
"Aduh gusti, ada apa ini pak?" tanya Ridwan.
Namun pak Romi hanya terdiam terfokus menatap ke ambang pintu kamar Davin. Sementara itu, Davin di ambil alih oleh bu Meila.
Semua orang yang berada di sana melihat ke arah yang sama namun sama sekali tidak melihat apapun.
To-tolongg saya .... ujar makhluk tak kasat mata itu.
"Ada apa anda kemari dan mengganggu ketenangan keluarga saya?" tanya pak Romi dengan nada sedikit menekan.
Salsa kini sudah memeluk Edgar dengan erat, begitupun Lia, Vini dan Hazrina tengah berpelukan. Ridwan, pria yang saat ini tubuhnya gemetaran namun diberi ketenangan dengan pelukan yang tak di sadari oleh Sri dan Susi.
Ahh ... Lo setan ada manfaatnya juga, gue dapat pelukan gratis dari wanita sexy. Gumam Ridwan dalam hati.
Saya hanya membutuhkan anak itu .... Ungkapnya.
"Alam anda sudah berbeda jadi jangan sekali-kali anda mengganggu anak saya!" sahut pak Romi menekan setiap ucapannya.
"Pergilah sebelum saya membacakan ayat suci Al-Qur'an untuk melenyapkanmu!"
Seketika makhluk itu hilang. Pak Romi kembali mengusap wajahnya sedangkan Davin kini tertidur di gendongan ibunya. Bu Meila berlalu menuju kamarnya untuk menemani Davin tidur.
Pak Romi tiba-tiba memegangi dadanya yang terasa sakit. Salsa melepaskan pelukannya pada Edgar, beranjak mendekati pak Romi lalu menahan tubuh pak Romi. Edgar membantu Salsa mengiring pak Romi untuk duduk bersandar di kursi.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Salsa dengan nada khawatir.
"Ba-bapak baik-baik saja nak," ungkap pak Romi dengan terus memegangi dadanya.
"Syukurlah, sebaiknya bapak segera tidur!" sahut Edgar.
Edgar kembali membantu pak Romi untuk berdiri. Matanya melirik ke arah Ridwan yang tengah menikmati pelukan dari kedua singa betina.
"Curut lo diam mulu, bantu gue!" pekik Edgar.
Ridwan tersadar dari kenyamanannya lalu melepaskan pelukan kedua wanita itu berlalu membantu Edgar membawa pak Romi ke kamarnya.
Salsa tengah terduduk di kursi diikuti oleh Vini, Lia dan Hazrina. Sementara Sri dan Susi ikut duduk juga namun di kursi yang berbeda.
__ADS_1
Vini meraih lengan Salsa lalu melingkarkan tangannya pada lengan itu begitupun Hazrina dan Lia.
"Sa, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Vini dengan tatapan penuh penasaran.
"Sekarang hari sudah mulai gelap jadi, ceritanya besok saja ya," ujar Salsa karena ia merasa waktunya tidak memungkinkan untuk bercerita.
"Yahhh ...." Ketiga sahabatnya menghela nafas, padahal mereka sangat penasaran sekali dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Edgar dan Ridwan datang menghampiri para ciwi manis yang tengah berkumpul. Ridwan mulutnya menguap lalu saat mengambil nafas, ia mencium bau yang tak biasa.
"Hei ciwi, kok gue berasa hidung gue ini mencium bau tak sedap," ungkapnya.
Para wanita itu seketika saling menjerit dan saling berpelukan erat satu sama lain. Begitupun Sri tanpa sadar berpelukan dengan Susi.
"Aciiee ... akur nih!" ledek Ridwan berhasil membuat dua singa betina itu saling melepaskan pelukan dan memalingkan wajah masing-masing.
"Tapi gue ini serius, kok bau begini ya," ungkap Ridwan kembali mengingatkan bau yang menyengat di hidungnya.
"Benar gue juga mencium bau itu," ungkap Edgar mencium bau yang sama seperti yang dikatakan oleh Ridwan.
"Astaga gusti ... oh my!" teriak Hazrina menepuk jidat dengan sebelah tangannya.
"Kenapa Hazrin?" tanya Vini.
"Maaf, aku lupa ikannya tadi masih di panggangan mungkin sekarang warnanya jadi hitam," ungkap Hazrina menundukkan kepala merasa bersalah karena melupakan ikan yang tengah terpanggang di atas arang.
Sri dan Susi beranjak keluar diikuti oleh semua orang yang ada disana. Melihat ikan panggang yang sudah gosong berwarna hitam pekat dan sedikit lagi mungkin menjadi abu.
Sri mengangkat ikan itu, asap yang menimbulkan bau gosong.
"Sungguh ikan yang malang," ujar Ridwan menggelengkan kepala.
"Aku minta maaf, aku lupa," sahut Hazrina masih menundukkan kepalanya.
"Sudahlah tidak apa-apa Haz, kita juga tadi kan sedang panik jadi mana ingat tentang ikan bakar," sahut Salsa memegang kedua bahu Hazrina.
Hazrina mendongkakkan dagunya menatap ke arah Salsa lalu tersenyum.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, kita masih punya satu ikan," sahut Edgar mendapat tatapan sumeringah dari semua temannya.
"Wah benarkah?" tanya Ridwan membentuk senyuman sumeringah karena perutnya sedari tadi sudah keroncongan.
"Serius gue punya, sebentar gue ambil dulu ikannya," sahut Edgar berlalu memasuki rumah Salsa mengambil sesuatu.
Setelah cukup lama mengambil sesuatu akhirnya Edgar kembali dengan membawa sesuatu di belakang tubuhnya.
"Mana Ed ikannya biar aku panggang sekarang, kasihan yang lain sudah pada kelaparan," sahut Salsa mendekati Edgar.
Edgar tertawa melihat reaksi semua orang yang berada di sana, masih dengan menyembunyikan sesuatu dibelakangnya.
"Cepetan cunguk! gue sudah lapar, lo gak dengar perut gue keroncongan," pekik Ridwan.
Edgar malah tertawa terpingkal-pingkal membuat semua orang yang ada disana menatapnya dengan heran dan bingung.
"Edgar mana sini biar aku panggang ikannya!" ketus Salsa semakin geram karena Edgar malah tertawa.
"Diamlah honey, nanti aku cium kalau kau masih berbicara!" ancam Edgar dengan senyum menyeringai.
Kini Ridwan geram berusaha mengambil sesuatu yang ada di tangan Edgar. Mereka saling berpelukan antara berusaha mengambil dan mempertahankan.
"Cunguk lihat sana, Salsa lo gak pake baju," ujar Ridwan berhasil membuat Edgar lengah menatap ke arah Salsa.
Dan yeay ... Ridwan berhasil mengambil sesuatu di tangan Edgar. Seketika Ridwan mengangkat sesuatu yang berada di tangannya.
Edgar yang menyadari sesuatu itu telah hilang dari genggamannya seketika melihat ke arah Ridwan yang memperlihatkan milik Edgar yang tadi disembunyikannya.
"Buaahahahaha ...." Edgar tertawa terpingkal-pingkal namun ia tidak menyadari kini dirinya mendapat sorotan tajam dari semua orang yang berada di sana.
"Si cunguk, ikan mainan!" dengus Ridwan menekan ikan mainan itu hingga menimbulkan bunyi ngek ... ngok.
Edgar masih terus tertawa melihat reaksi Ridwan lalu Edgar melihat ke semua orang disana yang menatapnya dengan tajam begitu juga tatapan kekasihnya itu begitu menusuk.
"Sorry, gue hanya bercanda hehehe ...."
Kini Edgar tersenyum canggung, masih mendapat tatapan begitu mengerikan.
__ADS_1
"Tidak lucu!" pekik semua orang yang ada disana secara bersamaan.