Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Sri dan Ridwan


__ADS_3

Setelah berpelukan cukup lama, Malam pun semakin larut. Salsa dan Edgar bergegas pulang. Hingga satu jam kemudian mereka berdua sampai di rumah Salsa. Edgar memeluk Salsa sesaat lalu mencium wajah Salsa tanpa ampun. Salsa hanya diam dan tersenyum karena malam ini malam yang paling istimewa dalam hidupnya.


Setelah Edgar berpamitan pulang, Salsa pun berlalu dan memasuki rumahnya. Rumahnya tampak sepi, mungkin Zia dan bi Lia sudah terlelap tidur.


Salsa pun melangkahkan kaki sangat pelan-pelan, ia mengendap-endap seperti maling di rumahnya. Sampai di kamar, ia langsung mengambil handuk dan mandi. Tubuhnya terasa lengket karena seharian, ia bekerja lalu bertemu dengan kekasihnya.


***


Edgar telah sampai di rumahnya, di teras depan sudah ada seorang perempuan berpakaian minim menghampiri Edgar.


"Kamu sudah pulang kak? Sini biar aku bantu bawakan," sahut wanita itu meraih tas yang di bawa Edgar.


"Tak perlu, gue bisa sendiri," sahutnya cuek berlalu memasuki rumah.


"Kak?" Panggilnya.


"EDGAR IH!"


Seketika Edgar membalikkan tubuhnya, menatap tajam wanita di hadapannya.


"Asal lo tahu, JANGAN PERNAH BERANI MEMANGGIL NAMA GUE DENGAN NADA TINGGI! Ngerti lo!" Sahut Edgar emosi.


"Ma,maaf," wanita itu seketika menciut dan menundukkan wajahnya, tidak berani menatap ke arah Edgar.


"Dan satu lagi, lebih baik lo cepat pergi dari sini! Yang harus lo ingat, gue sudah punya pacar dan sebentar lagi gue akan menikah. Jadi mau lo berpakaian kaya gini sekalipun, gue gak akan tergoda karena berlian gue lebih menarik di banding lo! Ingat itu!" Sahut Edgar memaki wanita di hadapannya.


Seketika cairan bening itu keluar dari persembunyiannya. Wanita itu menangis dan berlalu dari hadapan Edgar.


"Kamu jahat!"


Edgar cuek saja, itulah kebiasaannya tidak suka dengan wanita yang terlalu antusias dan terbuka dalam mendapatkan hatinya. Ia akan seperti burung pelatuk yang siap mematuk siapapun yang berani mengusik kenyamanan hidupnya.


Wanita itu menangis tersedu-sedu, ia menggerutu memaki-maki Edgar. Tapi bagaimana pun tidak ada kata menyerah dalam hidupnya. Seketika ia teringat temannya, lalu menyalakan ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Hallo Vin, hiks hiks..."


"Kamu kenapa? Kamu nangis?"


"A,aku mau ke rumah kamu sekarang juga,"


"Tapi ini kan sudah larut malam, apa tidak besok saja?"


"Aku mau sekarang ke sana, kamu kirim lokasi rumahmu di watshap ya!"


"Ya sudah baiklah, kalau begitu kamu hati-hati ya!"

__ADS_1


"Iya."


Seketika wanita itu menutup telponnya lalu bersiap-siap membereskan semua pakaiannya. Entah pakaian siapa itu, ia membawanya saja semua pakaian yang ada di lemari itu daripada tidak punya pakaian ganti.wkwk.


Pesan masuk dari watshap pun muncul lalu wanita itu membukanya dan melihat lokasi yang dikirimkan oleh temannya. Setelah selesai semua, ia langsung bergegas mengendap-endap keluar dari rumah itu.


Beberapa jam kemudian tidak ada kendaraan yang lewat sama sekali. Mungkin karena sudah larut malam. Namun saat beberapa menit terdengar suara klakson mobil, Wanita itu melihat ke arah mobil yang melaju menghampiri dirinya yang tengah berdiri di pinggir jalan dengan membawa satu koper besar.


"Woy, sekretaris lo mau kemana?"


Iissshh sialan! Kenapa harus bertemu lagi dengan bos rese ini si! Gumamnya dalam hati.


Wanita itu hanya tersenyum paksa.


"Lo di usir dari rumah?"


"Siapa juga yang di usir, aku cuma mau pindah rumah kok."


"Buuuaaahhahaahaha... malam-malam gini mau pindah rumah, mimpi lo ya?"


"Ihh kamu kenapa ketawa si?" Sahutnya jengkel menghentakkan kakinya.


Pria itu turun dari mobil dan menghampiri wanita itu lalu mengambil koper dimasukkan dalam bagasi mobilnya.


"Ayo mending ikut gue, disini bahaya tempatnya sepi!"


"Lo mau di culik sama penjahat terus lo do pe*kosa?"


"Gak mau!"


"Ya sudah makanya ayo ikut gue! Kalau sama gue lo pasti aman," sahutnya tersenyum mengelus pipi wanita itu.


Seketika jantungnya berdebar kencang, sentuhan itu yang selalu ia rasakan saat bersama kekasihnya dulu. Ia hanya membalas dengan anggukkan dan berlalu memasuki mobil bos nya.


Sepanjang perjalanan pria itu terus mengoceh, dan hanya di balas dengan sebuah senyuman. Hingga akhirnya ia terlelap tidur. Pria itu menatap ke arah wanita dihadapannya.


Cantik juga, sexy, boleh gue coba. Gumamnya dalam hati mengukir seringai senyum di wajahnya.


Tak berapa lama, ponsel wanita itu berdering. Tapi ia masih tidak bergeming sepertinya tidurnya sangat pulas. Pria itu mengambil ponsel yang ada di pinggir wanita itu lalu saat dinyalakan muncul foto layar depan wanita itu dengan seorang pria.


Ahhh sial rupanya dia sudah punya kekasih!


Wanita itu terbangun dan melihat ponselnya ada di tangan pria itu.


"Pak Ridwan ngapain buka ponsel saya?"

__ADS_1


"Sorry, gue gak sengaja. Itu tadi ada yang nelpon ke nomor lo."


"Oh begitu,"


Ia teringat tadi dirinya menelpon Vini untuk pergi ke rumahnya. Pasti Vini sedang menunggunya saat ini. Ia langsung kembali menelpon Vini.


"Hallo Vin, ah iya maaf aku tidak jadi kesana, oke oke, iya aku tidak apa-apa kok, siap terimakasih ya, iya aku tutup telponnya, bye."


Hanya itu yang terdengar oleh Ridwan.


"Siapa Sri? pacar lo?"


Seketika Sri tertawa. " Apaan si,mana mungkin pacar aku."


"Ko ketawa si? ya bisa saja itu pacar lo."


"Bukan, dia itu temanku waktu aku masih sekolah dulu. Lagi pula aku gak punya pacar kok." sahutnya tersenyum berusaha menutupi kesedihannya.


Lah terus yang tadi gue lihat di ponselnya itu siapa? kakaknya atau bokapnya ya? tapi kalau bokap gak mungkin si, sepertinya pria itu masih seumuran gue. Gumamnya dalam hati berusaha menebak.


"Terus yang tadi gue lihat di ponsel lo itu siapa? kakak lo atau bokap lo?"


"Ah ini ya, ini pacar aku,"


"Lah katanya tadi gak punya pacar?"


"Iya, karena dia sudah tenang di alam sana." lirihnya mulai terdengar suara orang yang sesang bersedih.


Seketika mobil yang dilajukannya terhenti, Ridwan menatap ke arah Sri. Ia terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Sri.


"Maksud lo, pacar lo udah meninggal?"


Sri hanya membalas dengan anggukan seketika, air mata yang sudah membendung itu jatuh begitu saja. Ridwan merasa kasihan melihatnya, Entah mengapa hatinya begitu sakit melihat wanita ini menangis. Ridwan pun mengusap pipi Sri, sementara Sri menangis lalu seketika memeluk Ridwan. Rasanya begitu nyaman dan tenang. Ridwan pun membalas pelukan Sri.


Perasaan apa yang ada di hati Ridwan dan Sri?


Mengapa keduanya saling merasakan hal yang sama?


****


ahh ciee.. Kayaknya lupa sama ego masing-masing. Pelukan dalam mobil lagi... Yes Edgar sudah ada di tahap satu untuk memiliki Salsa. Lalu apa Ridwan akan menyusul? Kita lihat saja nanti tetap stay ya Happy reading.


Jangan lupa Like, Komen, vote dan jadikan favorit, yu gabung grup chat juga😍


Oh iya bantu dukung juga novel kedua SUAMI MANJA ARDELLA😁 Tentang perjodohan, di novel ini banyak adegan 18+++ nya jdi untuk yang belum cukup usia jangan terlalu serius membaca ya😂 Yuu mampir coba baca siapa tahu suka.

__ADS_1



__ADS_2