanggil asisten rumah tangganya. Dengan sigap seorang gadis berjalan so sexy menggunakan baju yang terbuka melihatkan lekukan dadanya lalu menghampiri Ridwan.
"Iya tuan, anda memanggil saya?"tanya gadis itu.
"Iya, tolong buatkan kopi!" perintah Ridwan.
"Baik tuan," gadis itu mengangguk dengan so imut dan berlalu pergi menuju dapur.
Edgar yang seketika melihat asisten itu melongo tak percaya.
__ADS_1
"Buset dah, itu asisten rumah tangga atau gebetan lo?"tanya Edgar tidak percaya.
Ridwan yang mendengar pertanyaan Edgar seketika tertawa.
"Ya asisten gua lah, namanya Selina, kenapa? Sexy kan? Bohay dia, niatnya mau gue tidurin tuh cewek. Body nya bagaikan gitar spanyol ditambah lekukan dada itu big sekali," sahutnya sebari membayangkan.
"Dasar penjahat kelamin lo, asisten saja lo embat,"dengus Edgar.
Mereka pun tertawa. Inilah alasan kenapa Edgar jika ada masalah selalu menemui sahabatnya karena selain membahas urusan sekolah, sahabatnya juga mampu jadi pereda ketenangan hati Edgar. Tak berapa lama Selina kembali membawa dua gelas kopi dan beberapa cemilan. Ia meletakkannya dengan hati-hati. Setelah itu mengedipkan mata jenaka pada Ridwan dan berlalu meninggalkan Ridwan dan Edgar.
"Idih, asisten lo genit!"
"Otak lo harus dicuci biar gak mesum,"
"Terserah gue dong. Eh iya, lo kenapa si? Kok gue lihat gak kayak biasanya? lo lagi ada masalah?"
"Iya gue lagi ada masalah sama Salsa, makanya gue ke sini." Keluhnya.
"Lo kenapa sama Salsa? bukannya selama ini hubungan kalian itu baik-baik saja?"tanya Ridwan heran.
__ADS_1
"Gue lagi berantem sama Salsa dan lo tahu siapa penyebabnya?"
"Siapa? Mana gue tahu, orang lo saja belum cerita," ujarnya.
"Gara-gara wanita j*lang itu!" dengus Edgar geram.
"Maksud lo Sonia?"
"Ya, siapa lagi,"
Edgar bercerita panjang kali lebar pada Ridwan. Ia menceritakan dari awal kejadian sampai hari ini. Ridwan yang mendengarnya pun ikut geram. Ia bakalan berusaha membantu temannya untuk menyelesaikan masalahnya.
***
Sementara Salsa sudah diperbolehkan untuk pulang. Ia tak berhenti menangis mengingat masalahnya dengan Edgar. Hatinya begitu rapuh bahkan mungkin sudah menjadi kepingan debu. Kedua orang tuanya tak kuasa melihat kondisi anaknya yang selama ini di kenal anak cerewet, ceria, tapi hari ini seolah-olah sifatnya itu hilang begitu saja. Apalagi dengan pak Romi, dia tidak bisa menahan emosinya dan terus berpikiran ingin menghajar pria yang sudah berani menyakiti hati anaknya.
Tiada hari tanpa menangis itulah yang saat ini Salsa alami. Ia bahkan tidak pernah berbicara dengan siapapun dan hanya mengurung diri di dalam kamar, hanya ada isak tangis yang tersisa.
Setiap hari ketiga sahabatnya selalu menjenguk Salsa ke rumahnya dan menemani Salsa, sesekali mengajaknya berbicara tetapi Salsa sama sekali tidak merespons apapun. Jika ia berhenti menangis itu juga tergantikan oleh lamunan.
__ADS_1
Pak Romi tak tahan dengan semua ini, ia tidak ingin anak gadisnya terus seperti ini. Ia berniat untuk membawa Salsa ke luar kota dititipkan di rumah pamannya. Mungkin dengan begini kondisi Salsa bisa jauh lebih baik lagi dan memulai kehidupan barunya.