
Edgar berulang kali memastikan melirik ke arah Sri namun tetap disana tidak ada siapapun yang dimaksud oleh Davin. Edgar memandang Davin lalu menatap lekat ke arah anak itu yang sedikit terlihat pucat.
"De, apa kamu baik-baik saja?" tanya Edgar.
"Davin, tidak apa-apa kak tapi Davin takut," ungkapnya kembali menyembunyikan wajahnya di pundak Edgar.
"Jangan takut Davin sayang disini ada om Edgar dan masih banyak kakak lainnya," sahut Edgar mengelus rambut kepala Davin.
Sementara Salsa yang tengah menyiapkan perlengkapan untuk acara makan bersama dibantu oleh Vini, Lia, Hazrina dan Susi. Sementara Sri hanya terduduk di kursi mengamati kelima perempuan yang tengah sibuk itu.
Edgar masih heran maksud Davin siapa? Ia mendekati Salsa sementara Davin berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Honey, apa kau begitu sibuk?" tanya Edgar memeluk tubuh Salsa dari belakang.
"Jangan begini Ed, malu dilihatin orang. Kenapa denganmu? Apa kau merindukanku?" tanya Salsa sebari berusaha melepaskan tangan Edgar yang melingkar di pinggangnya.
"Biarkan saja honey, sebentar lagi kita akan segera menikah."
Salsa hanya tersenyum masih tidak menyangka sebentar lagi dirinya akan segera menikah. Salsa tersipu malu saat Edgar membenamkan wajahnya di pundak Salsa, terpaan hembusan nafas yang menyentuh kulit membuat Salsa merasakan sesuatu yang berbeda.
"Ed, sudahlah hentikan aku geli!"ungkapnya.
"Oh iya honey, aku mau bertanya padamu," sahut Edgar terdengar mulai serius.
Salsa menghentikan aktivitasnya yang sedang memotong sayuran.
"Tentang?"
" Ini tentang Davin, honey," ungkap Edgar membuat Salsa berbalik menghadap Edgar, mendongkakkan wajahnya supaya bisa melihat sorot mata keseriusan itu.
"Memang ada apa dengan Davin?" tanya Salsa tak kalah serius.
"Tadi dia memelukku terus aku menggendongnya dan setelah itu dia malah menyenmbunyikan wajahnya di balik pundakku. Aku bertanya padanya karena aku merasakan ada yang aneh pada Davin," ujarnya serius mencari tahu pada Salsa.
"Memangnya Davin kenapa Ed? Apa sekarang dia baik-baik saja?" tanya Salsa meminta penjelasan pada Edgar.
"Tadi Davin mengatakan ada seseorang di belakang Sri tapi saat aku lihat tidak ada siapa-siapa di sana," ungkap Edgar.
Salsa jadi teringat kebiasaan Davin yang selalu berbicara sendiri.
"Terus sekarang Davin ada dimana?" tanya Salsa dengan nada sangat serius dan gemetaran.
"Davin tadi bilang dia mau ke kamar," ujar Edgar menatap bingung ke arah Salsa.
"Gawat!" Ungkapnya.
Salsa berlari kecil sedangkan Edgar masih mencerna maksud dari ucapan Salsa. Setelah jarak mereka sedikit jauh Edgar berteriak.
"Apa yang gawat honey?" teriaknya.
__ADS_1
Namun Salsa masih terus berlari kecil tanpa menoleh dan menjawab pertanyaan Edgar.
***
Kamar Davin
Kini Davin sedang duduk di pojokan kamar menekuk kedua kaki lalu membenamkan wajahnya. Tubuhnya bergetar suara samar itu terngiang di kepalanya.
Daa ... viinnn ...
"TIDAK, jangan mendekat! aku takut ...." lirihnya mulai terdengar isak tangis.
Aku hanya membutuhkan bantuanmu. Ungkap sosok tak kasat mata itu.
"Tidak mau! Davin takut, wajah kakak seram," ungkapnya masih dengan membenamkan wajahnya di kedua kakinya.
Lihatlah aku sudah berubah, coba lihatlah!
Davin perlahan mengangkat wajahnya melihat ke hadapannya, namun ....
"Aaaaaaaa ...." teriakan nyaring terdengar begitu keras memenuhi seisi kamar.
Salsa yang di depan pintu kamar Davin langsung membuka pintu itu melihat Davin yang tengah menangis ketakutan. Salsa menghampiri Davin lalu memeluknya.
Sial ... kenapa wajah gue gak berubah juga, pantas saja anak kecil ketakutan toh gue seram begini. Dulu kan, gue ini tampan. Ungkap sosok itu menggerutu.
Davin memeluk erat tubuh Salsa, ia terus memejamkan matanya dan membenamkannya di dada Salsa.
Sementara Edgar yang baru sampai melihat Salsa yang tengah menggendong Davin lalu ia mengambil alih untuk membantu menggendong Davin dan mencoba untuk menenangkannya.
"Kenapa Sa, ada apa?" tanya para sahabatnya yang baru saja datang menghampiri Salsa, Edgar dan Davin.
"Nanti aku jelasin tapi sekarang tolong panggilkan bapakku," sahut Salsa meminta bantuan pada para sahabatnya.
"Ad-ada apa Sa? Kok gue jadi merinding," ungkap Ridwan yang mengelus pundaknya merasakan bulu kuduknya mulai berdiri.
"Dasar penakut!" celetuk Hazrina.
"Widih, baru kenal saja lo sudah berani mengatakan itu sama gue!" ujar Ridwan.
"Aku mohon sekarang bukan waktunya bertengkar. Vini dan Lia tolong panggilkan bapakku!" sahut Salsa.
Vini dan Lia mengangguk berlalu keluar memanggil pak Romi yang sedang berada di rumah paman Salsa.
"Sa, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Hazrina serius.
Edgar masih mencoba menenangkan Davin sedangkan Ridwan sedang dikerumuni dua singa betina saling mencari perlindungan.
"Nanti aku ceritain Haz," sahut Salsa karena merasa bukan waktu yang tepat untuk bercerita.
__ADS_1
Saat Davin mulai membuka matanya perlahan lagi-lagi sosok itu kembali muncul di belakang tubuh Edgar. Davin kembali berteriak dan menangis kencang membuat semua orang yang berada disana ikut merasakan ada hal yang tidak beres disekitarnya.
"Sumpah kenapa jadi serem begini sih," ungkap Ridwan.
"Beb, aku takut," rengek Susi.
"Bab, beb, bab,beb memang gue bebek!" ketusnya.
Susi mengerucutkan bibirnya sementara Sri tersenyum menyeringai.
"Davin tenanglah," sahut Salsa mengelus punggung Davin yang berada digendongan Edgar.
Ridwan mendekat ke arah Salsa lalu berbisikan sesuatu.
"Sa, apa adek lo juga melihat apa yang gue tadi lihat di rumah gue ya?" bisiknya dengan tubuh gemetaran.
Sementara Edgar memasang wajah tidak suka melihat Ridwan mendekat ke arah Salsa apalagi sampai berbisik di telinga Salsa. Edgar menatap tajam ke arah Ridwan membuat Ridwan sedikit menjauh dari Salsa.
"Sorry, tenang Ed ... gue cuma mau memastikan saja," sahutnya sebari mengacungkan dua jari.
"Memastikan apa maksud lo?" tanya Edgar dengan mata melotot.
"Tenang dulu cunguk, mata lo biasa saja dong nanti copot keluar tuh mata baru tahu rasa lo!"
"Gue sumpel juga mulut lo, dasar curut!" ledek Edgar kesal.
"Om, Davin takut," ungkapnya masih memejamkan matanya, memeluk Edgar semakin erat.
"Davin tenang disini ada om Ed dan kakak lainnya."
Salsa memeluk Davin yang berada digendongan Edgar. Sri masih menatap tidak suka dengan moment seperti ini. Sementara Susi menatap sepasang kekasih itu dengan binar.
"Sosweett ...." sahut Susi.
Apanya yang soswet, dasar bucin. Gerutu Sri namun masih bisa didengar oleh Susi.
Pandangan Susi beralih pada Sri, Ridwan yang menyadari akan terjadi perang dunia dua segera menahan kedua singa betina itu.
Hingga beberapa menit berlalu datang pak Romi, bu Meila, Vini dan Lia tengah berlarian memasuki rumah. Pak Romi menghampiri Edgar lalu mengambil Davin dari gendongannya.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya pak Romi dengan nada khawatir sekaligus panik.
Bu Meila memeluk Davin yang ada digendongan suaminya.
"Pak, Davin takut," ungkapnya masih dengan isak tangis.
Pak Romi mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru rumah hingga tepat matanya berpapasan dengan sosok tak kasat mata yang tengah berdiri di ambang pintu kamar Davin dengan raut wajah yang begitu hancur dan rusak.
Pak Romi terkejut melihat penampakan itu lalu mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
"Astagfirullah al'adzim ...."