
Hai readers and author😍
Maafkan aku baru bisa up lagi, dikarenakan ada kepentingan dunia nyata yang membuatku sangat sibuk. tapi aku masih berusaha untuk selalu up😚 Trimakasih untuk dukungannya.
Ada yang rindu sama Salsa dan Edgar😂
HAPPY READING!
***
Setiap matahari terbenam mengurangi satu hari kehidupan. Tetapi setiap matahari terbit, memberikan kita satu hari lagi untuk berharap.
Tepat hari ini, Fajar mulai menerangi jendela kamar Edgar. Alarm jam pun kian berbunyi. Kicauan burung menghiasi pagi yang cukup cerah.
Edgar terbangun, meregangkan otot tangannya. Ia bergegas mengambil handuk untuk mandi. Tampak raut wajah lelah, mungkin karena semalam ia tidur tidak terlalu nyenyak ditambah tidur pada larut malam.
Selesai mandi, ia segera memakai pakaian berjas hitam. Sudah rapi, wangi parfum yang khas bisa membuat semua wanita terpukau.
Egdar melihat jam yang melingkar ditangannya ia bergegas menuruni tangga untuk sarapan. Saat tiba di ruang makan ternyata Sri sudah berada di sana sedang sarapan.
Seketika Sri melihat ke arah Edgar matanya membelalak.
Edgar ganteng banget. Aku harus bisa meluluhkan hatinya. Gumamnya dalam hati.
Edgar menuju ke arah meja makan mengambil roti, tapi tangannya di pegang oleh seseorang. Edgar menatap ke arah wanita dihadapannya.
"Biar aku saja," ujar Sri tersenyum.
"Gak apa-apa, gue bisa sendiri kok," ketus Edgar cuek.
"Sudah sama aku saja, kamu duduk saja ya,"
Egdar malas berdebat, ia langsung menarik kursi dan duduk.
"Mau pake selai apa? Nanas atau strawberry?"
"Nanas saja."
Sri pun sibuk mengoleskan selai nanas pada roti tapi pandangannya tak lepas menatap Edgar. Semetara Edgar cuek saja, ia fokus mengotak-ngatik ponselnya.
__ADS_1
Roti selai nanas pun sudah jadi, Edgar segera melahapnya sementara Sri beranjak ke dapur. Ia berniat ingin membuatkan susu untuk Edgar. Namun saat kembali ke ruang makan, Edgar sudah tidak ada di sana.
Sri menaruh gelas susu di atas meja lalu memanggil pembantu di rumah Edgar.
"Biii,"
Tak berapa lama muncul seorang wanita paruh baya.
"Ia non ada apa?"
"Edgar kemana?"
"Tuan Edgar sudah berangkat non."
Sri mendengus kesal sementara wanita paruh baya itu melihat raut wajah Sri, ia berasa ingin tertawa namun di tahan dan langsung bergegas pergi menuju dapur. Sri terus saja menggerutu.
Siiiaalll, lain kali aku harus bertindak lebih cepat. Gumamnya.
Ia terus menggerutu dan berlalu menuju kamar untuk bersiap-siap.
***
Jauh di kota XX, Salsa tengah bersiap-siap membereskan berkas-berkas untuk dibawanya hari ini. Ia mengecek setiap berkas itu. Ia tampak begitu anggun dengan menggunakan kemeja putih dan rok hitam, rambut yang di ikat ke atas melihatkan leher jenjang dan putih miliknya.
Tak berapa lama taksi pun tiba, ia masuk ke dalam mobil itu dan dilajukan dengan kecepatan sedang.
"Non, kita mau kemana?"
"Eh iya pak ke perusahaan Astra International,"
"Baik non,"
Dua jam berlalu akhirnya tiba di sebuah perusahaan ternama di Indonesia. Bangunan yang menjulang tinggi. Salsa memberanikan memasuki perusahaan tersebut hanya dengan menggunakan ijazah lulusan SMA, Ia tidak terlalu percaya diri namun ia bertekad dalam hatinya tidak masalah jika nanti di terima hanya sebagai office girl.
Ia berjalan memasuki perusahaan itu dengan membawa amplop berwarna coklat. Ia bertanya pada salah satu stap di sana. Setelah di beri petunjuk, ia langsung bergegas menuju ruangan itu. Dengan hati yang mulai berdebar kencang bahkan tangannya pun bergetar.
Setelah sampai di sana ternyata sudah banyak yang sedang menunggu giliran. Salsa pun menunggu di sana dan duduk di salah satu kursi berdekatan dengan seorang perempuan yang seusia dengan Salsa.
"Hai, salam kenal." Sahut wanita itu.
"Eh iya salam kenal juga," jawab Salsa tersenyum.
__ADS_1
"Aku Sri, nama kamu siapa?"
"Oh iya Sri, perkenalkan namaku Salsa."
"Kamu ke sini untuk melamar pekerjaan juga ya?"
"Iya Sri."
"Sukses ya semoga berhasil." Sahut Sri sebari mengulurkan tangan dan di raih oleh Salsa.
"Terimakasih, kamu juga ya,"
"Ah iya, nanti kita bisa jadi teman ya."
"Iya,"
Tak berapa lama, Sri di panggil untuk memasuki ruangan. Ia segera bergegas dan tersenyum ke arah Salsa.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, Sri sudah keluar dari ruangan itu menampakkan wajahnya yang tersenyum sumeringah lalu menghampiri Salsa tanpa di duga ia memeluk Salsa sementara Salsa menjadi canggung.
"Aku lulus interview Sa dan aku diterima jadi sekretaris direktur perusahaan ini." Ujarnya dengan mata berbinar.
"Wah, syukurlah aku turut bahagia, selamat ya."
"Ah iya terimakasih, kamu juga semangat ya."
"Siap, doakan ya."
Sri memang lulusan Universitas ternama di Indonesia. Ia anak yang cerdas sehingga meski pun bukan orang berada, ia mendapat beasiswa hingga bisa kuliah di universitas ternama itu.
Memakan waktu yang sangat lama hingga siang hari, mungkin saking banyaknya antrian para pelamar kerja. Sekitar ratusan orang berada disana namun akhirnya nama Salsa terucap. Ia langsung memasuki ruangan itu cukup memakan waktu yang lama dengan kepercayaannya dan tekadnya ia diterima di perusahaan itu. Sesuai dengan kriteria nya ia hanya diterima di bagian office girl. Akan tetapi ia sangat bersyukur karena ini yang pertama kalinya ia di terima bekerja.
Setelah selesai, ia keluar dari ruangan itu tapi ia tidak mendapati Sri di sana. Mungkin wanita itu sudah pulang lebih dulu. Salsa pun segera bergegas pulang tidak sabar ingin memberi tahu om dan tantenya begitupun keluarganya yang berada di kota X.
Sebenarnya om Haris sudah menyarankan Salsa untuk bekerja di salah satu perusahaannya. Namun Salsa menolaknya, ia hanya ingin mandiri dan bekerja atas hasil usahanya sendiri.
Saat perjalanan pulang, ia sudah berada di dalam taksi, Salsa langsung menelpon Edgar. Ia sangat merindukan kekasihnya itu. Tapi sayangnya, tidak ada jawaban sama sekali.
Wajah yang berseri itu seketika pudar berganti dengan raut wajah sedih. Padahal ia sangat merindukan Edgar, ingin mendengar suaranya namun mungkin Edgar sedang sibuk. Salsa memahaminya karena ia sudah tahu akan hal itu sebelum Edgar pergi, dia sudah mengatakan kalau hari ini ia akan mulai bekerja. Salsa memahami itu.
Perjalanan yang cukup memakan waktu, dikarenakan jalanan mulai macet total. Di saat itu Salsa masih berusaha menelpon Edgar namun tidak ada jawaban sama sekali padahal hari mulai sore.
__ADS_1
**Jika senja mengalah pada malam, aku disini mengalah pada rindu.
Jika kamu merindukan seseorang, tataplah matahari sore. Kirimkan pesan rindumu untuknya lewat senja**.