
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya sampai juga di sebuah taman indah dan luas di kota X.
Taman yang tertata rapi dengan jejeran bunga bermekaran. Air mancur yang menjulang tinggi serta kupu-kupu berterbangan, membuat suasana semakin indah.
Edgar menggenggam tangan Salsa dengan erat, ia berlari kecil menarik tangan Salsa. Sementara Salsa tersenyum bahagia melihat kekasih yang selalu membahagiakannya setiap waktu.
Tibalah mereka di salah satu taman yang tidak terlalu ramai. Salsa duduk di salah satu kursi santai sementara Edgar meminta ijin ke belakang terlebih dahulu.
Sepuluh menit berlalu, suara air mancur, kicauan burung dilengkapi beberapa kupu-kupu yang saling berterbangan menambah suasana begitu menyejukkan hati. Hingga terdengarlah suara dentingan gitar, seseorang bernyanyi di belakang tubuh Salsa.
Tapi siapa? suara yang tak asing saat mendengarnya.
Salsa membalikkan tubuhnya melihat seorang pria bertubuh tinggi, kulit putih dibalut dengan kemeja putih sedang mendentingkan gitar dan bernyanyi dengan suara merdunya.
🎶Waktu pertama kali ku lihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak ku sangka
🎶Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
🎶Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
🎶Hari hari berganti kini cinta pun hadir
Melihatmu memandangmu bagaikan bidadari
Lentik indah matamu manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat
🎶Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
🎶Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
__ADS_1
Tulus padamu
***
Flasback on
Ya saat itu Edgar tengah memesan sebuah gitar baru. Tepatnya di hari minggu ini ia akan mempersembahkan sebuah lagu untuk kekasih hatinya.
Namun saat Edgar tiba di taman, pengantar gitar itu tak kunjung datang hingga akhirnya ia harus menunggu beberapa menit. Tak berapa lama datanglah seorang pria tinggi, bertubuh kekar dengan otot-otot yang mengeras membawa sebuah gitar lalu memberikannya pada Edgar.
Edgar tersenyum, ia berharap semoga Salsa senang menerima hadiahnya ini. Ia juga sudah menyuruh seseorang untuk mempersiapkan kejutan lainnya.
Flasback off
***
Setiap dentingan gitar dipadu dengan suara merdu milik Edgar. Betapa bahagianya wanita yang baru saja menginjak usia 18 tahun itu.
Tepat hari Minggu, 21 september tahun X hari ulang tahun Salsa yang ke-18. Ulang tahunnya kali ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Namun berbedanya itu dalam hal lain, karena setiap tahunnya memang selalh merayakan dengan orang yang sama. Akan tetapi di tahun ini, ia mendapatkan kebahagiaan saat Edgar melamarnya lalu sekarang memberi kejutan seperti ini.
Seketika Salsa menitikkan air mata dengan mengukir senyuman menunjukkan bahwa wanita muda ini sedang dilanda kebahagiaan. Saat Edgar selesai bernyanyi, Salsa beranjak berdiri menghampiri kekasihnya lalu memeluk tubuhnya.
"Terimakasih untuk semua ini Ed," lirihnya.
Edgar pun mengeratkan pelukannya, mengelus-ngelus punggung kekasihnya.
"Sama-sama honey, sudah jangan menangis nanti hidungmu merah seperti badut itu," ledeknya menunjuk pada salah satu badut di taman yang sedang menghibur beberapa anak kecil.
"Iiisshh Edgar, aku serius. Terimakasih dan terimakasih, aku sangat bahagia hari ini."
Salsa melepaskan pelukannya, ia berlari sebari menjulurkan lidah meledek kekasihnya. Edgar pun berusaha mengejar sampai Salsa terperangkap kembali dalam pelukannya. Ia menggelitik tubuh Salsa hingga wanita itu tergelak tertawa.
"Sudah Ed, hentikan, geli tahu!"
Namun Edgar tetap menggelitik tubuh Salsa.
"Edgar ih, aku geli hentikan sayang... hehe, aduh sakit."
Saat itu Edgar menghentikan aksinya saat Salsa mengatakan kesakitan. Mimik wajah yang semula sumeringah berubah menjadi panik dan khawatir. Edgar menarik tubuh Salsa dan tangannya memegangi bahu wanita di hadapannya.
"Apa yang sakit honey? Ahh maafkan aku honey,"sahutnya dengan panik.
Sementara Salsa hanya menahan tawa melihat kepanikan kekasihnya. Hingga tak tahan lagi akhirnya ia tertawa terpingkal-pingkal.
"Honey kenapa kau malah tertawa, apa ada yang lucu?" Tanya Edgar menyerngitkan dahinya.
"Tapi bohong, aku tidak apa-apa Ed."
"Isshh dasar kau ini, kalau sudah jadi istri tak ada kata ampun bagimu, aku akan melahapmu malam ini!" ancam Edgar.
"Aku gak takut, wleee...." sahutnya meledek.
Tak berapa lama Edgar langsung melahap bibir mungil itu sementara Salsa membelalakkan matanya saat benda kenyal itu mendarat di bibirnya. Nafas yang kian memburu, sentuhan yang begitu lembut dan meng*airahkan. Tiba-tiba,
"Permisi tuan," sahut seorang pria yang berdiri tepat di belakang tubuh Edgar.
__ADS_1
Issshhh, orang ini mengganggu saja! Gumam Edgar mendengus kesal.
Pagutan yang semakin dalam itu seketika terhenti saat seorang pria menggangu kegiatan kedua pasangan ini. Edgar dengan kesal membalikkan tubuhnya menatap tajam ke arah pria yang sekarang ada dihadapannya.
Pria itu menoleh dan melihat sorot mata tajam Edgar seperti yang telah siap menerkam mangsanya. Pria itu kembali menundukkan pandangannya, bergidik takut.
"Mohon maaf tuan, setelah ini saya akan menyikat semua kamar mandi yang ada di rumah tuan,"
Hah apa-apaan maksud pria ini? Menyikat semua kamar mandi, memang tidak ada pekerjaan lain? Gumam Salsa dalam hatinya.
"Baiklah lakukan tugasmu, ada apa kau kemari?"
"Maaf tuan semuanya sudah siap,"
"Kerja yang bagus, aku akan segera ke sana."
Lalu Edgar menarik tangan Salsa. Salsa hanya melamun tidak mengerti dengan percakapan kedua orang ini. Langkahnya terus mengikuti Edgar. Namun tepat di bawah pohon besar di pinggir taman itu, Salsa di suruh menunggu karena Edgar akan membelikannya sebuah es krim.
Namun, tiba-tiba saja dari belakang tubuhnya ada seseorang yang menutup matanya dengan sebuah kain. Awalnya Salsa biasa saja, pasti kekasihnya itu sedang mengerjainya namun lama-kelamaan saat ia memegang sebuah tangan yang berbeda bukan tangan kekasihnya. Jujur saja, saat ini ia benar-benar sangat ketakutan. Ia memberontak namun tenaganya tak sebanding dengan pria yang mencengkram bahunya dengan kuat.
Takut dan sangat takut, ia terisak menangis sebari terus memanggil nama Edgar. Tapi Edgar tak kunjung datang untuk menyelamatkannya. Pria di belakang tubuhnya itu mencengkram kedua tangan Salsa menariknya ke belakang lalu memaksa Salsa dan mendorong tubuhnya ke depan untuk berjalan.
Saat itu tepat di sekitaran air mancur, banyak orang yang berkerumun. Salsa mendengar lalu meminta tolong. Namun nihil, sepertinya tidak ada yang mau menolongnya. Lelehan air mata membasahi penutup kain tebal itu.
Tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh seorang pria. Ia berdiri mematung tetapi kedua tangannya masih di cengkram kuat, merasakan kesakitan yang cukup pedih di kedua lengan tangannya.
Anehnya, ia merasakan ada seseorang yang berdiri dihadapannya. Tempatnya juga begitu sepi, tidak seramai tadi. Sekarang ketakutannya semakin bertambah, pikirannya jauh entah kemana, ia takut sesuatu yang menyeramkan terjadi padanya. Ia terus menangis hingga isakan tangis itu terdengar nyaring.
Saat penutup mata itu dibuka dan cengkraman tangan itu mulai terlepas. Betapa terkejutnya ia melihat pria di hadapannya lalu langsung memeluknya menumpahkan air matanya di dada bidang milik pria itu. Tempat ternyaman dari semua tempat yang pernah ia singgahi.
"Kamu jahat banget Ed!" Lirihnya sebari memukul-mukul dada bidang Edgar.
"Sudah honey jangan menangis, maafkan aku." Sahutnya.
"Kamu tega banget sama aku, hiks hiks...."
"Happy Brithday honey, i love you so much."
"Edgar terimakasih, aku sangat bahagia, aku menyayangimu!"
"Iya honey sama-sama, sudah jangan menangis. Mari kita tiup lilin," sahutnya tersenyum menciumi wajah kekasihnya.
"Hey, disini aku yang ulang tahun, berarti aku yang akan meniupnya!"
"Ah, kan jika kau ulang tahun berarti hari ini pun aku ulang tahun."
"Mana bisa begitu?"
"Tentu bisa, aku akan melamarmu di depan kedua orang tuamu," sahutnya tersenyum memandangi wajah kekasihnya.
Salsa pun kembali menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Edgar. Semua orang yang berada di taman itu seketika riuh bertepuk tangan. Edgar melepaskan pelukannya lalu menarik lengan Salsa menuju sebuah meja yang tertata rapi dan indah dibalut dengan hamparan bunga mawar merah di atasnya dengan kue berbentuk love.
Ia mengucapkan satu permintaan dalam hatinya.
Kamu adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Kamu anugerah terindah yang tuhan berikan untukku, melengkapi dan menutupi semua kekuranganku. Aku hanya meminta satu permitaan, semoga kamu dan aku tetap menjadi satu untuk selamanya.
__ADS_1
Satu tiupan menghempas api yang menyala di lilin itu. Semua orang yang berada di sana kembali bertepuk tangan.