
Fajar pun mulai menerangi kamar Salsa. Ia bangun sangat bersemangat karena tepat hari ini, ia akan menemui Edgar.
Aku sekarang harus mandi dan berdandan yang cantik. Gumam Salsa sumeringah.
Setelah selesai mandi, Salsa memakai gaun berwana putih dipadu dengan make up natural menyesuaikan warna kulitnya yang putih. Salsa semakin terlihat anggun dan menawan.
Semua sudah rapi dan terlihat memukau. Salsa langsung menuju meja makan untuk sarapan.
"Wah, anak ibu pagi-pagi sudah cantik. Mau kemana sayang?" tanya bu Meila.
"Aku mau bertemu seseorang bu, boleh kan?"
"Bertemu siapa?" tanya ayah Salsa yg bernama pak Romi.
"A-ak-aku," ucap Salsa gugup.
Lalu bu Meila memotong pembicaraan mereka.
"Biasa pak, anak muda."
"Oh begitu, anak bapak ternyata sekarang sudah dewasa," sahut pak Romi.
"Boleh kan, pak?" sahut salsa dengan wajah penuh permohonan agar mendapatkan izin.
"Boleh, asalkan ingat pulangnya jangan kemalaman ya."
"Siap bos, kalau begitu Salsa berangkat dulu ya pak, bu."
Salsa pun mencium punggung tangan ibu dan ayahnya. Ia beranjak pergi menemui Edgar di sebuah taman yang tak jauh dari rumah.
Sampai di taman
Salsa melihat Edgar sedang duduk bersandar di kursi taman. Ia pun berjalan menghampiri Edgar.
"Edgar, kamu sudah lama menunggu. Maaf ya, aku baru sampai."
" Tidak apa-apa kok, santai saja. Sini kamu duduk!" sahut Edgar menarik tangan Salsa untuk duduk disebelahnya.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Edgar mengeluarkan setangkai bunga mawar merah. Salsa terkejut melihat aksi Edgar secara tiba-tiba berlutut dihadapannya dengan setangkai bunga yang berada di genggamannya.
Suara jantung berdetak sangat kencang. Benar saja, saat ini Salsa sedang merasa gugup dan salah tingkah dengan perlakuan Edgar.
Mereka saling menatap satu sama lain. Melihat bola hitam bening itu memancarkan aura saling mengharapkan. Edgar meraih tangan kanan Salsa.
"Aku menunggu jawaban kamu. Jika kamu menerima cintaku tolong ambil bunga ini tapi jika sebaliknya kamu boleh pergi meninggalkan aku," sahut Edgar menatap lekat ke arah Salsa. Edgar mulai memejamkan matanya.
Seketika Salsa melepaskan pegangan tangan Edgar, ia beranjak berdiri dan menjauh.
Edgar membuka matanya, ia menunduk merasakan kekecewaan yang dulu ia pernah rasakan kembali menerpa hatinya.
Langkah kaki Salsa terhenti. Ia membalikkan tubuhnya kembali mendekati Edgar.
"Kamu, kenapa tidak peka si?"
Edgar yang mendengar itu mendongkakkan wajahnya menatap Salsa yang sedang memasang wajah masam dengan kedua tangannya dilipat di dada.
__ADS_1
Edgar berdiri menghadap Salsa. Kini jarak mereka cukup dekat. Edgar menatap Salsa dengan mimik wajah penuh tanda tanya.
"Maksudnya tidak peka bagaimana?"
Salsa mengerucutkan bibirnya ke depan memasang wajah cemberut.
"Tuh kan?" sahutnya mendengus kesal.
Edgar meletakkan bunganya di bangku taman lalu meraih kembali kedua tangan Salsa.
"Maksudnya bagaimana?" Edgar menyerngitkan dahinya.
"Sumpah aku tidak mengerti, Sa."
"Ih ..."
Salsa semakin cemberut. Edgar melihat tingkah Salsa sangat menggemaskan sekali.
"Sa?"
"Apa?"
"Jangan begitu, apa kau sedang menggodaku?"
"Hah, memang aku menggoda apa?"
Edgar kembali mengambil bunga itu dan mengarahkannya tepat di hadapan Salsa.
"Jadi, apa kamu mau menjadi kekasihku?"
"Ya, aku sudah tahu jawabannya."
Semula bunga itu berdiri tegak, sekarang menjadi terkulai. Edgar pun menunduk kembali menutupi mimik wajah yang sedang menampakkan kesedihan.
Salsa mengulas senyum simpul di wajahnya lalu ia mengambil bunga itu dari genggaman tangan Edgar membuat pria itu membelakkan matanya tidak percaya. Edgar menatap lekat ke arah Salsa untuk mencari tahu jawabannya.
"Jadi, kamu?" Edgar masih tidak percaya.
"Iya, aku menerima cintamu," sahut Salsa tersenyum.
Betapa senang hati Edgar karena cintanya yang dulu pernah rapuh. Akan tetapi tepat hari ini, cinta itu kembali bersemi indah.
***
Aku selalu berharap rasa ini terbalaskan. Aku mencintaimu apa adanya. Betapa beruntungnya aku mempunyai kesempatan untuk bersamamu kembali. Aku yakin bahwa kamu pilihan terbaik hatiku.
"Aku mencintaimu, aku akan selalu mengukirkan senyuman di wajahmu," ucap Edgar seketika memeluk Salsa.
Deg.. detak jantung Salsa kembali berdebar saat Edgar memeluknya begitu sangat erat.
"Maafkan aku yang dulu pernah menggoreskan luka dihatimu. Aku juga mencintaimu," sahut Salsa menitikkan air mata.
Edgar melepaskan pelukannya dan menatap Salsa. Ruang batas antara mereka hanya beberapa centi meter.
Edgar sudah tidak tahan menahan keinginannya. Ia mendaratkan benda kenyal itu di bibir Salsa. Namun entah kenapa tubuh Salsa kini terasa kaku, ia tidak menolak saat Edgar berani menyentuhnya. Salsa memejamkan matanya dengan pasrah menerima ciuman Edgar. Mereka saling berpagutan melepaskan kerinduan dan penyeselan selama beberapa tahun ke belakang.
__ADS_1
Dengan nafas saling memburu meminta sesuatu yang lebih. Salsa merasakan kenyamanan dan tenang saat berada dalam pelukan Edgar.
Tak lama kemudian, seorang anak kecil menghampiri Edgar dan Salsa.
"Kakak?" panggil anak itu.
Mendengar suara itu, Salsa terkejut lalu dengan cepat melepaskan ciuman Edgar.
"Kakak lagi ngapain di sini?"
Ya, ternyata anak kecil itu adik Salsa bernama Davin. Mungkin karena jarak taman yang begitu dekat dengan rumahnya, Davin pun sering bermain di taman ini.
"Ade, kamu sejak kapan ada disini?"
"Dari tadi kak," jawab Davin polos.
Salsa dan Edgar terkejut mengingat kembali apa yang mereka lakukan.
"Berarti sedari tadi adik kamu ini melihat perbuatan kita," bisik Edgar lalu dengan sengaja menjilat telinga Salsa membuat wanita itu bergidik geli.
"Ih Ed, diam geli tahu," bisik Salsa.
Davin duduk sambil memperhatikan kakaknya, itu membuat Salsa risih.
"Kakak, Davin mau es krim," sahut Davin merengek meminta dibelikan es krim.
"Ya sudah, beli sama om saja yuk!"
"Mau om mau."
Davin merentangkan kedua tangannya meminta Edgar untuk menggendongnya. Setelah Davin dalam gendongan Edgar. Mereka berdua berpamitan dan meninggalkan Salsa untuk membeli es krim.
Lima menit berlalu, mereka berdua kembali ke taman dengan membawa empat es krim. Edgar dan Salsa makan es krim bersama sambil sesekali bercanda sedangkan Davin memakan dua es krim sekaligus. Davin memakan es krim itu sebari bermain ayunan.
Edgar dan Salsa mengamati Davin dari bangku taman.
"Sayang?" panggil Edgar.
Salsa gugup, lalu pandangannya menatap ke arah Edgar.
"Eh iya, kamu panggil aku?" tanyanya malu-malu memperlihatkan pipinya yang berwarna merah merona.
"Iyalah aku memanggil kamu, memang kamu mau aku panggil sayang sama wanita lain?"
"Ih ..." Wajahnya kembali cemberut.
"Sa, aku pernah mengatakan sesuatu sama kamu tidak?"
"Apa?"
Edgar memegangi kedua bahu Salsa, menatap lekat mata gadis itu.
"Jangan pernah seperti itu, kamu tidak sedang menggodaku, kan?"
"Ih ... siapa juga yang menggoda kamu."
__ADS_1
Edgar terkekeh geli melihat wajah kekasihnya sedangkan Salsa pandangannya ke arah lain untuk menutupi pipinya yang kian memerah karena ulah Edgar.