Misteri Di Rumah Kost

Misteri Di Rumah Kost
Bab 2


__ADS_3

tak terasa satu bulan sudah aku dan Lidia tinggal di rumah kost ini, tidak ada kendala yang berarti selama tinggal disini, penghuni yang lain baik - baik, walaupun di sini kost putra dan putri, namun penghuni cowoknya tidak ada yang berulah.


aku sedang duduk di depan kamar ku, ada jendela kayu disana, sengaja aku beri kursi agar aku bisa duduk disana, entah kenapa duduk disini terasa nyaman, memandang tanah kosong di depan rumah kost ku, yang hanya di tumbuhi oleh pohon - pohon besar dan rerumputan.


malam itu udara terasa sangat panas, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari, aku baru selesai menyelesaikan tugas kuliah ku, kulihat Lidia sudah tertidur pulas, langsung aku segera ke samping Lidia untuk tidur, entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasa udara di kamar semakin panas, membuat ku sesak, aku mencoba membuka selimut ku, namun tidak bisa, tubuhku tidak bisa bergerak, sekuat tenaga aku mencoba membuka mata, kulirik Lidia masih pulas tertidur, tidak ada apa - apa di atas tubuhku, tapi beban di atas tubuhku semakin berat, aku mencoba untuk teriak tapi tidak bisa, tenaga ku sudah habis, dada pun terasa semakin sesak, semakin aku meronta, semakin beban itu terasa berat, lambat laun beban itu menghilang bersamaan dengan lantunan adzan subuh, aku masih terdiam mencoba mengatur nafasku.


" Nad...bangun...udah subuh..." ujar Lidia memegang tangan ku


" eh udah bangun ya.." ujarnya lagi ketika melihat ku, aku hanya membalas dengan senyuman, aku belum mampu untuk berdiri.


" aku subuh duluan ya.." ujar Lidia lagi, dan kubalas dengan anggukan


setelah cukup kuat berdiri, aku langsung mandi dan menunaikan sholat subuh.


di kampus pikiran ku tidak fokus, bayangan semalam masih saja ada di pikiran ku, entah apa yang menimpa ku begitu berat, mungkin kah aku hanya bermimpi? tapi semua terasa amat nyata.


saat sore pulang kuliah, mbak Ella sudah duduk manis di dapur umum kost an, dengan senyuman yang sangat manis tapi menurut ku senyuman nya penuh maksud.


" halo adek - adek mbak sayang..." sapa nya begitu melihat kami


" halo mbak...lagi ngapain? masak ya?" Jawan Lidia


" ah enggak dek, mbak kan gak punya uang, mau masak apa jadinya" ujar mbak Ella

__ADS_1


" oh..." ujarku sambil menaiki tangga. mbak Ella mengikuti kami sampai ke kamar.


" malam ini kalian makan apa dek?" tanyanya tanpa sungkan.


" kita udah makan mbak, tadi ada temen yang ulang tahun, jadi di traktir makan, jadi kami makan di luar tadi" ujar Lidia


" wah... jadi kalian gak ada makanan ya?" tanyanya sedikit kecewa


" nggak ada mbak, karena kan udah makan di luar tadi..." jawabku


" Hem...eh ada roti kering, mbak minta ya.." ujar mbak Ella sambil langsung mengambil roti dan air putih, mbak Ella mencelupkan roti kering itu ke dalam air putih


" loh, kenapa di celup ke Aer putih mbak?" tanyaku


" lid, besok kamu kuliah nya siang juga kan" tanyaku saat kami sudah mau bersiap tidur.


" iya...kenapa?" jawabnya tanpa menoleh karena sedang sibuk chat an Sama cowoknya


" temenin aku ke mall sebentar ya, mau cari buku, pulang dari mall kita langsung ke kampus, gimana?" ujarku


" boleh banget dong... agak pagian aja perginya, pas mall buka aja kita Dateng nya, sekalian cuci mata....gimana?" ujar Lidia


" cuci mata??? mau banget... hahahaha..." ujarku, lalu kami kembali lagi ke kesibukan masing-masing, chat an sama pacar, sampai ketiduran sendiri.

__ADS_1


sesaat di mall, aku langsung menuju g****dia, untuk mencari buku referensi tugas.


" udah dapet bukunya nad?" tanya Lidia


" Alhamdulillah udah ketemu, harganya juga lumayan murah, ke bagian novel sebentar ya, soalnya budget buat beli buku masih ada sisa, kali aja dapet novel satu" ujarku sambil tertawa.


" aaalllaaahhhh...sok sok an ada sisa budget, bukannya emang sebulan sekali kamu tuh beli novel ya" ledek Lidia


tiba - tiba tanganku di tarik Lidia, aku menoleh ke arah Lidia, Lidia menunjuk ke arah depan sambil mengajak aku ke arah samping untuk bersembunyi, ada mbak Ella disana, dia sedang memilih novel. aku dan Lidia saling pandang, seolah sudah satu hati, tanpa bicara pun kami sudah mengerti kalau kami akan mengikuti mbak Ella, kami lihat dia membawa satu buku novel ke kasir, kami pun ikut mengantri dengan jarak beberapa orang di belakang nya agar mbak Ella gak tahu,


" seratus dua puluh lima ribu total nya mbak " ujar kasir, kami pun melongok mendengarnya, mbak Ella bisa bayar segitu banyak buat buku, berarti dia punya uang lebih. aku menyuruh Lidia duluan mengikuti mbak Ella, karena aku juga harus membayar buku yang akan ku beli.


" ke so**ria, di ujung kiri" kulihat pesan dari Lidia. langsung aku menuju kesana, kulihat Lidia sudah memesan makanan, langsung saja kuhampiri.


" kita bagi dua aja nad...kalo kamu pesen juga, bisa - bisa satu Minggu ini kita makan mie instan " ujar Lidia sambil tertawa. inilah yang aku suka dari Lidia, walaupun jatah bulanannya lebih banyak dari ku, tapi dia gak pernah mau foya - foya, terkadang jika uang bulanan nya masih ada sisa, dia gak mau minta uang lagi ke orang tua nya, katanya walaupun orang tua nya berkecukupan, tapi anaknya banyak, Lidia tujuh bersaudara, dan semua masih sekolah, dan Lidia gak mau nyusahin orang tua nya.


sambil makan kami melihat mbak ella, dia makan sendirian, dilihat dari makanan nya, sepertinya diatas seratus ribu lagi jumlah nya, kami gak mau berprasangka buruk dulu dengan mbak Ella, mungkin dia baru dapat kiriman uang, setelah makan, mbak Ella masuk ke toko baju, lalu keluar sambil menenteng kantong belanja an, kami tidak bisa mengikuti mbak Ella lagi, karna kami harus segera ke kampus.


malamnya saat sedang makan, mbak Ella langsung masuk ke kamar kami,


" eh adek...lagi makan ya? mbak gabung ya... " ujarnya, dan tanpa menunggu persetujuan kami, mbak Ella langsung mengambil piring, lalu menyendokkan nasi. kebetulan tadi ada kakak Lidia yang mengantarkan lauk.


" maaf ya dek, mbak makannya banyak, soalnya seharian mbak belum makan, maklum lah dek mbak jarang di kirimin uang dari orang tua mbak" ujarnya mencoba mencari simpati, kami hanya senyum sambil berpandangan, mbak Ella.... sampai kapan kamu mau bohong....

__ADS_1


###


__ADS_2