
Edgar mulai membuka pintu lalu ia celingukkan melihat di sekitar halaman Salsa. Tiba-tiba Salsa mendorong tubuh Edgar keluar dari rumah, Edgar terperanjat kaget dengan bantingan pintu sangat keras.
"Astaga, honey kau sungguh kejam," teriak Edgar.
"Cepatlah Ed cari Ridwan, kita semua takut dia diculik sama arwah gentayangan!" teriak Susi.
"Berisik lo!" teriak Edgar kembali.
Gue juga kan takut, bagaimana jika tuh hantu jatuh cinta sama ketampanan gue. Bisa saja kekasih gue yang cantik dan super sexy kehilangan kekasih tampannya. Amit-amit dah. Gerutu Edgar dalam hati.
Secara perlahan Edgar mulai melangkahkan kaki dengan hati-hati. Mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru halaman rumah Salsa. Tidak terlihat sama sekali batang hidung si curut Ridwan.
Edgar terus melangkahkan kaki sebari melirik ke atas pepohonan kali saja Ridwan di bawa terbang sama arwah penasaran itu. Namun tiba-tiba ...
"Aauuu ... sakit cunguk!" sahut seseorang.
Edgar terperanjat kaget lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mendengar orang yang kesakitan membuat ia tersadar akan suara itu. Edgar merasakan kakinya menginjak sesuatu yang kenyal di bawah sana.
"Cunguk menyingkirlah, tangan gue sakit!"
Pandangan Edgar beralih ke bawah melihat seorang pria terbaring di atas rerumputan dengan raut wajah yang masih terlihat pucat.
"Hahaha ... sorry gue kira apa yang kenyal," ketus Edgar tertawa melihat Ridwan yang di bawahnya kesakitan akibat tangannya terinjak oleh Edgar.
"Lo ngapain curut tiduran di rumput?" pekik Edgar.
"Lagi makan rumput, lo gak lihat gue pingsan disini?"
"Lo sudah seperti kambing saja makan rumput, mana ada orang pingsan saat terinjak teriak dasar curut!" ketus Edgar.
Ridwan berdiri membersihkan pakaiannya yang kotor akibat berbaring di rumput.
"Lo gak tahu sih Ed," ucapnya berbisik sebari celingukan melirik ke sekitarnya.
"Tahu apa? Lo jangan cerita yang macam-macam!" sahut Edgar.
"Para ciwi kemana? Kita ke dalam rumah saja yuk Ed, sumpah gue merinding," ungkapnya.
__ADS_1
"Ah dasar penakut!"
Ridwan berlari meninggalkan Edgar namun Edgar pun berlari mengikuti Ridwan. Sampainya di depan pintu namun pintu itu tertutup rapat dan terkunci. Edgar mendekat ke arah Ridwan menggedor pintu rumah Salsa. Hingga kini posisi Edgar membelakangi Ridwan.
"Honey, bukalah jangan dikunci!" teriak Edgar.
Namun masih tidak ada jawaban sama sekali dari dalam sana. Tidak ada yang melangkahkan kaki membuka pintu.
Riiid ... waann .... hasutan suara menyeramkan.
Ridwan memegangi pundaknya yang sudah mulai merinding, bulu kuduknya sudah berdiri. Ridwan memukul bahu Edgar yang berada di depannya.
"Cunguk buruan, gue merinding!" ungkapnya berhasil membuat Edgar panik.
"HONEY, APA KAU MENDENGAR CEPATLAH BUKA PINTUNYA!" teriak Edgar sangat nyaring.
Riiddd ... waaann ... gue dibelakang lo. Suara menyeramkan itu mulai terdengar kembali.
Dengan rasa penasaran Ridwan memegangi bahu Edgar menyuruhnya untuk berbalik ke arahnya dan kini Ridwan dengan perlahan memutar kepalanya melirik ke belakang.
"Aaaaaaa ... setan, hantu, arwah, dedemit," teriak keduanya secara bersamaan.
Saat ini terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu.
Sementara Ridwan memeluk tubuh Edgar dari belakang. Arwah itu masih setia berdiri di belakang Ridwan. Lagi-lagi Ridwan melirik ke arahnya.
Plaakkk ...
"Dasar hantu idiot, jelek. Lo bisa gak punya wajah tampan kek gue!" Gerutu Ridwan menampar arwah itu.
Ridwan tidak menyangka kenapa dirinya bisa menampar hantu itu.
Bukankah jika hantu tidak bisa diraba?
Secara bersamaan pintu rumah terbuka, Susi melihat sebuah penampakkan yang berdiri tepat di belakang Ridwan.
"Ha-han-han-hantuuuu ..." sahutnya melotot menatap ke arah arwah itu sebari jarinya yang menunjuk, tangan sebelahnya memegangi kepalanya yang terasa pening.
__ADS_1
"Jangan pingsan disini nanti saja di dalam," ujar Edgar panik langsung mendorong Susi masuk ke dalam rumah.
Ridwan pun ikut berlari kecil masuk ke dalam rumah lalu hendak menutup pintu. Sementara arwah itu masih setia berdiri di depan pintu.
"Dasar hantu idiot, lo jangan ikut masuk!" sahut Ridwan membanting pintu sampai tertutup rapat.
Ridwan berlari ke dalam mengikuti Edgar yang terus mendorong tubuh Susi yang kaku memasuki kamar Salsa.
Semua wanita yang ada di sana menghampiri Susi terkecuali Sri yang masih menjadi musuh bubuyutannya.
"Susi, kamu kenapa?" tanya Salsa menghampiri Susi merengkuh bahunya membantu Susi untuk duduk di sisi ranjang.
"Honey, apa kau tidak khawatir padaku?" tanya Edgar.
Pandangan Salsa beralih pada sosok pria tampan yang di penuhi bulir keringat di dahinya. Setelah Susi terduduk, Salsa menghampiri Edgar lalu memeluknya.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu Ed," sahutnya dalam dekapan Edgar.
Edgar mendorong tubuh Salsa mencoba memberi jarak untuk mereka saling bersitatap.
"Lalu kenapa kau jahat tidak membukakan pintu untukku?" tanya Edgar menatap lekat pada Salsa.
"Maaf Ed, aku kan takut," ungkapnya menundukkan kepala.
"Sial benar-benar sial gue hari ini," ungkap Ridwan menggerutu.
"Lo kenapa bos?" tanya Sri.
"Masa iya tuh hantu ngajak gue ngobrol," ujarnya mendengus kesal.
"My baby, kamu serius ngobrol sama hantu?" tanya Susi.
Ridwan hanya terdiam mengingat tadi dirinya mengobrol dengan makhluk tak kasat mata itu.
Mereka semua saling terdiam hanya keheningan yang memenuhi isi kamar Salsa. Saling terdiam dan menatap satu sama lain.
Vini, Lia dan Hazrina terlelap tidur di atas ranjang Salsa yang tidak begitu luas sementara Edgar masih memeluk erat tubuh Salsa. Berbeda dengan Sri yang duduk sebari memegangi kepalanya yang terasa pening. Susi masih setia menempel pada Ridwan sedangkan Ridwan memegangi perutnya yang keroncongan sedari tadi.
__ADS_1
Sial dasar hantu idiot, gara-gara lo gue gak jadi makan. Masa iya gue harus puasa nahan lapar nanti bisa-bisa tubuh gue yang kekar ini jadi kurus bertulang. Gerutu Ridwan.