
Setelah semua cukup tenang dan malampun semakin larut. Salsa masih belum juga bisa memejamkan matanya. Semua temannya sudah tertidur pulas di atas ranjang ataupun di bawah dengan alas karpet.
Salsa masih terduduk lalu dirinya menatap ke arah Edgar disampingnya yang tertidur di kursi dengan posisi terduduk dan kepala bersandar pada bagian belakang kursi.
Salsa menepuk pelan pipi Edgar hingga pria itu terbangun, memposisikan dirinya ke hadapan Salsa.
"Ada apa honey?" tanyanya sebari mengucek kedua matanya.
Salsa tiba-tiba memeluk tubuh Edgar lalu membenamkan wajahnya di dada bidang milik pria itu.
"Kamu kenapa honey? Apa ada yang sakit?" tanya Edgar panik berusaha melonggarkan pelukan Salsa, memberi jarak untuk bisa menatap wajah manis kekasihnya.
Salsa menatap lekat ke arah bola hitam yang menampakkan binar kepanikan. Tiba-tiba saja gadis itu menitikkan air mata membuat Edgar semakin bingung, panik sekaligus khawatir.
"Honey ada apa? Katakanlah!" ujar Edgar dengan memegangi kedua bahu Salsa.
"Ed ...." lirihnya mulai terdengar isak tangis.
"Katakanlah kenapa honey, jangan membuatku khawatir!" ungkap Edgar kembali menarik tubuh Salsa masuk ke dalam dekapannya.
"Kapan kau akan menikahiku?" tanya Salsa berhasil membuat Edgar menatap bingung.
Edgar kembali melonggarkan pelukannya, memberi jarak untuk mata itu saling menatap lekat satu sama lain. Edgar tersenyum, menghapus jejak bulir air mata yang membasahi permukaan pipi kekasihnya itu.
"Hei, kau bahkan membuatku sangat khawatir. Apa kau sudah tidak tahan menikah dengan pria tampan sepertiku?" tanyanya menggoda Salsa hingga berhasil mendapat cubitan panas yang menjalar di area lengan kanannya.
"Auuuu ... sakit honey!" bisiknya karena takut terdengar oleh temannya yang sedang pulas tertidur.
"Jadi, katakan kapan kau akan menikahiku?" tanya Salsa menatap lekat bola mata itu.
"Kau lihat saja honey, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu," sahut Edgar menampakkan seringai senyum.
__ADS_1
"Kejutan apa Ed?" tanya Salsa sangat penasaran dengan yang dikatakan oleh Edgar.
"Rahasia," pekiknya.
"Ih dasar jahat," ujar Salsa kembali membenamkan wajahnya di dada bidang milik Edgar.
"Aku akan selalu menanti kejutan itu Ed," ungkapnya penuh harapan semoga kejutan yang telah Edgar siapkan akan menjadi awal kebahagiaannya.
Edgar tersenyum, mengelus lembut rambut kepala Salsa lalu ia menangkup kedua pipi Salsa, memegangi dagu itu. Mereka saling menatap lekat satu sama lain hingga akhirnya tatapan itu berubah menjadi tatapan yang meminta lebih.
Edgar mulai memiringkan kepalanya, hidung mereka sudah saling bergesekan hingga akhirnya ....
"Aaaaa ... hantu idiot, dasar keparat lo, gak tahu diri!" teriak Ridwan berhasil membuat Salsa dan Edgar terkejut.
Ternyata hantu itu berada di samping Ridwan, dia sepertinya hobby sekali mengganggu si curut Ridwan.
Edgar melihat ke arah Ridwan dengan sorot mata tajam. Mereka semua yang ada disana terbangun akibat teriakan Ridwan.
Susi yang terbangun mengucek kedua bola matanya menatap ke arah Ridwan yang berbicara sendiri. Ia menyenggol lengan Hazrina yang berada di sampingnya.
"Hazrin, lihatlah my babyku itu kenapa? Apa dia sudah gila?" bisik Susi pada Hazrina.
"Aku tidak tahu, apa mungkin dia sedang berbicara dengan hantu itu?" bisiknya.
Mereka berdua saling bersitatap lalu saling memeluk dan berteriak. Berhasil membuat semua yang ada disana saling berpelukan.
"Woy curut, lo kenapa?" tanya Edgar memeperhatikan tingkah Ridwan.
"Hantu sialan, hantu buruk rupa, lo ngapain sih ngikutin gue mulu!" pekik Ridwan.
"Si curut ngomong sendiri, lo gila apa gara-gara gak dikasih makan?" tanya Edgar.
__ADS_1
"Ini si hantu sialan ngintilin gue mulu!" ungkapnya mendengus kesal.
"Hantu apa Rid? Jangan bercanda, kita semua gak lihat ada hantu kok!" ujar Salsa mendapat persetujuan dari semua orang yang ada disana terkecuali Ridwan.
Ridwan langsung berdiri menghampiri semua temannya namun semua temannya itu menghindar.
"Woy, gue takut! kenapa kalian malah menjauh," ujarnya lemas seketika.
"Maaf Rid, kita semua takut jika hantu itu benar-benar ada," sahut Vini mengeluarkan suara.
"Hantu itu benar ada kok, semalam saat aku membuka pintu untuk mereka berdua, hantu itu ada dibelakang Ridwan. Seram bangett ... wajahnya hancur dan pokoknya menyeramkan deh," ungkap Susi memeluk lengan Hazrina dengan erat.
Perkataan Susi berhasil membuat semua temannya bergidik takut, saling menjerit. Namun Edgar hanya biasa saja karena dia tahu akan hal yang menimpanya.
"Curut sepertinya lo harus mandi kembang tujuh rupa deh!" usul Edgar mendapat tanggapan serius dari semua temannya.
"Lo jangan buat gue makin merinding dong!" pekik Ridwan.
"Sudahlah kalian semua cepat tidur, besok pagi kita rundingkan kembali masalah ini. Kebetulan Davin bisa melihat apa yang tidak kalian lihat, nanti aku coba minta bantuan dia," ungkap Salsa.
Mereka semua mengangguk dan menyetujui saran Salsa. Hingga semuanya kembali tertidur dengan posisi berdempetan. Begitupun Ridwan kini memaksa Edgar untuk tidur berdekatan dengannya.
Lo semua ngomongin gue, memang begitu menyeramkannya wajah gue ini. Ungkap hantu itu.
***
Hai semua readers, aku minta maaf karena up begitu sedikit. Hari ini aku dihadapi dengan berbagai masalah yang menimpa novel Suami Manja Ardella. Banyak yang menilai jelek dan namaku tercoreng buruk.
Aku selaku author Suami Manja Ardella meminta maaf atas ketidaknyamanan pembaca setia di novel itu. Aku sangat tahu diri, aku hanya penulis amatiran dengan novelku yang masih recehan ini tapi aku tidak pernah berniat sama sekali mencopy novel orang lain.
Aku tahu dan sangat sadar diri, setelah aku sendiri membaca novel yang dikatakan sama seperti novel Suami Manja Ardella. Kalian boleh beranggapan apapun kok itu hak masing-masing. Tapi aku selaku author yang masih jauh dari kata sukses ataupun populer merasa sakit hati dengan setiap ocehan yang aku terima.
__ADS_1
Aku minta maaf atas kesalahan imajinasiku dalam membuat novel Suami Manja Ardellaš¢